3.1. Praktek pendidikan berwajah Ke-Indonesia-an
3.2. Pendidikan berwawasanglobal
3.3. Tantangan pengembangan sekolah di masa depan
3.4. Mempersiapkan kurikulum pendidikan abad XXI
3.5. Kebersamaan dalam belajar untuk menghilangkan ketimpangan
3.6. Kultur sekolah dan prestasi siswa
3.7. Hasil pendidikan yang utuh.
3.8. Reformasi pendidikan: dari fondasi ke aksi
3.7.
Hasil Pendidikan yang Utuh
Kebijakan yang baik untuk problem yang tidak benar bagaikan memberikan obat yang mujarab untuk penyakit yang keliru: Hasilnya akan sia-sia. Perumpamaan ini relevan bagi dunia pendidikan dewasa ini. Sesungguhnya persoalan pendidikan kita dewasa ini bukannya semata kemampuan penguasaan materi pelajaran siswa rendah sebagaimana ditunjukkan oleh NEM yang rendah, melainkan juga terjadinya degradasi pendidikan. Artinya untuk melakukan pekerjaan yang sama dewasa ini diperlukan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, untuk menjadi Prajurit Tamtama ABRI diperlukan ijazah SMU, sedangkan pada masa lampau cukup dengan ijazah SD. Sudah barang tentu akan sangat naif apabila kemudian menyimpulkan bahwa lulusan SD sekarang lebih rendah dibandingkan dengan lulusan SD masa lampau. Kemajuan masyarakatlah yang menuntut kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu, betapapun kualitas NEM ditingkatkan tetap saja akan terjadi problem pendidikan dalam masyarakat. Sebab, hakekat persoalannya bukan di situ. Persoalan pendidikan kita yang mendasar adalah bagaimana melakukan peningkatan mutu dalam kerangka reformasi pendidikan sesuai dengan kebutuhan zamannya, yakni era globalisasi dengan segala kecepatan perubahan yang terjadi di segala aspek kehidupan masyarakat.
A.
Basic skills
Fenomena
terjadinya degradasi pendidikan bukanlah hanya di negeri kita atau negara sedang
berkembang yang lain. Dua guru besar ekonomi, Richard J. Murname dari Harvard
University dan Frank Levy dari MIT telah melakukan studi yang mendalam di Honda
of American Manufacturing (HAM) dan di Industri Motorola. Hasil kajian keduanya
sebagaimana yang dimuat dalam bukunya 'Teaching The New Basic
Skills' (1996), antara lain membuktikan bahwa meskipun di Amerika Serikat
kemampuan rata-rata matematik telah meningkat dari skor 219 pada tahun 1982
menjadi 230 pada tahun 1992 untuk anak usia 9 tahun dan dari skor 289 pada tahun
1982 menjadi 307 pada tahun 1992
untuk anak usia 17 tahun, tetap saja terjadi fenomena degradasi ijazah
sebagaimana dikemukakan di atas. Akibat degradasi ijazah ini mengakibatkan
penurunan gaji yang diperoleh lulusan SMA pada masa kini dibandingkan dengan
lulusan SMA pada masa lampau. Kalau pada tahun 1979 lulusan SMA dengan memiliki
pengalaman kerja sekitar 10 tahun memperoleh gaji 27.500 dollar, maka pada tahun
1993 lulusan SMA dengan pengalaman kerja 10 tahun hanya memperoleh gaji
20.000 dollar. Inti dari studi ini menekankan betapapun prestasi siswa
ditingkatkan tetap saja akan muncul problem, sebab persoalan utama adalah dunia
ekonomi mengalami kemajuan yang pesat, sedangkan di fihak lain dunia pendidikan
bergerak maju sangat lambat.
Sejalan
dengan itu, bagi kedua ekonom tersebut, kebijakan yang diperlukan adalah
bagaimana mempercepat kemajuan dunia pendidikan dalam arti yang utuh dan hakiki,
lewat reformasi pendidikan yang mendasar sehingga memungkinkaan pendidikan
berkembang dengan cepat, tidak sekedar meningkatkan kemampuan daya serap materi
pelajaran sebagaimana ditunjukkan dengan skor hasil tes.
Dengan
mengacu perkembangan ekonomi dan masyarakat yang cepat dan kemampuan tenaga
kerja yang diperlukan, menurut Murname dan Levy, reformasi yang diperlukan di
dunia pendidikan adalah menetapkan skill
dasar yang harus dikembangkan pada diri setiap peserta didik. Skill dasar
tersebut meliputi:
The
hard skids, yang mencakup dasar-dasar matematik, problem solving,
kemampuan membaca yang jauh lebih tinggi dan lebih cepat dibandingkan yang
ada sekarang ini pada SMU.
The
soft skills, yang meliputi kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan
kemampuan untuk menyampaikan ide dengan jelas baik dengan lisan maupun tulis.
Kemampuan memahami bahasa komputer yang sederhana, seperti seperti word processor.
B.
Pendidikan holistik
Pada
hakekatnya pendidikan kita bertujuan untuk menghasilkan manusia yang utuh. Namun,
kenyataan dalam praktek dewasa ini tak terhindarkan lagi bahwa tujuan pendidikan
hanya menekankan aspek kognitif dengan ditunjukkan oleh sistem Evaluasi Belajar
Tahap Akhir Nasional yang menghasilkan NEM. Sehubungan dengan itu, basic skills
yang diajukan oleh kedua pakar ekonomi di atas justru telah mencakup ketiga
aspek: kognitif (the hard skills dan kemampuan memahami
bahasa komputer), sosial, dan emosi (the soft skills). Persoalan
yang muncul adalah bagaimanakah ketiga aspek tersebut dapat dikembangkan pada
diri peserta didik sebagai suatu satu kesatuan yang utuh?
Dunia
pendidikan sudah sangat terbiasa dengan pembagian sesuatu ke dalam bagian-bagian
yang lebih kecil, seperti bidang studi dipecah-pecah dalam pokok bahasan, dan
sub-pokok bahasan. Administrasi juga dipisah-pisah menjadi bagian-bagian yang
kecil-kecil. Pemecahan menjadi berbagai pecahan kecil-kecil ini berdasarkan
asumsi bahwa kalau serpihan-serpihan digabungkan akan menjadi satu keutuhan
kembali. Namun asumsi ini jauh dari realitas yang berlangsung. Siswa yang
memiliki NEM tinggi untuk suatu mata pelajaran tidak berarti siswa telah
menguasai pelajaran tersebut secara utuh. Sebab, memang secara substansi
gabungan-gabungan dari serpihan-serpihan tidak harus diartikan mesti menjadi
satu keutuhan. Demikian pula, asumsi bahwa Guru bimbingan dan konseling ditambah
guru agama serta guru PPKN bertugas untuk mengembangkan sosial dan emosi siswa,
sedangkan, guru-guru mata pelajaran yang lain, seperti matematika, fisika,
ekonomi, bertugas untuk mengembangkan intelektual siswa, sulit untuk terus
dipertahankan.
Perkembangan
teori baru di bidang perkembangan kognitif, seperti dikemukakan oleh
Baxter Magolda (dalam Knowing and Reasoning in
College: Gender-Related Patterns in Students'
Intellectual Development, 1995) menekankan bahwa ketiga aspek
pendidikan tersebut, intelektual, sosial dan emotional harus merupakan
satu kesatuan yang terintegrasi. Untuk mencapai integrasi ini peranan konteks
sosial dan hubungan antar pribadi sangat penting. Proses yang berlangsung di
sekolah harus senantiasa dikaitkan dengan proses yang ada di luar sekolah.
Goleman dalam buku 'Emotion intelligence' (Sudah diterjemahkan dan
diterbitkan oleh Gramedia, 1995) juga menekankan betapa proses learning
sangat ditentukan oleh emosi, yang dapat merangsang motivasi atau sebaliknya
malah menekan motivasi unuk berprestasi menjadi rendah.
C.
Aspek mikro dalam pendidikan
Dalam
kaitan pengembangan diri pribadi yang holistik ini sudah barang tentu proses
belajar mengajar yang
didominasi oleh ceramah dengan guru sebagai sumber tunggal dan siswa
sebagai pendengar yang baik mendapatkan kritikan yang keras. Sebagai alternatif
muncullah berbagai ide seperti Teori Pendidikan Pembebasan oleh Fraire, teori Constructivist
oleh Brooks dan Brooks, Cultural Perspective oleh Rhoads dan
Black, Collaborative Learning oleh Bruffee. Teori-teori
pembelajaran baru ini dimaksudkan untuk mengubah proses belajar mengajar yang
bersifat monolitik dan steril dari peristiwa-peristiwa yang berlangsung di luar
sekolah, sebagaimana yang dipraktekan di dunia sekolah dewasa ini, dengan
melibatkan sosial dan emosi dalam proses pembelajaran. Dengan mengubah otoritas
pembelajaran dari tangan guru dan lebih menekankan unsur pengalaman pribadi
siswa dalam proses pembelajaran, disertai dengan mengkaitkan apa yang dipelajari
di sekolah dengan apa yang terjadi di masyarakat sekitarnya, diharapkan
pendidikan akan lebih dapat mengembangkan diri siswa secara utuh.
Reformasi
pendidikan perlu mempertimbangkan perkembangan teori-teori pembelajaran baru
tersebut. Teori Pembebasan Freire menekankan pada prinsip bahwa sistem budaya
masyarakat merupakan sumber kekuatan warga masyarakat, bagaikan jaring laba-laba
di mana laba-laba hidup. Ia menyatakan bahwa sistem pendidikan harus
ditransformasikan lewat praksis, di mana refleksi dan aksi akan secara
bergantian mengubah tatanan yang ada. Teori Pembelajaran Constructivist
didasarkan pada prinsip bahwa guru harus me nyediakan lingkungan belajar yang
memungkinkan siswa mencari makna, menghargai ketidakpastian, dan bertanggung
jawab dalam proses "pencarian". Teori ini mengakui bahwa penekanan
pada kinerja dan memberikan jawaban yang
benar pada soal model pilihan ganda menghasilkkan pemahaman yang minim pada diri
siswa, sedangkan fokus proses pembelajaran adalah menimbulkan pada diri siswa
pemahaman yang mendalam dan kemampuan mempergunakan konsep dan pengetahuan yang
diperoleh sampai di luar ruang-ruang kelas.
Teori Constructivist membantu siswa untuk mampu bertanggung jawab
atas proses pembelajaran yang dilakukan oleh diri seseorang yang mandiri,
mengembangkan pemahaman dan konsep secara terintegrasi, dan mampu mencari
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang penting. Teori Pembelajaran Kultural
menekankan kekuatan kultur dan subkultur masyarakat. Teori ini memiliki prinsip
bahwa lewat sistem kultural yang ada dewasa ini kondisi pendidikan dapat
dianalisis dan diubah untuk dikembangkan menjadi proses pembelajaran yang
efektif. Untuk itu pendidikan harus meninjau ulang asumsi dan nilai-nilai mereka
sendiri dalam praktek pendidikan. Teori pembelajaran Collaborative menekankan
pada proses pembelajaran yang digerakkan oleh keterpaduan aktivitas bersama baik
intelektual, sosial dan emosi secara dinamis baik dari fihak siswa maupun guru.
Teori ini didasarkan poda ide bahwa pencarian dan pengembangan pengetahuan
adalah merupakan proses aktivitas sosial, di mana
siswa perlu mempraktekkannya. Pendidikan bukannya proses di mana siswa hanya
menjadi penonton dan pendengar yang pasif.
Berdasarkan
uraian di atas, maka lembaga pendidikan harus bergeser untuk mengembangkan
kultur pembelajaran yang holistik termasuk mengembangkan visi pendidikan yang
jelas, konsisten, disertai dengan kepemimpinan yang dapat memberikan arah,
memajukan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, mengembangkan masyarakat
pembelajaran, mendorong munculnya iklim belajar di manapun juga, dan secara
sadar mengembangkan proses sosialisasi profesional baik di kalangan guru ataupun
siswa. Kepemimpinan yang konsisten dan mampu memberikan arah diperlukan sebab
budaya masyarakat memang menghendakinya. Prinsip kepemimpinan tersebut memiliki
implikasi bahwa kepemimpinan lembaga harus dilihat sebagai suatu keniscayaan,
bahwa transformasi pendidikan mencakup seluruh hirarkis kelembagaan. Dengan
demikian, transformasi pendidikan diarahkan untuk mengembangkan sejumlah peran
kepemimpinan di sekolah, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar
mengajar, menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk ambil peran,
mendorong dan menghargai inisiatif siswa, dan memberikan insentif bagi
keterlibatan siswa. Tujuan akhir transformasi pendidikan adalah menghasilkan
siswa yang utuh: Kematangan intelektual, sosial, dan emosi.
halaman berikut : 3.8. Reformasi pendidikan: dari fondasi ke aksi