3.1. Praktek pendidikan berwajah Ke-Indonesia-an
3.2. Pendidikan berwawasanglobal
3.3. Tantangan pengembangan sekolah di masa depan
3.4. Mempersiapkan kurikulum pendidikan abad XXI
3.5. Kebersamaan dalam belajar untuk menghilangkan ketimpangan
3.6. Kultur sekolah dan prestasi siswa
3.7. Hasil pendidikan yang utuh.
3.8. Reformasi pendidikan: dari fondasi ke aksi
3.6.
Kultur Sekolah dan Prestasi Siswa
Dengan
dana yang tidak sedikit telah banyak dilaksanakan berbagai upaya untuk
meningkatkan mutu pendidikan, seperti penyelenggaraan penataran guru, penyediaan
buku teks siswa, dan pengadaan alat-alat laboratorium. Namun demikian, kualitas
sekolah dari sekolah dasar sampai sekolah menengah tidak mengalami kenaikan yang
berarti. Hal ini, sudah barang tentu, menimbulkan tanda tanya besar: Dimana
letak permasalahannya?
Untuk
memberikan jawaban hipotetis atas persoalan tersebut, nampaknya hasil kajian
Hanushek atas berbagai laporan penelitian pendidikan di negara-negara sedang
berkembang patut diperhatikan. Hanushek menyimpulkan "bahwa upaya
meningkatkan kualitas pendidikan adalah tidak semudah yang diduga.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pendekatan "konvensional"
dalam meningkatkan mutu dengan menyediakan dana meningkatkan kualitas serta
kuantitas variabel input, seperti pelatihan guru, penyediaan buku teks,
penyediaan fasilitas pendidikan yang lain, tidaklah menghasilkan sebagaimana
yang diinginkan". Oleh karena itu, agar mutu meningkat, selain dilakukan
secara konvensional sebagaimana selama ini telah dilaksanakan perlu diiringi
pula dengan pendekatan in-konvensional.
A.
Kultur sekolah
Sekolah sebagai suatu sistem memiliki tiga aspek pokok yang sangat berkaitan erat dengan mutu sekolah, yakni: proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Program aksi untuk peningkatan mutu sekolah secara konvensional senantiasa menekankan pada aspek pertama, yakni meningkatkan mutu proses belajar mengajar, sedikit menyentuh aspek kepemimpinan dan manajemen sekolah, dan sama sekali tidak pernah menyentuh aspek kultur sekolah. Sudah barang tentu pilihan tersebut tidak terlalu salah, karena aspek itulah yang paling dekat dengan prestasi siswa. Namun, sejauh ini bukti-bukti telah menunjukkan, sebagaimana dikemukakan oleh Hanushek di atas, bahwa sasaran peningkatan kualitas pada aspek PBM saja tidak cukup. Dengan kata lain perlu dikaji untuk melakukan pendekatan in-konvensional yakni, meningkatkan mutu dengan sasaran mengembangkan kultur sekolah.
Kultur
merupakan pandangan hidup yang diakui bersama oleh suatu kelompok masyarakat,
yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam
ujud fisik maupun abstrak. Kultur
ini juga dapat dilihat sebagai suatu perilaku, nilai-nilai, sikap hidup, dan
cara hidup untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungan, dan sekaligus cara
untuk memandang persoalan dan memecahkannya. Oleh karena itu, suatu kultur
secara alami akan diwariskan oleh satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sekolah merupakan lembaga utama yang yang didesain untuk memperlancar proses
transmisi kultural antar generasi tersebut.
Dalam
dunia pendidikan, semula kultur suatu bangsa (bukan kultur sekolah) yang diduga
sebagai faktor yang paling menentukan kualitas sekolah. Tetapi berbagai
penelitian menemukan bahwa pengaruh kultur bangsa terhadap prestasi pendidikan
tidak sebesar yang diduga selama ini. Bukti terakhir, hasil TIMSS (The Third international
Math and Science Study) menunjukkan bahwa siswa dari Jepang,
dan Belgia sama-sama menempati pada rangking atas untuk mata pelajaran matematik,
padahal kultur negara-negara tersebut berbeda. Oleh karena itu, para peneliti
pendidikan lebih memfokuskan pada kultur sekolah, bukannya kultur masyarakat
secara umum, sebagai salah satu faktor penentu kualitas sekolah. Tesis ini
sesuai dengan temuan-temuan mutakhir penelitian di bidang pendidikan yang
menekankan bahwa "faktor penentu kualitas pendidikan tidak hanya dalam ujud
fisik, seperti keberadaan guru yang berkualitas, kelengkapan peralatan
laboratorium dan buku perpustakaan, tetapi juga dalam ujud non-fisik, yakni
berupa kultur sekolah".
Konsep
kultur di dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri,
yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk
berlangsungnya suatu proses pembelajaran secara efisien dan efektif. Salah satu
ilmuwan yang memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah Antropolog
Clifford Geertz yang mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap
fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit.
Berdasarkan pengertian kultur menurut Clifford Geertz tersebut di atas, kultur
sekolah dapat dideskripsikan sebagai pola nilai-nilai, norma-norma, sikap,
ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang
sekolah. Kultur sekolah tersebut sekarang ini dipegang bersama baik oleh kepala
sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam
memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Pengaruh kultur sekolah atas prestasi siswa di Amerika Serikat telah dibuktikan lewat penelitian empiris. Kultur yang "sehat" memiliki korelasi yang tinggi dengan a) prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi, b) sikap dan motivsi kerja guru, dan, c) produktivitas dan kepuasan kerja guru. Namun demikian, analisis kultur sekolah harus dilihat sebagai bagian suatu kesatuan sekolah yang utuh. Artinya, sesuatu yang ada pada suatu kultur sekolah hanya dapat dilihat dan dijelaskan dalam kaitan dengan aspek yang lain, seperti, a) rangsangan untuk berprestasi, b) penghargaan yang tinggi terhadap prestasi, c) komunitas sekolah yang tertib, d) pemahaman tujuan sekolah, e) ideologi organisasi yang kuat, f) partisipasi orang tua siswa, g) kepemimpinan kepala sekolah, dan, h) hubungan akrab di antara guru. Dengan kata lain, dampak kultur sekolah terhadap prestasi siswa meskipun sangat kuat tetapi tidaklah bersifat langsung, melainkan lewat berbagai variabel, antara lain seperti semangat kerja keras dan kemauan untuk berprestasi.
Di
Indonesia belum banyak diungkap penelitian yang menyangkut kultur sekolah dalam
kaitannya dengan prestasi siswa. Tetapi mengingat bahwa sekolah sebagai suatu
sistem di manapun berada adalah relatif sama, maka hasil penelitian di Amerika
Serikat tersebut perlu mendapatkan perhatian, paling tidak dapat dijadikan
jawaban hipotetis bagi persoalan pendidikan kita.
B.
Faktor pembentuk kultur sekolah
Nilai,
moral, sikap dan perilaku siswa tumbuh berkembang selama waktu di sekolah, dan
perkembangan mereka tidak dapat dihindarkan yang dipengaruhi oleh struktur dan
kultur sekolah, serta oleh interaksi mereka dengan aspek-aspek dan komponen yang
ada di sekolah, seperti kepala sekolah, guru, materi pelajaran dan antar siswa
sendiri. Aturan sekolah yang ketat berlebihan dan ritual sekolah yang
membosankan tidak jarang menimbulkan konflik baik antar siswa maupun antara
sekolah dan siswa. Sebab aturan dan ritual sekolah tersebut tidak selamanya
dapat diterima oleh siswa. Aturan dan ritual yang oleh siswa diyakini tidak
mendatangkan kebaikan bagi mereka, tetapi tetap dipaksakan akan menjadikan
sekolah tidak memberikan tempat bagi siswa untuk menjadi dirinya.
Di
Amerika Serikat pernah dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya kultur sekolah ini. Ann Bradley dalam 'Hardly Working'
mengemukakan hasil penelitian tersebut. Penelitian yang mencakup 1.000 siswa di
New York City menunjukkan bahwa para siswa tidak bekerja keras dan mereka
menyatakan kalau dia mau dia akan dapat mencapai nilai yang lebih baik; mereka
tidak menghendaki ikut tes karena hanya akan membikin mereka harus belajar lebih
banyak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa tidak khawatir dengan nilai
rapor yang jelek, dan hanya beberapa siswa yang selalu mengerjakan PR. Sekitar
60% menyatakan mereka malas belajar dikarenakan guru yang tidak menarik dan
tidak antusias dalam mengajar, serta tidak menguasai materi. Di samping itu
sebagian besar responden menyatakan bahwa sekolah tidak disiplin dalam
melaksanakan proses belajar mengajar, sekitar 80% mau belajar keras kalau semua
proses belajar di sekolah berjalan secara tepat sebagaimana jadwal yang telah
ditentukan. Sebagian siswa yang lain mengeluh karena guru sering melecehkan
mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai anak yang dewasa melainkan
memperlakukan mereka sebagai anak kecil. Oleh karena itu sebagai balasan mereka
juga tidak menghargai guru. Temuan yang penting lagi adalah ternyata para siswa
yakin dengan belajar sebagaimana sekarang ini saja mereka akan lulus mendapatkan
diploma dan diploma merupakan sesuatu yang penting, tetapi tidak diperlakukan
sebagai simbol ilmu yang telah dikuasai.
C.
Peran kepala sekolah
Kepala sekolah harus memahami kultur sekolah yang ada sekarang ini, dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Perubahan kultur yang lebih "sehat" harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan kepemimpinan berdasarkan dialog, saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Biarlah guru, staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini, mana segi positif dan mana negatif, khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekoloh, struktur organisasi, nilai-nilai dan norma-norma, kepuasan terhadap kelas, dan produktivitas sekolah. Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah.
Kultur
sekolah ini berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang
masa depan sekolah. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan
sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk
membangun visi sekolah ini, perlu kolaborasi antara kepala sekolah, guru, orang
tua, staf administrasi dan tenaga profesional. Kultur sekolah akan baik apabila:
a) kepala dapat berperan sebagai model, b) mampu membangun tim kerjasama, c)
belajar dari guru, staf, dan siswa, dan, d) harus memahami kebiasaan yang baik
untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami
lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. Karena, akan memberikan perspektif
dan kerangka dasar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai problem yang
terjadi di sekolah. Dengan dapat memahami permasalahan yang kompleks sebagai
suatu kesatuan secara mendalam, kepala sekolah dan guru akan memiliki
nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan memberikan
lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya proses pendidikan.
halaman berikut : 3.7. Hasil pendidikan yang utuh.