BAB III

GAMBARAN  UMUM PENDIDIKAN

SUMATERA BARAT 2005/2006 

A.  ARAH KEBIJAKAN UMUM BIDANG PENDIDIKAN.

Menyadari pentingnya pendidikan dalam peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Sumatera Barat yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejateraan masyarakat, Pemerintah dan masyarakat memposisikan pembangunan SDM ini sebagai salah satu agenda pembangunan Sumatera Barat yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Propinsi Sumatera Barat (Paraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 74 Tahun 2005), antara lain:

  1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan sosial budaya;

  2. Membangun sumber daya manusia yang berkualitas;

  3. Menyelenggarakan pemerintahan yang baik dan bersih;

  4. Membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan;

  5. Mengembangkan infrastruktur yang mendorong percepatan pembangunan

  6. Mempercepat penurunan tingkat kemiskinan;

  7. Memberdayakan nagari sebagai basis pembangunan;

Khusus untuk agenda Membangun Sumber Daya Manusia yang berkualitas, program-program prioritas dalam pengembangan SDM ini untuk lima tahun kedepan dititikberatkan pada:

  1. Pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan

  2. Pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan

  3. Peningkatan partisipasi perempuan dan kesejahteraan keluarga

  4. Peningkatan kualitas pemuda dan pembangunan olah raga

  5. Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, riset dan pengembangan

Dari lima prioritas program pembangunan Sumatera Barat tahun 2006 - 2010 terlihat jelas komitmen dan perhatian pemerintah terhadap pendidikan sangat tinggi. Konsekuensi ditetapkannya pembangunan sektor pendidikan sebagal prioritas utama, maka Pemerintah bersama DPRD Propinsi Sumatera Barat menaikkan anggaran pendidikan yang bersumber dan APBD Propinsi sebesar 13,10 % pada tahun 2006, sedangkan pada tahun 2005 anggaran pendidikan hanya 3,10 % dan total APBD Propinsi. Komitmen dan keseriusan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pembangunan sektor pendidikan harus dapat dijadikan momentum untuk mengembalikan prestasi Sumatera Barat dibidang pendidikan yang pernah terukir dalam sejarah pendidikan di Indonesia.

Eksistensi pembangunan pendidikan sebagaimana diamanahkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propinsi Sumatera Barat 2006-2010, harus disikapi secara serius, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan program dan pengawasan. 

B.  KONDISI UMUM PENDIDIKAN SUMATERA BARAT.

Penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat tidak terlepas dan konteks pendidikan nasional, dimana pada hakekatnya fungsi pendidikan nasional itu adalah : (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, (3) pengembangan potensi diri. Terkait dengah fungsi pendidikan ini, maka penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat diharapkan dapat memperkuat keutühan Bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang yang dimiliki secara optimal.

Tidak jauh berbeda dengan propinsi lainnya, dalam mengiplementasikan fungsi pendidikan nasionat tersebut, maka prioritas penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat yang dituangkan dalam Rencana Stategis Pembangunan 2006-2010, antara lain, mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Sumatera Barat, meningkatkan mutu pendidikan yang memiliki daya saing di tingkat nasional, regional, dan internasional, dan meningkatkan manajemen dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan.

Guna mengungkapkan potensi, hambatan dan permasalahan dalam penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat, berikut dipaparkan secara umum kondisi pendidikan Sumatera Barat pada tahun pelajaran 2005/2006. 

1. PENDIDIKAN FORMAL.

Sekolah dibawah koodinasi dan pembinaan Departemen Pendidikan merupakan lembaga pendidikan formal yang dominan di Sumatera Barat, baik dan jumlah sekolah, siswa dan tenaga kependidikannya. Dengan jumlah yang besar ini, maka sekolah memberikan kontribusi Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) terbesar pada setiap satuan dan jenjang pendidikan di Sumatera Barat.

Lembaga pendidikan Sekolah Dasar (SD) merupakan jumlah terbanyak, kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan terakhir Sekolah Menengah (SMA dan SMK). Namun demikian dilihat dan status sekolah pada jenjang pendidikan lebih tinggi jumlah sekolah swasta cukup besar, khususnya SMK yang sebahagian besar terdapat di Kota Padang.

Lembaga pendidikan formal lainnya yang berkembang di Sumatera Barat yakni madrasah dibawah koordinasi dan pembinaan Departemen Agama, mulal dari MI, MTs dan MA. Sekalipun jumlah madrasah tidak sebanyak jumlah sekolah namun pada beberapa kabupaten justru jumlah madrasah lebih banyak dari jumlah sekolah
  

Tabel 6 : Jumlah Sekolah dan Madrasah 2005/2006

No.

SEKOLAH / MADRASAH

JUMLAH SEKOLAH / MADRASAH

NEGERI / SWASTA

NEGERI

SAWASTA

JUMLAH

%

JUMLAH

%

1.

TK dan RA

1753

12

0,68

1.741

99,32

2.

SD

4.007

3.895

97,20

122

2,80

3.

MI

118

69

58,47

49

41,52

4.

SMP

493

413

83,17

80

16,23

5.

MTs

362

104

28,73

258

71,27

6.

SMA

229

161

70,30

68

29,70

7.

MA

157

40

25,47

117

74,53

8.

SMK

160

48

30,00

112

70,00

9.

SLB

69

14

20,28

55

79,72

 

Jumlah

7.348

4.756

64,72

2.602

35,28

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006

Kondisi geografis dan kepadatan penduduk yang tidak merata mempengaruhi keseimbangan jumlah sekolah dan madrasah pada setiap kabupaten dan kota, khususnya perbedaan antara jumlah jenjang Pendidikan Dasar dengan Pendidikan Menengah, kondisi ini menyebabkan terjadiya urbanisasi lulusan SMP dan MTs ke daerah perkotaan setiap tahun di Sumatera Barat. 

Tabel 7 : Jumlah Sekolah dan Madrasah per Kab/kota 2005/2006

No.

KABUPATEN DAN KOTA

SEKOLAH

MADRASAH

SD

SMP

SMA

SMK

MI

MTs

MA

Kabupaten :

 

 

 

 

 

 

 

1.

Agam

444

51

23

7

6

43

21

2.

Pasaman

233

21

9

7

9

17

11

3.

Lima Puluh Kota

368

36

8

3

7

27

10

4.

Solok

340

39

16

7

8

34

11

5.

Pd. Pariaman

400

40

20

8

6

21

3

6.

Pesisir Selatan

383

42

19

11

30

27

8

7.

Tanah Datar

303

43

17

8

4

51

24

8.

Swh.Lunto SJJ

195

24

8

5

2

14

2

9.

Kep.Mentawai

82

8

5

-

1

3

1

10.

Pasaman Barat

241

27

12

6

6

52

22

11

Solok Selatan

125

15

7

4

8

12

5

12.

Darmasraya

145

16

4

2

4

13

9

Kota :

 

 

 

 

 

 

 

13.

Bukittinggi

56

10

9

13

2

6

6

14.

Padang

413

75

45

46

11

16

5

15.

Pd. Panjang

37

10

7

5

2

6

9

16.

Sawahlunto

57

9

4

3

4

3

1

17.

Solok

42

6

5

6

1

3

1

18.

Payakumbuh

71

13

5

13

3

6

5

19.

Pariaman

72

8

6

6

4

8

5

 

Jumlah

4.007

493

229

160

118

362

157

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan 2005/2006 Dinas Pendidikan Sumbar

Komposisi jumlah sekolah untuk seluruh jenis, satuan dan jenjang pendidikan pada setiap daerah kabupaten kota sangat bervariatif, baik antara jumlah SD dengan SMP maupun antara SMP dengan Sekolah Menengah. Pada tabel 7 dapat dilihat komposisi jumlah sekolah yang kurang mendekati kondisi ideal adalah antara SMP dan MTs dengan Sekolah Kejuruan. Pada umumnya SMK terdapat di daerah kota, seperti Kota Padang, Bukittinggi dan kota Payakumbuh dengan jumlah SMK relatif cukup banyak dan cukup ideal dan komposisi jumlah SMP/MTs dengan jumlah SMKnya.

Perbandingan jumlah SMA dengan SMK masih belum seimbang, dimana jumlah SMA relatif lebih banyak, oleh kerena itu kedepan perlu ditelusuni perkembangan SMK antara lain bagaimana kita mampu menjaring animo siswa kelas III SMP atau MTs yang berminat dan berbakat untuk meneruskan pendidikannya ke SMK, dengan demikian kita dapat merancang pengembangan SMK sesuai dengan kebutuhan calon siswa disamping mengembangkan SMK yang relevan dengan potensi ekonomi daerah guna kemudahan pengelolaan kurikulum SMK, pelaksanaan sistem ganda, serta kemungkinan penyerapan lulusan dalam lapangan pekerjaan di daerah masing-masing.

Pada tahun 2005/2006, kelompok SMK Teknologi dan Industni masih sangat dominan, kemudian diikuti kelompok Bisnis dan Manajemen, sebagaimana yang terlihat pada tebel berikut: 

Tabel 8 : Jumlah SMK Menurut Kelompok Keahilan Sumatera Barat
Tahun Pelajaran 2005/2006

No.

SMK SUMATERA BARAT DENGAN KELOMPOK KEAHLIAN YANG BERKEMBANG

JUMLAH DAN PERSENTASE

JUMLAH

(SEKOLAH)

PERSENTASE

(%)

1.

Pertanian dan Kehutanan

7

4,36

2.

Teknologi dan Industri

78

48,75

3.

Bisnis dan Manajemen

68

38,75

4.

Kesejahteraan Masyarakat

1

0,63

4.

Paniwisata

5

3,13

5.

Seni dan Kerajinan

5

3,13

6.

Kelautan dan Penkanan

2

1,25

 

Jumlah

160

100

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006

Adanya kewengan desentralisasi pendidikan yang dititikberatkan pada daerah kabupaten dan kota, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh daerah kabupaten dan kota untuk melakukan kajian/studi kelayakan pembukaan dan pengembangan SMK sesuai dengan kebutuhan potensi / sektor dominan pengembangan ekonomi daerah, dengan demikian diharapkan lulusan SMK dapat menjawab kebutuhan tenaga kerja sebagai konsekuensi pengembangan potensi atau sektor dominan daerah masing-masing. 

a. Pendidikan Luar Biasa (PLB).

Pendidikan Luar Biasa (PLB), merupakan jenis pendidikan formal yang diperuntukan bagi anak atau penduduk usia sekolah yang memiliki kelainan mental atau fisik, oleh kerena itu harus ada perlakuan atau pelayanan khusus, baik kualifikas guru, fasilitas dan proses belajar mengajarnya berbeda dengan sekolah biasa.

Jumlah anak-anak usia sekolah yang memiliki kelainan fisik atau mental yang mampu terlayani sebagai siswa pada Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006 sebanyak 2.210 orang, angka mi tentunya masih sangat kecil dibandingkan perkiraan jumlah penduduk Sumatera Barat yang kerena kelainan mental atau fisiknya tidak dapat melanjutkan pendidikan. Biaya pendidikan yang relatif mahal dan kemungkinan adanya perasaan malu menyebabkan banyak anak kelainan mental atau fisik belum terlayani pada Pendidikan Luar Biasa.

Jumlah siswa Pendidikan Luar Biasa dengan jenis kelainan tuna grahita (keterbelakangan mental) di Sumatera Barat relatif besar, dengan rincian tuna grahita ringan 788 orang , dan tuna grahita sedang 532 orang, kemudian diikuti siswa dengan kelainan tuna rungu (gangguan pendengaran) 376 orang, serta tuna Daksa Ringan (kelainan Fisik) sebanyak 311 orang

Tabel berikut jumlah siswa SLB menurut jenis kelainan di Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006: 

Tabel 9 : Jumlah Siswa PLB Menurut Jenis Kelainan
Tahun Palajaran 2005/2006

No.

JENIS KELAINAN / KETUNAAN

KODE KELAS

JUMLAH SISWA

1.

2

3

4

5

6

7

8

9

TunaNetra

Tuna Rungu

Tuna Grahita Ringan

TunaGrahitaSedang

TunaDaksaRingan

Tuna Daksa Sedang

Tuna Laras

Tuna Ganda

Autis

A

B

C

Cl

D

Dl

E

G

Autis

71

376

788

532

311

21

2

3

106

 

Jumlah

 

2.210

Sumber : Tumbuh Kembang PLB 2005. 
 

Keterangan:

  • Kelas A = Tuna Netra (kelainan penghhatan)

  • Kelas B = Tuna Rungu (kelainan pendengaran)

  • Kelas C = Tuna Grahita (keterbelakaiga mental)

  • Kelas D = Tuna Daksa (kelainan fisik)

  • Kelas E = Tuna Laras (kelainan tingkah laku)

  • Kelas G = Tuna Ganda (memiliki kelainan lebih)

  • Austis   = (anak yang super aktif)

Perlu digarisbawahi, mengangkat permasalahan Pendidikan Luar Biasa (PLB), adalah sesuatu hal yang sangat penting, khususnya bagi Pemda Sumatera Barat dan penyelenggara Pendidikan di Tingkat Propinsi, ada dua alasan yang sangat mendasar, mengapa PLB perlu mendapat perhatian Iebih serius dari Pemerintah Propinsi:

Pertama, Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2001, serta Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 47 Tahun 2001, dinyatakan bahwa, PLB adalah Unit Pelaksan Teknis (UPT) dibawah bimbingan dan koordinasi Dinas Pendidikan Propinsi Sumatera Barat yang secara teknis menjadi tugas pokok dan fungsi Subdin SLB, TK, PLS, dan Dikti, serta adanya tenaga fungsional, yakni pengawas SLB di tingkat propinsi.

Kedua, Pendidikan Luar Biasa, termasuk pendidikan yang mahal, baik dilihat dan kebutuhan sarana dan prasarananya, tenaga kependidikan, fasilitas belajar dan mengajar, serta biaya pendidikan, oleh kerena itu tidak seluruh daerah kabupaten dan kota memiliki PLB, dan yang lebih penting belum seluruh anak yang memiliki kelainan mental dan fisik di Sumatera Barat dapat terlayani pada lembaga Pendidikan Luar Biasa.

Jumlah lembaga Pendidikan Luar Biasa di Sumatera Barat tahun 2005/2006, dapat dikemukakan sebagai berikut: 

Tabel 10 : Jumlah SLB dan Siswa SLB Per kabupaten dan kota
Tahun Pelajaran 2005/2006

No.

KABUPATEN DAN KOTA

PLB

NEGERI

PLB

SWASTA

JUMLAH

(Unit)

 

KABUPATEN :

 

 

 

1.

Agam

1

2

3

2.

Pasaman

1

2

3

3.

Pasaman Barat

-

-

-

4.

Limapuluh Kota

1

4

5

5.

Solok

-

2

2

6.

Solok Selatan

1

1

2

7.

Pdg. Panaman

-

6

6

8.

Pesisir Selatan

1

4

5

9.

Tanah Datar

1

1

2

10.

Sawahlunto Sjj.

1

1

2

11.

Darmas Raya

-

-

-

12.

Kep. Mentawai

-

-

-

 

KOTA :

 

 

 

13.

Bukittinggi

1

2

3

14.

Padang

2

24

26

15.

Padang Panjang

1

-

1

16.

Sawahlunto

1

1

2

17.

Solok

1

-

1

18.

Payakumbuh

-

5

5

19.

Pariaman

1

-

1

 

Jumlah

14

49

69

Sumber: Tumbuh Kembang PLB.

b. Siswa.

Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah siswa persekolahan Sumatera Barat pada tahun Pefajaran 2005/2006 meningkat, namun demikian pada tahun ini kita masih dihadapkan dengan persoalan masih tingginya angka mengulang kerena tinggal kelas pada setiap satuan dan jenjang pendidikan. Tingginya angka mengulang ini seharusnya menjadi perhatian kita untuk melakukan perbaikan sistem belajar dan mengajar disekotah, dan dituntut kerjasama yang baik antara guru dan orang tua guna mengawasi dan membimbing anak untuk dapat memanfaatkan waktunya belajar lebih banyak.

Hal yang sama juga terjadi terhadap siswa putus sekolah tahun T0-1 (2004/2005), yang mempengaruhi keberhasilan pemerataan pendidikan di Sumatera Barat, untuk itu diperlukan penanganan nyata dalam mengatasi berbagai masalahnya, khususnya dalam memberikan perhatian terhadap siswa yang terancam putus sekolah karena keterbatasan ekonomi orang tua.

Tabel berikut dapat kita lihat persentase angka mengulang dan putus sekolah tahun pelajaran 2005/2006 di Sumatera Barat.

Tabel 11 : Angka Mengulang dan Tinggal Kelas Sekolah dan Madrasah
Tahun Pelajaran 2005/2006

No.

SEKOLAH / MADRASAH

MENGULANG KELAS

PUTUS SEKOLAH

LAKI-LAKI

PEREM

PUAN

JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREM

PUAN

JUMLAH

1.

SD

35.843

21.323

57.166

1.739

1.047

2.786

2.

Ml

528

332

860

18

27

45

3.

SMP

1.806

617

2.423

1.961

894

2.855

4.

MTs

215

82

297

333

214

547

5.

SMA

810

213

1.023

914

571

1.485

6.

MA

63

37

100

105

115

220

7.

SMK

189

26

215

479

340

819

 

Jumlah

39.454

22.630

62.084

5.543

3.210

8753

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 200512006

Pada tabel diatas, jumlah siswa mengulang dan putus sekotah berdasarkan gender, kenyataan terbanyak terjadi pada siswa laki-laki dibandingkan siswa perempuan. Kedepan perlu kajian dan perhatian kita bersama, mengapa jumlah siswa laki-laki yang tinggal kelas dan putus sekotah di Sumatera Barat tebih besar dan siswa perempuan?.

Dengan digulirnya kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Pendidikan Dasar dan Bantuan Khusus Murid (BKM) pada tahun petajaran 2005/2006 kita berharap jumlah siswa yang putus sekolah kerena masalah keterbatasan ekonomi orang tua dapat ditekan, dibandingkan tahun pelajaran 2004/2005.

Khusus untuk tinggal SD dan MI, angka putus sekolah terbesar terjadi pada kelas terendah, hal ini juga perlu mendapat perhatian kita, kerena apabila putus sekolah terjadi pada kelas I atau kelas II, ada kemungkinan anak belum menguasai sepenuhnya kemampuan dasar baca, tulis dan hitung, dan apabila anak tidak berusaha kembali untuk bersekolah, kemungkinan juga jumlah angka buta aksara di Sumatera Barat akan bertambah. Tabel berikut  memperlihatkan jumlah angka putus sekolah SD untuk setiap kelas. 

Tabel 12 : Jumlah Siswa SD Putus Sekolah Per Tingkat Kelas
Tahun Pelajaran 2005/2006

No.

TINGKAT/ KELAS

PUTUS SEKOLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

JUMLAH

1.

Kelas I

368

234

602

2.

Kelas Il

220

116

336

3.

Kelas III

286

170

456

4.

Kelas IV

307

202

509

5.

Kelas V

375

208

583

6.

Kelas Vl

183

117

300

 

Jumlah

1.739

1.047

2.786

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/5006

c. Guru.

Ada dua permasalahan mendasar menyangkut guru pendidikan formal di Sumatera Barat, pertama, masalah kebutuhan, khususnya menyangkut jumlah dan pemerataan guru, kedua, masalah profesionalitas guru dilihat dan tingkat pendidikan. Pada bagian berikut kami akan mengemukakan masalah kebutuhan guru, sedangkan masalah profesionalitas guru menurut tingkat pendidikannya akan dibahas pada tempat lain.

Kebutuhan guru SD dengan menggunakan rumus 6+1+1+1, artinya pada satu SD harus terdapat 6 guru kelas (apabila kelasnya ada VI), 1 guru agama, 1 guru olahraga dan 1 Kepala sekolah, maka Sumatera Barat masih kekurangan guru kelas sebanyak 4.106 orang, guru mata pelajaran agama sebanyak 71 orang dan guru mata pelajaran Penjaskes 1.432 orang.

Untuk daerah kabupaten (kecuali Kab. Tanah Datar) mengalami kekurangan guru kelas, sedangkan untuk daerah kota kekurangan guru kelas justru terdapat pada kota Padang, Bukittinggi dan Pariaman. Untuk guru mata pelajaran olah raga seluruh daerah kabupaten dan kota kekurangan, sedangkan guru mata pelajaran agama pada umumnya berlebih.

Tabel berikut memperlihatkan kekurangan guru kelas, guru mata pelajaran agama dan Penjaskes SD tahun 2005/2006. 

Tabel 13 : Kekurangan Guru SD Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006

No.

KABUPATEN DAN KOTA

KEKURANGAN GURU SD

GURU KELAS

GURU AGAMA

GURU PENJASKES

 

KABUPATEN :

 

 

 

1.

Agam

192

0

202

2.

Pasaman

482

0

74

3.

Pasaman Barat

92

0

96

4.

Limapuluh Kota

53

0

175

5.

Solok

217

2

114

6.

Solok Selatan

132

0

33

7.

Pdg. Panaman

466

9

189

8.

Pesisir Selatan

481

0

76

9.

Tanah Datar

0

0

123

10.

Sawahlunto Sijunjung

163

15

121

11.

Darmas Raya

88

17

89

12.

Kep. Mentawai

84

25

59

 

KOTA :

 

 

 

13.

Bukittinggi

454

0

11

14.

Padang

1.125

0

27

15.

Padang Panjang

0

0

3

16.

Sawahlunto

0

3

3

17.

Solok

0

0

1

18.

Payakumbuh

0

0

5

19.

Pariaman

77

0

31

 

Jumlah

4.106

71

1.432

Sumber: Rangkuman Data Pendidikan Sumbar 2005/2006

Dasar penghitungan kekurangan guru SD diatas dilakukan secara kumulatif, artinya dengan membandingkan jumlah sekolah, rombel dan guru yang ada per kab/kota, namun demikian apabila dilihat dan jumlah guru per sekolah (SD), maka ada kemungkinan pada suatu daerah kabupaten atau kecamatan terdapat jumlah guru satu SD berlebih dan satu SD lainnya kekurangan, oleh kerena itu bagi daerah yang kekurangan guru sebaiknya dilakukan pemerataan guru antar SD-SD yang ada dalam satu kecamatan dan yang berlebih ke yang kurang, dengan demikian kita dapat menghitung secara ril kekurangan guru masing-masing sekolah dan masing-masing kecamatan/daerah kabupatenn dan kota.

Untuk SMP dan SM, dilihat dan jumlah guru dengan kewajiban guru harus mengajar 18 jam/minngu, sebetulnya mencukupi, namun jumlah guru dilihat dan per mata pelajaran sangat bermasalah, artinya ada guru mata pelajaran tertentu mengajar kurang 18 jam/minggu, dilain pihak guru mata pelajaran lainnya mengajar 18 sampai 30 jam/minggu.

Tabel berikut memperlihatkan gambaran umum rata-rata jam mengajar guru SMP dan SM di Sumatera Barat Tahun Pelajaran 2005/2006. 

Tebel 14 : Rata-rata jam menagjar guru SMP, SMA dan SMK Sumatera Barat
Tahun Pelajaran 2005/2006

SEKOLAH

JUMLAH JAM BERDASARKAN KURIKULUM (43 x JUMLAH KELAS )

JUMLAH GURU YANG ADA SELURUH MATA PELAJARAN

RATA-RATA GURU MENGAJAR/MINGGU, KOLOM (2) DIBAGAI KOLOM (3)

JAM WAJIB MENURUT SPM

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

SMP

SMA

SMK

222.955 jam

103.243 jam

73.186 jam

15.226 orang

9.522 orang

5.981 orang

l5 jam/minggu

11 jam/minggu

l2 jam/minggu

18 jam/mg.

18 jam/mg.

18 jam/mg.

JUMLAH

399.384 jam

30.729 orang

13 jam/minggu

18 jam/mg.