2.1. Meningkatkan kualitas guru
2.4. Globalisasi dan tuntutan peningkatan kualitas guru
2.5. Meningkatkan kualitas guru dalam proses belajar mengajar
2.6. Mempersiapkan gurru masa depan
2.6.
Mempersiapkan Guru untuk Masa Depan
Sungguhpun
sudah begitu banyak upaya dan kegiatan untuk meningkatkan mutu guru, hasil-hasil
evaluasi tahap akhir siswa menunjukkan bahwa nilai mereka belum mengalami
kenaikan yang berarti. Kalau kita menggunakan pola pikir linier:
Penataran
Guru ---» Mutu Guru Meningkat ---» Kualitas Kerja Guru Meningkat ---» Mutu
Siswa Meningkat
Sudah
barang tentu dapat disimpulkan bahwa penataran yang telah dilaksanakan telah
berhasil meningkatkan mutu guru, tetapi belum berhasil meningkatkan mutu kerja
guru, sehingga mutu siswa belum meningkat. Barangkali dilihat dari semboyan PKG:
Dari Guru-Oleh Guru-Untuk Guru, tujuan PKG sudah dicapai. Mungkin semboyannya
perlu diubah, menjadi: Dari Guru, Oleh Guru, Untuk Guru dan Siswa. Mengapa
mutu guru telah berhasil ditingkatkan tetapi kemampuan kerja guru belum
meningkat? Salah satu jawaban bisa kita kembalikan pada salah satu karakteristik
kerja guru, yakni guru adalah pekerjaan yang tidak pernah mendapatkan umpan
balik. Hal ini logis, karena tanpa umpan balik guru tidak tahu kualitas apa yang
dikerjakan, tidak tahu di mana kelemahan dan kelebihannya, dan akibatnya guru
tidak tahu mana yang perlu ditingkatkan.
Oleh
karena itu, nampaknya di samping meneruskan kegiatan pembinaan yang telah ada
selama ini, pembinaan guru diarahkan untuk mengembangkan suatu sistem dan teknik
bagi guru untuk bisa mendapatkan umpan balik dari apa yang dikerjakan dalam
proses belajar mengajar. Dua model peningkatan mutu yang perlu dipertimbangkan
adalah a) memperkuat hidden curriculum dan b) mengembangkan teknik
refleksi diri (seff-reffection).
A.
Hidden curriculum
Hidden
curriculum adalah proses penanaman nilai-nilai dan sifat-sifat pada diri
siswa. Proses ini dilaksanakan lewat perilaku guru selama melaksanakan proses
belajar mengajar. Untuk menanamkan sikap disiplin, guru harus memberikan contoh
bagaimana perilaku mengajar yang disiplin. Misalnya, memulai dan mengakhiri
pelajaran tepat pada waktunya. Kalau guru bertujuan menanamkan kerja keras pada
diri siswa, maka guru memberikan tugas-tugas yang memadai bagi siswa dan segera
diperiksa dan dikembalikan kepada siswa dengan umpan balik. Pengembalian
tugas-tugas siswa tanpa ada umpan balik pada kertas pekerjaan secara langsung
akan menanamkan sifat tidak usah kerja keras. Karena siswa beranggapan kerja
mereka tidak dibaca guru.
Kegiatan pembinaan yang diperlukan adalah:
Mengkaji
secara lebih
mendalam makna hidden curriculum.
Secara
sadar merancang pelaksanaan hidden curriculum.
Mengidentifikasi momen untuk melaksanakan hidden curriculum.
B.
Self-reflection
Self-reflection
adalah suatu kegiatan untuk mengevaluasi proses belajar mengajar yang telah
dilaksanakan untuk mendapatkan umpan balik dari apa yang telah dilakukan. Umpan
balik tersebut antara lain berupa: a) pemahaman siswa tentang apa yang telah
disampaikan, b) perilaku guru yang tidak efisien dan tidak efektif, c) perilaku
guru yang efisien dan efektif, d) perilaku yang perlu diperbaiki, e) perilaku
yang diinginkan oleh siswa dan, f) perilaku yang seharusnya dikerjakan.
Berdasarkan self-reflection inilah guru akan memperbaiki perilaku dalam proses
belajar mengajar.
Paling
tidak ada dua cara bagi guru untuk melakukan self-reflection, yakni: a) guru
menampung pendapat siswa pada setiap akhir kuartal dan, b) guru malaksanakan
action research. Cara yang pertama dilakukan lewat cara guru mengembangkan
pertanyaan-pertanyaan yang mengungkap bagaimana perilaku selama mengajar, dan
memberikan pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk dijawab oleh siswa. Berdasarkan
jawaban tersebut guru akan mendapatkan gambaran diri pada waktu melaksanakan
proses belajar mengajar.
Action research, sebagai cara kedua, merupakan kegiatan meneliti sambil mengajar atau mengajar yang diteliti. Siapa yang mengajar dan siapa yang meneliti? Guru sendiri yang melakukan keduanya datam waktu yang sama.