BAB  III
PERINCIAN KARAKTER LANDMARK
DILINGKUNGAN YANG DITELITI

 

A.  ELEMEN-ELEMEN KOTA YANG TELAH MENJADI LANDMARK DILINGKUNGAN YANG DITELITI

1. Kronoiogis singkat.

Kota Padang seabad yang lalu telah menjadi kota metropolitan di pantai Barat Pulau Sumatera dengan jumlah penduduk yang cukup padat dari berbagai-bagai suku bangsa seperti Cina Keling, Belanda dan penduduk pribumi sendiri.

Pada masa itu kota telah berkembang dan diperluas dengan masing-masing daerah (distrik) tidiak lupa diberi titik reverensi baik merupakan bangunan bangunan maupun tugu yang mempunyai visual yang menjolok dan dapat tertinggal dalam ingatan (Landmark) diantaranya adalah

  1. Tugu NAALD (didirikan sebagai mengenang pahlawan tentara Belanda yang tewas pada perang Paderi) didirikan pada tahun 1824 berlokasi disebelah barat Lapangan Dipo (sekarang Taman Budaya).

  2. Tugu dan taman MICHELS PLEIN tugu yang terbesar di Sumatera, yang berlokasi di Taman Melati Sekarang th.1825.

  3. Gedung (rumah bola) “DE ENDRACHT” yang berfungsi sebagai pertemuan dan pertunjukan, didirikan th. 1847. Gedung ini tidak saja berfungsi sebagai Landmark juga NODE.

  4. Tugu dan Taman cantik “DE GREVE” (penemu tambang batu bara Ombilin Sawahlunto) th. 1871 berlokasi di Muara (dekat/di depan Gedung Nederlandsch Maatschappij).

  5. Tugu NAALD yang didirikan th, 1824 dipindahkan ke Lapangan Imam Bonjol sekarang. ada th. 1913.

  6. Gedung “STAAD GEMEENTE” (Balai Kota sekarang ) didirikan th. 1938.

  7. Kantor Gubernur sekarang di Jalan Jenderal Soedirman th. 1969.

  8. Dengan memperhatikan kronologis diatas, bahwa elemen-elemen kota yang dijadikan Landmark adalah:

  9. Tugu/Taman yang berfungsi sebagai Landmark.

  10. Gedung berfungsi sebagai Landmark juga sebagai node.

2.  Karakter Landmark pada masa Pemerintahan Belanda.

Untuk jelasnya karakter landmark yang ada pada masa itu (Sampai tahun 1939) kita perhatikan saja cuplikan fotofoto dokumentasi (lampiran).

Dapat dikatakan bahwa tugu-tugu dan bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai landmark terletak pada lokasi yang penting dan mempunyai bentuk yang berarti, sehingga kemenonjolan visuil yang tertingal dalam ingatan. Pada masa itu (sampai th. 1939).

B. STRUKTUR/SHAPE KOTA.

Struktur kota Padang dapat diklasifikasikan dari bentuk antara lain adalah :

  1. RADIO CENTRK , yaitu pada daerah Selatan Kota Padang (Muaro, Pasar Mudik, Pondok).

  2. RECTALINEIR , yaitu pada daerah bagian Utara (daerah pengembangan kota).

  3. Untuk jelasnya dapat diperhatikan gambar berikut :

Pemandangan kota masa kini kekurangan landmark, bukan karena tidak ada bangunan yang penting, tetapi justru karena terlalu banyaknya bangunan yang penting saling berlomba untuk menjadi yang paling menonjol.

Padang yang merupakan kota yang sedang giat-giatnya membangun, juga terjadi hal-hal tersebut diatas dalam hal ini akan dibicarakan masalah yang ada. 

1. Daerah ini merupakan suatu node lalu lintas kota terletak dipersimpangan Jalan Pulau Karam, Jalan Nipah dan Jalan Arau (lihat gambar berikut).


Karakter bangunan disekitar lingkungan merupakan bangunan tua dibangun pada zaman Belanda tahun 1667 disebut sebagai Loji. sebelah kanan gedung Javasche Bank yang kemudian menjadi Kantor Pajak, sebelah kiri gedung Nederlandsch Handels Maatschappij dan juga terdapat gedung gubernur, kantor lelang selebihnya adalah gudang-gudang pemenintah tentera. Pada bagian node lalulintas terdapat taman dan tugu “DE GREVE” didirikan atas jasanya sebagai penemu tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto pada tahun 1871, yang akhirnya tugu dan taman pada lokasi ini hilang oleh pergolakan zaman. Pada saat sekarang kondisi lingkungan disekitar node lalulintas ini gedung— gedung peninggalan sejarah pada zaman Belanda ada yang masih bertahan tetapi hanya berobah fungsi terhadap aktivitas gedung itu sendiri, sebagian kondisi bangunan tua dilihat secara keseluruhan mengalami perubahan bentuk di renovasi dari bangunan lama. Lingkungan didepan sepanjang Batang Arau terdapat kios-kios pedagang bangunan terbuat dari kayu merupakan suatu vista yang tidak baik efeknua terhadap karakter lingkungan karena area ini terletak pada kawasan rekreasi bagi kota Padang. Sedangkan pada node lalulintas lokasinya dimamanfaatkan oleh kios bensin bagi kendaraan. Dalam hal ini lingkungan yang seharusnya dapat berfungsi sebagai landmark kota tidak dapat berfungsi seutuhnya dan akan merusak citra keindahan kota sebagai karakter lingkungan yang unik yang dapat digunakan sebagai titik referensi bagi kendaraan dan landmark terhadap kawasan.

2. ”Taman Wisata Yoga” disebelah barat sisi lokasi terdapat lapangan Imam Bonjol yang dimamfaatkan sebagai fasilitas olah raga bagi masyarakat (dulunya bernama Plein Van Rome).

Taman Wisata Yoga diapit oleh jalan Moh. Yamin jalan Imam Bonjol, jalan Hasan dan jalan Bagindo Aziz Chan dan merupakan perbatasan kawasan perdagangan dan per kantoran, karakter lingkungan bersifat umum (publik) merupakan tempat-tempat hiburan bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat kota Padang sendiri selain itu Taman Wisata Yoga merupakan Open Space bagi kota dan dapat memberikan suatu kesan visuil yang menyolok terhadap lingkungan kota sebagai tempat rekreasi di dalam kota Padang. Taman Wisata Yoga letaknya sangat strategis untuk dimamfaatkan sebagai Taman Kota. Dalam Hal ini kesan Orientasi terasa hilang vistanya kelihatan kurang kuat sesuai dengan furigsi dan kebutuhannya terhadap lingkungan perkotaan disebabkan adanya bangunan pertokoan yang berada di sekitar lingkungan taman, khususnya pada bagian Enterence.

3. Daerah ini merupakan persimpangan jalan Muaro, jalan R.O.S Cokroaminoto, jalan Gurun dan jalan Nipah: terletak dekat pantai dimanfaatkan sebagai objek parawisata bagi kota Padang. Kondisi, jalan direncanakan pada zaman pemerintah Belanda, menurut peta kota Padang tahun 1828 pada persimpangan ini terdapat jalan Muaro/Samudera dulu namanya Strandweg (jalan pinggir laut), jalan Nipah dan jalan Gurun.

Sebelumnya pada tahun 1881 di ujung jalan Nipah dibangun Belanda bukit kecil atau taman yang menghadap ke laut sebagai objek wisata yang juga merupakan suatu Landmark pada masa itu, kemudian pada tahun l907 bukit kecil dan taman ini hancur oleh ombak laut. Sekitar tahun 1885 sewaktu jalan kereta api direncanakan oleh pemerintah Belanda disekitar Batang Arau/Muaro telah ada ja lan H.O.S Cokrominoto nama sekarang ke arah Simpang Enam. Pada keadaan lingkungan sekarang disekitar pantai digunakan route pergerakan dan penentu utama dari bentuk kota, dapat dimamfaatkan sebàgai pembantu memperkuat kesan landmark yang baik. Pada lingkungan disekitar persimpangan jalan ini kondisi lingkungan kurang baik terhadap kepermanensian landmark route pergerakan jalan. vista arah route pergerakan dimamfaatkan oleh iklan berbentuk boxboard.

4. Bangunan Bank Eksim, bangunan ini dapat memberikan vista utama dan mempunyai sky line yang spesifik untuk dimamfaatkan sebagai landmark.

Bangunan-bangunan, baik yang berfungsi sebagai pusat aktivitas maupun yang simbolis yang ada seperti yang ditampilkan tidak didukung oleh lokasi yang penting dan bentuk yang bearti karena terdapatnya bentuk- bentuk bangunan yang menonjol disekitarnya, jadi kepermanensian dan bentuknya tidak dapat

 

 

 

Bentuk landmark kota yang terletak sebelah kantor polisi dan kantor pos dan giro. Sebelumnya area ini merupakan kios bensin bagi kendaraan, sekarang telah berganti fungsi dibangun tugu sebagai landmark kota dalam btuk skala kecil bersifat monumental yang memberikan vista yang kurang baik bagi kota dise babkan lokasi tugu kurang mendukung karena sering tidak terlihat/terabaikan.

 

“Tugu Bingkuang (lokasi jalan Prof. Dr. Hamka) merupakan gambaran (citra)/kepribadian kota. Dar segi penampilan vista tugu tidak dapat memberikan kesan orientasi/titik referensi terhadap kepermanensiannya dan karakter lingkungan sendiri. Bentuk skala,proporsi ,posisi letak tidak utuh dan harmonis dari komposisi dan existing lokasi kurang mendukung untuk dimanfaatkan sebagai landmark.