3.1. Praktek pendidikan berwajah Ke-Indonesia-an
3.2. Pendidikan berwawasanglobal
3.3. Tantangan pengembangan sekolah di masa depan
3.4. Mempersiapkan kurikulum pendidikan abad XXI
3.5. Kebersamaan dalam belajar untuk menghilangkan ketimpangan
3.6. Kultur sekolah dan prestasi siswa
3.7. Hasil pendidikan yang utuh.
3.8. Reformasi pendidikan: dari fondasi ke aksi
3.2.
Pendidikan Berwawasan Global
Krisis
demi krisis mulai dari moneter, ekonomi, politik dan kepercayaan yang tengah
melanda bangsa Indonesia, merupakan bukti bahwa sebagai bangsa kita sudah
terseret dalam arus globalisasi. Informasi bergerak sedemikian cepat sehingga
menimbulkan dampak yang berantai. Demonstrasi menduduki bandara cepat menjadi
mode, misalnya.
Pendidikan
memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Pendidikan tidak mungkin
menisbikan proses globalisasi yang akan mewujudkan masyarakat global ini. Dalam
menuju era globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses
pendidikan, dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif
dan fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam
kehidupan masyarakat global demokratis. Untuk itu, pendidikan harus dirancang
sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang
dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan
tanggung jawab. Di samping itu, pendidikan harus menghasilkan lulusan yang dapat
memahami masyarakatnya dengan segala faktor yang dapat mendukung mencapai sukses
ataupun penghalang yang menyebabkan kegagalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Salah satu altematif yang dapat dilakukan adalah mengembangkan pendidikan yang
berwawasan global.
Premis
untuk memulai pendidikan berwawasan gobal adalah bahwa informasi dan pengetahuan
tentang bagian dunia yang lain harus mengembangkan kesadaran kita bahwa kita
akan dapat memahami lebih baik keadaan diri kita sendiri apabila kita memahami
hubungan dengan masyarakat lain dan isu-isu global sebagaimana dikemukakan oleh
Psikolog Csikszentmihalyi dalam bukunya The Evolving Self:
A Psychology for the Third Millenium, 1993,
yang menyatakan bahwa perkembangan pribadi yang seimbang dan sehat memerlukan "an
understanding of the complexities of an
increasingly complex and interdependent world".
A.
Perspektif kurikuler
Pendidikan
berwawasan global dapat dikaji berdasarkan dua perspektif: Kurikuler dan
perspektif Reformasi. Berdasarkan perspektif kurikuler, pendidikan berwawasan
global merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk mempersiapkan
tenaga terdidik kelas menengah dan profesional dengan meningkatkan kemampuan
individu dalam memahami masyarakatnya dalam kaitan dengan kehidupan masyarakat
dunia, dengan ciri-ciri: a) mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi
bangsa lain dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan, b)
mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan untuk dipergunakan sesuai dengan
kebutuhan lingkungan setempat, dan, c) mengembangkan berbagai kemungkinan
berbagai kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna mewujudkan kehidupan
masyarakat dunia yang lebih baik.
Oleh
karena itu, pendidikan berwawasan global akan menekankan pembahasan materi yang
mencakup: a) adanya saling ketergantungan di antara masyarakat dunia, b) adanya
perubahan yang akan terus berlangsung dari waktu ke waktu, c) adanya perbedaan
kultur di antara masyarakat atau kelompok-kelompok dalam masyarakat oleh karena
itu perlu adanya upaya untuk saling memahami budaya yang lain, d) adanya
kenyataan bahwa kehidupan dunia ini memiliki berbagai keterbatasan antara lain
dalam ujud ketersediaan barang-barang kebutuhan yang jarang, dan, e) untuk dapat
memenuhi kebutuhan yang jarang tersebut tidak mustahil menimbulkan
konflik-konflik.
Berdasarkan
perspektif kurikuler ini,pengembangan pendidikan berwawasan global memiliki
implikasi ke arah perombakan kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata
kuliah yang dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak
yang bersifat integratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada kajian
yang bersifat multidispliner, interdisipliner dan transdisipliner.
B.
Perspektif reformasi
Berdasarkan
perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses
pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan peserta didik dengan kemampuan
dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki kehidupan yang bersifat
sangat kompetitif dan dengan derajat saling ketergantungan antar bangsa yang
amat tinggi. Pendidikan harus mengkaitkan proses pendidikan yang berlangsung di
sekolah dengan nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Oleh karena
itu sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat kita harus selalu
dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.
Implikasi
dari pendidikan berwawasan global menurut perspektif reformasi tidak hanya
bersifat perombakan kurikulum, melainkan juga merombak sistem, struktur dan
proses pendidikan. Pendidikan dengan kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial
tidak lagi cocok bagi pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global
harus merupakan kombinasi antara kebijakan sosial disatu sisi dan disisi lain
sebagai kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme pasar. Oleh karena itu, sistem
dan struktur pendidikan harus bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan
yang memiliki fungsi ekonomis.
Kebijakan
pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan mekanisme pasar, memiliki
arti bahwa pendidikan tidak semata ditata dan diatur dengan menggunakan
perangkat aturan sebagaimana yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan
instruktif. Melainkan, pendidikan juga diatur layaknya suatu Mall, adanya
kebebasan pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual, bagaimana
akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual. Pemerintah tidak perlu
mengatur segala sesuatunya dengan rinci.
Di
samping itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistemik organik, dengan
ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif-demokratis. Bersifat sistemik-organik
berarti sekolah merupakan sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak
dapat dilihat sebagai hitam-putih, melainkan setiap interaksi harus dilihat
sebagai satu bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.
Fleksibel-Adaptif,
berarti pendidikan lebih ditekankan sebagai suatu proses learning dari
pada teaching. Peserta didik dirangsang memiliki motivasi untuk
mempelajari sesuatu yang harus dipelajari dan continues learning.
Tetapi, peserta didik tidak akan dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang tidak
ingin dipelajari. Materi yang. dipelajari bersifat integrated, materi
satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan dalam open-system environment.
Pada pendidikan ini karakteristik individu mendapat tempat yang layak.
Kreatif-demokratis,
berarti pendidikan senantiasa menekankan pada suatu sikap mental untuk
senantiasa menghadirkan sesuatu yang baru dan orisinil. Secara paedogogis,
kreativitas dan demokrasi merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi
tidak akan ada proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak
akan memiliki makna.
Untuk
memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser ke arah pendidikan yang
berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global
berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner dan
transdisipliner. Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global
menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan
suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang
mendasarkan mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki
kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.
halaman berikut : 3.3. Tantangan pengembangan sekolah di masa depan