BAB III

PENDIDIKAN ABAD KE-20

 

A.  PENDIDIKAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA

 

Sampai dengan akhir tahun 1917 di Sumatera Barat Sekolah Raja merupakan sekolah tertinggi. Di samping Sekolah Raja sekolah lain juga dibuka, tetapi jumlahnya masih terbatas. Lokasinya hanya meliputi kota Padang dan Bukittinggi, sedangkan pada kota-kota lain belum dibangun sama sekali. Pemerintah Hindia Belanda dalam mendirikan sekolah memperhitungkan sesuai dengan kebutuhan yang mereka hadapi. Pemerintah Hindia Belanda membuka sekolah di Sumatera Barat dengan berangsur-angsur walaupun rakyat sangat membutuhkan pendidikan tersebut, terutama yang tinggal di desa-desa. Bagi mereka untuk pergi belajar ke Bukittinggi dan Padang tidak mungkin, karena kehidupan mereka belum memungkinkan. Biaya sekolah belum terjangkau oleh rakyat biasa, dan dengan demikian orang yang mendapat pendidikan hanya terbatas.

 

Peraturan yang dikeluarkan oleh Belanda pada tahun 1848, ialah setiap keresidenan di Indonesia harus didirikan sebuah sekolah dasar untuk. "Bumiputra". Di Sumatera Barat peraturan itu baru dijalankan pada tahun 1853 dengan mendirikan sebuah Sekolah Kelas Dua di Padang. Peraturan berikutnya pada tahun 1892 menetapkan bahwa Sekolah Dasar untuk golongan Bumiputera harus didirikan pada setiap ibukota Keresidenan, Kabupaten, Kewedanaan, dan pada pusat kegiatan kerajinan, perdagangan atau tempat yang dianggap perlu. Ketentuan ini tidak dipenuhi oleh pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat, karena baru pada tahun 1912 didirikan Volksschool yang pertama untuk daerah Sumatera Barat. Sekolah ini tingkatnya lebih rendah dari Sekolah Kelas Dua yang telah didirikan di Padang, karena tingkatan pendidikannya hanya terdiri dari tiga tahun. Di Sumatera Barat Volksschool lebih dikenal dengan nama Sekolah Desa. Sekolah yang harus didirikan pada setiap ibukota Keresidenan, Kabupaten, Kewedanaan, dan lain-lain bukanlah Sekolah Desa itu, melainkan Sekolah Kelas Satu,  yang diperuntukan bagi anak pemuka masyarakat, tokoh terkemuka, atau anak orang terpandang.

 

Vervolgschool pertama kali didirikan di Sumatera Barat baru tahun 1916, terutama pada tempat yang sudah ada beberapa Volksschool. Dengan dibukanya Sekolah Sambungan, yaitu nama Vervolgschool di Sumatera Barat, maka Sekolah Desa yang semula hanya untuk tiga tahun ajaran dijadikan dua tahun, sesudah itu mereka dapat melanjutkan ke Sekolah Sambungan. Walaupun terorinya tamatan Sekolah Desa dua tahun dapat melanjutkan ke Sekolah Sambungan, namun kenyataannya yang dapat melanjutkan hanya anak orang yang dipilih, anak desa yang dapat melanjutkan ke Sekolah itu terbatas sekali.

 

Pada tahun 1916 Sekolah Raja menerima calon murid dari tamatan Vervolgschool, karena semenjak tahun 1910 Sekolah Kelas Satu sudah didirikan, walupun jumlahnya sedikit. Hal ini makin menyempitkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bagi orang kebanyakan di Sumatera Barat, lebih-lebih sekolah yang agak tinggi tingkatannya. Belanda masih tetap membiarkan sebahagian besar orang Sumatera Barat tidak mendapat pendidikan. Politik Etis tidak dijalankan secara baik di Sumatera Barat oleh Belanda.

 

Namun demikian pada tahun 1916 dibuka Normaalschool di Padang Panjang, terutama bagi anak Sekolah Desa yang tidak dapat lagi melanjutkan ke Sekolah Raja. Tiga tahun sesudah didirikan Sekolah Normal didirikan pula Sekolah Normal Khusus untuk wanita pada tahun 1921 dengan mengambil tempat di Padang Panjang. Kemudian juga didirikan pula sebuah sekolah dengan nama Schakelschool yang pertama, lama tahun ajarannya 5 tahun dengan memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

 

Urutan pendirian sekolah di Sumatera Barat yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda adalah sebagai berikut:

 

Walaupun Belanda agak terlambat mendirikan sekolah, namun pada awal abad ke-20 sudah banyak terdapat sekolah, terutama sekolah Kelas Dua.

 

Untuk mendapatkan gambaran sekolah di Sumatera Barat dapat dilihat pada daftar berikut ini:

 

DAFTAR :

JUMLAH LOKASI SEKOLAH, JUMLAH MURID PADA SEKOLAH KELAS DUA

DAN SEKOLAH KELAS SATU DALAM KERESIDENAN SUMATERA BARAT

PADA TANGGAL 31 DESEMBER 1913

    

 

 

LOKASI

  

JUMLAH MURID

 

 

PERBANDINGAN TIAP 100 LAKI-LAKI

 

 

LAKI-LAKI

 

PEREMPUAN

 

Padang, Sekolah No. 1

196

18

  9

Padang, Sekolah No. 2

222

  7

  3

Padang, Sekolah No. 3

203

17

  8

Padang, Sekolah No. 4

211

10

  5

Padang, Sekolah No. 5

215

  9

  4

Tarusan

193

16

  8

Asam Kumbang

  67

  7

10

Painan

123

15

12

Kambang

209

  7

  3

Balai Selasa

212

17

  8

Indrapura

204

17

  8

Padang Panjang

204

-

-

Kayu Tanam

222

29

13

Pariaman

209

25

14

Bukittinggi (yg tinggal diluar)

185

22

12

Bukittinggi

174

47

27

Palembayan

176

13

  7

Matur

210

56

27

Maninjau

239

56

23

Koto Kaciek

176

  3

  2

Lubuk Basung

154

25

10

Bonjol

194

31

16

Rao

 88

  7

  8

Talu

180

28

16

Sasak

147

28

19

Aie Bangih

123

26

21

Payakumbuh

125

37

17

Pakan Rabaa

127

16

13

Suliki

195

18

  9

Koto Baru

  61

  4

  7

Bangkinang

125

  3

  2

Solok

174

28

16

Singkarak

136

  5

  4

Sirukam

136

  5

  4

Alahan Panjang

195

18

  9

Muraro Labuh

173

14

  8

Sawah Lunto

167

31

19

Tanjung Ampalu

197

18

  9

Sijunjung

230

29

13

Batusangkar

270

35

13

Simabur

145

  4

  3

Buo

194

14

  7

Balai Tangah

165

21

13

 

JUMLAH

 

 

8144

 

926

 

11 = 5

SEKOLAH KELAS SATU

 

 

 

Padang

189

19

10

Bukittinggi

159

31

19

Payakumbuh

140

29

14

Solok

167

19

11

 

TOTAL

 

  

8801

 

1015

 

11,5 = 12

 

Berdasarkan kutipan di atas dapat dilihat bahwa pada abad ke20, tepatnya menurut keadaan tanggal 31 Desember 1913, Sekolah Kelas Dua, Kelas Satu sudah banyak terdapat di Sumatera Barat, terutama Sekolah Kelas Dua. Tetapi kalau melihat jumlah murid sebanyak 9816 orang belum mencerminkan kemajuan. Sesudah 60 tahun sekolah pertama didirikan masih belum sampai setengah prosen  (0,49 %)  penduduk  Sumatera  Barat  yang  mendapat pendidikan rendah. Jika jumlah murid kelas rendah itu ditambah dengan jumlah murid kelas yang lebih tinggi, akan mencapai angka

setengah prosen saja.

 

Untuk dapat mendirikan Sekolah Desa, yang derajatnya lebih rendah dari Sekolah Kelas Dua, nagari yang berkeinginan, harus menyediakan persyaratan yang berat, seperti mempersiapkan tanah,  gedung,  perabot,  dan  alat  sekolah  serta  gaji  guru. Persyaratan ini sangat berat bagi nagari pada waktu itu, jangankan membangun sebuah sekolah untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berada di sekitar tempat tinggal mereka sudah terasa berat. Nagari yang sanggup mendirikan sekolah pada waktu itu sekarang menjadi ibu kota Kecamatan/Kabupaten. Dari dahulu tempat itu merupakan tempat yang sudah maju dan pusat keramaian atau pusat kegiatan dari beberapa nagari. Bagi nagari yang mendirikan sebuah sekolah tidak merupakan beban yang berat, karena dapat dipikul secara bersama-sama.

 

Di samping sekolah tersebut didirikan juga sekolah khusus untuk orang Cina dengan nama Hollands Chinese School (HCS) dan Ambonsche School untuk orang Ambon yang tinggal di Sumatera Barat pada waktu itu, kedua sekolah tersebut terdapat di Padang. Orang Ambon yang tinggal di Padang karena menjadi serdadu Belanda, sedangkan orang-orang Cina adalah orang yang telah menetap di daerah ini. Pada waktu itu mereka mendapat perlakuan yang agak baik dibandingkan dengan orang Sumatera Barat karena mereka banyak menolong orang Belanda dan juga sifat orang Cina di Sumatera Barat selalu memihak yang sedang berkuasa. Orang Cina  diizinkan  oleh  pemerintah  Hindia  Belanda membuat Pendidikan sendiri sesuai dengan kebiasaan leluhur mereka, hanya mereka diharuskan memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar di sekolah itu.

 

Sifat dan ciri pendidikan zaman Hindia Belanda bersifat intelektualistis dan verbalisme. Sifat intelektualisme sesuai dengan sistem pendidikan yang dikenal Belanda pada waktu itu, sedangkan sifat yang verbalisme untuk memudahkan pelaksaan pemerintahan terhadap bangsa Indonesia, meniru tanpa memikirkan baik buruk-nya. Walaupun Belanda tidak sungguh-sungguh untuk mendidik bangsa Indonesia, tetapi dengan hasil pendidikan itupun pada akhirnya Belanda dapat dikalahkan.

 

Hollandsch Inlandsche Shoot (HIS) didirikan di Padang dan Bukittinggi, orang Belanda dan Indonesia yang berasal dari orang bangsawan, pegawai Belanda atau orang yang terpandang dalam masyarakat Sumatera Barat, seperti keluarga Tuanku Laras, Demang dan Jaksa.

 

Pendidikan rendah yang diselenggarakan Belanda di Sumatera Barat, pada umumnya dapat dibagi sebagai berikut:

 

1) Yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar :

  1. Sekolah Rendah Eropa (ELS) yang diperuntukkan bagi orang Belanda, keturunan Belanda, orang Timur Asing, dan orang-orang terkemuka.

  2. Sekolah Cina-Belanda (HCS) khusus untuk orang keturunan Cina dan boleh juga keturunan Timur Asing.

  3. Sekolah Bumiputera-Belanda (HIS) untuk keturunan Indonesia asli yang dipilih menurut asal keturunannya.

Sekolah tersebut di atas termasuk Sekolah Kelas Satu dan lama belajarnya 7 tahun.

 

2) Yang memakai bahasa daerah (Melayu) sebagai bahasa pengantar:

  1. Sekolah Bumiputera (Inlandsche School) yaitu Sekolah Kelas Dua yang lama pendidikannya 5 tahun.

  2. Sekolah Desa (Volks School) lama pendidikannya 3 tahun.

  3. Sekolah Sambungan (Vervolgschool) yaitu lanjutan dari Sekolah Desa lama pendidikannya 2 tahun.

Semua jenis sekolah itu diperuntukkan bagi orang Indonesia atau Bumiputera.

 

3) Sekolah Peralihan (Schakelschool) yaitu peralihan dari Sekolah Desa 3 tahun ke HIS 7 tahun.2)

 

Pada waktu itu oleh Belanda menggolongkan masyarakat dilakukan atas dasar keturunan dan status yang dibagi sebagai berikut:

 

1. Pembahagian penduduk menurut hukum tahun 1848 :

  1. Golongan Eropa

  2. Golongan yang dipersamakan dengan Eropa

  3. Golongan Bumiputera

  4. Golongan yang dipersamakan dengan Bumiputera

Pada tahun 1920 disederhanakan sebagai berikut :

  1. Golongan Eropa

  2. Golongan Bumiputera

  3. Golongan Timur Asing

 2. Pembagian penduduk menurut keturunan dan status :

  1. Golongan Bangsawan (Aristokrat) dan Pemimpin Adat

  2. Golongan Pemimpin Agama

  3. Golongan Rakyat Biasa

 Ketiga golongan ini terdiri dari orang Indonesia asli. 3)

 

Berdasarkan penggolongan inilah pendidikan diatur oleh Belanda, masing-masing golongan sudah tertentu sekolah yang boleh dimasukinya. Golongan Bumiputra tidak boleh masuk ELS dan HCS, tetapi sebaliknya Golongan Eropa boleh saja masuk ke mana mereka suka, hanya saja biasanya mereka merasa hina bergaul dengan golongan Bumiputra. Mereka sengaja memelihara jarak dengan golongan Bumiputra dengan memasuki sekolah yang khusus buat mereka.

 

Kemudian, di Payakumbuh didirikan sekolah Meer Uitgebreid Lager OnderwiJs (MULLO) yang lama pendidikannya 3 tahun atau ada juga yang 4 tahun. Sekolah ini Sekolah Dasar yang diperluas atau juga setingkat dengan SMP sekarang. Selanjutnya juga dibuka Sekolah Menengah Umum yang Algemeene Middelbore School (AMS) yang lama pendidikannya 3 tahun pula. Sekolah ini boleh dimasuki oleh Golongan Bumiputra atau Golongan Timur Asing.

 

Di Sumatera Barat sekolah yang paling tinggi pada waktu itu adalah AMS. Di samping sekolah umum juga dibuka sekolah Kejuruan, seperti Sekolah Pertukangan dan Sekolah Pertanian di Bukittinggi, Sekolah Teknik di Padang dan Bukittiriggi, sekolah Kejuruan Wanita di Padang, Bukittinggi, dan Payakumbuh.

 


  1.  Ny. Maria Ulfah Santoso SH dan Dr. Ny. T.O Ihromi SH, Ed, Peranan dan kedudukan Wanita Indonesia, Gajah Mada University Perss, 1978, hal. 222-223. 

  2. Sumarsono Mestoko dkk., Pendidikan di Indonesia DM Zaman ke zaman, Dep. P dan K BP3K, Jakarta, hal. 66.

  3. lbid.. hal. 65-66

  

berikut Bab III-B .....

A. PENDIDIKAN PEMERINTAH HINDIA BELANDA.

B. PENDIDIKAN PERGERAKAN NASIONAL.