VI. KELUARGA, TEMAN SEBAYA DAN PENDIDIKAN   

  1. TEMAN SEBAYA DAN PENDIDIKAN

KARAKTERISTIK SOSIAL

 
Marilah kita perhatikan apa yang ada dan apa yang terjadi di luar sekolah dan di luar keluarga. Di luar keluarga dan di luar sekolah selalu terjadi kelompok-kelompok anak. Kelompok-kelompok ini sibuk dengan kegiatan-kegiatannya sendiri. Mereka ada yang berbincang-bincang tentang sesuatu yang sama-sama menarik baginya, ada yang bermain-main dengan suka riangnya. Apakah kelompok-kelompok ini dapat disebut kelompok sosial dan kelompok teman sebaya?

 
Seperti telah kita ketahui bahwa manusia itu merupakan makhluk individu yang sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia akan selalu terikat pada akunya sendiri. Ia akan berbahagia jika ia dapat memuaskan dirinya. Sebagai makhluk individu Ia akan berjuang untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya sendiri.

 
Manusia sebagai makhluk sosial merasa terikat oleh hal-hal dirinya sendiri. Ia akan merasa puas dan bahagia jika berada dalam kehidupan bersama. Oleh karena itu ia selalu berjuang untuk dapat bersatu dengan orang lain. Soerjono Soekanto (1981) menjelaskan bahwa sejak lahir manusia sudah mempunyai dua hasrat atau keinginan yaitu (1) keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain yang berbeda di sekelilingnya (masyarakat), (2) keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Atas dasar dua keinginan ini maka manusia dengan sadar membentuk kelompok-kelornpok sosial sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan dalam hidup bersama, dimana di dalamnya terjadi hubungan timbal balik antara anggota kelompok, dan terjadi kerja sama dan tolong-menolong di antara mereka.

 
Himpunan atau kesatuan hidup itu dapat disebut kelompok, jika memenuhi beberapa persyaratan. Menurut Soerjono Soekanto (1981, p.94-95) ada 3 persyaratan agar himpunan atau kesatuan hidup bersama disebüt kelompok yaitu: (1) setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan, (2) ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dan anggota yang lain, (3) terdapat suatu faktor yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok itu, sehingga hubungan antara mereka menjadi bertambah erat. Faktor tadi dapat berupa hasil yang sama, kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, musuh bersama dan sebagainya.

 
Macam-macam kelompok sosial dapat dibedakan menjadi 3 kelompok besar yaitu (1) berdasarkan kesatuan-kesatuan wilayah, (2) kesatuan-kesatuan berdasarkan kepentingan sama tanpa organisasi yang tetap, (3) kesatuan-kesatuari atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap (Soerjono Soekanto, 1981, p. 97).

 
Kelompok sosial berdasarkan kesatuan wilayah mempunyai kriteria utama bahkan masing-masing mempunyai kepentingan yang sama dan bertempat tinggal pada suatu wilayah tertentu. Kelompok sosial yang bersifat umurn adalah masyarakat dan yang bersifat khusus adalah suku, bangsa, daerah, kota, desa, rukun tetangga.

 
Kelompok-kelompok sosial berdasarkan atas kepentingan yang sama, tetapi tanpa organisasi yang tetap. Kriteria utarna (1) adalah adanya sikap yang sama di antara anggota-anggota kelompok dan (2) organisasi sosial tidak tetap. Kelompok sosial ini dibedakan menjadi tiga tipe yaitu:

  1. Kelas dengan tipe yang bersifat khusus yaitu kasta, elite, kelas dasar persaingan, kelas atas dasar kerja sarna. Di samping mempunyai kriteria utama tersebut di atas mempunyai kriteria tambahan yaitu (1) adanya kernampuan untuk pindah dari satu kelompok ke kelompok lain dan (2) ada perbedaan dalam kedudukan prestise, kesempatan dan tingkat ekonomi.
     

  2. Kelompok etnis dan ras dengan tipe khusus kelompok-kelompok atas dasar perbedaan warna kulit, kelompok-kelompok emigran dan kelompok nasional. Kriteria tambahan untuk type khusus ini adalah daerah asal kelompok, golongan, luas wilayah tempat tinggal dan ciri-ciri badaniah seperti rambut, kulit, mata dan seagamanya.
     

  3. Kelompok sosial kerumusan dengan tipe khusus kerurnusan dengan kepentingan yang sarna dan kepentingan urn urn. Kriteria tambahan khusus adalah kepentingan-kepentingan dari para anggota bersifat sernentara dan sifat kelompoknya juga sementara.

Kelompok-kelompok sosial berdasarkan kesatuan-kesatuan atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi yang tetap. Kelompok sosial ini disebut juga kelpmpok sosial asosiasi (association). Kriteria utama kelompok sosial asosiasi adalah adanya kepentingan-kepentingan terbatas dari kelompok sosial ini dan organisasi sosialnya tertentu. Kelompok sosial asosiasi ini dibagi dua kelompok asosiasi yang besar dan kelompok asosiasi yang kecil. Kelompok pertama sebagai kelompok sosial asosiasi besar mempunyai kriteria tambahan sebagai berikut (1) jumlah anggota secara relatif terbatas, (2) mempunyai organisasi formal, (3) mempunyai hubungan-hubungan penting yang tidak pribadi, (4) ada jenis kepentingan yang dikejar. Tipe khusus dari kelompok sosial asosiasi ini adalah negara, gereja, perkumpulan atas dasar ekonomi, persatuan buruh dan sebagainya. Kedua kelompok sosial asosiasi yang kecil dalam tipe umum kelompok utama atau (primary group) . Kelompok sosial ini mempunyai ciri khusus (1) jumlah anggotanya terbatas, (2) organisasi formal, (3) menganggap penting hubungan-hubungan yang tidak pribadi, (4) ada jenis kepentingan yang dikejar. Tipe-tipe khusus kelompok sosial ini adalah keluarga, kelompok bermain, klik, (clique), club (perkumpulan pemuda) dan sebagainya.

 
Dari uraian tersebut di atas dapat diketahul bahwa ada bermacam-macam kelompok sosial. Kelompok teman sebaya atau kelompok permainan (peer group) temasuk kelompok sosial berdasarkan ke kesatuan atas dasar kepentingan yang sama dengan organisasi. Kelompok teman sebaya termasuk tipe kelompok utama atau primary group dalam tipe khusus.

 
KARATERISTIK TEMAN SEBAYA 

 

Menurut WFConnell(1972) kelompok teman sebaya (peer frienship group) adalah kelompok anak-anak atau pemuda yang berumur sama atau berasosiasi sama dan mempunyai kepentingan umum tertutup, seperti persoalan-persoalan anak-anak umur sekolah sampai dengan masa remaja (adolesence).

 
Kelompok teman sebaya dalam kelompok utama. Kelompok utama merupakan kelompok sosial di mana masing-masing anggota terjalin hubungan yang erat dan bersifat pribadi.Sebagai hasil hubungan yang bersifat pribadi adalah peleburan dan individu dalam kelompok, sehingga tujuan individu menjadi tujuan kelompoknya. Kelompok-kelompok sebaya di kampung-kampung mereka bersatu dalam Satu permainan, berdiskusi tentang sesuatu masalah. Dalam kelompok ini mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka ketemukan di rumah. Saling hubungan yang bersifat pribadi itu menyebabkan seseorang dapat mencurahkan isi hatinya kepada teman-temannya baik sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang menyedihkan. Oleh karena itu anak-anak ini sering meninggalkan rumah dalam waktu yang berjam-jam lamanya. Dalam kelompok ini terjadi kerja sama, tolong-menolong, akan tetapi sering juga terjadi persaingan, dan pertentangan.

 
WF Connell menyatakan bahwa kelompok utama itu mempunyai ciri-ciri (1) jumlah anggotanya kecil, (2) ada kepentingan yang bersifat umum dan dibagi secara langsung, (3) terjadi kerja sama dalam suatu kepentingan yang diharapkan, (4) pengertian pribadi dan saling hubungan yang tertinggi antar anggota dalam kelompok biarpun dapat terjadi pertentangan (WF. Connell, 1972, p.76). Kelompok teman sebaya baik yang terjadi di masyarakat maupun di sekolah terdiri kelompok-kelompok sosial yang beranggotakan beberapa orang. Dalam kelompok ini sering terjadi tukar-menukar pengalaman, berbagai pengalaman, kerja sama, tolong-menolong, tenggang masa dalam kelompok sebaya adalah tinggi. Dalam kelompok sosial terjadi empati, simpati, dan antipati. Antipati yang terjadi dalam kelompok disebabkan oleh adanya ketidak cocokan antara individu sehingga tenjadi pertentangan dan percecokan antar anggota.

 
Untuk mengetahui kelompok sebaya sebagai kelompok utama, maka perlu beberapa hal. Kingley Davis (1960) menyatakan bahwa untuk memahami kelompok utama perlu diperhatikan (1) kondisi pisik dari kelompok utama, (2) sifat-sifat hubungan primair dan (3) kelompok-kelompok yang konknit dan hubungan primair (Soenjono Soekanto, 1981, p.102).

 
Suatu kelompok sosial untuk dapat menjadi kelompok utama tidak cukup dengan hubungan yang saling kenal-mengenal. Ada tiga syarat yang penting agar kelompok sosial menjadi kelompok utama yaitu (1) secara fisik berdekatan satu sama lain, (2) anggota kelompok kecil, (3) adanya hubungan yang tetap antar anggota anggota kelompok. Agar kelompok sosial menjadi kelompok utama maka secara fisik harus berdekatan, terjadi hubungan tatap muka, sehingga terjalin hubungan yang akrab. Dalam hubungan yang akrab ini akan saling berbicara, bertukar pikiran, cita-cita, maupun perasaan. Mereka berjalan bersama, belajar bersama, bermain-main bersama, makan bersama dan lain sebagainya. Keadaan akrab yang demikian hanya bisa berjalan dengan baik jika jumlah anggotanya relatif kecil.

 
Keakraban ini dapat terganggu jika dalam masyarakat terdapat norma yang ketat umpamanya kasta atau kelompok atas (elite), atau kelompok bangsawan, kelompok priyayi. Kelompok-kelompok ini akan sulit mendorong timbulnya kelompok utama dalam masyarakat yang bersifat majemuk. Dalam kelompok yang kecil akan mudah tejalin hubungan yang bersifat pribadi. Jika terjadi percecokan yang melibatkan orang tua maka orang tua masing-masing kelompok belum akrab justru anaknya sudah bermain bersama kembali. Hal ini menunjukkan kelompok ini mempunyai sifat tetap.

 
Salah satu sifat.utama dari hubungan yang bersifat primair adalah adanya kesamaan tujuan dan individu yang tergabung dalam kelompok. Hubungan-hubungan ini bersifat pribadi, spontan, sentimental dan inklusif. Persamaan tujuan ini mempunyai dua arti yaitu (1) individu yang bersangkutan mempunyai keinginan dan sikap yang sama pula, (2) satu pihak ada yang bersedia untuk berkorban demi kepentingan pihak lain. Sebagai contob suatu kelompok ingin bermain sepak bola, maka mereka yang membeli bola. Dalam kejadian itu ada anak yang mengorbankan uangnya untuk membeli bola dan digunakan bermain bersama-sama. Dalam saling hubungan tersebut adanya nilai sosial, sebab dalam saling hubungan ini bersifat suka rela, semua pihak benar benar merasakan suatu kebebasan dalam pelaksanaan. Sifat hubungan bersifat pribadi. Hal ini berarti bahwa saling hubungan dalam kelompok itu teijalin bukan karena diberi sesuatu yang bersifat material, hubungan antar pribadi tidak dapat pula digantikan dengan orang lain. Suatu kelompok belajar yang terdiri dan lima orang, kelompok ini tidak dimasuki oleh anak lain biarpun dapat menurunkan biaya yang ditanggung kelompok ini. Oleh karena itu kelompok utama juga bersifat inklusif.

 
Kelompok sosial yang termasuk dalam kelompok utama adalah banyak, tetapi kelompok kelempok itu sulit untuk memenuhi persyaratan itu. Menurut kenya sehari-hani dapat terjadi perselisihan dan perpecahan di dalam kelompok ini, dapat terjadi saling membenci antara anggota kelompok.

 
TEMAN SEBAYA DAN PENDIDIKAN

 
Seperti telah dijelaskan bahwa menurut bentuknya pendidikan dapat menjadi pendidikan informal, pendidikan formal, dan pendidikan nonformal. Dalam ketiga bentuk pendidikan itu terdapat dua dunia yang saling berhadapan yaitu dunia anak didik dan dunia pendidik. Dalam keluarga berhadapan dunia orang tua dan dunia anak, dalam pendidikan formal dan pendidikan nonformal ada dua dunia pendidik (guru) dan dunia siswa. Dunia anak dan dunia siswa ini akan berkaitan dengan kelompok sebaya. Oleh karena sekolah dan keluarga akan berhadapan dengan kelompok sebaya.

 
TEMAN SEBAYA DAN KELUARGA

 
Kelompok sebaya telah terbentuk sejak anak itu masih kanak-kanak (W.F Connell, 1972, F.J Monks, A.M.P. Noers, Siti Rahayu Haditono, 1982 dan B. Simandjuntak dan I.L Pasanibu, 1981). Kelompok teman sebaya ini timbul sejak anak itu telah mempunyai perhatian terhadap dunia sekeilingnya. Singgih D. Gunarsa (1983) menjelaskan bahwa anak umur 9 bulan sampai 14 bulan telah memperhatikan dunia sekelilingnya terutama melalui alat permainannya. Baru pada usia 2 tahun anak mempunyai sikap ingin berkawan yaitu dengan tukar-menukar alat permainannya, meskipun suasana berkawan ini tidak berlangsung dalam waktu yang lama. Keinginannya untuk bermain dengan anak yang lain makin jelas ketika anak itu berusia 3 tahun. Dalam usia 4 tahun anak makin senang bergaul dengan anak lain, terutama teman yang usianya sebaya. ia dapat bermain dengan anak lain berdua, atau bertiga, tetapi bila teman bermain lebih banyak akan terjadi pertengkaran. Pada usia ini akan dapat bermain bersama tetapi belum dapat bekerja sama. Oleh karena itu kelompok sebaya juga disebut kelompok bermain. Anak-anak berkumpul untuk bermain bersama. Anak sibuk dalam dunia anak yaitu dunia permainan. Dalam dunia permainan ini anak mulai belajar berkawan, di sini ia dapat dipengaruhi hal-hal yang berasal dari temannya yang berasal dari lingkungan keluarga lain. Dalam kelompok bermain ini dapat dimasuki berbagai nilai yang berasal dari keluarga masing-masing Anak dapat dipengaruhi hal-hal yang baik juga hal-hal yang buruk. Sebagai contoh anak-anak yang marah-marah di rumahnya, karena diganggu kakaknya, anak itu mengatakan kata yang kotor kepada kakaknya. maka ibu anak tersebut merasa heran, sebab dalam keluarganya tidak diajarkan kata-kata yang kotor tersebut. Pada hari lain, ibu minta penjelasan dari mana diperoleh kata kotor itu. Anak aitu memberi tahukan kepada ibunya bahwa kata tersebut diucapkan oleh temannya bermain, waktu ia marah marah kepada teman lain. Jika orang tua itu hanya meihat aspek yang kurang baik, maka ibu akan melarang anak untuk bermain dengan kawannya lagi. Tetapi orang tua yang bijaksana justru meminta anaknya, untuk memperingatkan kawannya, jika kawannya mengatakan kata yang kotor itu lagi.

 
Dari uraian tersebut teman sebaya dan pendidikan dalam keluarga berhubungan erat. Keluarga dapat menanamkan nilai-nilai dalam kelompok sebaya, sebaliknya kelompok sebaya juga dapat membantu anak untuk memahami nilai-nilai moral dan sosial.

 
HUBUNGAN TEMAN SEBAYA, KELUARGA DAN SEKOLAH

 
Sejak anak usia sekolah umur 5 tahun sampai 6 tahun, teman atau kelompok sebaya tidak hanya berhubungan dengan keluarga, tetapi juga sekolah. Kelompok sebaya merupakan lingkungan di mana saling berbagi pengalaman baik yang diperoleh melalui sekolah maupun pengalaman yang diperoleh dari keluarga. Anak-anak mulai memilih teman bermain, entah teman tetangga, entah teman sebayanya yang ditemukan. Pada anak-anak yang lebih besar, mereka akan memilih teman sendiri siapa yang akan menjadi teman bermain. Biasanya anak perempuan menyukai teman perempuan karena adanya persamaan minat dan kemampuan bermain yang sama. Sedangkan anak laki-laki mencari teman yang Ia kagumi karena misalnya pandai bemain catur, gemar berolah raga dan sebagainya.

 
Pada anak-anak remaja dalam perkembangan sosial menunjukkan dua arah yaitu (1) memisahkan diri dari orang tuanya dan (2) menuju ke arah teman-teman sebaya (FJ Monks, AMP Knoers, Siti Rahayu Haditono, 1982, p.231). Dua macam gerak ini tidak merupakan dua hal yang berturutan meskipun yang satu dapat terkait dengan yang lain. Adanya gerakan pertama tanpa adanya gerak yang kedua dapat menyebabkan rasa kesepian. Aurubel (1965) menjelaskan adanya keadaan ini yang ekstrim akan menyebabkan timbulnya bunuh diri. Dengan mulai berseminya dorongan sexual maka kelompok sebaya tidak saja terdiri dari satu jenis kelamin, tetapi kelompok pada masa remaja telah bercampur antara pria dan wanita. Anak remaja merasa dirinya bukan lagi anak, tetapi mereka masih diperlakukan sebagai kanak-kanak. Oleh karena itu dia mencoba utuk membentuk dunianya sendiri yaitu dunia remaja. Kelompok sebaya ini terbentuk karena mereka memiliki dunia yang sama. Dalam kelompok sebaya ini mereka saling mengisi.

 
Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan dirinya dari lingkungan orang tua, untuk identitas ego. Remaja melepaskan dirinya dari orang tua dan membentuk kelompok. Dalam kelompok yang terjadi frekuensi interaksi yang makin banyak maka korelasi kelompok akan semakin kuat. Dalam kelompok-kelompok dengan korelasi yang kuat berkembanglah satu iklim kelompok dan norma-norma kelompok tertentu. Norma-norma kelompok itu sangat ditentukan oleh pemimpin-pemimpin dalam kelompok. Moral kelompok dapat berbeda dengan moral dalam keluarga. Bila moral kelompok lebih baik dan moral keluarga tidak akan membedkan masalah apa pun, asal remaja itu betul-betul meyakini moral kelompok yang dianutnya. Akan tetapi jika moral kelompok berbeda dengan moral keluarga, padahal moral keluarga lebih baik, maka akan terjadi permasalahan antara anak dan keluarga, dan akhirnya akan timbul persoalan antara hubungan antar kelompok sebaya dan keluarga.

 
Di dalam sekolah kelompok-kelompok remaja sering juga dapat menimbulkan kesukaran-kesukaran bila pemimpin nonformal dalam kelas bertentangan dengan pemimpin formal atau gurunya. Bila pelajaran yang dibenikan tidak menarik dan dipandang tidak ada artinya maka konflik sosial tersebut dengan mudah dapat terjadi. Ketua kelas sebagai pimpinan formal dalam kelas akan berhadapan dengan pimpinan nonformal di luar kelas atau pimpinan kelompok sebaya. Adanya kelompok sebaya yang bermacam-macam maka dapat tejadi bertentangan kelompok bila norma kelompok berbeda-beda. Pertentangan kelompok akan menyeret pertentangan antar sekolah atau antar kelas. Sebagai contoh perkelahian siswa yang sampai merenggut jiwa siswa di Jakarta. Data kepolisian dari bulan Januari sampai Oktober 1989 terjadi 86 kali perkelaian antar pelajar. Dari perkelahian itu terjadi pembunuhan 2 orang, luka berat 28 anak,juga luka ringan 22 anak, Dari dengar pendapat Komisi IX DPR RI dengan Pengurus OSIS berbagai SLTAdi Jakarta diketahui bahwa pimpinan kelompok sebaya atau pimpinan nonformal lebih berpengaruh dari pada pimpinan formal, seperti ketua OSIS atau ketua kelas. Pimpinan-pimpinan nonformal inilah yang biasa berpengaruh kuat. Jika pada persoalan dengan sekolah mereka inilah yang mengajak kawan-kawannya untuk menentang sekolah (Kompas, Jumat, 24 September 1989). Jadi ada hubungan yang kuat antara kelompok sebaya dengan sekolah. Jika kelompok sebaya itu mempunyai norma-norma yang baik akan berpengaruh yang baik terhadap sekolah, dapat membawa nama baik sekolah, tetapi jika terdapat norma-norma yang kurang baik juga akan mencemarkan nama sekolah.

 
Kelompok sebaya memang dapat dimanfaatkan untuk membantu peran keluarga maupun sekolah sebagai pemegang peran pendidikan. Oleb karena itu kelompok sebaya perlu mendapat bimbingan dan pengarahan agar memilih kegiatan-kegiatan yang baik. Sekolah dapat menggunakan kelompok sebaya ini dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Para guru pembimbing dapat memanfaatkan kelompok teman sebaya ini sebagai media bimbingan secara kelompok.

 
Agar perlu mengetahui kelompok lebih lanjut maka perlulah kiranya diketahui berbagai sikap remaja dalam kelompok (Rahayu Haditono, 1981, p.14-15)

  1. Kompetisi (persaingan) :
    Persaingan mengandung kebaikan juga karena kompetisi dapat merupakan daya pendorong untuk maju. Selain itu kompetisi membuat remaja mengenal kemampuan-kemampuannya sendiri. Kompetisi menjadikan baik bila merupakan dorongan yang terus-menerus untuk berbuat begitu.
     

  2. Konformitas (berbuat sama dengan yang lain) :
    Sikap ini membuat remaja ingin menyamakan dirinya dengan teman-temannya, berpakaian sama, berlagak sama dan berbuat hal-hal yang sama. Banyak kenakalan anak dilakukan karena ajakan atau pengaruh teman.
     

  3. Menonjolkan diri atau menarik perhatian :
    Selain sikap kompetisi dan komformitas, remaja juga bersikap ingin menonjolkan dirinya, ingin menarik perhatian kelompoknya. Dan itulah ia sering berbuat aneh-aneh, berpakaian yang mencolok ketawa dibuat-buat. Tingkah laku ngebut, show off ugal-ugalan, sering didorong oleh keinginan untuk menarik perhatian ini dan dihargai oleh kelompoknya.
     

  4. Menentang kekuasaan otorita atau orang tua :
    Sikap ini sebetulnya sudah ada pada masa sebelum remaja, tetapi menjadi dominan pada masa remaja. Memasuki dunia kelompok teman, remaja sering menolak aturan-aturan yang dikenakan padanya, ia menolak campur tangan orang tuanya terhadap urusan-urusan pribadinya. Sering timbul bentrokan-bentrokan antara orang tua dan anak.
     

  5. Kesadaran sosial :
    Kalau masih banyak kesalahan-kesalahan dalam tingkah laku remaja, namun pengertian-pengertian mengenai kewajiban-kewajiban yang dikenakan padanya dan kelompok maupun masyarakat, sudah timbul pada remaja. Terutama pada masa remaja akhir, remaja berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat, walau masih sering melakukan kesalahan-kesalahan. Remaja sudah lebih pandai untuk mencari cara-cara menarik perhatian yang tidak bertentangan dengan norma- norma masyarakat.

Di samping remaja mempunyai sikap terhadap kelompok-kelompok juga mempunyai kriteria untuk dapat menenima seorang remaja dalam suatu kelompok. Tingkat penerimaan seorang individu dalam kelompok tergantung pada beberapa hal seperti di bawah ini (Siti Rahayu Haditono, 1981, p.16-i7).

  1. Kesan pertama :
    Kesan pertama banyak menentukan popularitas remaja dalam kelompoknya. Misalnya seorang remaja yang pemalu mempunyai kesan kurang ramah sedangkan remaja yang supel dianggap sebagai baik hati, cakap dan sebagainya. Kesan pertama ini ikut menentukan status remaja dalam kelompoknya.
     

  2. Mempunyai penampilan yang menanik :
    Karena seseorang dinilai dari kesannya terhadap orang-orang lain, maka penampilan yang menarik sangat menguntungkan. Penampilan yang kurang menarik membuat seseorang merasa rendah diri, kurang ramah, malu dan akhirnya bersikap kurang sosial.
     

  3. Reputasi :
    Reputasi seseorang sering memberikan kesan “halo”, sekali jelek, sukar untuk diubah begitu pula kalau terlanjur baik, akan mempengaruhi kesan terhadap dirinya cukup lama. Beberapa remaja berusaha untuk mempertinggi kesan terhadap dirinya dengan berbuat macam-macam tindakan berani. Tindakan tindakan apa yang memberikan reputasi baik atau jelek berbeda-beda menurut jenis kelamin dan menurut kelas sosial seseorang.
     

  4. Partisipasi sosial :
    Makin banyak partisipasi sosialnya, makin terkenal seorang remaja dalam kelompoknya dan makin baik kesempatannya untuk diterima. Biasanya remaja yang accepted lebih terlibat dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.
     

  5. Kemampuan bicara :
    Remaja yang pandai dalam berbicara, dapat leading dalam konversasi, mungkin pandai berpidato sering dikagumi dan dianggap hebat atau pandai. Juga mereka yang dapat melucu, dapat membuat suasana gembira dan hidup, membantu acceptance di dalam kelompok.
     

  6. Kesehatan :
    Biasanya remaja yang populer juga mempunyai kesehatan yang baik. Ikut aktif dalam aktivitas kelompok. Remaja yang terganggu kesehatannya tak mungkin dapat ikut kegiatan kelompok dan dengan sendirinya tidak mendapatkan populeritas di antara teman-temannya. Remaja yang mempunyai cacat juga sering mempunyai konsep diri yang tidak baik.
     

  7. Jauh dekatnya rumah dengan kelompok :
    Bagi para remaja yang dekat rumahnya tentu akan lebih dapat mengikuti aktivitas-aktivitas kelompok dibanding dengan mereka yang jauh rumahnya. Para remaja yang sering mengikuti aktivitas-aktivitas kelompok akan lebih dapat diterima oleh kelompoknya.
     

  8. Lama waktu menjadi anggota kelompok :
    Lama waktu menjadi anggota kelompok berguna untuk diterima oleh kelompok itu bagi sementara orang, tetapi juga kurang ada pengaruhnya bagi sementara orang lagi. Seorang remaja yang mempunyai kesan pertama yang kurang baik atau yang mempunyai norma-norma yang bertentangan dengan norma kelompok akan tetap tidak disukai oleh kelompoknya, tetapi bagi remaja yang malu dan terasing makin lama makin kenal teman-temannya, dan dengan begitu makin dapat menyesuaikan diri dan diterima oleh kelompoknya.
     

  9. Sifat kelompok :
    Kelompok yang besar atau kelompok yang kecil mempunyai kriteria sendiri untuk menerima anggota anggotanya. kelompok yang kecil lebih mementingkan akan pribadi seseorang, apa kemampuannya, bagaimana sifat-sifat. kelompok yang besar lebih mementingkan sumbangan/kontribusi seseorang kepada kelompoknya meskipun sifat-sifat pribadi juga diperhatikan.
     

  10. Status sosial ekonomi :
    Keadaan sosial ekonomi seseorang memberikan pengaruh yang penting dalam penilaian kelompok. Seseorang yang dapat membenikan sumbangan material untuk kepentingan kelompok menambah popularitasnya dan memberikan lebih banyak kesempatan untuk diterima, meskipun juga sifat-sifat pribadi seseorang ikut menentukan penerimaan ini.
     

  11. Mempunyai kemampuan untuk lekas mengerti keaadaan :
    Kemampuan yang dibutuhkan untuk dapat diterima adalah yang disebut social skill yaitu kekampuan untuk lekas mengerti situasi-situasi sosial dan dapat menyesuaikan dirinya pada situasi tersebut.