http://pakguruonline.pendidikan.net

   

 

Daftar Isi

Data dan indukator pendidikan

 

Defenisi, rumus, kriteria dan kegunaan indikator

 

Defenisi, rumus, kriteria dan kegunaan indikator data pendidikan: 

 

- Data Pendidikan

 

- Data Mutu

 

TekniK analisis data

 

Implikasi bagi perencanaan

TEKNIK

ANALISISI DATA

PENDIDIKAN

  

Untuk mengetahui bagaimana profil pendidikan suatu daerah baik kabupaten/kota maupun propinsi, maka perlu dilakukan analisis terhadap data yang disajikan. Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dan kegunaan analisis data dan bagaimana analisis deskriptif dapat dilaksanakan berdasarkan indikator yang ada untuk mengetahui suatu profil pendidikan di kabupaten/kota maupun propinsi.   

 

A.     Pengertian dan Kegunaan Analisis Data.   

 

       Analisis data adalah suatu kegiatan untuk meneliti, memeriksa, mempelajari, membandingkan data yang ada dan membuat interpretasi yang diperlukan. Selain itu, analisis data dapat digunakan untuk mengindentifikasi ada tidaknya masalah. Kalau ada, masalah tersebut harus dirumuskan dengan jelas dan benar. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang memberikan gambaran dengan jelas dan benar. Teknis analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang memberikan gambaran dengan jelas makna dari indikator-indikator yang ada, membandingkan dan menghubungkan antara indikator yang satu dengan indikator lain. 

      Kegunaan analisis data adalah sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan, perencanaan, pemantauan, pengawasan, penyusunan laporan, penyusunan statistik pendidikan, penyusunan program rutin dan pembangunan, peningkatan program pendidikan, dan pembinaan sekolah. 

B.    Analisis Deskriptif 

Dalam melaksanakan analisis deskriptif, indikator yang digunakan adalah indikator nonpendidikan dan pendidikan yang terdiri dari indikator efisiensi internal.

 Untuk dapat memberikan interpretasi terhadap indikator ini, perlu disajikan kriteria sebagai standar untuk menentukan atau menginterpretasikan indikator tersebut. Kriteria ini bisa dirinci dalam dua jenis :

 1.      Kriteria dihasilkan dari angka rata-rata nasional dengan interval antara tinggi,

       sedang dan rendah untuk profil propinsi dan profil kabupten/kota serta angka

       rata-rata propinsi untuk profil kabupten/kota. Interval diambil dari nilai yang

       tertinggi dan nilai terendah.

2.        Kriteria dihasilkan dari angka rata-rata nasional atau propinsi untuk profil

       propinsi dan profil kabupten/kota dan angka rata-rata propinsi untuk profil

       kabupten/kota. 

Analisis deskriptif dengan menggunakan kedua kriteria di atas dapat dilaksanakan melalui beberapa cara yaitu :           

  1.  Analisis makro untuk indikator kabupaten/kota dan propinsi. Analisis ini dilaksanakan dengan membandingkan indikator yang ada dengan rata-rata propinsi atau rata-rata nasional. Misalnya: indikator APM, rata-rata propinsi atau nasional = 75 persen, maka kabupaten/kota atau propinsi yang APMnya kurang dari 75 persen terdapat masalah dan melalui faktor internal dan eksternal agar dicari masalahnya.

  2.  Analisis makro antar indikator dan jenjang pendidikan untuk indikator kabupaten/ kota dan propinsi. Analisis ini digunakan dengan membandingkan indikator satu dengan indikator lainnya pada jenjang yang berbeda. Misalnya membandingkan antar indikator yaitu indikator angka melanjutkan dan tingkat pelayanan sekolah atau membandingkan satu indikator angka melanjutkan pada jenjang SLTP dengan SM. 

  3. Analisis disparitas indikator setiap kecamatan atau kabupaten/kota. Analisis ini dilaksanakan dengan melihat disparitas antar kecamatan atau kabupaten/kota. Misalnya, rasio siswa per kelas dibandingkan antar kecamatan atau kabupaten/kota dengan menggunakan standar adalah rata-rata angka kabupaten/kota atau propinsi. Bagi kecamatan atau kabupaten/kota yang berada dibawah rata-rata kabupaten/kota atau propinsi merupakan kecamatan atau kabupaten/kota tersebut yang perlu diberi penanganan khusus. 

  4.  Analisis disparitas indikator setiap kecamatan atau kabupaten/kota. Analisis ini dilaksanakan dengan memberikan bobot untuk setiap indikator  di mana bobot yang besar diberikan pada indikator yang dianggap paling menentukan sehingga dapat diperoleh nilai di setiap kecamatan. Nilai yang paling tinggi menunjukkan kecamatan atau kabupaten/kota yang tidak bermasalah dan perlu dipertahankan, sedangklan nilai yang rendah adalah kecamatan atau kabupaten/kota yang bermasalah sehingga perlu diberi penanganan khusus. 

Analisis Nonpendidikan dan Pendidikan diuraikan berikut ini : 

1. Analisis Nonpendidikan dilaksanakan untuk mengetahui apakah terdapat permasalahan dalam kegiatan yang menyangkut penduduk dilihat dari indikator-indikator berikut ini. 

  1.  Persentase penduduk menurut tingkat pendidikan (% PTP), indikator ini menunjukkan bahwa penduduk yang bermutu dapat dilihat dari tingginya persentase penduduk yang memiliki pendidikan sarjana ke atas.         Kriteria  : Rata-rata nasional atau propinsi, bila lebih kecil dari angka nasional atau propinsi berarti masih ada permasalahan kecilnya penduduk yang berpendidikan tinggi sehingga perlu dicari jalan keluarnya, misalnya dengan memberikan penyuluhan bahwa pendidikan sangat penting bagi peningkatan sumber daya manusia.

  2.  Angka buta huruf (ABH), indikator ini menunjukkan bahwa masyarakat yang bermutu dapat dilihat dari rendahnya ABH. Kriteria  :  Rata-rata nasional atau propinsi, bila lebih besar dari angka nasional atau propinsi berarti masih ada permasalahan sehingga perlu dicari jalan keluarnya, misalnya dengan meningkatkan program Kejar Paket A PBH.

  3.  Angka melek huruf (AMH), indikator ini menunjukkan kebaikan dari indikator ABH, bahwa masyarakat yang bermutu dapat dilihat dari tingginya AMH penduduk. Kriteria  : Rata-rata nasional atau propinsi, bila lebih rendah dari angka nasional berarti masih ada permasalahan banyaknya penduduk buta huruf sehingga perlu dicari jalan keluarnya, misalnya dengan meningkatkan program Kejar Paket A PBH.

  4.  Persentase penduduk miskin (% PM), indikator ini menunjukkan bahwa masyarakat yang bermutu dapat dilihat dari rendahnya % PM. Kriteria   : Rata-rata nasional atau propinsi, bila lebih besar dari angka nasional berarti masih ada permasalahan banyaknya penduduk miskin sehingga perlu dicari jalan keluarnya, misalnya dengan meningkatkan program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) 

2.      Analisis Pendidikan dilaksanakan untuk mengetahui apakah terdapat permasalahan dalam kegiatan pendidikan yang menyangkut pemerataan, mutu, relevansi dan efesiensi internal yang dilihat dari indikator-indikator yang ada. 

Contoh analisis di bawah ini menggunakan indikator pemerataan, namun hal yang sama juga bisa dilakukan untuk indikator mutu, relevansi dan efesiensi internal. 

Penjelasan indikator pemerataan dengan menggunakan kedua kriteria di atas. 

APK, APM, Perbandingan Antar jenjang, Siswa per Sekolah, Siswa per Kelas, Siswa per Guru, Kelas per Ruang Kelas, Kelas per Guru, Angka Melanjutkan, dan Tingkat Pelayanan Sekolah. 

Analisis makro untuk tiap indikator kabupaten/kota dan propinsi. 

Indikator untuk pemerataan yang ada dibandingkan dengan angka rata-rata nasional atau angka rata-rata propinsi. Bila nilai masing-masing indikator yang ada kurang dari rata-rata tersebut, maka daerah atau propinsi atau kabupaten/kota tersebut mempunyai masalah dan harus diberi penanganan khusus. 

Analisis makro antar indikator dan jenjang pendidikan untuk kabupaten/kota dan propinsi. 

Indikator untuk pemerataan yang ada, misalnya APM dan Tingkat Pelayanan Sekolah (TPS) dibandingkan dengan rata-rata nasional atau rata-rata propinsi. Dari perbandingan dua indikator tersebut dapat disimpulkan daerah atau kabupaten/kota atau propinsi mana yang ada masalah, masalah dapat berupa kekurangan gedung sekolah atau kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Bila digambarkan dalam diagram dapat dilihat sebagai berikut :   

    Diagram tersebut terbagi dalam 4 zona yaitu 1, zona 2, zona 3 dan zona 4. Zona tersebut dibentuk dari APM dan TPS dengan menggunakan rata-rata nasional yaitu APM SD sebesar 95 % dan TPS SD sebesar 134. 

Zona 1 :  Daerah yang menunjukkan tingkat pelayanan sekolah lebih rendah dari angka nasional (134) misalnya 150 namun telah mencapai angka partisipasi murni sekitar atau lebih tinggi dari angka nasional (95 %), misalnya 96 %. Hal ini berarti, walaupun daerah tersebut masih kekurangan sekolah namun angka partisipasi murni cukup tinggi. Saran : Perlu pembangunan UGB atau RKB.

Zona  2 :  Daerah yang menunjukkan tingkat pelayanan sekolah lebih tinggi dari angka nasional (134) misalnya 125 namun telah mencapai angka partisipasi murni sekitar atau lebih tinggi dari angka nasional (95 %), misalnya 97 %. Hal ini berarti, daerah tersebut telah cukup sekolah dan angka partisipasi murni juga cukup tinggi. Saran : Karena kondisi pendidikan daerah ini cukup baik maka perlu dipertahankan.

Zona  3 : Derah yang menunjukkan tingkat pelayanan sekolah lebih rendah dari angka nasional (134) misalnya 150 dan pencapaian angka partisipasi murni jauh dibawah angka nasional (95 %), misalnya 85 %. Hal ini berarti,  daerah tersebut kekurangan sekolah dan juga angka partisipasi murnimasih rendah. Saran : Perlu pembangunan UGB atau RKB, pelaksanaan berbagai pola wajar seperti Paket A, dsb.

Zona  4 :  Daerah yang menunjukkan tingkat pelayanan sekolah lebih besar dari angka nasional (134) misalnya 125 tetapi pencapaian angka partisipasi murni jauh dibawah dari angka nasional (95 %), misalnya 85 %. Hal ini berarti, daerah tersebut telah mencukupi sekolah namun angka partisipasi murni masih rendah. Saran : Pemberian beasiswa, Jaring Pengaman Sosial (JPS), Orang Tua Asuh dan penyuluhan berbagai pola wajar Paket A, dsb. 

Analisis makro untuk antar jenjang-pendidikan untuk indikator kabupaten/kota dan propinsi. 

Indikator untuk pemerataan, misalnya dibandingkan antara Angka Melanjutkan ke SLTP dan SM, antara APK SD dengan SLTP dan SM, antara rasio siswa per kelas SD dengan SLTP dan SM. Contoh : 

a.      Angka melanjutkan ke SLTP = 75,0%, ke SM = 60,0%, bila pemerataan di semua jenjang, maka yang perlu ditangani adalah angka melanjutkan ke SM sehingga mendekati angka melanjutkan ke SLTP.

b.      APK SD = 95,0%, SLTP = 65,0 % dan SM = 45,0%, bila pemerataan di semua jenjang, maka yang perlu ditangani adalah APK di SM dibandingkan dengan SLTP dan SD, tetapi bila prioritasnya adalah wajar diknas 9 tahun, maka yang perlu ditangani adalah peningkatan APK di SLTP.

c.      Rasio siswa per kelas SD = 25, SLTP = 35 dan SM = 40, bila pemerataan di semua jenjang maka yang perlu ditangani adalah rasio siswa per kelas di SM, tetapi bila prioritasnya adalah wajar diknas 9 tahun, maka yang perlu ditangani adalah penurunan rasio siswa per kelas di SLTP. 

Analisis disparitas indikator setiap kecamatan atau kabupaten/kota

Indikator untuk pemerataan dilakukan dengan membandingkan disparitas antar kecamatan atau kabupaten/kota satu dengan kabupaten/kota lainnya dengan menggunakan angka rata-rata nasional sehingga akan diketahui kecamatan atau kabupaten/kota mana yang angkanya lebih kecil dari rata-rata nasional sehingga APM SD kecamatan-kecamatan yang kecil itu yang perlu diketahui permasalahannya dan menjadi prioritas penanganan lebih dulu. Contoh : 

Kecamatan 1 : 50,0%, kecamatan 2 : 65,0%, kecamatan 3 : 75,0%,kecamatan 4 : 55,0%, kecamatan 5 : 72,0% kecamatan 6 : 77,0% sedangkan rata-rata kabupaten/kota : 70,0%, maka yang perlu ditangani terlebih dahulu adalah kecamatan 1, kemudian kecamatan 4 dan kecamatan 2. 

Analisis disparits indikator dengan memberikan bobot untuk setiap kecamatan atau kabupaten/kota 

Indikator untuk pemerataan disatukan, kemudian masing-masing indikator diberikan bobot sesuai dengan penting tidaknya indikator tersebut. Misalnya APM diberikan bobot yang lebih banyak dibandingkan dengan angka melanjutkan dan angka melanjutkan diberi bobot lebih besar dibandingkan dengan rasio siswa per sekolah, karena APM lebih menentukan pemerataan pendidikan dibandingkan rasio lainnya, sehingga setiap kecamatan atau kabupaten/kota akan mempunyai nilai masing-masing. Jumlah nilai yang terkecil menunjukkan kecamatan atau kabupaten/kota tersebut bermasalah sehingga perlu ditangani lebih lanjut. Contoh :

Kecamatan 1 memiliki APM = 60,0%, AM 50,0% dan S/Sek = 240

Kecamatan 2 memiliki APM = 70,0%, AM = 60,0% dan S/Sek = 120

APM diberi bobot 50% AM diberi bobot 30% dan S/Sek diberi bobot 20% kemudian perhitungan nilainya menjadi : 

Nilai kecamatan 1 adalah :   (0,5*60)+(0,3*50)+(0,2*240) =  30+15+120 = 165

Nilai kecamatan 2 adalah :   (0,5*70)+(0,3*60)+(0,2*120) =  35+20+60 = 115 

Dengan melihat nilai kedua kecamatan tersebut, berarti kecamatan 1 memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan kecamatan 2, maka yang perlu dicari masalahnya adalah kecamatan 2. 

Untuk menentukan bobot masing-masing indikator belum disertakan dalam analisis ini, namun diserahkan pada masing-masing daerah. Jadi contoh diatas belum ketentuan baku. 

Analisis indikator pemerataan dan mutu menggunakan cara yang lain : 

Pemerataan 

APK/APM

a.      Berapa APK dan APM Kabupaten/Kota

b.      Seberapa jauh angka-angka tersebut dari pencapaian target Wajar Diknas 9 thn

c.      Lakukan hal yang sama untuk tingkat kecamatan 

d.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang APK atau APM SD/MI melebihi 100%

      dari jelaskan mengapa terjadi keadaan seperti itu (apa ada kemungkinan

      indikator eksternal yang mempengaruhinya).

e.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang APK dan/atau APM paling rendah dan

      jelaskan mengapa terjadi keadaan seperti itu (apa ada kemungkinan

      indikator-indikator eksternal yang mempengaruhinya).

f.        Identifikasi kecamatan-kecamatan yang APK dan/atau APM paling tinggi dan

      jelaskan mengapa terjadi keadaan seperti itu (apa ada kemungkinan

      indikator-indikator eksternal yang mempengaruhinya).

g.      Lakukan/amati apakah ada perbedaan antara APK dan APM. Jelaskan apa arti

      perbedaan tersebut dilihat dari : (1) over aget; (2) Underget.

h.      Sebutkan indikator-indikator internal yang dapat menyebabkan besar kecilnya

      APK/APM.

i.        Amati apakah APK/APM SD/MI yang tinggi disuatu kecamatan diikuti pula

      dengan APK/APM yang tinggi pada jenjang berikutnya.

j.         Sebutkan indikator-indikator eksternal apa yang mungkin dapat menjelaskan

      besar kecilnya APK/APM. 

Analisa ini dilkukan baik untuk tingkat kabupaten dan/atau kecamatan. 

Angka Melanjutkan

a.      Berapa angka melanjutkan SD/MI SLTP/MTs, SMU/MA pada tingkat kabupaten

b.      Tentukan seberapa jauh angka tersebut dari 100%. Jelaskan sebab-sebabnya.

c.      Identifikasi kecamatan yang angka melanjutkannya lebih kurang 100% dan

      jelaskan apa penyebabnya.

d.      Identifikasi kecamatan-kecamatan dengan angka melanjutkan yang rendah dan

      jelaskan kemungkinan sebabnya. Demikian pula dengan kecamatan-kecamatan

      yang angka melanjutkannya tinggi.

e.      Apakah tinggi rendahnya angka melanjutkan kecamatan di suatu jenjang, diikuti

      pula dengan tinggi rendahnya angka melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi

f.        Sebutkan indikator-indikator eksternal yang mungkin dapat menjelaskan besar

      kecilnya angka melanjutkan tersebut.

g.      Sebutkan indikator-indikator eksternal yang mungkin dapat menjelaskan besar

      angka melanjutkan tersebut 

Tingkat Pelayanan Sekolah

a.      Berapa tingkat pelayanan sekolah pada tingkat kabupaten dan jelaskan

      maknanya

b.      Identifikasi kecamatan yang tinggi tingkat pelayanan sekolahnya, jelaskan

      sebab dan maknanya.

c.      Identifikasi kecamatan yang rendah tingkat pelayanan sekolahnya, jelaskan

      sebab dan maknanya

d.      Amati apakah tingkat pelayanan yang tinggi diikuti dengan APK/APM yang

      tinggi pula atau diikuti dengan Rasio Siswa kelas yang tinggi

e.      Amati bagaimana tingkat kesenjangan tingkat pelayanan antar kecamatan dan

      jelaskan sebab-sebabnya. 

Rasio Siswa Kelas

a.      Berapa besar rasio kelas pada tingkat kabupaten dan jelaskan makna rasio

      tersebut

b.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang rasio siswa kelasnya melebihi rasio

      kabupaten, mengapa terjadi demikian ?

c.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang rasio siswanya mencolok rendah dan

      jelaskan sebabnya

d.      Sebutkan indikator-indikator eksternal yang mungkin dapat menjawab tinggi atau

      rendahnya rasio tersebut

e.      Melakukan hal yang sama untuk setiap jenjang pendidikan 

Peningkatan Mutu 

Nilai Ebtanas Murni (NEM) Lulusan

a.      Identifikasi besarnya NEM lulusan pada tingkat kabupaten dan beri makna

      terhadap angka tersebut

b.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang secara mencolok melebihi dan kurang

      dari NEM rata-rata kabupaten jelaskan mengapa terjadi demikian

c.      Temukan faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat menjelaskan

      besar/kecilnya NEM tersebut.

d.      Lakukan analisa ini untuk semua jenjang pendidikan (SD/MI, SLTP/MTs dan

      SMU/SM)

e.      Berapa % guru yang layak mengajar pada tingkat kabupaten

f.        Identifikasi kecamatan-kecamatan yang secara mencolok lebih tinggi dan lebih

      rendah dari angka kabupaten

g.      Identifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat menjelaskan terjadinya

      perbedaan-perbedaan tersebut

h.      Lakukan analisis yang sama untuk semua jenjang pendidikan 

Kondisi Ruang Belajar

a.      Berapa % ruang belajar yang berkondisi baik, rusak berat, rusak ringan tingkat kabupaten

a.    Identifikasi kecamatan-kecamatan yang mempunyai % tinggi dalam kondisi

       rusak berat dan rusak ringan

b.      Lakukan analisis ini untuk semua jenjang pendidikan 

Ketersediaan Fasilitas Pendidikan Lainnya

a.      Berapa % ketersediaan fasilitas belajar (perpustakaan, lapangan olahraga dan

      UKS) dimiliki sekolah pada tingkat kabupaten

b.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang punya % tinggi dan rendah

      dibandingkan kabupaten.

c.      Lakukan analisis ini untuk semua jenjang pendidikan 

Angka Putus Sekolah Mengulang

a.      Berapa % angka putus sekolah, mengulang tingkat kabupaten

b.      Identifikasi kecamatan-kecamatan yang punya % tinggi dan rendah

      dibandingkan kabupaten

c.      Lakukan analisis ini untuk semua jenjang pendidikan  

 

 


  

  

 http://pakguruonline.pendidikan.net

Situs ini menampung sumbangan tulisan, berupa makalah, kajian, serta ciloteh para guru.

 Silahkan kirim tulisan  kepada web master 

zfikri@telkom.net