BAB II
PENDIDIKAN BARAT
A.
PENGARUH
ZAMAN VOC
Tugas utama VOC hanyalah
dalam usaha dagang, masalah pendidikan daerah luar pulau Jawa kurang mendapat
perhatian mereka. Tercatat pada tahun 1779 murid-murid VOC di pantai barat pulau
Sumatera hanya sebanyak 37 orang saja.1). Sesudah itu tidak ada
berita lagi mengenai pendidikan VOC itu di Sumatera Barat.
Tiga puluh tujuh orang
murid yang terdapat pada tahun 1779 di pantai Barat Sumatera menunjukkan
kurangnya perhatian mereka terhadap bidang pendidikan, karena jauh sebelumnya
mereka juga berkuasa di daerah ini. Selama satu abad berkuasa di daerah itu
hanya mempunyai murid sebanyak 37 orang, merupakan suatu pekerjaan yang
sebetulnya dihadapi tidak dengan sungguh-sungguh dan memang pokok perhatian VOC
pada waktu itu hanya kepada perdagangan.
Perusahaan dagang
Belanda yang bernama Verenigde Oosf lndische Compagnie
(VOC), pada tanggal 1 Januari 1800 terpaksa dibubarkan oleh Pemerintah Belanda.
Semenjak itu seluruh daerah Indonesia menjadi tanah jajahan Kerajaan Belanda
yang diurus oleh suatu badan yang bernama Aziatische Road. Seluruh
kekayaan perusahaan VOC dan seluruh hutang piutangnya jatuh ketangan Kerajaan
Belanda yang pada saat itu masih berstatus sebagai Bataafsche Republik
yang tunduk kepada Perancis 2). Pemerintahan Kerajaan Belanda
mengirim Mr. Herman Daendels ke Indonesia sebagai Gubemur Jendral yang baru pada
tahun 1808. Daendels yang terkenal cakap, berusaha mengatur pertahanan Indonesia
dengan tangan besi. Tetapi bagaimanapun dia berusaha tidak dapat menahan serbuan
Inggris yang pada saat itu merupakan suatu negara yang kuat di dunia. Pertahanan
yang telah diatur Daendels dengan sudah dapat dipatahkan oleh Inggeris, sehingga
Inggeris mulai tahun 1811 berkuasa selama lima tahun. Indonesia beralih menjadi
jajahan Inggeris, di bawah pengawasan Lord Minto, yaitu
Gubernur
Jendral Inggeris untuk jajahannya di Asia Selatan-Tenggara yang berkedudukan di
Kalkuta. Raffles sebagai Wakil
Gubernur Jendral Inggeris dengan pangkat Letnan Jenderal yang berkedudukan di
Batavia menjadi penguasa di Indonesia sampai tahun 1816.
Tetapi
karena perkembangan politik di Eropa yang masih belum stabil, maka tanggal 12
Maret 1816 Indonesia diserahkan kembali kepada Belanda oleh John Fendall yang
menggantikan Raffles.
Sama
halnya dengan daerah-daerah lain yang sudah dikuasai oleh Belanda, maka di
Sumatera Barat mulai disusun administrasi pemerintahan. Dalam melengkapi tenaga
yang cakap menjalankan roda pemerintahan, Belanda mulai mendirikan lembaga
pendidikan untuk mendidik tenaga untuk mengerjakan kepentingan Pemerintah Hindia
Belanda.
Belanda
berpendapat untuk memajukan pemerintahan, tenaga bumiputera yang diangkat
menjadi kepala pemerintahan berdasarkan keturunan dan kharismasi seperti "Regent",
tidak dapat lagi dipertahankan dan harus segera diganti dengan tenaga yang cakap
dan dididik khusus untuk itu. Oleh karena itu, Belanda merasa perlu untuk
mendirikan lembaga pendidikan di Indonesia khususnya Sumatera Barat.
Tujuan mendirikan
lembaga pendidikan oleh Belanda terutama bukan untuk kepentingan orang
Indonesia, tetapi sesungguhnya adalah untuk kepentingan mereka, yaitu untuk
mengisi jabatan rendah dalam pemerintahan dan untuk mengisi tenaga pada
perusahaan swasta Belanda. Belanda mengeluarkan peraturan bahwa yang akan
diangkat menjadi pegawai pemerintah maupun kepala daerah setempat seperti Kepala
Nagari, harus memenuhi syarat pendidikan menurut ukuran Barat, terutama untuk
menjadi Kepala pemerintahan di nagari. Untuk perusahaan yang bergerak di bidang
pertanian (onderneming), pertambangan, dan pabrik diperlukan tenaga
terdidik yang cakap tetapi murah. Dengan demikian lembaga pendidikan yang
pertama-tama didirikan untuk orang Indonesia adalah lembaga pendidikan rendah.
Hal tersebut sesuai
dengan landasan idial pendidikan pada zaman Hindia Belanda yang dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Pemerintah berusaha
untuk tidak memihak kepada salah satu agama tertentu.
Pendidikan tidak
diusahakan untuk dapat hidup selaras dengan lingkungan, tetapi supaya anak
didik di kelak kemudian hari dapat mencari penghidupan atau pekerjaan demi
untuk kepentingan pemerintah.
Sistem persekolahan
disusun menurut perbedaan lapisan sosial yang ada dalam masyarakat
Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Pada umumnya pendidikan
diarahkan untuk membentuk suatu golongan elite sosial agar dapat dipakai
sebagai alat bagi kepentingan atau keperluan supremasi politik dan ekonomi
Belanda di Indonesia.
Berdasarkan tujuan itu mereka mendirikan lembaga pendidikan, yang dapat diterima di sekolah adalah anak golongan tertentu saja, misalnya pemimpin masyarakai atau tokoh terkenal yang disenangi Belanda. Yang dapat diterima di sekolah Belanda adalah anak dari orang yang diharapkan Belanda mau bekerja sama untuk kepentingan Belanda. Keadaan itu mendorong timbulnya sekolah swasta yang didirikan orang yang kurang menyukai Belanda itu, seperti golongan Islam. Mereka membuka sekolah swasta sebagai reaksi terhadap tindakan Belanda di bidang persekolahan.
Landasan pendidikan di
Sumatera Barat semasa pemerintahan Hindia Belanda tidak berbeda dengan daerah
lain di Indonesia. Sekolah yang pertama terdapat di Sumatera Barat terletak di
kota Padang yang didirikan pada tahun 1856, yaitu "Gouvernment lnlansche
School" atau Sekolah Kelas Dua.3) Sistem tingkatan
sekolah ini berbeda dengan sistem sekolah sekarang. Pada waktu itu murid Sekolah
Kelas Dua diterima pada kelas V yaitu kelas tertinggi menurut ukuran sekarang.
Pada waktu itu kelas V itulah yang merupakan kelas yang terendah, murid yang
naik kelas akan memasuki nomor kelas yang makin rendah atau menurun, yaitu naik
ke kelas IV, III, II, dan I. Tiga tahun kemudian Belanda mendirikan pula sekolah
di Bukittinggi yang bernama Kweekschool atau lebih dikenal dengan nama "Sekolah
Raja" di Sumatera Barat pada waktu itu, karena itulah satu-satunya
sekolah yang tertinggi. Anak-anak yang diterima adalah anak dari orang
terpandang, seperti Kepala Nagari, Laras (suatu jabatan yang kira-kira sama
dengan Regent atau Camat sekarang), atau anak dari pegawai-pegawai
Belanda. Anak rakyat biasa tidak akan dapat masuk sekolah ini, walaupun tinggi
tingkat kecerdasannya.
Sekolah Raja merupakan
sekolah yang dipandang tinggi oleh rakyat Sumatera Barat. Semua murid memakai
pakaian yang rapi dengan dasi. Murid Sekolah itu dipandang tinggi kedudukannya
oleh masyarakat, apalagi kalau sudah memegang suatu jabatan pada pemerintahan.
Murid itu memperlihatkan tingkah laku yang berbeda, mereka menganggap dirinya
orang yang mulia di tengah masyarakat. Murid sekolah tersebut membentuk kelompok
sendiri dalam masyarakat. Mereka memisahkan diri dari pergaulan masyarakat yang
mereka anggap orang rendah yang tidak setaraf dengan mereka. Belanda berhasil
menanamkan suatu rasa yang merupakan bibit perpecahan dalam masyarakat, yang
kemudian memperlihatkan diri dengan nyata.
Tetapi terlepas dari itu,
adanya Sekolah Raja merupakan suatu keuntungan dan kesempatan baik bagi
masyarakat Sumatera Barat. Tidak semua murid mau memenuhi keinginan Belanda,
banyak di antara mereka dapat melihat kenyataan bahwa mereka disekolahkan
terutama untuk kepentingan Belanda. Pelajaran yang mereka peroleh membuka mata
mereka terhadap keburukan pemerintahan Belanda di Indonesia. Bacaan mereka
tentang keadaan dunia luar menyebabkan mereka mengetahui bagaimana baiknya
keadaan bangsa yang tidak terjajah.
Didirikannya Sekolah
Raja adalah untuk mendidik guru, tamatan sekolah itu akan ditugaskan menjadi
guru pada sekolah yang dibuka Belanda kemudian di Sumatera Barat, tenaga guru
Belanda kurang untuk memenuhi jumlah sekolah. Untuk menampung pembukaan sekolah
pemerintah Belanda mempersiapkan guru lebih dahulu.
Perkembangan Sekolah
Raja makin lama makin ditingkatkan mutunya oleh Belanda. Selama sebelas tahun
dari pembukaannya bahasa Belanda belum diajarkan, karena murid yang diterima
pada mulanya anak yang belum kenal bahasa Belanda. Pada tahun 1865, bahasa
Belanda mulai diajarkan, murid sekolah tersebut bertambah bangga, karena mereka
sudah pandai mempergunakan bahasa asing. Derajat mereka di tengah masyarakat
bertambah tinggi. Pada tahun 1871, bahasa Belanda sudah merupakan bahasa wajib
yang harus dipelajari oleh semua murid dan harus lulus dengan baik, tamatan
Sekolah Raja harus pandai berbahasa Belanda dengan lancar. Semenjak itu ukuran
kepandaian murid adalah kecakapan mereka dalam mempergunakan bahasa Belanda
sehari-hari. Selanjutnya empat belas tahun kemudian bahasa Belanda dijadikan
bahasa pengantar di Sekolah Raja, sekolah itu bertambah tinggi dipandang
masyarakat, mereka mempersamakan murid dengan orang Belanda. Dengan
berkembangnya kepandaian berbahasa Belanda di sekolah itu, maka penerimaan
muridpun makin ditingkatkan, saringan masuk makin diperketat.
Sewaktu bahasa Belanda
sudah merupakan bahasa Wajib di Sekolah Raja, sekolah lain yang lebih rendah
tingkatannya sudah banyak didirikan oleh Belanda seperti sekolah : Valksschool,
Vervolgschool, Sekolah Kelas Satu, dan beberapa
sekolah kejuruan Indonesia. Pada mulanya masukan Sekolah Raja dapat diterima
dari Vervolg School, tetapi semenjak awal abad ke-20 yang dapat diterima masuk
Sekolah Raja hanya murid yang berasal dari tamatan Sekolah Kelas Satu.
Dengan bertambah
tingginya mutu masukan Sekolah Raja itu, bertambah tinggi pula pandangan
masyarakat. Terhadap sekolah yang lebih rendah tingkatannya, sudah tinggi
pandangan masyarakat, apalagi terhadap Sekolah Raja.
Bagi murid Sekolah Raja
yang sudah bekerja pada pemerintah Belanda berkecukupan hidupnya hanya dari gaji
yang diterima. Belanda seolah-olah memberi angin kepada mereka dengan mengangkat
derajat mereka. Kenyataannya keadaan ini memang disengaja oleh Belanda untuk
tetap menanamkan rasa perpecahan di kalangan rakyat.
Tamatan Sekolah Raja juga dimanfaatkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengisi jabatan pada pemerintahan atau dipekerjakan di tempat lain yang ditentukan oleh Belanda. Dengan demikian tamatan Sekolah Raja makin mendapat angin, karena mereka juga mulai dapat memegang kekuasaan pemerintahan, walaupun kekuasaan itu bukan menentukan.
Tamatan Sekolah Raja
juga diangkat sebagai jaksa pada pengadilan Belanda (Landraad). Mereka
itu bukan saja ditempatkan di Sumatera Barat, tetapi juga di daerah lain di
Sumatera seperti Medan, dan Palembang.
Dari 28 orang tamatan
Sekolah Raja angkatan pertama, hanya 12 orang saja yang dipekerjakan sebagai
guru, yang selebihnya dipekerjakan pada berbagai bidang pemerintahan. Belanda
membutuhkan tenaga bukan guru jauh lebih banyak dari tenaga guru. Tamatan
Sekolah Raja juga diangkat sebagai pengawas gudang, pegawai perusahaan dagang
Belanda.
Tamatan Sekolah Raja
tidak kalah pintar dari bangsa Belanda, semua tugas yang diberikan kepada mereka
dapat diselesaikan dengan baik. Keadaan itu menimbulkan rasa harga diri mereka,
menimbulkan kesadaran dan menghapus perasaan rendah diri. Di bidang administrasi
pemerintahan hasil kerja orang Sumatera Barat lebih baik dari orang Belanda.
Akibat sampingan dari
dibukanya sekolah oleh Belanda adalah munculnya golongan terpelajar dengan hati
dan mata yang telah terbuka melihat kepincangan yang dijalankan pemerintah
Hindia Belanda selama ini di Indonesia. Mereka dapat melihat kemelaratan
masyarakat Sumatera Barat pada umumnya dan menumbuhkan cara berfikir yang kritis.
Timbul daya kritik yang tajam terhadap pemerintah Belanda di Sumatera Barat
mengenai adanya kemiskinan dan kesengsaraan hidup masyarakat Sumatera Barat yang
oleh Belanda selama ini didiamkan saja. Daya kritis itu mereka lontarkan pada
bangsa asing yang sedang berkuasa dan terhadap pelaksanaan adat Minangkabau yang
dilakukan oleh para pemimpin adat. Walaupun mereka sudah merupakan orang
terdidik, tetapi dalam struktur adat Minangkabau mereka hanya tergolong kepada
anak kemenakan yang harus patuh kepada mamaknya yang belum mendapat pendidikan
Barat.
Pengaruh lain adalah
timbulnya kegairahan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi, karena dengan ilmu
yang mereka dapat di sekolah yang masih rendah saja sudah mendatangkan manfaat
pada mereka, apalagi kalau dapat menempuh pendidikan yang lebih tinggi.
Keinginan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi bertambah besar, kalau
perlu keluar daerah Sumatera Barat seperti ke Jawa atau keluar negeri sekalipun.
Ongkos pendidikan sudah cukup dan gaji yang mereka terima, sedangkan beberapa
fasilitas lain akan diperoleh, karena mereka adalah pegawai pemerintah Hindia
Belanda.
Dari mereka yang
berfikiran maju itu lahir pejuang kemerdekaan Indonesia yang rela berkorban
untuk kepentingan kemerdekaan. Mereka inilah yang akan menjadi pelopor mendobrak
kekuasaan Belanda dari Indonesia. Pada waktu itu mereka hanya dapat berdiam diri
saja, karena jumlah mereka belum banyak dan tidak semua tamatan Sekolah Raja
yang berfikiran maju demikian. Banyak juga di antaranya yang betul-betul bekerja
dengan Belanda dan tidak mau ikut dengan perjuangan bangsanya.
Tujuan Belanda pada
mulanya mendirikan sekolah hanyalah untuk memantapkan administrasi pemerintahan
yang memerlukan tenaga terdidik. Kepada mereka juga diharapkan untuk menjadi
golongan yang akan muncul menentang adat Minangkabau dan kekuatan golongan agama
Islam dalam masyarakat Sumatera Barat yang telah merupakan suatu kekuatan yang
menghalangi maksud Belanda menanamkan kekuasaan. Mereka dipersiapkan dengan
pendidikan Barat yang bertentangan dengan hidup golongan adat dan kaum agama di
Sumatera Barat. Tetapi kenyataannya, mereka mulai dapat melihat keburukan
Belanda dan kesengsaraan hidup bangsanya.
Pada saat itu mereka
terpaksa diam saja, karena mereka belum merupakan golongan yang kuat yang dapat
meruntuhkan kekuasaan Belanda yang telah tertanam kuat di Sumatera Barat. Pada
lahirnya mereka merupakan petugas pemerintah Belanda, tetapi pada batinnya
mereka merupakan embrio kekuatan baru yang pada saatnya muncul menjadi pelopor
dalam perjuangan. Pada akhir abad ke-19 sudah terlihat munculnya embrio pelopor
kemerdekaan yang berasal dari anak asuhan Belanda.
Sumarsono
Mestoko dkk.,
Pendidikan di
Indonesia dari
Zaman ke
Zaman, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kebudayaan, Jakarta, hal. 43.
Prof.
Dr. R. Supomo, Sejarah Politik Hukum Adat, Jilid I, Percetakan Jembatan,
Jakarta, 1954, ha. 39-40.
A.
Mukhsis Dt. Bandaro Basa, Perkembangan Pendidikan di Sumatera Barat (belum
dicetak), hal. 123.