|
KEBENARAN
TENTANG NATAL
(THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS)

Oleh
Herbert W. Armstrong
Ternyata Perayaan Natal bukan berasal dari agama
kristen, tetapi merupakan ajaran Pagan/Penyembah Berhala. Silakan membaca seluk
beluk perayaan Natal dikupas secara lengkap oleh Herbert W. Armstrong
seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat.
Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen "Plain Truth" yang
bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS (By Herbert W.
Armstrong)
DAFTAR ISI
1. Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)- 2. Kenangan Natal Dimasa Kecilku- 3. Sejarah Natal- 4. Yesus tidak lahir pada 25 Desember- 5. Proses Natal Masuk Gereja- 6. Asal usul Natal- 7. Asal Usul Pohon Natal- 8. Siapa Santa Claus / Sinterklas itu ?- 9. Kata Bible tentang Pohon Natal- 10. Hadiah Natal- 11. Hadiah untuk Yesus- 12. Natal Memuliakan Tuhan ?- 13. Tanpa Disadari kita kembali ke masa Babilonia-
Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM
dalam buku "Misteri Natal" Tentang Seluk beluk perayaan Natal
dikupas secara lengkap oleh Herbert W. Armstrong kepala editor majalah
Kristen "Plain Truth" yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
1. Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)
Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan
pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah
seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat.
Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen "Plain
Truth" yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke
seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College
yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big
Sandy Texas. Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador
International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada
masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.
Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk
memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan
kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti
di Jepang, India, Afrika Selatan, China, Israel dan Mesir. Pada usianya yang
sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan
di depan publik. Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful
World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in
Prophecy.
2. Kenangan Natal Dimasa Kecilku
Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal, saya
biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat
ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan
hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut,
juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas
berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk
anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.
Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa
oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui
cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu
saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian.
Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan
adat kebiasaan yang harus kita terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat
menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.
Mengapa kita bersikap demikian? Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan
apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap
mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk dipotong sekalipun. Tetapi
sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal
sehat.
Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah
menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang
percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen
yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah
upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara
merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang
merupakan larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman
tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul
juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan
tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga
betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya . dan seterusnya .
Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa
semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi
betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?
Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini
dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran
Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang
berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.
3. SEJARAH NATAL
Kata Christmas (Natal) yang artinya Mass of Christ
atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan
kelahiran "Yesus". Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan
semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma.
Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan
Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya.
Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat
ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh
dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari
kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam
Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul "Christmas", anda
akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals
of Church. the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs
centering around the January calends gravitated to christmas." "Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal
Gereja. bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir.
Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh
pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus." Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul "Natal
Day," Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
"In the Scriptures, no one is recorded to have
kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like
Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born
into this world."
"Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang
mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari
kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes)
yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini."
Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946,
menjelaskan sebagai berikut:
"Christmas was not among the earliest festivals
of the church. It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible
authority. It was picked up of afterward from paganism."
"Natal bukanlah upacara-upacara awal gereja.
Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible
(Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh
gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala."
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga
menyatakan sebagai berikut:
"Christmas. It was, according to many
authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the
Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons
rather than their birth." (The "Communion," which is instituted by
New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.)". A feast was
established in memory of this event (Christ's birth) in the fourth century. In
the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on
the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain
knowledge of the day of Christ's birth existed."
"Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan,
Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya
merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah
merayakan hari kelahiran orang tersebut.." ("Perjamuan Suci" yang
termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.)".
Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai
diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan
kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil
dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari "Kelahiran Dewa
Matahari." Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus."
Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan
kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua
ratus atau tiga ratus tahun kemudian jarak waktu yang lebih lama dari umur negara
Amerika Serikat upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat
Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh
orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma
memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.
4. YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMBER
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada
musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan
hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat
kelahiran Yesus sebagai berikut:
"Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal
di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah
seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi
mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada
mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan
besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus, di kota Daud."
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di
padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang
dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut
sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin
yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2:
dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak
mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan: "It was an ancient
custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about
the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the
first rain." (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York).
"Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi
untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal
musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama)."
Adam Clarke melanjutkan: "During the time they were out, the sepherds
watch them night and day. As. the first rain began early in the month of Marchesvan,
which answers to part of our October and November (begins sometime in
october), we find that the sheep were kept out in the open country during the
whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks,
it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and
that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no
flock were out in the fields; nor could He have been born later than
September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground,
the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by
night in the fields is a chronological fact. See the quotation from the
Talmudists in Lightfoot."
"Selama domba-domba berada di luar, para
penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila. hujan pertama mulai turun pada bulan
Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai
dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu
dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala
belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba.
Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada
tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka
di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September,
karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari
berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus
disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah.
sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab "Ringan
Kaki".
Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci
Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada
tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan
terang-terangan mengakui fakta ini.
Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari
kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti
sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa
Yesus lahir pada awal musim gugur yang diperkirakan jatuh pada bulan
September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan
merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan
menyembunyikan hari kelahirannya.
5. PROSES NATAL MASUK KE GEREJA
New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge
dalam artikelnya yang berjudul "Christmas" menguraikan dengan
jelas sebagai berikut:
"How much the date of the festival depended upon
the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and
celebrating the shortest day of the year and the 'new sun'. can not be
accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply
entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence. The pagan
festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad
of an excuse to continue its celebration with little change in spirit
and in manner. Christian preachers of the West and the Near East
protested against the unseemly frivolity with which Christ's birthday was
celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western
brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan
festival."
"Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait
pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari
perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta
festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan
Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil
Kristen. Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah
jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat
menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini.
Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah
mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari."
Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada
abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis
politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para
pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin
naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4
M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat
yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari
kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut
sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh
kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan
seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap
melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog
Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin
tetap merayakan hari "Sunday" sebagai hari kelahiran Dewa
Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari - dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu -- pen.)
Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak
Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi
kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa
Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari
kelahiran Son of God (Anak Tuhan - Yesus).
Demikianlah asal usul "Christmas - Natal"
yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah
menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal, pada hakikatnya sama
dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa
saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga
fisiknya tetap kelinci. Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica
yang mengatakan sebagai berikut:
"Certain Latins, as early as 354, may have
transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic
feas. or birthday of the unconquered SUN. The Syrians and Armenians, who clung
to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry,
contending. that the feast of December 25th, had been invented by disciples of
Cerinthus."
"Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun
354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari
ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau
kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan
orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan
hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa
perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang
dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen,
dilakukan oleh Cerinthus."
6. ASAL USUL NATAL
Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma,
dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir)
Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan,
dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?
Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab)
sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan
ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh
masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud - di masa inilah nabi
Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir
besar di masa nabi Nuh.
Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri
sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar
pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih
keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel, membangun kota Babilonia,
Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajan di
dunia. Nama "Nimrod" dalam bahasa Hebrew(Ibrani) berasal dari kata "Marad"
yang artinya "dia membangkang atau murtad" (Karena bahasa Ibrani
serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata "Marad"
dengan kata Arab "Ridda" atau "murtad". Pen)
Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan
Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang
manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat
banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama
Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri
tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya,
walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon
Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh
Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk
mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen
ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon
itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon
Natal.
Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod,
Semiramis dianggap sebagai "Ratu Langit" oleh rakyat Babilonia. Dengan
berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai "Anak Suci dari Sorga".
Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu
bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah
menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem
kepercayaan Babilonia ini, "Ibu dan anak" (Semiramis dan Nimrod
yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak
ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang
berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir
dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam
agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani, China, Jepang, Tibet bisa ditemukan
adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!
Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia
pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut
"Kristen," dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya
kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama
di waktu hari Natal. Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu
atau hymne: "Silent Night" atau "Holy Night" yang sangat
akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.
Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya
Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang
berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk
mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu - Apakah ia berasal dari
ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala
yang sesat?
Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima
kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih
aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan
telah berfirman kepada para utusannya yang setia:
"Katakan dengan lantang, dan jangan menghiraukan
penghinaan mereka! Kumandangkan suaramu seperti terompet! Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan
mereka!" Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi
mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari
Bibel (Alkitab).
Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa
Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan
puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.
Di Mesir, ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit)
melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua
orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang
tahun (Natal) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.
Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25
Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan
orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal, meskipun
hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam
Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun
anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen.
Percaya atau tidak, terserah anda!
Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang
dikenal dengan "Chaldean Mysteries" (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran
Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah
berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang
disebut Kristen.
7. ASAL MULA POHON NATAL
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan
memasang pohon Natal itu? Diantara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu
disebut "Mistletoe" yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka
harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah
memberikan mukjizat penyembuhan.
Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal
acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum
sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati
kematian "Matahari Tua" dan kelahiran "Matahari Baru" di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut "Holly
Berries" juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule
dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang
terdapat dalam upacara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir,
sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati
angkasa sebelah selatan. Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:
"The Holly, the Mistletoe, the Yule log. are
relics of pre-Christian times." "Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan
batang pohon Yule. yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari
zaman sebelum Kristen."
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh
Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
"The use of Christmas wreath is believed by
authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places
of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The
Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long
anterior to the Christian Era."
"Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah
warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah
dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal
sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya
lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen."
8. SIAPA SANTA CLAUS/SINTERKLAS ITU?
Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme,
tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang
pastur yang bernama "Santo Nicolas" yang hidup pada abad ke
empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman
648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:
"St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored
by the Greek and Latins on the 6th of December. A Legent of his surreptitious
bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen. is
said to have originated the old custom of giving presents in secret on the
Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day.
Hence the association of Christmas with Santa Claus."
"St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra
yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6
Desember. Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah
secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin.
untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara
tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari
Natal dan Santa Claus."
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum
anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal, mereka
membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat
mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan
mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos
atau dongeng belaka?
Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa
tertipu, dan mereka pun mengatakan:
"Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos
Yesus Kristus!" Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan
kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:
"Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara
yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan
kesesatan." Oleh karena itu, upacara "Si Santa Tua" itu
juga merupakan Setan.
Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:
"Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis
pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika
pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka
akan setimpal dengan perbuatan mereka." (II Korintus 11:14)
Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi
dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu
bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah
berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun
yang lampau.
9. KATA BIBEL TENTANG POHON NATAL
Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal, atau
mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya
sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang
dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai
berikut:
"Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah
langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun
bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah
kesia-siaan."
"Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang
dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?
Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang
memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang."
Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon
Natal. Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala.
Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat
kelima dijelaskan bahwa:
"Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus
mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri." "Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat
berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik."
Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi
mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini,
beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal. Tetapi jika telah
membacanya, apa yang harus dikatakan?
10. HADIAH NATAL
Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal
adalah "The Christmas Shopping Season - Musim Belanja Natal" yang
dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang
mengecam kami sambil berkata:
"Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan
kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke
Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?"
Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab.
Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah
menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita
bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155,
kita dapat membaca sebagai berikut:
"The interchange of presents between friends is
alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been
adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly
shows."
"Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal
serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi
oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan
oleh orang-orang Tertulianus."
Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan
pertukaran hadiah sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali
tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah
merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya. Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai
sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari
kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli
lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi
tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda
rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang
selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka
menghormati "sebuah hari" yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus dengan
berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada
teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama
bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan
Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah
kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember adalah bulan yang paling sulit untuk
menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli
dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya.
Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari
bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang
dibelanjakan pada waktu Natal. Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali
sebelum bulan Maret.
Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga
orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai
berikut:
"Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah
Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke
Yerusalem dan bertanya-tanya: "Dimanakah dia, raja orang
Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami
datang untuk menyembah dia." Ketika raja Herodes mendengar tentang hal
itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam
kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari
mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di
Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau
Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara
mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang
pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel. Lalu dengan diam-diam
Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya
kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke
Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak
itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku
pun datang menyembah dia." Setelah mendengar kata-kata raja itu,
berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu
mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu
berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria,
ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta
bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali
kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan
lain."
11. HADIAH UNTUK YESUS
Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut
menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang
Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi
hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?
Jawabannya adalah "Tidak." Sebab mereka
memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya.
Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk
melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita?
Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar
hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar
hadiah sesama teman atau kerabatnya.
Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke
Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut:
"Verse 11. (They presented unto him gifts.) The
people of the east never approach the presence of kings and great personages,
without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old
Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly
discored South Sea Islands."
"Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.)
Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang
terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum
dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat
ditemukan di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan)."
Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita,
bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan
dengan kebiasaan Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya untuk
menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang
timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi
Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa
hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para
tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke
White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.
Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari
ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang
dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal
atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan
ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari
ajaran Yesus.
12. NATAL MEMULIAKAN TUHAN?
Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang
yang menyelenggarakan Natal, sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus,
meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan
Paganisme:
1. Banyak yang mengajukan alasan: "Walaupun kita
tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih
hari untuk merayakan ulang tahunnya."
Kami akan menjawab dengan pasti "Tidak
bisa". Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah
dijelaskan:
"Sinners alone, not saints, celebrate their
birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang
tahun mereka."
Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama
Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.
2. Ada pula yang beralasan: "Walaupun Natal itu
kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita
tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus
Kristus."
Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan
melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:
"Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena
jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya
jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata:
"Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau
berlaku begitu." Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab
segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang
dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan
anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka." (Ulangan
12:30-31)
Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya,
bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai
atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara
penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang
demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja
berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita
menyembahNya hanya dengan "menurut kata hati kita sendiri." Yesus
telah bersabda:
"Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah
Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki
penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:24)
Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman
Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang
berbunyi sebagai berikut:
"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu
adalah kebenaran." (Yohanes 17:17)
Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman
bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara
penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai
untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.
Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:
"Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan
ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia."
Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran
manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda
lagi:
"Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi
kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri."
Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan
kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan
ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir
penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan
berfirman:
"Janganlah kamu berbuat demikian terhadap
Tuhanmu."
Ternyata hampir semua orang menganggap ringan
larangan itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka
mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal.
Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat
semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita
tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan
membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita
tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam,
niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup,
sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili
sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun
tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.
14. TANPA DISADARI KITA KEMBALI KE MASA BABILONIA
Christmas atau Natal telah menjadi musim panen para
pedagang. Ia menjadi sponsor yang terus dilestarikan oleh perusahaan
advertising setiap tahun. Anda selalu melihat Santa Claus yang dipajang di
setiap toko. Iklan-iklan menyambut dan mengajak kita untuk merayakan
"Beautiful Christmas Spirit". Koran yang selalu menjual iklan, ikut menyemarakkan
musim kaum kafir tersebut di tajuk rencananya.
Orang yang mudah terbius oleh tradisi ini, akan marah
bila ditunjukkan kebenaran dari Tuhan. Padahal "Christmas Spirit
= Semangat Natal" yang diselenggarakan setiap tahun itu, bukanlah untuk
mengangungkan Kristus, melainkan hanya untuk promosi barang-barang dagangan.
Sebagaimana rayuan setan lainnya, ia dikemas sedemikian rupa sehingga
tampak seperti "Malaikat Pembawa Terang" yang amat indah. Setiap tahun
jutaan dolar dihabiskan begitu saja, sementara ajaran Yesus diterlantarkan. Itulah
bagian dari sistem perekonomian Babilonia.
Sebagaimana yang telah diramalkan oleh Bibel
(Alkitab), kita merasa berada di negara Kristen, padahal kita di Babilonia, tetapi
kita tidak menyadarinya. Ingatlah pesan Alkitab yang berbunyi
sebagai berikut:
"Pergilah kamu hai umatKu, pergilah dari
padanya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu
jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya." (Wahyu 18:4)
Oleh karena itu, di tahun ini, daripada jutaan uang
tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, lebih baik
dibelanjakan untuk menunjang pekerjaan Tuhan.
Untuk Mendowload di : http://mcb.swaramuslim.net/data/index.php
|