GAMBARAN
UMUM PENDIDIKAN
SUMATERA
BARAT 2005/2006
A. ARAH KEBIJAKAN UMUM
BIDANG PENDIDIKAN.
Menyadari pentingnya pendidikan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Sumatera Barat yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejateraan masyarakat, Pemerintah dan masyarakat memposisikan pembangunan SDM ini sebagai salah satu agenda pembangunan Sumatera Barat yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Propinsi Sumatera Barat (Paraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005), antara lain:
Meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan sosial budaya;
Membangun sumber daya manusia yang berkualitas;
Menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan bersih;
Membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan;
Mengembangkan infrastruktur yang mendorong percepatan pembangunan
Mempercepat penurunan tingkat kemiskinan;
Memberdayakan nagari sebagai basis pembangunan;
Khusus untuk agenda Membangun Sumber Daya Manusia yang berkualitas, program-program prioritas dalam pengembangan SDM ini untuk lima tahun kedepan dititikberatkan pada:
Pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan
Pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
Peningkatan partisipasi perempuan dan kesejahteraan keluarga
Peningkatan kualitas pemuda dan pembangunan olah raga
Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, riset dan pengembangan
Dari lima prioritas program pembangunan Sumatera Barat tahun 2006 - 2010 terlihat jelas komitmen dan perhatian pemerintah terhadap pendidikan sangat tinggi. Konsekuensi ditetapkannya pembangunan sektor pendidikan sebagal prioritas utama, maka Pemerintah bersama DPRD Propinsi Sumatera Barat menaikkan anggaran pendidikan yang bersumber dan APBD Propinsi sebesar 13,10 % pada tahun 2006, sedangkan pada tahun 2005 anggaran pendidikan hanya 3,10 % dan total APBD Propinsi. Komitmen dan keseriusan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pembangunan sektor pendidikan harus dapat dijadikan momentum untuk mengembalikan prestasi Sumatera Barat dibidang pendidikan yang pernah terukir dalam sejarah pendidikan di Indonesia.
Eksistensi
pembangunan pendidikan sebagaimana diamanahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Propinsi Sumatera Barat 2006-2010, harus disikapi secara serius, mulai
dari proses perencanaan, pelaksanaan program dan pengawasan.
B. KONDISI UMUM
PENDIDIKAN SUMATERA BARAT.
Penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat tidak terlepas dan konteks pendidikan nasional, dimana pada hakekatnya fungsi pendidikan nasional itu adalah : (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, (3) pengembangan potensi diri. Terkait dengah fungsi pendidikan ini, maka penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat diharapkan dapat memperkuat keutühan Bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang yang dimiliki secara optimal.
Tidak jauh berbeda dengan propinsi lainnya, dalam mengiplementasikan fungsi pendidikan nasionat tersebut, maka prioritas penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat yang dituangkan dalam Rencana Stategis Pembangunan 2006-2010, antara lain, mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Sumatera Barat, meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional, dan meningkatkan manajemen dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.
Guna
mengungkapkan potensi, hambatan dan permasalahan dalam penyelenggaraan
pendidikan di Sumatera Barat, berikut dipaparkan secara umum kondisi pendidikan
Sumatera Barat pada tahun pelajaran 2005/2006.
1. PENDIDIKAN FORMAL.
Sekolah dibawah koodinasi dan pembinaan Departemen Pendidikan merupakan lembaga pendidikan formal yang dominan di Sumatera Barat, baik dan jumlah sekolah, siswa dan tenaga kependidikannya. Dengan jumlah yang besar ini, maka sekolah memberikan kontribusi Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) terbesar pada setiap satuan dan jenjang pendidikan di Sumatera Barat.
Lembaga pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan jumlah terbanyak, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan terakhir Sekolah Menengah (SMA dan SMK). Namun demikian dilihat dan status sekolah pada jenjang pendidikan lebih tinggi jumlah sekolah swasta cukup besar, khususnya SMK yang sebahagian besar terdapat di Kota Padang.
Lembaga
pendidikan formal lainnya yang berkembang di Sumatera Barat yakni madrasah
dibawah koordinasi dan pembinaan Departemen Agama, mulal dari MI, MTs dan MA.
Sekalipun jumlah madrasah tidak sebanyak jumlah sekolah namun pada beberapa
kabupaten justru jumlah madrasah lebih banyak dari jumlah sekolah
|
No. |
SEKOLAH
/ MADRASAH |
JUMLAH
SEKOLAH / MADRASAH |
||||
|
NEGERI
/ SWASTA |
NEGERI |
SAWASTA |
||||
|
JUMLAH |
% |
JUMLAH |
% |
|||
|
1. |
TK dan RA |
1753 |
12 |
0,68 |
1.741 |
99,32 |
|
2. |
SD |
4.007 |
3.895 |
97,20 |
122 |
2,80 |
|
3. |
MI |
118 |
69 |
58,47 |
49 |
41,52 |
|
4. |
SMP |
493 |
413 |
83,17 |
80 |
16,23 |
|
5. |
MTs |
362 |
104 |
28,73 |
258 |
71,27 |
|
6. |
SMA |
229 |
161 |
70,30 |
68 |
29,70 |
|
7. |
MA |
157 |
40 |
25,47 |
117 |
74,53 |
|
8. |
SMK |
160 |
48 |
30,00 |
112 |
70,00 |
|
9. |
SLB |
69 |
14 |
20,28 |
55 |
79,72 |
|
|
Jumlah |
7.348 |
4.756 |
64,72 |
2.602 |
35,28 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006 | ||||||
Kondisi geografis dan kepadatan
penduduk yang tidak merata mempengaruhi keseimbangan jumlah sekolah dan madrasah
pada setiap kabupaten dan kota, khususnya perbedaan antara jumlah jenjang
Pendidikan Dasar dengan Pendidikan Menengah, kondisi ini menyebabkan terjadiya
urbanisasi lulusan SMP dan MTs ke daerah perkotaan setiap tahun di Sumatera
Barat.
|
No. |
KABUPATEN
DAN KOTA |
SEKOLAH |
MADRASAH |
|||||
|
SD |
SMP |
SMA |
SMK |
MI |
MTs |
MA |
||
Kabupaten : |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. |
Agam |
444 |
51 |
23 |
7 |
6 |
43 |
21 |
|
2. |
Pasaman |
233 |
21 |
9 |
7 |
9 |
17 |
11 |
|
3. |
Lima Puluh Kota |
368 |
36 |
8 |
3 |
7 |
27 |
10 |
|
4. |
Solok |
340 |
39 |
16 |
7 |
8 |
34 |
11 |
|
5. |
Pd. Pariaman |
400 |
40 |
20 |
8 |
6 |
21 |
3 |
|
6. |
Pesisir Selatan |
383 |
42 |
19 |
11 |
30 |
27 |
8 |
|
7. |
Tanah Datar |
303 |
43 |
17 |
8 |
4 |
51 |
24 |
|
8. |
Swh.Lunto SJJ |
195 |
24 |
8 |
5 |
2 |
14 |
2 |
|
9. |
Kep.Mentawai |
82 |
8 |
5 |
- |
1 |
3 |
1 |
|
10. |
Pasaman Barat |
241 |
27 |
12 |
6 |
6 |
52 |
22 |
|
11 |
Solok Selatan |
125 |
15 |
7 |
4 |
8 |
12 |
5 |
|
12. |
Darmasraya |
145 |
16 |
4 |
2 |
4 |
13 |
9 |
Kota : |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
13. |
Bukittinggi |
56 |
10 |
9 |
13 |
2 |
6 |
6 |
|
14. |
Padang |
413 |
75 |
45 |
46 |
11 |
16 |
5 |
|
15. |
Pd. Panjang |
37 |
10 |
7 |
5 |
2 |
6 |
9 |
|
16. |
Sawahlunto |
57 |
9 |
4 |
3 |
4 |
3 |
1 |
|
17. |
Solok |
42 |
6 |
5 |
6 |
1 |
3 |
1 |
|
18. |
Payakumbuh |
71 |
13 |
5 |
13 |
3 |
6 |
5 |
|
19. |
Pariaman |
72 |
8 |
6 |
6 |
4 |
8 |
5 |
|
|
Jumlah |
4.007 |
493 |
229 |
160 |
118 |
362 |
157 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan 2005/2006 Dinas Pendidikan Sumbar | ||||||||
Komposisi jumlah sekolah untuk seluruh jenis, satuan dan jenjang pendidikan pada setiap daerah kabupaten kota sangat bervariatif, baik antara jumlah SD dengan SMP maupun antara SMP dengan Sekolah Menengah. Pada tabel 7 dapat dilihat komposisi jumlah sekolah yang kurang mendekati kondisi ideal adalah antara SMP dan MTs dengan Sekolah Kejuruan. Pada umumnya SMK terdapat di daerah kota, seperti Kota Padang, Bukittinggi dan kota Payakumbuh dengan jumlah SMK relatif cukup banyak dan cukup ideal dan komposisi jumlah SMP/MTs dengan jumlah SMKnya.
Perbandingan jumlah SMA dengan SMK masih belum seimbang, dimana jumlah SMA relatif lebih banyak, oleh kerena itu kedepan perlu ditelusuni perkembangan SMK antara lain bagaimana kita mampu menjaring animo siswa kelas III SMP atau MTs yang berminat dan berbakat untuk meneruskan pendidikannya ke SMK, dengan demikian kita dapat merancang pengembangan SMK sesuai dengan kebutuhan calon siswa disamping mengembangkan SMK yang relevan dengan potensi ekonomi daerah guna kemudahan pengelolaan kurikulum SMK, pelaksanaan sistem ganda, serta kemungkinan penyerapan lulusan dalam lapangan pekerjaan di daerah masing-masing.
Pada tahun 2005/2006, kelompok
SMK Teknologi dan Industni masih sangat dominan, kemudian diikuti kelompok
Bisnis dan Manajemen, sebagaimana yang terlihat pada tebel berikut:
Tabel
8 : Jumlah SMK Menurut Kelompok Keahilan Sumatera Barat
Tahun Pelajaran 2005/2006
|
No. |
SMK
SUMATERA BARAT DENGAN KELOMPOK KEAHLIAN YANG BERKEMBANG |
JUMLAH
DAN PERSENTASE |
|
|
JUMLAH
(SEKOLAH) |
PERSENTASE
(%) |
||
|
1. |
Pertanian dan Kehutanan |
7 |
4,36 |
|
2. |
Teknologi dan Industri |
78 |
48,75 |
|
3. |
Bisnis dan Manajemen |
68 |
38,75 |
|
4. |
Kesejahteraan Masyarakat |
1 |
0,63 |
|
4. |
Paniwisata |
5 |
3,13 |
|
5. |
Seni dan Kerajinan |
5 |
3,13 |
|
6. |
Kelautan dan Penkanan |
2 |
1,25 |
|
|
Jumlah |
160 |
100 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006 | |||
Adanya kewengan desentralisasi
pendidikan yang dititikberatkan pada daerah kabupaten dan kota, seharusnya dapat
dimanfaatkan oleh daerah kabupaten dan kota untuk melakukan kajian/studi
kelayakan pembukaan dan pengembangan SMK sesuai dengan kebutuhan potensi /
sektor dominan pengembangan ekonomi daerah, dengan demikian diharapkan lulusan
SMK dapat menjawab kebutuhan tenaga kerja sebagai konsekuensi pengembangan
potensi atau sektor dominan daerah masing-masing.
a. Pendidikan Luar Biasa (PLB).
Pendidikan Luar Biasa (PLB), merupakan jenis pendidikan formal yang diperuntukan bagi anak atau penduduk usia sekolah yang memiliki kelainan mental atau fisik, oleh kerena itu harus ada perlakuan atau pelayanan khusus, baik kualifikas guru, fasilitas dan proses belajar mengajarnya berbeda dengan sekolah biasa.
Jumlah anak-anak usia sekolah yang memiliki kelainan fisik atau mental yang mampu terlayani sebagai siswa pada Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006 sebanyak 2.210 orang, angka mi tentunya masih sangat kecil dibandingkan perkiraan jumlah penduduk Sumatera Barat yang kerena kelainan mental atau fisiknya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Biaya pendidikan yang relatif mahal dan kemungkinan adanya perasaan malu menyebabkan banyak anak kelainan mental atau fisik belum terlayani pada Pendidikan Luar Biasa.
Jumlah siswa Pendidikan Luar Biasa dengan jenis kelainan tuna grahita (keterbelakangan mental) di Sumatera Barat relatif besar, dengan rincian tuna grahita ringan 788 orang , dan tuna grahita sedang 532 orang, kemudian diikuti siswa dengan kelainan tuna rungu (gangguan pendengaran) 376 orang, serta tuna Daksa Ringan (kelainan Fisik) sebanyak 311 orang
Tabel berikut jumlah siswa SLB
menurut jenis kelainan di Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006:
|
No. |
JENIS
KELAINAN / KETUNAAN |
KODE
KELAS |
JUMLAH
SISWA |
|
1. 2 3 4 5 6 7 8 9 |
TunaNetra Tuna Rungu Tuna Grahita Ringan TunaGrahitaSedang TunaDaksaRingan Tuna Daksa Sedang Tuna Laras Tuna Ganda Autis |
A B C Cl D Dl E G Autis |
71 376 788 532 311 21 2 3 106 |
|
|
Jumlah |
|
2.210 |
|
Sumber :
Tumbuh Kembang PLB 2005. Keterangan:
|
|||
Perlu digarisbawahi, mengangkat permasalahan Pendidikan Luar Biasa (PLB), adalah sesuatu hal yang sangat penting, khususnya bagi Pemda Sumatera Barat dan penyelenggara Pendidikan di Tingkat Propinsi, ada dua alasan yang sangat mendasar, mengapa PLB perlu mendapat perhatian Iebih serius dari Pemerintah Propinsi:
Pertama, Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001, serta Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 47 Tahun 2001, dinyatakan bahwa, PLB adalah Unit Pelaksan Teknis (UPT) dibawah bimbingan dan koordinasi Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat yang secara teknis menjadi tugas pokok dan fungsi Subdin SLB, TK, PLS, dan Dikti, serta adanya tenaga fungsional, yakni pengawas SLB di tingkat propinsi.
Kedua, Pendidikan Luar Biasa, termasuk pendidikan yang mahal, baik dilihat dan kebutuhan sarana dan prasarananya, tenaga kependidikan, fasilitas belajar dan mengajar, serta biaya pendidikan, oleh kerena itu tidak seluruh daerah kabupaten dan kota memiliki PLB, dan yang lebih penting belum seluruh anak yang memiliki kelainan mental dan fisik di Sumatera Barat dapat terlayani pada lembaga Pendidikan Luar Biasa.
Jumlah lembaga Pendidikan Luar
Biasa di Sumatera Barat tahun 2005/2006, dapat dikemukakan sebagai berikut:
|
No. |
KABUPATEN
DAN KOTA |
PLB NEGERI |
PLB SWASTA |
JUMLAH (Unit) |
|
|
KABUPATEN : |
|
|
|
|
1. |
Agam |
1 |
2 |
3 |
|
2. |
Pasaman |
1 |
2 |
3 |
|
3. |
Pasaman Barat |
- |
- |
- |
|
4. |
Limapuluh Kota |
1 |
4 |
5 |
|
5. |
Solok |
- |
2 |
2 |
|
6. |
Solok Selatan |
1 |
1 |
2 |
|
7. |
Pdg. Panaman |
- |
6 |
6 |
|
8. |
Pesisir Selatan |
1 |
4 |
5 |
|
9. |
Tanah Datar |
1 |
1 |
2 |
|
10. |
Sawahlunto Sjj. |
1 |
1 |
2 |
|
11. |
Darmas Raya |
- |
- |
- |
|
12. |
Kep. Mentawai |
- |
- |
- |
|
|
KOTA : |
|
|
|
|
13. |
Bukittinggi |
1 |
2 |
3 |
|
14. |
Padang |
2 |
24 |
26 |
|
15. |
Padang Panjang |
1 |
- |
1 |
|
16. |
Sawahlunto |
1 |
1 |
2 |
|
17. |
Solok |
1 |
- |
1 |
|
18. |
Payakumbuh |
- |
5 |
5 |
|
19. |
Pariaman |
1 |
- |
1 |
|
|
Jumlah |
14 |
49 |
69 |
| Sumber: Tumbuh Kembang PLB. | ||||
b. Siswa.
Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah siswa persekolahan Sumatera Barat pada tahun Pefajaran 2005/2006 meningkat, namun demikian pada tahun ini kita masih dihadapkan dengan persoalan masih tingginya angka mengulang kerena tinggal kelas pada setiap satuan dan jenjang pendidikan. Tingginya angka mengulang ini seharusnya menjadi perhatian kita untuk melakukan perbaikan sistem belajar dan mengajar disekotah, dan dituntut kerjasama yang baik antara guru dan orang tua guna mengawasi dan membimbing anak untuk dapat memanfaatkan waktunya belajar lebih banyak.
Hal yang sama juga terjadi terhadap siswa putus sekolah tahun T0-1 (2004/2005), yang mempengaruhi keberhasilan pemerataan pendidikan di Sumatera Barat, untuk itu diperlukan penanganan nyata dalam mengatasi berbagai masalahnya, khususnya dalam memberikan perhatian terhadap siswa yang terancam putus sekolah karena keterbatasan ekonomi orang tua.
Tabel berikut dapat kita lihat persentase angka mengulang dan putus sekolah tahun pelajaran 2005/2006 di Sumatera Barat.
Tabel 11 : Angka Mengulang dan
Tinggal Kelas Sekolah dan Madrasah
Tahun Pelajaran 2005/2006
|
No. |
SEKOLAH
/ MADRASAH |
MENGULANG
KELAS |
PUTUS
SEKOLAH |
||||
|
LAKI-LAKI |
PEREM PUAN |
JUMLAH |
LAKI-LAKI |
PEREM PUAN |
JUMLAH |
||
|
1. |
SD |
35.843 |
21.323 |
57.166 |
1.739 |
1.047 |
2.786 |
|
2. |
Ml |
528 |
332 |
860 |
18 |
27 |
45 |
|
3. |
SMP |
1.806 |
617 |
2.423 |
1.961 |
894 |
2.855 |
|
4. |
MTs |
215 |
82 |
297 |
333 |
214 |
547 |
|
5. |
SMA |
810 |
213 |
1.023 |
914 |
571 |
1.485 |
|
6. |
MA |
63 |
37 |
100 |
105 |
115 |
220 |
|
7. |
SMK |
189 |
26 |
215 |
479 |
340 |
819 |
|
|
Jumlah |
39.454 |
22.630 |
62.084 |
5.543 |
3.210 |
8753 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 200512006 | |||||||
Pada tabel diatas, jumlah siswa mengulang dan putus sekotah berdasarkan gender, kenyataan terbanyak terjadi pada siswa laki-laki dibandingkan siswa perempuan. Kedepan perlu kajian dan perhatian kita bersama, mengapa jumlah siswa laki-laki yang tinggal kelas dan putus sekotah di Sumatera Barat tebih besar dan siswa perempuan?.
Dengan digulirnya kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Pendidikan Dasar dan Bantuan Khusus Murid (BKM) pada tahun petajaran 2005/2006 kita berharap jumlah siswa yang putus sekolah kerena masalah keterbatasan ekonomi orang tua dapat ditekan, dibandingkan tahun pelajaran 2004/2005.
Khusus
untuk tinggal SD dan MI, angka putus sekolah terbesar terjadi pada kelas
terendah, hal ini juga perlu mendapat perhatian kita, kerena apabila putus
sekolah terjadi pada kelas I atau kelas II, ada kemungkinan anak belum menguasai
sepenuhnya kemampuan dasar baca, tulis dan hitung, dan apabila anak tidak
berusaha kembali untuk bersekolah, kemungkinan juga jumlah angka buta aksara di
Sumatera Barat akan bertambah. Tabel berikut
memperlihatkan jumlah angka putus sekolah SD untuk setiap kelas.
|
No. |
TINGKAT/
KELAS |
PUTUS
SEKOLAH |
||
|
LAKI-LAKI |
PEREMPUAN |
JUMLAH |
||
|
1. |
Kelas I |
368 |
234 |
602 |
|
2. |
Kelas Il |
220 |
116 |
336 |
|
3. |
Kelas III |
286 |
170 |
456 |
|
4. |
Kelas IV |
307 |
202 |
509 |
|
5. |
Kelas V |
375 |
208 |
583 |
|
6. |
Kelas Vl |
183 |
117 |
300 |
|
|
Jumlah |
1.739 |
1.047 |
2.786 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/5006 | ||||
c. Guru.
Ada dua permasalahan mendasar menyangkut guru pendidikan formal di Sumatera Barat, pertama, masalah kebutuhan, khususnya menyangkut jumlah dan pemerataan guru, kedua, masalah profesionalitas guru dilihat dan tingkat pendidikan. Pada bagian berikut kami akan mengemukakan masalah kebutuhan guru, sedangkan masalah profesionalitas guru menurut tingkat pendidikannya akan dibahas pada tempat lain.
Kebutuhan guru SD dengan menggunakan rumus 6+1+1+1, artinya pada satu SD harus terdapat 6 guru kelas (apabila kelasnya ada VI), 1 guru agama, 1 guru olahraga dan 1 Kepala sekolah, maka Sumatera Barat masih kekurangan guru kelas sebanyak 4.106 orang, guru mata pelajaran agama sebanyak 71 orang dan guru mata pelajaran Penjaskes 1.432 orang.
Untuk daerah kabupaten (kecuali Kab. Tanah Datar) mengalami kekurangan guru kelas, sedangkan untuk daerah kota kekurangan guru kelas justru terdapat pada kota Padang, Bukittinggi dan Pariaman. Untuk guru mata pelajaran olah raga seluruh daerah kabupaten dan kota kekurangan, sedangkan guru mata pelajaran agama pada umumnya berlebih.
Tabel berikut memperlihatkan
kekurangan guru kelas, guru mata pelajaran agama dan Penjaskes SD tahun
2005/2006.
|
No. |
KABUPATEN
DAN KOTA |
KEKURANGAN
GURU SD |
||
|
GURU
KELAS |
GURU
AGAMA |
GURU
PENJASKES |
||
|
|
KABUPATEN : |
|
|
|
|
1. |
Agam |
192 |
0 |
202 |
|
2. |
Pasaman |
482 |
0 |
74 |
|
3. |
Pasaman Barat |
92 |
0 |
96 |
|
4. |
Limapuluh Kota |
53 |
0 |
175 |
|
5. |
Solok |
217 |
2 |
114 |
|
6. |
Solok Selatan |
132 |
0 |
33 |
|
7. |
Pdg. Panaman |
466 |
9 |
189 |
|
8. |
Pesisir Selatan |
481 |
0 |
76 |
|
9. |
Tanah Datar |
0 |
0 |
123 |
|
10. |
Sawahlunto Sijunjung |
163 |
15 |
121 |
|
11. |
Darmas Raya |
88 |
17 |
89 |
|
12. |
Kep. Mentawai |
84 |
25 |
59 |
|
|
KOTA : |
|
|
|
|
13. |
Bukittinggi |
454 |
0 |
11 |
|
14. |
Padang |
1.125 |
0 |
27 |
|
15. |
Padang Panjang |
0 |
0 |
3 |
|
16. |
Sawahlunto |
0 |
3 |
3 |
|
17. |
Solok |
0 |
0 |
1 |
|
18. |
Payakumbuh |
0 |
0 |
5 |
|
19. |
Pariaman |
77 |
0 |
31 |
|
|
Jumlah |
4.106 |
71 |
1.432 |
| Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006 | ||||
Dasar penghitungan kekurangan guru SD diatas dilakukan secara kumulatif, artinya dengan membandingkan jumlah sekolah, rombel dan guru yang ada per kab/kota, namun demikian apabila dilihat dan jumlah guru per sekolah (SD), maka ada kemungkinan pada suatu daerah kabupaten atau kecamatan terdapat jumlah guru satu SD berlebih dan satu SD lainnya kekurangan, oleh kerena itu bagi daerah yang kekurangan guru sebaiknya dilakukan pemerataan guru antar SD-SD yang ada dalam satu kecamatan dan yang berlebih ke yang kurang, dengan demikian kita dapat menghitung secara ril kekurangan guru masing-masing sekolah dan masing-masing kecamatan/daerah kabupatenn dan kota.
Untuk SMP dan SM, dilihat dan jumlah guru dengan kewajiban guru harus mengajar 18 jam/minngu, sebetulnya mencukupi, namun jumlah guru dilihat dan per mata pelajaran sangat bermasalah, artinya ada guru mata pelajaran tertentu mengajar kurang 18 jam/minggu, dilain pihak guru mata pelajaran lainnya mengajar 18 sampai 30 jam/minggu.
Tabel
berikut memperlihatkan gambaran umum rata-rata jam mengajar guru SMP dan SM di
Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006.
Tebel
14 : Rata-rata jam menagjar guru SMP, SMA dan SMK Sumatera Barat
Tahun Pelajaran 2005/2006
|
SEKOLAH |
JUMLAH
JAM BERDASARKAN KURIKULUM (43 x JUMLAH KELAS ) |
JUMLAH
GURU YANG ADA SELURUH MATA PELAJARAN |
RATA-RATA
GURU MENGAJAR/MINGGU, KOLOM (2) DIBAGAI KOLOM (3) |
JAM
WAJIB MENURUT SPM |
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
|
SMP SMA SMK |
222.955 jam 103.243 jam 73.186 jam |
15.226 orang 9.522 orang 5.981 orang |
l5 jam/minggu 11 jam/minggu l2 jam/minggu |
18 jam/mg. 18 jam/mg. 18 jam/mg. |
|
JUMLAH |
399.384 jam |
30.729 orang |
13 jam/minggu |
18 jam/mg. |