|
MEMBANGUN
KEMAMPUAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
MELALUI PEMANFAATAN
TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI
DALAM RANGKA OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN*)
Oleh :
Prof. Dr. Azis Wahab, M.A. (Ed)
Direktur
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI)
Pertama-tama
saya sampaikan rasa terima kasih yang setulus tulusnya
dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kepercayaan
yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan Orasi
Ilmiah dalam rangka pelaksanaan Wisuda X STKIP Garut dan
Wisuda I AMIK Garut. Dalam acara upacara yang berbahagia
ini marilah kita panjatkan puja dan puji serta rasa
syukur kehadirat Allah Subhanahu Wataala yang berkat
rakhmat dan karunia-Nya kita dapat melaksanaan acara ini
sebaik-baiknya.
Pada
Orasi Ilmiah ini saya akan berusaha mengetengahkan
beberapa aspek penting tentang kaitan antara teknologi
komunikasi dan informasi dengan peningkatan kemampuan
manajemen di bidang pendidikan dalam menyongsong otonomi
daerah. Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya
pengembangan gagasan guna membangun suatu kesiapan
perangkat pendidikan yang ada di daerah dalam
menyongsong pelaksanaan otonomi daerah yang akan datang.
Sesuai dengan apa yang disampaikan pemerintah tentang
otonomi daerah, ditegaskan bahwa pelaksanaannya adalah
pada Januari 2001, atau tiga bulan dari sekarang. Tiga
bulan bukanlah waktu yang panjang bagi upaya persiapan
yang baik bagi pelaksanaan sebuah sistem yang akan
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan secara keseluruhan.
Situasi
tersebut membawa kita kepada keadaan yang sejalan dengan
kecenderungan global yang ditandai dengan era informasi,
era keterbukaan, era demokratisasi, deregulasi dan
desentraralisasi.
Namun
demikian euphoria kebebasan dan perubahan ini
jangan sampai membawa kita sebagai bangsa tenggelam di
dalam perubahan-perubahan yang amat cepat itu tetapi
bagaimana kita sebagai individu dan kelompok baik
pada tingkat lokal, nasional
maupun global memposisikan diri dalam menghadapi
gejolak perubahan tersebut.
Gejolak
perubahan yang penuh dengan ketidakpastian itu membawa
kita semua kepada upaya memilih dan menetapkan
alternatif-alternatif yang paling baik bagi setiap orang.
Dalam menghadapi perubahan yang cepat tersebut
satu-satunya cara untuk tetap dapat berada pada posisi
yang baik dalam situasi perubahan yang begitu cepat dan
hampir-hampir tak terkendalikan itu adalah “belajar
secara cepat” pada semua bidang kehidupan tak
terkecuali bidang pendidikan.
Kecepatan
perubahan yang diistilahkan dengan “accellerated
change”, ‘tumultuous change.” “rapid change”
para akhli menuntut kepada kita semua yang hidup dalam
abad informasi, era globalisasi yang diwarnai oleh
revolusi teknologi komunikasi dan informasi mendorong
setiap individu, lembaga dan organisisasi serta
institusi pendidikan untuk melakukan repositioning
agar senantiasa dapat exist dalam era yang penuh
dengan “uncertainty”, “continuity” dan
“confrontation” yang jika tidak dihadapi dengan
penuh kearifan, kesiapan dan “kecerdasan” akan
membawa malapetaka yang akan sulit mengatasinya.
Untuk
itu diperlukan alat yang tepat dan manajemen
yang baik agar keberadaan kita dalam situasi itu
selain dapat mengikuti juga sekaligus diharapkan dapat
mempengaruhi dan mengarahkan perubahan itu. Kemampuan
itu hanya dapat dimiliki dengan memahami sebaik-baiknya
perilaku dan sifat teknologi komunikasi dan informasi
agar dapat dimaksimalkan pemanfaataannya bagi berbagai
kepentingan dan khususnya di bidang pendidikan
Kesemua
itu hanya mungkin dilakukan selain dengan memahami
perilaku dan sifat teknologi komunikasi dan informasi
juga harus dipahami dengan sebaik-baiknya kaitan yang
kuat antara teknologi komunikasi informasi dengan
pendidikan. Peranan teknologi informasi dapat
dimaksimalkan dengan mengkaji kemungkinan-kemungkinan
yang dapat dilakukan untuk pendidikan dengan
memanfaatkannya secara maksimal. Perannya dalam berbagai
segi kehidupan umumnya telah banyak dikenal atau bahkan
telah digunakan oleh berbagai kalangan tidak terkecuali
dalam bidang pendidikan.
Itulah
sebabnya percepatan dalam
perubahan harus diimbangi dengan kecepatan dalam
belajar sebab milenium III lebih diwarnai oleh perubahan
kecenderungan yang amat kuat dari mengajar kepada
belajar sebagaimana telah dikemukakan oleh Rose
dan Nicholl (1997) di mana manpower
telah digantikan perannya oleh mind
power / brain power / intellectual power sebab
perubahan-perubahan yang cepat termasuk apa yang disebut
revolusi teknologi komunikasi dan informasi ditandai
dengan perubahan yang cepat
(accellerated change) dan untuk itu perlu diimbangi
dengan kecepatan di dalam belajar (accellerated
learning).
Kecepatan
didalam belajar dapat dilakukan antara lain dengan
memperhatikan prinsip-prinsip berikut :
-
belajar
bagaimana belajar (learning how to learn);
-
memahami
dengan baik teknik belajar sendiri (natural learning
style);
-
memiliki
kemampuan/keterampilan dalam memanfaatkan teknologi
informasi;
-
mengkaji
informasi dengan cepat, memahaminya dan diingat
dengan baik.
Mengkaji
dan mengimplementasikan prinsip-prinsip di atas
diharapkan dapat membantu percepatan dalam belajar yang
juga sekaligus merupakan tuntutan era informasi yang
dipacu lebih cepat melalui revolusi teknologi komunikasi
dan informasi sebagaimana telah diutarakan. Karena itu
prinsip-prinsip di atas juga sekaligus merupakan
langkah-langkah penting yang perlu dikaji dalam
pelaksanaan desentralisasi daerah dan otonomi
pendidikan yang didasari oleh
pendidikan yang berbasis masyarakat
(Community-Based Education – CBE) dan pada akhirnya
mengarah pada pengelolaan berbasis sekolah (School-Based
Management).
Memanfaatkan
berbagai kemudahan dari teknologi komunikasi dan
informasi hanya mungkin terjadi jika dikelola dengan
baik. Telah dipahami bahwa kepemimpinan adalah inti
manajemen, dan oleh sebab itu meningkatkan kemampuan
manajemen merupakan sebuah keharusan jika keberhasilan
pelaksanaan pendidikan dalam era desentralisasi daerah
dan desentralisasi pendidikan diharapkan berhasil.
Peningkatan kemampuan manajemen dapat dilakukan melalui
kepemimpinan yang dapat menciptakan situasi yang
kondusif bagi terjadinya inovasi dan perubahan-perubahan
dengan menggunakan berbagai perangkat teknologi
komunikasi dan informasi.
Oleh
karena sifat yang melekat pada teknologi komunikasi dan
informasi, membuka kemungkinan bagi
pemanfaatannya secara luas dalam bidang pendidikan baik
pada tingkat perencanaan dan pembuatan keputusan
(decision support system) tentang suatu kebijakan
pendidikan sampai pada implementasinya dalam mendukung
proses pendidikan tersebut. Hal itu dimungkinkan oleh
besarnya peluang untuk mengakses informasi secara cepat
dalam waktu singkat dan dari sumber-sumber informasi
yang bervariasi dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Karena itu masalah jarak dan jumlah informasi yang
diperlukan
tidak lagi menjadi persoalan yang justru selama
ini menjadi sebab utama terjadinya kesenjangan antara
pusat dan daerah sebagai akibat langsung dari sifat
pengelolaan pendidikan yang sentralistik dan diperparah
oleh peralatan dan sistim informasi manajemen yang amat
sederhana.
Kesempatan
seperti itu hanya mungkin diatasi dengan pemanfaatan
teknologi komunikasi dan informasi secara baik. Revolusi
informasi global telah berhasil menyatukan kemampuan
komputasi, televisi, radio dan telefoni secara
terintegrasi Hal ini juga merupakan hasil dari suatu
kombinasi revolusi dibidang komputer personal, transmisi
data dan kompresi, lebar pita (bandwidth),
teknologi penyimpanan data (data
storage) dan penyampai data (access)
integrasi multimedia dan
jaringan komputer. Konvergensi dari revolusi
teknologi tersebut telah menyatukan berbagai media,
yaitu suara (voice,audio), video, citra (image) grafik
dan teks.
(Adisasono, 2000)
Teknologi
komunikasi dan informasi pada dasarnya memungkinkan
dan memudahkan manusia untuk dapat saling berhubungan
dengan cepat, mudah dan terjangkau serta memiliki
potensi untuk membangun masyarakat yang demokratis, dan
salah satu dampak terbesarnya adalah demokratisasi di
bidang pendidikan,
ditandai dengan adanya
hubungan antara guru dengan siswa, antara siswa
dengan siswa, bahkan antara guru dengan guru dan antara
guru, siswa, orangtua dan masyarakat dalam kaitannya
dengan proses pendidikan di dalam dan di luar sekolah.
Dengan
sifat-sifat teknologi komunikasi dan infromasi seperti
itu telah membuka peluang besar bagi pemerintah daerah
dan kota untuk dapat menyiapkan diri membangun sebuah
sistem informasi yang memungkinkan terjadinya proses
pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi bagi
kemajuan pendidikan di daerah dan kota. Hal itu
merupakan konsekwensi dari ketersediaan jenis teknologi
yang dimaksud dalam pelaksanaan otonomi daerah. Itu juga
berarti bahwa melalui pemanfaatan teknologi komunikasi
dan informasi tersebut khususnya internet kendala
keterjangkauan dan ekspose terhadap informasi antar
berbagai wilayah di seluruh Indonesia dapat diatasi dan
keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia
dapat tetap terjaga.
Namun
yang terpenting dari keadaan ini adalah dibutuhkannya
tanggung jawab moral setiap penyedia (provider) dan
pengguna teknologi komunikasi dan informasi tersebut
karena selain diperoleh kemudahan juga akan berjalan
seiring dengan dampak
negatif yang akan ditimbulkannya seaindainya
pemanfaatannya itu tidak didasari nilai-nilai
keimanan dan ketaqwaan, etika, estetika dan kearifan
para pemakainya.
Hanya
dengan mengembangkan nilai-nilai seperti itu dampak
negatif dari pemanfaatan teknologi komunikasi dan
informasi khususnya internet dapat diminimalkan
khususnya bagi generasi muda yang masih dalam
pertumbuhan dan pancaroba. Membangun sebuah keterbatasan
dalam bersentuhan dengan teknologi komunikasi dan
informasi tersebut hampir tidak mungkin karena begitu
terbukanya berbagai sumber informasi yang disana sini
diwarnai dengan berbagai “trick” yang mengundang
keterlibatan semua orang termasuk generasi muda untuk
terlibat kedalam sistem teknologi komunikasi dan
informasi yang “mereka” bangun.
Hal
itu amat dimungkinkan karena dengan arahan yang tepat
dan sedikit intervensi, teknologi komunikasi dan
informasi dapat membantu mentransformasikan
mereka yang selama ini berada pada posisi marjinal
di banyak daerah dengan peralatan sebuah komputer
multi media dapat berubah dari posisi pengamat
menjadi menjadi posisi partisipan aktif, dan
disinilah sebenarnya peranan teknologi informasi
terhadap dunia pendidikan dalam proses demokratisasi
pendidikan menjadi sangat signifikan.
Dengan
berkembangnya teknologi informasi tersebut
batas-batas antar negara menjadi hilang
(borderless nations) demikian pula antara binis,
pendidikan dan bahkan media. Perkembangannya begitu
dahsyat
sehingga hampir tidak ada aspek kehidupan (pendidikan,
perdagangan, semua segi usaha, hiburan, pemerintahan,
pola kerja, pola produksi dan bahkan pola hubungan antar
manusia) yang terlepas dari pengaruh atau bahkan dampak
yang
ditimbulkannya yang pada saat sekarang ini
menjadi perhatian serius dari
berbagai negara di dunia. Apa yang pada mulanya
sulit dicapai oleh daerah khususnya daera-daerah yang
terpencil hampir dapat dipastikan tidak ada kendala lagi
sepanjang perangkat teknologi yang butuhkan memang
tersedia.
Menjelang
memasuki abad ke-21 hampir semua negara didunia bertanya
tentang masa depan dunia yang mengalami perubahan dengan
cepat itu. Untuk memahami persoalan itu dengan baik
sejumlah ahli di bidang bisnis, organisasi dan manajemen
serta keuangan dunia menuangkan kembali pemikiran mereka
melalui sebuah buku yang berjudul “Rethinking the
Future” sebuah buku yang
menjelaskan perkembangan dunia yang ditandai
dengan ketidakpastian uncertainty yang semakin
meningkat dalam mana pekerjaan, organisasi dan ekonomi
juga turut berubah.
Guna
mengantisipasi semua itu berbagai negara maju didunia
telah siap dengan program-program dan proyek mereka
khususnya dalam bidang pendidikan untuk dapat memasuki
abad ke-21 tsb. sebagai abad informasi dapat dimasuki
dengan mulus. Dalam upaya-upaya itu sistem-sistem yang
sentralistik sudah mulai ditinggalkan dan mulai mengarah
pada desentralisasi kekuasaan dan wewenang dalam
berbagai bidang kehidupan, tidak terkecuali Indonesia
dengan otonomi daerahnya.
Antisipasi
dalam bidang pendidikan tersebut diantaranya telah
dilakukan oleh Amerika dengan berbagai proyek
pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan dan
keterkaitannya dengan peran dunia bisnis dan industri.
Khusus untuk Amerika serikat sebagai negara industri
maju tidak dapat dibandingkan dengan perkembangan daerah
tingkat II di Indonesia. Namun untuk antisipasi
kedepan membagi pengalaman dengan negara maju yang
dimungkinkan oleh teknologi komunikasi dan informasi tidak
berlebihan kiranya jika hal itu dikemukakan dalam
kesempatan yang
berbahagia ini.
Sebagai
negara industri maju Amerika Serikat dalam upaya
menempatkan posisi pendidikan terhadap kemajuan
teknologi dan revolusi teknologi informasi
mengetengahkan beberapa pertanyaan: “In
highly advanced, technological society such as the
United States, how do students know what skills they
need to qualify for the jobs, and the advanced training
of their choice? How can schools best teach necessary
skills? How can industry and educational together help
create a more effective education system, a more
vibrant, productive economy?”
Dalam
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak kurang
dari Presiden Amerika Serikat Bill Clinton telah menggagas
sebuah agenda nasional untuk pendidikan yang diberi nama
“The
President’s Educational Technology Initiatives”.
Untuk merealisasikan gagasannya itu Presiden
mengemukakan bahwa “In our schools, every classroom in
America must be connected to the information
superhighway, with computers and good software, and
well-trained teachers. We are working with the
telecomunications industry, education and parents to
connect 20 percent of California’s classrooms this
spring, and every clasroom and every library in the
entire United States by the year 2000. I ask congress to
support this educational technology initiative so that
we can make sure this national partnership succeeds.” Apa
yang dikemukakan dalam pandangan di atas adalah
merupakan fokus
dari orasi ilmiah pada hari ini sebagai
antisipasi dalam menyongsong otonomi pendidikan dalam
kerangka otonomi daerah.
Persoalannya
sekarang adalah bagaimana agar daerah dengan segala
kemampuannya dan kendala yang dihadapinya dapat membangun
sebuah model jaringan antar daerah didalam
sebuah kabupaten atau bahkan antar sekolah dan antar
perguruan tinggi di daerah untuk saling berhubungan
sehingga informasi penting dan kemajuan-kemajuan dalam
bidang pendidikan di suatu daerah/sekolah/perguruan
tinggi dapat diakses oleh daerah/sekolah/ perguruan
tinggi lain. Hal ini penting dikemukakan karena selain
daerah-daerah selama ini sering tertinggal dalam
berbagai informasi termasuk informasi penting tentang
pendidikan, juga sering didengar keluhan adanya berbagai
potensi didaerah yang belum dikenal dan dikelola dengan
baik bagi kemajuan daerah. Bahkan juga terlalu sering
didengar di sekolah atau perguruan tinggi guru atau
dosen mengatakan bahwa teks mata pelajaran atau mata
kuliah yang ada tidak dikemukakan secara tepat, atau
hanya satu atau dua bab dari buku teks yang ada yang
relevan dengan mata pelajaran atau mata kuliah yang
sedang disampaikan.
Hal
itu tentunya dapat diatasi seperti yang telah
dikemukakan dalam sebuah tulisan yang berjudul
“Innovation in 21st Century Education”
dikatakan sebagai berikut :”
With the internet, we have a chance to change
that! First we can expand the scope of social issues, as
well as coming up with new perspectives by
teaching HTML, the language of the net in social science
classes, and require them to write a webpage. HTML is
basically a word processing and easy to learn, no other
language is needed for non-business uses.I’ve written
15 pages, all without using any other language, except
stuff I’ve cut and pasted and not needed to modify.
Untuk
mencapai apa yang dikemukakan diatas dapat diperoleh
melalui sebuah jaringan KOMPUTER terbesar
di dunia yang disebut dengan INTERNET,
yang dapat berfungsi dengan baik jika didukung oleh
perangkat komputer dengan perangkat lunak yang baik, dan
dengan guru yang terlatih baik. Menggunakan internet
dengan segala fasilitasnya akan memberikan kemudahan
untuk mengakses berbagai informasi untuk pendidikan yang
secara langsung dapat meningkatkan pengetahuan siswa
bagi keberhasilannya dalam belajar.
Melalui
teknologi informasi yang dimiliki baik oleh daerah
maupun oleh individual sekolah, dapat memanfaatkannya
diantaranya untuk :
-
penelusuran
dan pencarian bahan pustaka;
-
membangun
Program Artificial Intelligence (kecerdasan
buatan) untuk memodelkan sebuah rencana pengajaran
-
memberi
kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan virtual
clasroom ataupun virual university;
-
pemasaran
dan promosi hasil
karya penelitian;
Kegunaan-kegunaan
seperti diatas itu dapat diperluas bergantung kepada
peralatan komputer yang dimiliki jaringan dan fasilitas
telepon yang tersedia dan provider yang bertanggung
jawab untuk tetap terpeliharanya penggunaan jaringan
komunikasi dan informasi tersebut. Dari waktu kewaktu
jika dilihat dari jumlah pemakaian yang makin meningkat
secara eksponensial setiap tahunnya memungkinkan
fasilitas yang pada mulanya hanya dapat dinikmati
segelintir orang, dan sekelompok kecil sekolah terkemuka
dengan biaya operasional yang tinggi, kedepan besar
kemungkinan biaya yang besar itu akan dapat ditekan
sehingga pemanfaatannya benar-benar dapat menjadi
penunjang utama bagi pengelolaan pendidikan khususnya
bagi pendidikan di daerah.
Agar
pemanfaatan teknologi informasi tersebut dapat
memberikan hasil yang maksimal maka juga dibutuhkan
kemampuan pengelola teknologi komunikasi dan informasi
yang baik yang dapat diperoleh melalui pelatihan baik
untuk tingkat pembuat kebijakan pendidikan di daerah
maupun pada tingkat sekolah. Pemahaman dan kemampuan
manajerial kepala sekolah berkaitan dengan pemanfaatan
teknologi komunikasi dan infomasi tersebut merupakan
salah satu persyaratan pokok dalam pemilihan kepala
sekolah. Mintzberg misalnya mengemukan sepuluh peran
manajerial pemimpin yang meliputi :
-
informational
roles
menempatkan manager sebagai monitor, disseminator
dan spokes person,
-
decisional roles yang melibatkan manager sebagai entrepreneur, disturbance handler, allocator dan negotiator,
-
interpersomal
roles
melibatkan manager sebagai figurhead,
liason dan leader.
Pemanfaatan
teknologi seperti disebutkan di atas akan lebih besar
kemungkinannya dalam pengelolaan pendidikan yang
berbasis sekolah School – Based Management (SBM),
salah satu bentuk pengelolaan yang kelak akan dilakukan
oleh sekolah-sekolah dalam kerangka desentralisasi
pendidikan atau otonomi pendidikan. Kemungkinan
keberhasilan bentuk pengelolaan pendidikan di sekolah
seperti itu akan lebih besar jika didukung oleh
pendidikan yang berbasis masyarakat Community Based
Education (CBE) sehingga terjadi hubungan yang sinergi
antar sekolah, orang tua, pemerintah dan masyarakat bagi
pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di
daerah. Dengan demikian
pendidikan diharapkan akan menjadi “lokomotif”
pembangunan daerah.
Melihat
pada volume informasi yang diperlukan dan dihubungkan
dengan keterbatasan teknologi yang dimilki sekolah untuk
mengelola informasi menyebabkan sedikit sekali terjadi
perubahan di sekolah. Keadaan sekarang juga kadang
bergantung pada informasi yang dimiliki seseorang di
dalam kepalanya yang tidak selalu mudah untuk
mengaksesnya., karena itu pada umumnya nampak bahwa
kepala sekolah tidak selalu dapat mengawasi dan
memanfaatkan dengan
baik penyimpanan informasi di sekolah.
Pada
hal untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat
diperlukan penanganan informasi yang baik terutama kelak
bila desentralisasi pendidikan benar-benar telah terjadi
sebab: “The effective handling of information is of
central important to the decision-making role of
the principal. Unorganized and difficult-to-access
information is the great enemy of effective
schools decision making.” (Garis bawah dari
penulis) Pandangan di atas menunjukkan peran yang amat
penting dalam pengelolaan informasi bagi pengambilan
keputusan di sekolah. Dalam perkembangannya memang amat
diperlukan informasi yang cepat dan tepat bagi
pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh pimpinan
dalam hal ini kepala sekolah. Untuk itu kedepan dengan
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi
khususnya Sistem Informasi Manajemen akan diperlukan
sebagai Decision Support System.
Dengan
memilih bentuk pengelolaan pendidikan berbasis sekolah
sebagai konsekuansi dari demokratisasi pendidikan dan
dengan dukungan masyarakat maka peran kepala sekolah
sebagai pemimpin pendidikan di sekolah akan semakin
penting. Dalam melaksanakan tugas “informational
role”-nya itu kepala sekolah harus dapat
menetapkan langkah-langkah kongkrit dalam pengelolaan
informasi sebagai hal yang pokok dalam pengelolaan
pendidikan berbasis sekolah.
Di
negara-negara yang sudah maju dalam bidang teknologi
komunikasi dan informasi, peran penting dari komputer
dalam pengelolaan pendidikan telah dikenal sejak kurang
dari dua dekade yang lalu seperti dikemukakan oleh
Commonwealth Schools Commission in 1984 Australia
misalnya yang menyediakan program komputer bagi
pendidikan melalui National Computer Education Program
menyatakan bahwa: “…it was argued that principals
and in-school administrators should use computing
systems to enchance
communications between all groups involved in the
functioning of the school, and to streemline
administration and curriculum support.
Pengadaan
perangkat komputer dan pengetahuan pemanfaatannya sudah
merupakan sesuatu yang harus terutama dalam memasuki
abad ke 21 dan dalam rangka mempersiapkan diri menerima
wewenang otonomi pendidikan sebab paling tidak karena
beberapa hal:
-
Informasi
yang disimpan secara elektronik memiliki
fleksibilitas dalam mengkakses dan dalam
pemanfaatannya yang sudah tidak mungkin dilakukan
melalui sistem penanganan informasi dengan cara
lama. Komputer juga menyediakan begitu banyak
kemudahan dalam mengelola informasi dalam arti
menyimpan, mengambil kembali dan pemutahiran
informasi.
-
Komputer
juga merupakan alat yang memiliki kemampuan luar
biasa dalam membantu memanfaatkan informasi itu
dalam rangka pengambilan keputusan dan pemecahan
masalahan secara kreatif. Kemampuan komputer juga
untuk memanipulasi dan menyusun kembali informasi
untuk kepentingan khusus pemakai menjadikannya
menjadi alat yang efektif dalam tugas menganalisis
dan menanfsirkan kecenderungan yang terjadi,
pengujian hipotesisi dan identifikasi kecenderungan
baru program-program sekolah.
-
Dengan
menempatkan komputer di bawah kendali langsung
kepala sekolah akan menjadi alat yang amat ampuh
untuk pengelolaan dan pemrosesan informasi sebuah
kemampuan yang mengantarkan langsung informasi
secara cepat kehadapan kepala sekolah dan juga
kepada pimpinan lainnya.
-
Komputer
sebagai alat untuk memproses informasi, dan memiliki
tingkat aplikasi dalam setiap langkah proses
manjemen–perencanaan, mengkumunikasikan,
mengorganisasikan, pengawasan dan memotivasi.
Dengan
memperhatikan berbagai hal berkenaan dengan pemanfaatan
teknologi komunikasi dan informasi untuk pendidikan
dalam rangka otonomi daerah dan otonomi pendidikan
membuka peluang yang sebaik-baiknya bagi setiap lembaga
terkait dengan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan
untuk bekerjasama secara lebih baik dan lebih erat.
STKIP Garut misalnya akan menyediakan tenaga-tenaga
professional di bidang pendidikan (guru dan tenaga
kependidikan lainnya) sedangkan AMIK meneyediakan
tenaga-tenaga professional di bidang pemanfaatan
teknologi komunikasi dan informasi khususnya komputer
untuk lebih meningkatkan pengelolaan pendidikan dengan
berbagai kebijakan yang didadasari tanggung jawab dari
Pemerintah Daerah dengan menempatkan pendidikan sebagai
titik sentral pelaksanaan pembangunan daerah melalui
kebijakan pengembangan dan pemanfaatan sumber daya
manusia berkualitas untuk pembangunan. Dalam pada itu
melibatkan orangtua dan masyarakat dalam setiap langkah
kebijakan akan meningkatkan perhatian dan partisipasi
masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat
umumnya dan pendidikan khususnya.
Demikianlah
uraian saya melalui orasi ilmiah yang saya sampaikan
dalam rangka Wisuda X STKIP Garut dan Wisuda I AMIK,
semoga apa yang telah saya sampaikan dalam orasi ilmiah
ini bermanfaat adanya, dan semoga STKIP dan AMIK
khususnya dan Daerah Tk.II Kabupaten Garut umumnya
sesantiasa memperoleh limpahan rahmat dan ridho
Allah Subhanahu Watala dalam melaksanakan
pembangunannya. Amin.
Billahit
Taufiq Wal Hidayah, Wassalamu Alaikum Warachmatullahi
Wabarakatuh.
DAFTAR
BACAAN
Adi
Sasono, (2000) Pendidikan dan Teknologi Kerakyatan,
Makalah disampaikan di dalam Kovensi Nasional
Pendidikan Indonesia, UNJ: Jakarta.
Azis
Wahab, (2000) Pengelolaan Berbasis Sekolah, Makalah
disampaikan di dalam Konvensi Nasional Pendidikan
Indonesia, UNJ: Jakarta.
Gibson,
Rowan,.(1997) Rethinking The Future, London: Nicholas
Brealy Publishing.
Pandapotan,
Sianipar,.(1996) Panduan Menggunakan Internet, Jakarta :
Elex Media Computindo, Kelompok Gramedia
Rose,Collin
and Nicholl, Malcolm J,. (1997) Accellerated Learning
For The 21st
Century, New
York : A Dell Trade Paperback.
Turney,C
et.all., (1992) The School Manager : Educational
ManagementRoles
and Tasks NSW Australia
: Allen & Unwin.
Dokumen
:
http://www.whitehouse.gov/WH/EOP/edtech/index-source"
http://www.whitehouse.gov/WH/EOP/edtech/index-source.
http://members.tripod.com/~homelessness/education
http://members.tripod.com/~homelessness/education
Undang-Undang
Otonomi Daerah 1999,. (1999) UU No.22 Th 1999 tentang
Pemerintahan daerah, UU No.25 Th 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
dan UU No.28 Th.1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang
Bersih dan Bebas Dari KKN. Jakarta :Sinar Grafika.
---------------------------
*)
Disampaikan
pada Orasi Ilmiah dalam rangka pelaksanaan Wisuda X
STKIP Garut dan Wisuda I AMIK Garut.
Sumber : http://rizalmartilova.blogspot.com/
|