|
VI. KELUARGA, TEMAN SEBAYA DAN PENDIDIKAN
-
KELUARGA
DAN SEKOLAH
HUBUNGAN KELUARGA DAN SEKOLAH
Telah dijelaskan pendidikan itu adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian anak baik di luar dan di dalam sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dan pengertian tersurat suatu pernyataan bahwa pendidikan berlangsung di luar dan di dalam sekolah. Pendidikan di luar sekolah dapat terjadi dalam keluarga dan di dalam masyarakat. Jadi pendidikan itu berlangsung seumur hidup dimulai
dari keluarga kemudian diteruskan dalam lingkungan sekolah dan masyarakat.
Manusia sebagai makhluk hidup selalu ingin berkembang. Keinginan ini secara manusia tidak terbatas, akan tetapi kemampuan manusia yang membatasi keinginan tersebut. Oleh karena itu
keinginan untuk berkembang berlangsung mulai dan lahir sampai meninggal dunia. Untuk mengembangkan
diri itu manusia memerlukan bantuan. Karena keinginan untuk perkembangan itu berlangsung
dari lahir sampai meninggal, maka kebutuhan untuk mendapatkan bantuan itu juga harus berlangsung seumur
hidup.
Pendidikan yang berlangsung seumur hidup itu berlangsung pada tiga lingkungan pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan dalam tiga lingkungan pendidikan sebagai penghasil tenaga yang telah terdidik sebagai
berikut :

Dari bagan tersebut di atas dapat diketahui bahwa keluarga merupakan tempat pertama anak itu mendapatkan pendidikan. Sejak anak itu berada dalam kandungan anak telah mendapatkan pendidikan. Seperti telah diketahui di muka
bahwa jenis pendidikan yang diberikan keluarga adalah bermacam-macam. Pendidikan berlangsung secara informal. Dalam keluarga orang tua merupakan pendidik utama dan pertama. Pada masyarakat yang sederhana pendidikan berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Anak meniru apa yang dikerjakan orang tua dan orang-orang dewasa dalam masyarakat. Setelah mendapatkan kemampuan yang diperlukan untuk hidup, maka ia dilepaskan dalam masyarakat. Dalam. masyarakat mereka akan menjadi tenaga kerja yang dibutuhkan
masyarakat.
Dalam masyarakat yang lebih maju maka pendidikan di dalam keluarga tidak cukup, oleh karena itu orang tua menyerahkan pendidikan pada lembaga pendidikan formal yang disebut sekolah. Dalam sekolah anak diberi berbagai pengetahuan
baik pengetahuan yang berkaitan untuk pengembangan pribadi, pengetahuan untuk bekal hidup dalam masyarakat, dan pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
lebih lanjut. Pendidikan di sekolah dilaksanakan secara bertingkat-tingkat, pada dasarnya dibedakan pendidik dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Anak yang telah
selesai pada tingkat pendidikan tertentu yang memerlukan keterampilan tertentu dapat masuk pada pendidikan
nonformal
dalam lembaga pendidikan masyarakat. Setelah mendapatkan tambahan keterampilan maka ia terjun kedunia
kerja dalam masyarakat. Akan tetapi ada juga yang setelah selesai pendidikan pada tingkat pendidikan
tetrtentu langsung memasuki dunia kerja dalam masyarakat. Masyarakat sebagai pemakai
hasil tiga pendidikan itu akan memberi balikan bagi masing-masing
penyelenggara pendidikan dalam ketiga lingkungan pendidikan.
Perbandingan antara pendidikan formal dan pendidikan non formal dan pendidikan dalam keluarga sebagai pendidikan informal dapat disajikan di bawah
ini (Edi Suardi, S Nasution, dan M Moh Rffai Joedoprawira, 1976, p.187).
-
Tempat
berlangsung :
Pendidikan formal dilaksanakan di dalam gedung sekolah, pendidikan
nonformal dilaksanakan di dalam atau diluar sekolah, sedang pendidikan
keluarga dilaksanakan di dalam rumah atau di luar rumah.
-
Persyaratan
mengikuti pendidikan :
Syarat mengikuti pendidikan formal adalah umur dan tingkat pendidikan
tertentu (ijazah atau STTB), pada pendidikan nonformal kadang-kadang
ada persyaratan tetapi tidak memegang peranan yang penting, pada
pendidikan informal (keluarga) tidak ada persyaratan semua anak baik
anak pungut, anak tiri atau anak sendiri semua mendapatkan pendidikan
dalam keluarga itu.
-
Jenjang
pendidikan :
Pada pendidikan formal terdapat jenjang pendidikan jaitu pendidikan
prasekolah (taman kanak-kanak), pendidikan dasar, pendidikan menengah
dan pendidikan tinggi. Pada pendidikan nonformal kadang-kadang ada
kadang-kadang tidak. Pada pendidikan informal tidak ada jenjang
pendidikan.
-
Program
pendidikan :
Program pendidikan pada pendidikan formal ditentukan teliti untuk
setiap jenjang pendidikan dalam bentuk tertulis. Pada pendidikan
nonformal terdapat program tertentu. Pada pendidikan informal tidak
ada program.
-
Bahan pelajaran
:
Pada pendidikan formal bahan pelajaran lebih bersifat akademis dan umum, bahan pelajaran .pada
pendidikan nonforrnal lebih bersifat khusus dan praktis, bahan pelajaran pada pendidikan informal tidak
ditentukan.
-
Lama pendidikan
:
Pada pendidikan formal lama pendidikan memakan waktu yang panjang, pendidikan nonformal memakan waktu yang singkat dan pendidikan informal sepanjang
hidup.
-
Usia peserta didik
:
Pads pendidikan formal usia pesórta didik relatif lama, pads pendidikan nonformal usia peserta didik rethtif tidak sama dan pada pendidikan informal usia peserta didik semua
umur.
-
Penilaian
:
Pada pendidikan formal ada ujian yang diselenggarakan secara formal dan
dibenr ijazah atau STTB. Pada pendidikan nonformal juga ada ujian dan diben ijazah atau surat keterangan. Pada pendidikan informal tidak ada ujian dan tidak ada penilaian yang sistematis dan tidak ada surat keterangan atau ijazah.
-
Penyelenggara pendidikan
:
Pendidikan formal diselenggarakan oleb pemerintah dan swasta yang diatur dalam suatu perundang undangan tertentu. Pendidikan
nonformal diselenggarakan oleh pemenintah dan swasta yang diatur dalam perundang-undangan tertentu. Pendidikan informal diselenggarakan oleh keluarga tidak ada aturan yang harus dipenuhi untuk menyelenggarakan pendidikan.
-
Metode mengajar
:
Pada pendidikan formal dituntut untuk menggunakan metode mengajar yang tertentu. Pada pendidikan nonformal dapat menggunakan metode mengajar tertentu walaupun tidak selalu.
-
Persyaratan bagi pengajar
:
Pengajar pada pendidikan formal harus mempunyai kewenangan yang didasarkan ijazah dan diangkat
untuk mengajar dalam suatu tugas tertentu. Pengajar pada pendidikan nonformal tidak selalu mempunyai ijazah sebagai pengajar. Pada pendidikan informal tidak ada persyaratan
ijazah dan surat pengangkatannya.
-
Administrasi
:
Pada pendidikan formal administrasi diatur secara sistematis dan sama
untuk setiap tingkat sekolah. Pada pendidikan nonformal administrasi ada tetapi tidak begitu uniform (seragam). pada pendidikan informal administrasi tidak ada.
-
Ditinjau
dari segi sejarah berdirinya :
Pendidikan formal berdiri paling akhir, disusul pendidikan nonformal. Sedang pendidikan informal ada sejak
manusia ada dan tenjadi proses transformasi nilai dan orang dewasa ke anak.
ORGANISASI ORANG TUA MURID
Dari uraian tersebut di alas dapat diketahui bahwa antara keluarga ada hubungan yang erat. Hubungan yang erat antara keluarga dan sekolah itu disebabkan secara hukum mempunyai tanggung jawab bersama terhadap pendidikan anak secara kodrat pendidikan anak memang merupakan tanggung jawab orang tua, tetapi secara hukum pemenintah/negara juga bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di samping orang tua dan
pemerintah masih ada lagi yaitu masyarakat. Oleh karena itu masyarakat dan pemerintah mendirikan sekolah. Masyarakat mendirikan sekolah swasta dan pemenintah mendirikan sekolah negeri.
Tiap-tiap permulaan tahun ajaran baru maka berduyuni-duyun anak usia
sekolah membanjiri sekolah, dan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Peran orang tua dalam pendaftaran siswa
baru pada tiap-tiap tingkat dan jenis sekolah tergantung pada usia anak. Pada pendidikan pra sekolah dan pendidikan dasar orang tua bersama anaknya mendaftarkan anak untuk menjadi murid
baru di sekolah. Pada Sekolah Menengah Pertama peran orang tua sudah berkurang anak
sendiri yang mendaftarkan diri. Akhirnya pada perguruan tinggi anak sendinilah yang mendaftarkan
diri sebagai mahasiswa baru. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penyerahan tanggung jawab pendidikan
dari orang tua kepada sekolah baik negeni maupun swasta. Sebab kemampuan dan waktu untuk melaksanakannya tugas
ini memang terbatas. Oleh orang tua yang kebetulan guru SD ia pun juga menyekolahkan anak pada suatu SD tertentu.
Setelah anak menyelesaikan pendidikan pada suatu tingkat atau jenis pendidikan maka sekolah mcnyerabkan kembali anak-anak yang diasuhnya kepada
orang tua siswa. Oleh karena itu setiap akhir tahun tiap sckolah dan pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi mengadakan pelepasan siswa-siswa yang telah berhasil menyelesaikan pendidikari di
sekolah tersebut.
Setelah menyerahkan anaknya pada sekolah tertentu, tidak berarti orang tua bebas dan tanggung jawab terhadap keberhasilan pendidikan anaknya
pada sekolah tersebut. Oleh karena itu dirasa perlu untuk membentuk suatu wadah dalam bentuk organisasi orang tua dalam rangka ikut bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Di pihak lain sekolah
menyadari bahwa guru juga perlu mengetahui latar belakang kehidupan anak. Oleh karena itu perlu dijalin hubungan yang erat antara guru dan orang
tua. Onang tua perlu memberikan penjelasan tentang latar belakang anak dan keluarganya kepada guru atau sekolah agar pendidikan anaknya dapat berjalan dengan lancar dan berhasil dengan memuaskan.
Guru perlu berkomunikasi dengan orang tua siswa berbagai cara perlu ditempuh untuk mengadakan komunikasi dengan orang tua umpama
kunjungan kerumah anak, meminta orang tua datang kesekolah, mengadakan pertemuan orang tua munid dengan guru dan
sebagainya.
PENGARUH KELUARGA TERHADAP PENDIDIKAN DI SEKOLAH
Dari uraian tersebut di atas kita telah mengetahui bahwa ada hubungan yang erat antara keluarga dan sekolah. Pendidikan dalam keluarga merupakan dasar pada pendidikan di sekolah.
Beriyamin S. Bloom (1976) menyatakan bahwa lingkungan keluarga dan faktor-faktor
luar sekolah yang telah secara luas berpengaruh terhadap siswa. Siswa-siswa hidup di kelas pada suatu sekolah
relatif singkat, sebagian besar waktunya dipergunakan siswa untuk
bertempat tinggal di rumah. Keluarga telah mengajarkan anak berbahasa, kemampuan untuk belajar
dari orang dewasa dan beberapa kualitas dan kebutuhan berprestasi, kebiasaan bekerja dan perhatian terhadap tugas yang merupakan dasar terhadap pekerjaan di sekolah.
Dari uraian ini dapat diketahui lebih lanjut bahwa kecakapan-kecakapan dan kebiasaan di rumah merupakan dasar bagi studi anak di sekolah.
Suasana keluarga yang bahagia akan mempengaruhi masa depan anak baik di sekolah maupun di masyarakat, dalam lingkungan pekerjaan maupun dalam lingkung keluarga kelak (Sikun Pribadi, 1981, p. 67).
Dari kutipan
ini dapat diketahui bahwa suasana dalam kelaurga dapat mempengaruhi kehidupan di sekolah.
Menurut Erikson yang dikutip oleh Sikun Pribadi (1981) bahwa pendidikan dalam keluarga yang
berpengaruh terhadap kehidupan anak di masa datang ditentukan oleh (1)
rasa aman, (2) rasa otonomi, (3) rasa inisiatif. Rasa aman ini merupakan
periode perkembangan pertama dalam perkembangan anak. Perasaan aman ini perlu diciptakan, sehingga anak merasakan hidupnya aman dalam kehidupan keluarga.
Rasa aman yang tertanam
ini akan menimbulkan dari dalam diri anak suatu kepercayaan pada diri sendini. Anak yang gagal mengembangkan rasa percaya
diri ini akan menimbulkan suatu kegelisahan hidup, ia merasa tidak disayangi, dan tidak mampu menyayangi.
Fase perkembangan yang kedua adalah rasa otonomi
(sense of autonomy) yang terjadi pada waktu anak berumur 2 sampai 3 tahun. Orang tua harus membimbing anak dengan bijaksana agar anak dapat mengembangkan kesadaran, bahwa ia adalah
pribadi yang berharga, yang dapat berdiri sendiri dan dengan caranya sendiri ia dapat memecahkan persoalan yang
ia hadapi. Kegagalan pembentukan rasa otonomi, suatu sikap percaya pada
diri sendiri dan dapat berdiri sendiri akan menyebabkan anak selalu tergantung hidupnya pada orang lain. Setelah ia memasuki bangku sekolah
ia selalu harus dikawal oleh orang tuanya. Ia selalu tidak percaya diri
sendiri untuk menghadapi persoalan yang dihadapi di sekolah.
Pada fase perkembangan ketiga disebut perkembangan
rasa inisiatip (sense of initiative) yaitu pada umur 4 sampai 6 tahun. Anak
harus dibiasakan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam lingkungan keluarga. Sebab dengan dibiasakan menangani masalah hidupnya maka anak akan mengembangkan inisiastipnya dan daya kreatifnya dalam rangka menghadapi tantangan hidupnya. Jika orang tua selalu membantu
dan bahkan melarang anaknya untuk mengerjakan sesuatu hal maka inisiatif dan daya kreasi anak akan lemah dan akan mempengaruhi hidup anak dalam belajar di sekolah.
Pengaruh kualitas pengasuhan anak dan kondisi lingkungan dengan perkembangan kemampuan anak
:
Levine dan Hagighurst (1984, p. 169.179)
melaporkan hasil penelitian. Anak yang tingkat kondisi IQ rendah dari suatu rumah yatim
piatu dengan kondisi yang menyedihkan sebagian kemudian diasuh dalam rumah yatim piatu yang kondisi baik dengan penyelenggaraan program-program perawatan yang
baik. Setelah satu tahun anak dari dua lingkungan yatim piatu tersebut dites intelegensi.
Dari hasil tes intelegensi diperoleh hasil bahwa IQ anak dipelihara dalam
rumah yatim piatu dalam kondisi yang menyedihkan IQ-nya teap bahkan ada yang menurun, scdang anak yang diasuh dalam kondisi rumah yatim piatu yang
baik IQ naik. Setelah belajar di sekolah anak-anak diasuh dalam kondisi yang
baik berhasil memperoleh ijazah pendidikan tinggi.
Pengaruh fasilitas hidup dalam keluarga dan rumah tangga terhadap perkembangan kognitif
:
Keluarga lapisan bawah, lapisan menengah dan lapisan atas memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Keluarga lapisan bawah fasilitas yang kurang
lengkap bila dibanding keluarga lapisan menengah dan lapisan atas.
Kelengkapan fasilitas mempunyai dampak yang positif terbadap pengembangan kognitif anak yang belajar di sekolah.
Pengaruh besamya keluarga terhadap kemamuan intelektual :
Dari hasil-hasil
penelitian dilaporkan bahwa besarnya keluarga berkorelasi negatif terhadap kemampuan intelektual
Dari hasil penelitian diketahui bahwa makin besar jumlah keluarga makin rendah kemampuan intelektual anak.
Sebaliknya makin kecil jumlah keluarga kemampuan intelektual makin tinggi. Jika ditambah variabel lapisan keluarga, maka
jumlah keluarga yang besar pada lapisan bawah kemampuan intelaktual akan
lebih rendah lagi di banding pada keluarga besar pada lapisan menengah Oleh karena makin banyak jumlah anak maka kemampuan intelektual makin rendah apalagi jika ditambah dengan lapisan keluarga rendah (miskin).
Pengaruh urutan kelahiran terhadap kemampuan intelektual :
Pengaruh urutan kelahiran
telah dilaporkan oleh Laosa dan Sigel (1982). Dari hasil penelitian ini diketahui makin menurun urutan kelahiran maka prestasi belajar makin rendah. Umumnya prestasi belajar anak sulung lebih baik daripada prestasi bclajar anak
kedua, anak kedua prestasi belajar lebih baik dari anak ketiga dan seterusnya.
Pengaruh pekerjaan ibu :
Pengaruh antara ibu yang bekerja di luar rumah terhadap prestasi
belajar anak belum ada kata sepakat. Dari berbagai penelitian ada kecenderungan bahwa prestasi
belajar anak dan ibu yang bekerja lebih tinggi dari anak dan ibu yang tidak bekerja. Tetapi pada beberapa penelitian juga menghasilkan bahwa prestasi belajar ibu yang tidak bekenja lebih tinggi
dari pada prestasi belajar dari anak ibu yang bekerja. Oleh karena itu perlu dilacak faktor yang lain yang menyebabkan keragu-raguan tersebut di atas umpama jenis kerja
dari ibu, kualitas keluarga dan sebagaiya.
Hubungan perlakuan orang tua dengan kemampuan kognitif :
Dari hasil penelitian Rollins dan Thomas yang dilaporkan oleh Lewin dan Havighurst (1982, p. 172-173) menyatakan bahwa (1)
makin besar dukungan orang tua makin tinggi tingkat perkembangan kognitif
anak, (2) makin kuat pemaksaan yang diberikan oleh orang tua maka makin rendah perkembangan kognitif anak, (3) makin besar dukungan orang tua, makin tinggi kemampuan sosial dan kemampuan instrumental anak, (4) makin kuat tingkat pemaksaan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya maka
makin rendah kemampuan sosialnya, (5) bagi anak perempuan besarnya dukungan dan frekuensi usaha pengawasan orang tua berkorelasi negatif terhadaap pencapaian prestasi akademik, (6) bagi anak laki.laki besarnya dukungan orang tua dan kuatnya pengawasan orang tua berkorelasi positif terhadap pencapaian prestasi belajar.
Luis M. Laosa dan Irving Sigel (1982) yang merangkumkan berbagai hasil penelitian juga melaporkan hasil
penelitian hubungan orang tua dengan keberhasilan belajar anak. Clarke dan Stewart
meneliti tentang penlakuan ibu dalam hubungan antara ibu dan anak terhadap prestasi belajar siswa menyimpulkan bahwa prestasi belajar anak dipengaruhi oleh hubungan akrab antara ibu dan anak. Dalam hubungan yang akrab itu ibu
sering mengajak berbincang-bincang anaknya, ibu memberikan hiburan terhadap anaknya,
memberi pujian, pertolongan dan keterangan-keterangan ibu juga mengajar berbagai hal seperti
bekerja sama dengan anak lain serta mengembangkan kegiatan anak. Apabila perlakuan tersebut di atas disertai suasana hubungan dan
kasih sayang ternyata lebih meningkatkan kemampuan intelektual dari pada penerapan disiplin yang kaku, pengawasan yang ketat, membujuk,
memberi perintah, dan larangan atau ancaman dan hukuman.
Pengaruh hubungan akrab antara ayah dan anak juga mempengaruhi kemampuan intelektual anak. Pergaulan yang akrab antara orang tua ayah dan anak akan mengurangi
rasa takut terhadap pengaulan antara anak dengan orang-orang di luar keluarga. Pengaruh hubungan akrab anak laki-laki dan ayahnya terhadap
prestasi belajar lebih tinggi dari pada pengaruh hubungan akrab antara ayah dan anak
putri terhadap prestasi belajar.
Pengaruh latar belakang keluanga terhadap hasil belajar di sekolah :
Menurut John Simmons dan Leigh Alexander (1983)
latar belakang keluarga biasanya berkaitan dengan status sosial ekonomi
keluarga. Status sosial ekonomi ini biasanya mempergunakan indikator pendidikan keluarga, pekerjaan dan penghasilan orang tua. Beberapa
penelitian juga memasukkan indikator-indikator lain seperti harapan siswa, harapan keluarga, harapan masyarakat setempat terhadap
hasil belajar anak serta sikap mereka terhadap hasil belajar. Hasil
penelitian yang dilaksanakan di India, Chile, Iran, dan Thailand yang
dilaporkan oleh Thorndike menjelaskan bahwa latar belakang keluarga itu dapat menjelaskan perubahan prestasi belajar antara
1,5% sampai 8,7%. Jika dikontrol dengan indikator-indikator yang berasal
dari sekolah seperti kualitas pengajaran, fasilitas sekolah, jumlah siswa dalam kelas dan sebagainya, hasil
test menunjukkan sumbangan latar belakang keluarga itu tidak signifikan.
|