BAB III

PENDIDIKAN ABAD KE-20

 

B. PENDIDIKAN PERGERAKAN NASIONAL 

 

1.  Motivasi

  

a. Motivasi Nasional

 

Pendirian sekolah menimbulkan golongan baru di dalam masyarakat Sumatera Barat, yaitu "Golongan Intelektual Barat", yang merupakan orang cerdik pandai. Kebanyakan mereka bekerja pada pemerintahan Belanda dan mendapat beberapa fasilitas. Pada dasarnya mereka tidak memperoleh perlakuan yang wajar dari pemerintah Hindia Belanda. Mereka adalah aparat bagi Belanda dalam memantapkan pemerintahan dan memperkuat kedudukannya. Di antara golongan Intelektual Barat itu ada yang sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan Belanda dan hidup menurut cara orang Belanda.

 

Sementara itu ada golongan yang tidak bersedia bekerja sama dengan Belanda dan menentang kekuasaan Belanda dan orang Barat. Tetapi sebaliknya mereka mengangungkan adat kebiasaan dan kebudayaan Timur. Dari golongan inilah muncul tokoh pergerakan nasional Indonesia, yang memperjuangkan kemerdekaan. Mereka tidak puas melihat sistem pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Belanda, walaupun telah diselenggarakan pendidikan untuk rakyat. Mereka mengharapkan pendidikan yang lebih sesuai dengan keadaan dan kebutuhan rakyat. Pendidikan Barat belum tentu sesuai bagi rakyat Indonesia. Apa yang datang dari Barat itu tidak selamanya selaras dengan kehidupan rakyat Sumatera Barat. Sebaiknya pendidikan yang diberikan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

 

Pendidikan yang mereka dambakan itu lebih terasa lagi kebutuhannya setelah melihat usaha yang dilakukan beberapa pemimpin di Jawa yang mendirikan sekolah swasta sebagai reaksi terhadap ketidak cocokan unsur pendidikan Barat yang dilaksanakan di Indonesia. Keinginan itu tidak mungkin tercapai kalau sekiranya bangsa Belanda masih berkuasa karena itu, cara memperoleh pendidikan yang baik harus menyingkirkan bangsa Belanda dari Indonesia. Karena pada waktu itu kekuasaan Belanda masih kuat. ma

ka usaha pertama mereka adalah menyusun kekuatan dari orang yang sehaluan dengan tujuan terakhir kemerdekaan Indonesia. Sementara itu mereka berusaha agar rakyat Sumatera Barat mendapat pendidikan dengan sebanyak-banyaknya.

 

Keinginan yang demikian melahirkan pendidikan Nasional yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan bangsa Indonesia. Golongan ini memperjuangkan nasib untuk mendapat kehidupan yang layak seperti bangsa lain.

 

b. Motivasi Keagamaan

 

Semenjak  Tuanku  Imam  Bonjol ditangkap dan dibuang ke luar Sumatera Barat oleh pemerintah Belanda, maka rakyat kehilangan seorang pemimpin yang mereka hormati dan cintai, lebih-lebih sebagai pemimpin agama. Namun demikian menjelang akhir abad ke-19 orang Sumatera Barat telah diizinkan menunaikan ibadah haji ke Mekah.

 

Pada wktu itu di Mekah ada seorang Sumatera Barat yang telah lama bermukim di sana dan menjadi salah seorang guru besar di bidang agama Islam, yang bernama Syekh Akhmad Khatib. Beliau selalu memberi petunjuk kepada orang Sumatera Barat yang menunaikan Rukun Islam Kelima itu ke Mekah tentang peraturan agama Islam dan pendidikan Islam. Banyak pemuda Sumatera Barat yang naik Haji pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang menjadi murid Syekh Akhmad Khatib di Mekah. Di samping menunaikan rukun Haji mereka juga bermukim di sana selama beberapa tahun sambil menuntut ilmu pengetahuan tentang Islam secara lebih mendalam. Setelah mereka pulang ke Sumatera Barat, mereka melihat pendidikan Islam berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Syekh Akhmad Khatib. Pendidikan Islam dengan sistem halaqah tidak akan mendatangkan kemajuan kepada umat Islam Sumatera Barat. Oleh karena itu, timbul niat mereka untuk mengadakan perbaikan dan pembaharuan di bidang pendidikan Islam Sumatera Barat.

 

Di antara mereka yang pulang dari Mekah yang menonjol antara lain adalah Syekh Haji Abdullah Ahmad, Syekh H. Abdul Karim Amarullah, Syekh Muhammad Jamil Jambek, Syekh lbrahim Musa Parabek, dan Syekh Daud Rasyidi. Mereka merupakan pembaharuan dalam Pendidikan Islam di Sumatera Barat. Walaupun cara mereka ada yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu mengenai pembaharuan pendidikan dari sistem halaqah atau sistem surau ke sistem sekolah dengan tetap berdasarkan pada agama Islam sebagai pokok pendidikan. Dari pembaharuan yang dimulai pada awal abad ke-20 itu lahir pendidikan Islam yang bercorak nasional, seperti Sumatera Thawalib, Sekolah Diniah, Sekolah Adabiah, dan sekolah yang dibina oleh organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Perti dan Permi.

 

Dalam pada itu orang Sumatera Barat yang sebahagian besar menganut agama Islam masih menjalankan praktek yang sebetulnya dilarang oleh agama Islam. Apabila keadaan yang demikian tetap dibiarkan, maka umat Islam Sumatera Barat tetap tertinggal dari perkembangan zaman. Bagi para pembaharuan perkembangan Agama Islam dengan pergerakan kemerdekaan, merupakan perpaduan yang menimbulkan semangat melaksanakan pembaharuan di bidang pendidikan Islam. Mereka melihat hasil pendidikan Barat yang diberikan pemerintah Hindia Belanda tidak begitu mendatangkan manfaat, hasil pendidikan itu telah menghilangkan moral ke-Timuran. Keadaan itu jika dibiarkan berlangsung terus akan membahayakan kehidupan orang Sumatera Barat yang pada umumnya menganut agama Islam. Oleh karena itu, mereka berusaha mengimbangi dengan mengadakan pembaharuan pendidikan Islam bagi anak Sumatera Barat. Pendidikan Islam tersedia untuk semua anak, baik mereka yang tergolong berpangkat, pegawai Belanda, maupun berasal dari orang kebanyakan. Supaya dapat dengan segera memberikan pendidikan menurut cara Barat, mereka memberikan kemudahan dalam memasuki sekolah Islam tersebut seperti yang dilakukan oleh Muhammadiah. Dengan demikian sekolah yang bercorak Islam dengan cepat dapat berkembang ke seluruh daerah Sumatera Barat sampai ke daerah yang terpencil sekalipun. ltulah sebabnya perkumpulan politik Islam yang mengasuh  sekolah  mendapat  sambutan  dari  rakyat Sumatera Barat.

 

Usaha dari tokoh pembaharu pendidikan Islam itu mendapat dukungan dan sambutan dari masyarakat Sumatera Barat, karena sudah lama mereka nantikan.

 

Pada mulanya pemerintah Belanda tidak menaruh kecurigaan kepada usaha ini, karena kelihatannya hanya bergerak di bidang pendidikan. Kemudian setelah mereka mengikuti kegiatan politiknya, barulah langkah mereka itu dihalang-halangi oleh pemerintah Belanda.

 

Pendidikan Pergerakan nasional di Sumatera Barat dimulai dengan lembaga pendidikan Islam yang dipelopori oleh Syekh-Syekh Islam, yaitu ulama Islam yang telah membawa faham baru dari Mekah dan Mesir. Sedangkan lembaga pendidikan pergerakan nasional yang bukan bercorak Islam kemudian munculnya di Sumatera Barat.

 

2. Kelembagaan

  

a.  Sekolah Adabiah

 

Pendidikan Islam sebelum tahun 1909 dilaksanakan dengan sistem surau tanpa diadakan pembahagian kelas yang terpisah serta belum mempergunakan meja, kursi, papan tulis, kapur, dan lain-lain seperti yang dipergunakan dalam semester sekolah. Murid duduk bersila di sekitar atau di hadapan guru, semua murid terdiri dari laki-laki saja dan belum ada murid perempuan.

 

Mulai tahun 1909 keadaan tersebut mengalami perubahan dengan didirikannya Sekolah Adabiah (Adabiah School) di Padang oleh Syekh Abdullah Ahmad. Sekolah Adabiah merupakan pelopor perubahan dan pembaharuan yang pertama kali dilakukan di Sumatera Barat dalam bidang pendidikan Islam dan pendidikan pada umumnya, dari sistem surau ke pendidikan yang mempergunakan sistem sekolah seperti dilakukan oleh pendidikan Belanda. Dalam pendidikan Islam sistem sekolah ini dikenal dengan nama sistem madrasah.

 

Sekolah Adabiah betul-betul telah mengganti sistem pendidikan Islam yang bukan lagi diartikan berusaha mengetahui segala ajaran agama Islam dengan sedalam-dalamnya tanpa memperhatikan tingkat kecerdasan, umur, dan lingkungan muridnya. Pendidikan itu sudah diartikan sebagai pendidikan umum terhadap murid untuk melatih cara berpikir logis dan kritis guna menghadapi keadaan sekitarnya atau lingkungan penghidupannya.

 

Untuk mencapai tujuan itu Sekolah Adabiah juga memberikan  pengetahuan  umum  seperti  menulis, membaca, berhitung, ilmu bumi, dan bahasa, di samping pengetahun tentang agama Islam. Tujuan pelajaran bukan lagi untuk memompakan pengetahuan Islam sebanyak-banyaknya, melainkan diarahkan untuk melatih kecerdasan murid. Murid yang diterima juga dipilih dari anak umur sekolah dasar antara 7 - 8 tahun, dan orang dewasa tidak lagi diterima seperti pada pendidikan surau.

 

Materi pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan murid, dimulai dengan pelajaran yang mudah terus dilanjutkan secara berangsur sampai selesai tingkat pengetahuan dasar. Cara penyajian juga sudah disusun sedemikian sehingga mudah dipahami oleh anak-anak.

 

Murid dikelompokkan menurut kelas masing-masing dengan usia anak yang hampir sama. Pada Sekolah Adabiah sudah terdapat pembahagian kelas, seperti kelas I, II, III, dan seterusnya. Murid yang baru diterima ditempatkan pada kelas satu dan tahun berikutnya apabila sudah dapat memahami pelajaran dinaikkan ke kelas dua dan begitu seterusnya sampai kelas terakhir.

 

Pengaturan duduk murid dalam kelas juga berbeda dengan cara duduk sistem surau di mana murid menduduki bangku (kursi dan meja) yang sudah diatur menghadap kesatu arah. Di hadapan murid terdapat meja dan kursi guru serta papan tulis sebagai alat bantu pengajaran. Murid dalam satu kelas langsung dapat mendengarkan pelajaran yang diberikan guru, sedangkan murid disuruh menyimak. Tidak lagi seperti sistem surau di mana murid diberi pelajaran satu persatu, kelas tidak lagi ribut, karena murid-murid tidak diperkenankan berbicara selama pelajaran berlangsung.

 

Pelajaran juga telah diatur dalam suatu jadwal tertentu dan teratur. Satu hari hanya belajar kira-kira 5 jam yang diselingi oleh beberapa kali waktu istirahat. Di dalam waktu yang 5 jam itu dibagi lagi dalam tiga bahagian dan masing-masing bahagian diselingi oleh waktu istirahat secukupnya. Ke dalam bahagian itu dimasukkan 3 atau 4 mata pelajaran yang akan diberikan untuk satu hari. Jadwal pelajaran disusun perminggu, artinya dalam satu minggu semua jenis materi  pelajaran  harus  diberikan  dan  minggu  depan kembali lagi seperti minggu sebelumnya dengan materi pelajaran lanjutan minggu sebelumnya.  Materi pelajaran tidak boleh menyimpang dari bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

 

Untuk menentukan seorang murid naik atau tinggal  kelas diadakan ujian atau ulangan terhadap materi pelajaran yang telah diberikan. Prestasi seorang murid dinyatakan dalam bentuk angka 0 sampai 10. Nilai 10 menyatakan prestasi murid terbaik, sebaliknya nilai 0 menyatakan prestasi yang paling buruk yang dicapai oleh seorang murid.

 

Dalam  menentukan  kemampuan seorang murid berbeda dengan sistem surau, pada madrasah kemampuan murid diukur hanya penguasaan bahan pelajaran selama satu tahun saja sedangkan pada tahun terakhir dari pendidikannya diadakan ujian umum. Pengukuran kemampuan murid dilakukan secara bertahap tidak sekaligus seperti pada sistem surau. Penyelengaraan Sekolah Adabiah betul-betul  sudah  merupakan  perkembangan  baru  dalam pendidikan di Sumatera Barat, khususnya dalam pendidikan Islam.

 

Jika diperhatikan situasi dan kondisi politik pemerintah Belanda di Indonesia pada waktu itu, khususnya dalam politik persekolahan, maka pendirian Sekolah Adabiah tidak bertentangan dengan politik pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Mulai pertengahan abad ke-19 sampai abad ke-20 pemerintah Hindia Belanda banyak melakukan perubahan atau perbaikan terhadap politik sebelumnya dalam bidang pemerintahan dan pendidikan. Khusus di bidang pendidikan banyak lembaga pendidikan didirikan seperti Sekolah Desa, Sekolah Kelas Dua, Sekolah Kelas Satu,  Volkschool,  Vervoigschool,  HIS, MULO, AMS, HBS, Stovia, THS, RHS, dan lain-lain 4). Di Sumatera Barat hanya didirikan sekolah sampai tingkat AMS dan HBS saja, yaitu sampai tingkat sekolah menengah atas, yang paling banyak adalah Sekolah Kelas Dua.

 

Walaupun jumlah sekolah makin bertambah, bagi rakyat Sumatera Barat hampir tidak mempunyai arti untuk masuk sekolah itu sulit bagi rakyat biasa. Sekolah itu bertujuan untuk mendapatkan tenaga terlatih yang murah untuk mengerjakan kepentingan Belanda. Murid yang dapat diterima pada sekolah tersebut terbatas jumlahnya.

 

Situasi dan kondisi pendidikan seperti itu merupakan faktor pendorong bagi Haji Abdullah Ahmad untuk mendirikan Sekolah Adabiah di Padang. Calon murid tidak dibatasi kepada anak orang berpangkat atau terpandang saja, tetapi juga bagi anak rakyat biasa. Semua anak yang sudah patut bersekolah dapat ditampung pada waktunya tanpa mendapat rintangan. Makin banyak anak mendapatkan pendidikan yang tepat, makin mudah memperbaiki penghidupan masyarakat di kemudian hari.

 

b.  Madras School

 

Sesudah Syekh H. Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiah di Padang pada tanggal 4 Nopember 1910, Syekh M. Thaib Umar mendirikan pula sebuah sekolah yang bernama Madras School di Sungayang, Batusangkar. Sekolah itu hanya satu kelas saja, tetapi sesudah 3 tahun kemudian terpaksa ditutup kembali karena kekurangan tempat.

 

Berbeda dengan Sekolah Adabiah, Madras School hanya membuka satu kelas saja yaitu kelas yang telah tinggi tingkatannya untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab yang besar/tebal saja seperti tingkat tinggi pada Pengajian Kitab pada masa peralihan sebelumnya,  tetapi dengan memakai sistem madrasah.

 

Murid yang satu kelas pada Madras School diajak berdiskusi tentang mata pelajaran yang diajarkan. Kitab-kitab besar yang dimaksud adalah buku-buku yang tebal yang belum dipelajari pada tingkatan sebelumnya. Selama satu tahun itu mereka disuruh berdebat tentang isi buku tersebut sampai mereka mengerti dan memahaminya dengan baik. Kepada mereka tidak dipompakan lagi pengetahuan tentang Islam, tetapi mereka sendiri yang mencarinya dengan berdiskusi di bawah bimbingan guru. Tamatan Madras School menjadi ulama yang luas pandangannya tentang Islam dan kehidupan manusia.

 

Calon murid Madras School diterima dari tamatan pendidikan surau atau dari ulama yang ingin memperdalam ilmunya. Semua murid sudah merupakan orang yang berpengalaman di lapangan, baik sebagai guru maupun sebagai mubalig. Mereka masuk Madras School hanya untuk memperkuat ilmu yang telah mereka miliki. Walaupun hanya satu tahun lama pendidikannya, tetapi hasilnya mereka peroleh sangat banyak.

 

c.  Madrasah Diniah

 

Pada tahun 1915 Zainuddin Labai AI-Yunusi mendirikan Madrasah Diniah di Padang Panjang dengan nama pada waktu itu "Diniah School" 5)

 

Menurut HMD Datuk Palimo Kayo alasan pendirian Madrasah Diniah adalah sebagai berikut:

 

"Dengan hasil pemikiran yang mendalam, pada tanggal 15 Oktober 1915, tuan Zainuddin Labai EI-Yunusi meresmikan pendirian sebuah sekolah Islam yang bani dengan metode yang baru bersama Diniah School atau Madrasatuddiniyah. Selain dari mengajarkan pelajaran agama sebagaimana biasa, juga mengajarkan pelajaran yang biasa disebut vak umum, seperti menulis, membaca, berhitung, Ilmu Falak, Ilmu Bumi, Ilmu Alam, Ilmu Kesehatan, Ilmu Tumbuh-tumbuhan dan Ilmu Pendidikan. Sesungguhnya hebat dan mengagumkan. Itulah perguruan Islam yang termodern dewasa itu, dengan bangku, meja, dan kelas-kelas yang teratur, walaupun dengan cara yang sederhana.6)

 

Berdasarkan keterangan HMD Datuk Palimo Kayo itu,  dapat dikatakan bahwa Sekolah Diniah merupakan sekolah Islam kedua di Sumatera Barat yang memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya seperti yang dilakukan pada sekolah Belanda. Namun antara Sekolah Adabiah dengan Sekolah Diniah terdapat perbedaan. Sekolah Adabiah merupakan pelopor pembaharuan pendidikan Islam dengan sistem sekolah, sedangkan Sekolah Diniah melakukan pembaharuan pendidikan agama dengan menambahkan mata pelajaran umum kepada mata pelajaran agama yang telah ada.  Dengan demikian mata pelajaran pada Sekolah Diniah lebih banyak dari Sekolah Adabiah dan dari sekolah agama lain maupun dari sekolah pemerintah Hindia Belanda.

 

Pada umumnya Sekolah Diniah terdiri dari 7 kelas, yaitu kelas satu sampai dengan kelas tujuh. Tetapi di desa-desa yang tidak mempunyai guru yang cukup, maka kelas Sekolah Diniah hanya sampai kelas empat atau kelas lima saja, sedangkan untuk melanjutkan mereka harus pergi ke Sekolah Diniah yang mempunyai kelas yang cukup sampai kelas tujuh.

 

Sekolah ini mendapat perhatian yang besar dari masyarakat Sumatera Barat, sehingga dalam waktu yang singkat sekolah Diniah sudah tersebar ke seluruh daerah Sumatera Barat yang merupakan cabang dari Sekolah Diniah Padang Panjang atau berdiri sendiri dengan memakai sistem Sekolah Diniah. Hingga tahun 1922, yaitu 7 tahun sesudah didirikan, maka didirikanlah perkumpulan murid Sekolah Diniah seluruh daerah Sumatera Barat dengan nama Persatuan Murid-murid Diniah  School disingkat dengan PMDS dan berpusat di Padang Panjang.

 

Pada tahun 1923 Rangkayo Rahmah AI-Yunusiah, saudara perempuan Zainuddin Labai AI-Yunusi, mendirikan Madrasah Diniah Putri yang bertempat di Padang Panjang juga. Tetapi dua belas tahun sesudah Sekolah Diniah Putri didirikan, yaitu pada tahun 1935 Sekolah Diniah putra Padang Panjang yang sebelumnya sangat pesat perkembangannya terpaksa ditutup karena masalah politik.  Namun Sekolah Diniah Putri tetap berdiri dan berkembang sampai sekarang, bahkan menjadi sebuah sekolah yang disukai oleh orang tua di Sumatera Barat untuk memasukkan anak putri mereka ke sana.

 

d.   Arabiah School

  

Pada tahun 1918 Syekh Abbas Ladang Lawas Bukittinggi mendirikan pula sebuah madrasah dengan nama "Arabiah School" di Ladang Lawas, Bukittinggi. Ruang pendidikannya sudah mempunyai kelas yang terdiri dari tiga lokal berdinding bambu atap rumbia, tetapi sudah mempunyai bangku, meja, papan tulis, dan kapur.7)

 

Arabiah School adalah gagasan dari Syekh Abbas Ladang Lawas yang kemudian menjadi pendorong berdirinya Persatuan Tarbiah Islamiah (PERTI) yang mengusahakan beberapa sekolah.

 

Kurikulum atau mata pelajaran yang diberikan pada setiap sekolah Islam, walaupun namanya sama, tetapi pelajarannya berbeda. Materi pelajaran agama Islam Sekolah Arabiah tidak sama dengan materi pelajaran Sekolah Diniah walaupun tingkat dan kelasnya sama, apalagi dengan Madras School. Antara sekolah Diniah sendiripun tidak ada yang sama materi pelajarannya, misalnya mata pelajaran Sekolah Diniah di Padang Panjang tidak sama mata pelajarannya dengan Sekolah Diniah yang di Bukittinggi.  Penetapan mata pelajaran atau kurikulum yang akan dipakai pada masing-masing sekolah itu sangat tergantung pada sesepuh yang mendirikan sekolah itu. Keadaan itu sangat jauh berbeda dengan sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda yang sama mata pelajaran yang diberikan untuk tingkat yang sama di manapun sekolah itu terdapat.

 

Di samping itu Sekolah Arabiah sudah memberikan mata pelajaran umum dalam porsi yang lebih banyak, walaupun pendidikan agama Islam merupakan mata pelajaran utama, tetapi Madras School dan Sekolah Diniah seluruh mata pelajarannya masih berpangkal dari agama Islam yang ditambahkan denganmata pelajaran umum.

 

e.  Sekolah Thawalib

 

Sistem pendidikan surau masih tetap dilanjutkan, walaupun telah terjadi pembaharuan dalam pendidikan Islam. Namun demikian ada juga beberapa buah surau yang tidak mau ketinggalan dengan perkembangan madrasah. Surau pertama yang telah memakai sistem kelas dengan mempergunakan meja, kursi,  papan tulis dan alat bantu pelajaran adalah surau Jembatan Besi di Padang Panjang.

 

Surau Jembatan Besi didirikan pada tahun 1914 oleh Syekh H. Abdullah Ahmad, Syekh Abdul Karim Amarullah atau yang lebih  terkenal  dengan  nama  Haji  Rasul  ikut  menjadi guru. Setelah Syekh Abdullah Ahmad pindah ke Padang, Haji Rasul mengantikan sebagai pimpinan Surau Jembatan Besi yang membawa banyak perubahan atau pembaharuan. Pada tahun 1915 pada Surau Jembatan Besi didirikan Koperasi Pelajar atau inisiatif Haji Habib, dan setahun kemudian koperasi itu diperluas lagi oleh Haji Hasyim.

 

Dengan  didirikannya  sebuah  koperasi  pada  Surau Jembatan Besi kelihatanlah bahwa surau tersebut mempunyai sifat terbuka dan mau menerima sesuatu yang baru, karena pengaturan koperasi sudah dipengaruhi oleh pengetahuan Barat. Tetapi karena koperasi dianggap berguna dan menguntungkan, maka gagasan pendirian koperasi itu dapat diterima. Pada waktu itu koperasi merupakan sesuatu yang baru pada lembaga yang dikelola oleh Islam.

 

Pada tahun 1913 Zainuddin Labai AL-Yunusi kembali ke Padang Panjang setelah menuntut ilmu dengan Syekh Abbas Padang Japang, Payakumbuh. Zainuddin Labai AL-Yunusi juga ikut menyumbangkan tenaganya sebagai guru pada surau tersebut dan tahun  1915  dia mendirikan Sekolah Diniah. Terpengaruh oleh sistem pendidikan yang dipergunakannya pada sekolah Diniah, maka dengan persetujuan Haji Rasul, Zainuddin labai AL-Yunusi mengajak pelajar-pelajar Surau Jembatan Besi membentuk suatu perkumpulan yang dinamakan "Makaraful Ichwan", untuk memperdalam  pengetahuan tentang Islam dan berusaha menyelesaikan masalah Agama secara ilmiah dan persahabatan antara sesama penganut agama Islam.8)

 

Pada tahun 1918 Zainuddin Labai AL-Yunusi, Jalaluddin Thaib dan Injiak Mandua Basa merubah nama Koperasi Pelajar Jembatan Besi dengan nama "Sumatera Thawalib" dengan memperluas ruang lingkup kegiatannya. Perubahan nama ini sekaligus merubah nama Surau Jembatan Besi menjadi nama Sumatera Thawalib. Perubahan nama tersebut diilhami oleh organisasi pemuda "Jong Sumatranen Bond" yang waktu itu sudah membuka cabangnya di Bukittinggi dan Padang, sedangkan Sumatera Thawalib juga berarti Organisasi Pelajar Sumatera.

 

Setelah Surau Jembatan Besi mengalami banyak perubahan dan pembaharuan,  maka pada tahun 1918 Haji Rasul memperkenalkan sistem kelas pada Sumatera Thawalib dan semenjak itu sistem pendidikan surau yang selama ini dianut oleh Surau Jembatan Besi sudah berubah menjadi Sumatera Thawalib yang mempergunakan sistem sekolah. Sesudah sistem pendidikannya berubah, maka Haji Rasul menyusun kembali kurikulum, metode mengajar, dan buku yang akan dipergunakan pada Sumatera Thawalib dengan memasukkan mata pelajaran umum.

 

Sementara itu Surau Parabek yang didirikan oleh Syekh lbrahim Musa yang bergerak ke arah pembaharuan dalam bidang pendidikannya yang di ikuti pula oleh beberapa surau lainnya.

 

Pada tanggal 15 Januari 1919, dengan mengambil tempat di surau Syekh Muhammad Jamil Jambek Tengah Sawah di Bukittinggi  diadakan  pertemuan  antara  pelajar  Sumatera Thawalib dengan pelajar Parabek. Hasil pertemuan ini adalah dibentuknya sebuah persatuan antara kedua pelajar lembaga pendidikan itu, yang dinamai "Sumatera Thawalib", dengan tujuan memperdalam ilmu dan mengembangkan agama Islam.

 

Pada  tahun  1921  Syekh  lbrahim  Musa  Prabek memperkenalkan sistem madrasah pada Surau Parabek seperti yang dilaksanakan pada Sumatera Thawalib dan semenjak itu surau Parabek sudah berubah namanya menjadi Sumatera Thawalib Parabek. Selanjutnya surau di Padang Japang, Maninjau, dan Batusangkar juga merubah nama dengan Sumatera Thawalib seperti yang dilakukan oleh Surau Jembatan Besi dan Surau Parabek.

 

Sementara itu pengaruh Pergerakan Nasional Indonesia sudah terasa di Sumatera Barat. Pengaruh itu bukan saja di kalangan politisi, tetapi juga memasuki lembaga pendidikan yang sudah melaksanakan pembaharuan. Pengaruh ini membawa perubahan dalam memperbaiki kehidupan lembaga pendidikan di Sumatera Barat.

 

Pengaruh Pergerakan juga masuk ke tubuh Sumatera Thawalib terutama dengan tersebarnya sekolah Sumatera Thawalib di daerah Sumatera Barat yang mendorong pelajar untuk membentuk suatu organisasi yang dapat mempersatukan seluruh pelajar. Pada tanggal 22 Januari 1922, atas undangan pelajar Sumatera Thawalib Padangpanjang diadakan pertemuan antara wakil seluruh sekolah Sumatera Thawalib. Pertemuan itu memutuskan membentuk satu kesatuan organisasi pelajar Sumatera Thawalib di bawah satu Dewan Pusat dengan cabangnya di daerah-daerah. Kesatuan pelajar itupun dinamakan Pesatuan Pelajar Sumatera Thawalib dan pusat kegiatannya terdapat di Padang Panjang.

 

Dengan adanya organisasi pelajar Sumatera Thawalib, maka mulai tahun 1923 terlihat perkembangan baru. Sumatera Thawalib yang selama ini hanya bergerak di bidang pendidikan mulai ikut politik yang menyebabkan pengurusan ini ditutup Belanda.

 

Semenjak lahirnya Sumatera Thawalib dari sistem pendidikan surau, terlihat beberapa pembaharuan yang telah dilaksanakan seperti: 

  1. Merubah sistem surau (halaqah) menjadi sistem sekolah.

  2. Memperpendek masa belajar yang berkepenjangan pada sistem surau dengan beberapa tahun ajaran.

  3. Mengatur penyajian pelajaran sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkembangan berfikir anak-anak.

  4. Mengatur buku yang akan dipakai pada kelas tertentu, tidak lagi memberikan buku yang tebal untuk anak.

  5. Mengatur guru menurut keahlian masing-masing dan guru hanya mengajar sesuai dengan keahliannya itu, tidak dapat lagi seorang guru mengajar untuk semua mata pelajaran seperti pada sistem surau.

  6. Mengatur jadwal pelajaran dalam satu daftar pelajaran yang tetap dan guru harus menyesuaikan waktu mengajarnya dengan daftar tersebut, guru tidak boleh lagi mengajar menurut kemampuannya.

  7. Memungut uang muka untuk masuk sekolah dan memungut uang sekolah per bulan.

  8. Mengatur honorarium guru dan petugas sekolah lainnya seperti penjaga sekolah.

  9. Mengadakan tenaga administrasi yang akan melola administrasi sekolah tersebut.

Sistem ini sebelumnya juga telah dilakukan oleh Sekolah Adabiah dan Sekolah Diniah pembaharuan dilaksanakan pada sekolah yang baru sama sekali, artinya dibuat sekolah baru untuk melaksanakan pembaharuan itu. Sumatera Thawalib melakukan sistem baru itu pada sekolah yang sudah ada dalam bentuk surau dengan murid yang sudah ada pula yang sebelumnya sudah mendapat pendidikan dengan sitem surau. Sumatera Thawalib sekaligus juga merubah sikap dan cara berfikir muridnya, suatu hal yang pada waktu itu sangat sukar dilakukan mengingat banyak murid yang fanatik terhadap yang pernah dimilikinya dan sukar merubah kebiasaannya.

 

Sumatera Thawalib dapat melakukan perubahan sistem pendidikan, karena semangat pengarahan telah masuk ke Sumatera Barat dan mempengaruhi Sumatera Thawalib. Murid maupun guru Sumatera Thawalib mendapat dorongan untuk segera mendapat ilmu pengetahuan yang banyak dalam waktu yang singkat untuk disumbangkan kepada pergerakan kebangsaan. Kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan sangat meningkat pada Sumatera Thawalib, sehingga gagasan pembaharuan yang masuk ke Sumatera Thawalib mendapat sambutan hangat

 

Guru Sumatera Thawalib seperti Haji Rasul, Zainuddin Labai AI-Yunusi, Haji Hasyim, Haji Habib, Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, dan lain-lain bukanlah orang yang fanatik, mereka adalah orang yang terbuka dan suka menerima pembaharuan, serta luas pandangannya. Menurut mereka untuk memperbaiki kehidupan dengan cepat dan tepat adalah melalui pembaharuan pendidikan.

 

Pada tahun 1918 majalah AI-Munir yang didirikan oleh Syekh H. Abdullah Ahmad di Padang sudah berdiri pula cabangnya di Sumatera Thawalib. Kantor majalah AI-Munir penuh dengan surat kabar dari seluruh Indonesia sebagai balasan pengiriman majalah AI-Munir. Di kantor AI-Munir itulah berkumpul murid Sumatera Thawalib bersama gurunya di waktu senggang untuk membaca surat kabar. Hal ini mempercepat luasnya pandangan mereka, baik mengenai situasi pendidikan, maupun mengenai situasi politik dalam dan luar negeri. Keadaan itu masih ditambah lagi dengan seringnya dilakukan diskusi di kantor tersebut yang menyebabkan penglihatan mereka semakin tajam terhadap suasana yang sedang mereka hadapi.

 

Suasana yang demikian didukung pula dengan adanya penerbitan beberapa surat kabar dan majalah pada beberapa pendidikan Sumatera Thawalib yang berada di luar Padang Panjang, seperti majalah AI-Bayan di Parabek, AI-Basyar di Batusangkar, Al-ittqah di Maninjau dan Al-lman di Padang Panjang sendiri. Semua media itu berlomba menyiarkan agama Islam dan perkembangan baru tentang ilmu pengetahuan. Keadaan itu menyebabkan para pembacanyapun ikut menjadi orang yang suka dan haus pada pembaharuan. 

  1. Dipilihnya surau sebagai basis pembaharuan pendidikan Islam oleh tokoh muda Islam seperti Haji Rasul dengan teman-temannya bukanlah merupakan suatu hal yang kebetulan saja, melainkan memang dilakukan dengan sengaja, karena beberapa hal seperti yang dikatakan oleh Deliar Noor sebagai berikut : "Anak yang mengaji dan bermalam di surau sejak usia 7 tahun mendapatkan didikan agama, sembahyang berjemaah serta membaca AI-Quran. Dengan demikian pendidikan agama itu menjadi darah daging bagi mereka sampai dewasa dan di hari tuanya, meskipun mereka sudah berpangkat tinggi kemudian harinya.

  2. Anak yang mengaji di surau bergaul dengan temannya di bawah pimpinan gurunya, dengan demikian terbentuklah uchuwah Islamiah semenjak kecil.

  3. Didikan surau  menghasilkan pelajar yang berakhlak Islamiah.

  4. Didikan surau berdasarkan ikhlas karena Allah semata dengan tidak mengharapkan gaji atau pangkat dan uang. Uang datang sendirinya dan bukan menjadi tujuan utama.

  5. Didikan surau tidak terpengaruh oleh didikan Barat yang berdasarkan materialis. Sebab itu didikan surau adalah didikan asli Islam. 9)

Dengan menjadikan surau sebagai titik pangkal pembaharuan pendidikan Islam banyak masalah yang sudah dapat ditanggulangi terlebih dahulu, misalnya masalah biaya pendidikan, tempat belajar, dasar ke Islaman murid yang sudah kuat. Walaupun pendidikan surau itu berubah nama menjadi Sumatera Thawalib yang banyak terdapat di Sumatera Barat, mereka bukanlah merupakan madrasah yang bernaung pada satu induk. Banyak di antaranya yang berdiri sendiri dengan pendidikan masing-masing serta pelaksanaan yang berbeda pula, yang sama hanyalah nama saja yaitu Sumatera Thawalib. Masing-masing sekolah mempunyai kurikulum, menyusun materi pelajaran, melaksanakan metode mengajar sendiri. Sekolah itu sebelumnya memang sudah berdiri sendiri juga kebiasaan itulah yang terbawa terus. Walaupun banyak terdapat perbedaan dalam menyelenggarakan pendidikan, tetapi dalam berlomba mencari kemajuan, karang mengarang mengenai ilmu pengetahuan, Islam maupun pengetahuan umum, dan berlomba memberikan dakwah Islam kepada masyarakat tentang pembahaman pendidikan Islam.

 

Sekolah Sumatera Thawalib terdiri dari 7 kelas seperti pada Sekolah Diniah. Pada kelas I dan II hanya diberikan dua mata pelajaran, di kelas III sudah diberikan 6 mata pelajaran. Mulai kelas IV sudah diberikan semua mata pelajaran yang ada pada sekolah itu. Dari semua mata pelajaran, mata pelajaran agama Islam hanya terdapat 7 buah saja, diajarkan pada setiap kelas tiap tahun dengan memperbaharui buku yang dipelajari. Mata pelajaran Fikih yang dipelajari murid sekurangnya harus mem baca 7 buah buku yang berbeda pengarangnya. Walaupun sudah, ditambah dengan matapelajaran umum, kedalaman materi agama Islam tidak berkurang. Dapat dibayangkan betapa beratnya belajar pada sekolah Thawalib, tambahan lagi mulai sejak kelas tiga sudah dlajarkan ilmu Tauhid dan Tafsir.

 

Pada umumnya Sekolah Diniah mempergunaan buku keluaran Mesir, sedangkan Sumatera Thawalib memakai buku keluaran Mekah. Buku Mesir sudah dipengaruhi oleh pandangan baru mengenai Islam, sedangkan buku lama keluaran Mekah masih menunjukkan sifat asli Mekah, belum banyak dapat pengaruh perkembangan fikiran baru. Mengenai kedalaman pengajaran Islam, pada sekolah Sumatera Thawalib lebih mendalam dibandingkan dengan sekolah Diniah. Banyak di antara murid Sekolah Diniah yang pindah ke Sekolah Sumatera Thawalib mulai dari kelas IV atau V untuk memperdalam ilmu mereka tentang Islam. Oleh karena itu, sebahagian sekolah Diniah hanya mempunyai kelas sampai kelas IV, V, atau VI saja, sebab sesudah itu muridnya akan pindah ke Sumatera Thawalib. Hanya Sekolah Diniah di Padang Panjang yang masih tetap mempunyai kelas sampai tujuh buah. Tamatan Sumatera Thalib merupakan orang yang dalam ilmunya tentang Islam, mereka merupakan pemimpin Islam yang kuat pendiriannya dan berpegang teguh pada ajaran Islam ahli Mekkah. Sedangkan tamatan Sekolah Diniah agak kurang mendalam pengetahuan Islam, tetapi mereka merupakan pemimpin masyarakat yang luas pandangannya dan cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan baru. Mereka kelihatan lebih lincah di tengah-tengah masyarakat dibandingkan dengan tamatan Sumatera Thawalib. Namun, walaupun demikian dalam kehidupan sehari-hari kedua alumni sekolah itu merupakan tokoh masyarakat yang dlikuti dan dihormati, karena mereka dapat hidup saling berdampingan dan saling mengisi sehingga masyarakat tidak begitu merasa dan melihat adanya perbedaan itu.

 

Tahun 1930 perbedaan itu dapat diakhiri, karena kedua sekolah tersebut sudah sama-sama membutuhkan hal yang baru terutama untuk menghadapi Belanda dalam pergerakan kebangsaan. Mereka saling bantu dalam mencari sumber baru yang akan dijadikan bahan bacaan di sekolah, karena mereka juga sadar bahwa tanpa bahan bacaan baru pengetahuan mereka akan terbatas, sedangkan pergerakan Indonesia menuntut pengetahuan yang tinggi dari putra-putrinya.

 

Alumni Sekolah Thawalib banyak yang terjun ke masyarakat dan menjadi pemimpin masyarakat yang diikuti dan dihormati. Tetapi pada hakekatnya bukanlah hal tersebut yang menjadi tugas pokok mereka. Kebanyakan di antaranya diangkat menjadi guru pada sekolah agama yang tersebar di Sumatera Barat.

 

Kebanyakan di antara mereka diangkat menjadi guru pada kelas yang rendah tingkatnya, misalnya kelas I, II, III dan IV karena pada kelas yang lebih tinggi akan diajar langsung oleh para Syekh. Di samping menjadi guru pada Sekolah Thawalib dan Sekolah Diniah dan sekolah agama, para alumni Sumatera Thawalib, dan Sekolah Diniah, tidak ada yang mengajar pada sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

 

Sebahagian lagi ada yang membuka sekolah sendiri di kampung dan mengajar di sana serta menyatakan diri sebagai cabang dari Sumatera Thawalib di Padang Panjang.

 

Tamatan Sekolah Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah, tidak ada yang menganggur. Begitu mereka tamat ada-ada saja kerja yang akan menunggu mereka atau mereka ciptakan.

 

Murid Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah, selama belajar juga diberikan pelajaran akhlak dan cara berfikir serta hidup mandiri. Hal tersebut diberikan melalui contoh yang nyata dari kehidupan guru sehari-hari, baik di sekolah maupun di tengah-tengah masyarakat. Kejujuran, ketinggian budi pekerti, kegigihan memperjuangkan kebenaran, kegigihan dalam memperjuangkan hidup, keuletan berusaha, sesuai kata dengan perbuatan, diberikan melalui contoh dalam praktek kehidupan guru sehari-hari. Murid dapat meniru teladan yang diberikan guru dan masyarakat umum, dengan contoh yang nyata. Hal itu dapat membentuk kepribadian murid yang kuat dan militan dalam segala perjuangan hidup, pantang menyerah. Jika tidak ada sekolah yang dapat menampungnya jadi guru, mereka membuka sendiri sekolah. Kemauan bekerja keras sudah dilatih semenjak berada di bangku sekolah. Menganggur mendatangkan perasaan bersalah dan berdosa kepada murid sekolah tersebut, guru maupun masyarakat.

 

Guru tamatan Sumatera Thawalib dan Sekolah Diniah mendapat sambutan dari masyarakat ke manapun mereka pergi di daerah Sumatera Barat, karena masyarakat sudah yakin betul dengan kemampuan mereka. Di samping menjadi guru mereka juga menjadi pemimpin masyarakat yang memang sudah dipersiapkan. Apa yang mereka terima di bangku sekolah sesuai dengan tugas yang mereka hadapi dalam masyarakat kemudian.

 

Pada awal abad ke-20 di Sumatera Barat Sekolah Adabiah, Sekolah Diniah, dan Sekolah Sumatera Thawalib merupakan pelopor di bidang pendidikan.

 

Walaupun sudah banyak sekolah .Islam yang mempergunakan sistem persekolahan, tidak berarti seluruh pendidikan Islam berubah semnuanya. Masih banyak sekolah yang mempergunakan sistem surau (halaqah) dalam pengelolaan pendidikan, terutama yang berada di kampung-kampung. Munculnya sistem madrasah pada pendidikan Islam tidak menghilangkan sistem surau sama sekali. Sesudah Kemerdekaan Indonesia sistem surau mulai berangsur hilang, karena lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus mengikuti sistem yang telah diatur oleh Pemerintah.

  

f.   Pendidikan Islam di Luar Sekolah

 

Sebelum tahun 1900 di Sumatera Barat pendidikan Islam hanya diberikan kepada anak dan pemuda yang datang ke surau-surau. Pendidikan Islam untuk orang dewasa, petani, saudagar-saudagar tidak diadakan.

 

Pada tahun 1911 sewaktu Syekh H. Abdullah Ahmad mendirikan majalah AI-Munir di Padang, pada kulit luarnya dituliskan kata-kata : "Majalah Islam pada Pelajaran, Pengetahuan, Perkhabaran".10)

 

Dengan pencantuman kata-kata tersebut pada kulit luar majalah itu, dapat dilihat bahwa penerbitan majalah tersebut sengaja untuk memberikan pelajaran kepada masyarakat umum tentang pengetahuan Islam dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan ajaran Islam dalam masyarakat.

 

Majalah AI-Munir cepat populer di tengah masyarakat, karena ditulis dalam bahasa Melayu yang mudah dimengerti oleh rakyat banyak. Majalah AI-Munir merupakan salah satu wadah yang sangat baik untuk memberikan pelajaran Islam kepada anggota masyarakat yang tidak sempat datang ke surau melalui tulisan dan gambar yang mudah dimengerti. Di samping majalah AI-Munir masih banyak majalah Islam lainnya yang beredar di Sumatera Barat pada waktu itu. Melalui majalah itulah para pemimpin Islam berusaha menyebar luaskan ajaran Islam ke tengah masyarakat. Namun demikian tidak semua orang dapat dicapai oleh majalah AI-Munir, karena tidak banyak orang yang dapat membaca, sebahagian besar anggota masyarakat masih buta huruf. Dengan demikian pendidikan Islam melalui jalur ini terbatas pula pada orang itu saja, tidak sampai kepada seluruh anggota masyarakat.

 

Atas usaha Syekh M. Jamil Jambek pada tahun 1911 dilakukan usaha pendidikan terhadap masyarakat melalui tablig, pidato, dan khotbah. Beliau menyadari bahwa tidak semua masyarakat Islam dapat masuk ke surau untuk belajar, seperti orang dewasa yang selalu sibuk dengan usahanya. Ajaran agama Islam yang dilaksanakan mereka adalah seperti apa yang pernah dikatakan oleh orang tua atau guru serta imam di kampungnya dan mereka tidak mau merubah. Pengetahuan mereka yang sempit itu mereka praktekan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran Islam yang mereka praktekan adalah sebagai hasil pengetahuag dan mulut ke mulut, tidak langsung mengambil dan sumbernya, yaitu Kitab Suci AI-Quran. Banyak praktek Islam yang mereka jalankan bertentangan dengan ajaran Islam menurut AI-Quran dan hadis Nabi Muhammad, saw. karena mereka tidak mengetahui. Penganut Islam yang beginilah yang banyak terdapat di Sumatera Barat pada waktu itu. Kepada merekalah pendidikan Islam melalui tablig, pidato, dan khotbah akan diberikan oleh Syekh M. Jamil Jambek.

 

Untuk melaksanakan tablig dan pidato Syekh M. Jamil Jambek sendiri pergi mendatangi kampung sampai jauh ke daerah pedalaman Sumatera Barat. Di tempat itu beliau memberikan tablig dan pidatonya yang berisi ajaran-ajaran pokok Islam, bagaimana seharusnya seorang Islam sejati bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, melaksanakan rukun Islam dan rukun iman dalam kehidupan, tidak boleh mencampurkan antara yang halal dengan yang haram, yang dilarang oleh agama Islam supaya benar-benar dijauhi dan menjalankan dengan sebaik-baiknya yang diperintahkan Nya. Melalui pidato dan tablig inilah Syekh M. Jamil Jambek melaksanakan pendidikan Islam dari luar jalur pendidikan formal, karena wadah yang khusus untuk itu memang belum ada.

 

Yang perlu diketahui adalah usaha yang dirintis oleh Syekh M. Jamil Jambek dilakukan dengan penuh kesadaran dan sudah direncanakan dari semula. Oleh karena itu usaha beliau dapat dikatakan sebagai usaha pendidikan Islam di luar sekolah pada waktu itu.

 

Usaha Syekh M. Jamil Jambek ini mendapat perhatian dan dukungan dari tokoh Islam Sumatera Barat lainnya dan mereka mengikuti jejak beliau, sehingga Tablig dan pidato agama Islam pada bahagian pertama abad ke-20 dilakukan dengan sangat meriah sekali dan merupakan salah satu sarana pendidikan luar sekolah yang sangat cepat memberikan hasil tanpa mengeluarkan dana yang besar.

 

Kesempatan yang dipergunakan untuk mengucapkan tablig dan pidato dipilih pada waktu diadakannya upacara peringatan Islam, seperti upacara peringatan Maulud Nabi Muhammad, lsyrak dan Mikraj, Khatam Quran, dan upacara keagamaan lainnya.

 

Sebelum tahun 1911 acara pada hari tersebut diisi dengan berzanji, marhaban dan lagu kasidah yang kesemuanya diucapkan dalam bahasa Arab yang kurang dapat dimengerti, sehingga hampir semua yang mendengarkan tidak mengerti apa yang diucapkan itu. Mereka hanya mendengarkan irama lagunya tanpa mengerti apa yang diucapkan: Tetapi karena hal ini telah menjadi kebiasaan pada waktu itu, tidak ada yang melarang pelaksanaannya sedangkan orang yang datang hanya untuk ikut meramaikan saja.

 

Syekh M. Jamil Jambek berusaha merubah kebiasaan tersebut secara berangsur dengan mengisinya melalui tablig dan pidato tentang riwayat hidup nabi Muhammad, peristiwa lsyrak dan Mikradj, wahyu pertama yang disampaikan kepada Nabi Muhammad, saw. kepahlawanan para sahabat Nabi Muhammad, saw. dan ajaran Islam yang benar. Semuanya diuraikan dengan populer sehingga mudah dimengerti oleh para pendengarnya, kalau perlu memakai bahasa daerah sendiri. Semua yang diuraikan itu diambil hikmatnya untuk penghidupan manusia yang sedang dihadapi.

 

Dalam tablig dan pidato itu rakyat tidak segera disuruh menghentikan semua pekerjaan mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam, tetapi melalui contoh kehidupan sehari-hari, rakyat disuruh mengambil kesimpulan sendiri. Rakyat tidak dipaksa, tetapi melalui contoh mereka mengakui sendiri kesalahannya dan berjanji akan merubahnya di kemudian hari sesuai dengan ajaran Islam yang benar.

 

Kesempatan yang paling baik untuk melakukan pidato dan tablig itu adalah pada bulan puasa, karena rakyat banyak yang mengunjungi mesjid dari hari biasa untuk melakukan ibadah. Kesempatan ini dipergunakan oleh Syekh M. Jamil Jambek dengan teman-temannya untuk memberikan penerangan tentang agama Islam sebelum dan sesudah sembahyang tarawih. Walaupun usaha Syekh M. Jamil Jambek dan kawan-kawannya tidak melembaga dan dilakukan dengan sukarela, tetapi usaha mereka merupakan suatu usaha pendidikan untuk masyarakat, dan hasilnya akan terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Jalur lain yang dilaksanakan oleh Syekh M. Jamil Jambek dalam usaha memberikan pendidikan Islam pada masyarakat adalah melalui khotbah Jumat, khotbah Hari Raya ldul Fitri dan ldul Adha.

 

Sebelum tahun 1911 di Sumatera Barat isi khotbah dibacakan dalam bahasa Arab seluruhnya tanpa dimengerti oleh para pendengarnya. Menurut Syekh M. Jamil Jambek hal tersebut kurang sesuai dengan tujuan khotbah, karena khotbah Jumat itu justru harus dipergunakan untuk menjelaskan ajaran Islam kepada anggota masyarakat. Jika mereka tidak mengerti apa yang diucapkan dalam khotbah itu, pelajaran apa yang dapat mereka ambil dari padanya.

 

Keadaan itulah yang dirubah oleh Syekh M. Jamil Jambek dan teman-temannya, yang bukan merubah bentuk khotbahnya tetapi merubah isi dan bahasa khotbahnya. Khotbah diucapkan dalam bahasa Melayu dan isinya tentang kehidupan sehari-hari menurut ajaran Islam yang benar. Dengan demikian orang yang mendengar khotbah dapat mengerti apa yang didengarnya yang isinya berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari.

 

g.  Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI)

 

PGAI sudah didirikan pada tahun 1919, tetapi baru mendapat pengesahan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1920. Pelopor pendiri PGAI adalah Syekh M. Abdullah Ahmad, tokoh pembaharu pendidikan di Sumatera Barat. Di samping itu tokoh Islam Sumatera Barat lainnya banyak yang ikut mendorong pendirian organisasi ini, yang mendapat sokongan dari seluruh ulama, baik dari golongan muda maupun dari golongan tua. Di antara mereka yang ikut mendirikan PGAI itu seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasarnya tahun 1921 terdapat ulama besar Sumatera Barat seperti Syekh M. Jamil Jambek dari Bukittinggi, Zainuddin Labai AI-Yunusi dari Padang Panjang, H. Abdul Karim Amarullah dari Padang Panjang, Haji Sutan lbrahim Parabek dari Bukittinggi, Haji Abdul Rusydi dari Maninjau,  dan lain-lain yang semuanya berjumlah 15 orang. 11)

 

Tujuan PGAI seperti tercantum dalam Anggaran Dasar tahun 1921 adalah menjaga martabat, memperbaiki nasib, dan memberikan pertolongan kepada guru agama Islam, memajukan dan memperbaiki pengajaran agama Islam. Mendirikan sekolah Islam, mengusahakan kebebasan dalam pengembangan agama Islam dan lain-lain sebagainya.

 

Pada tahun 1929 PGAI sudah membeli tanah seluas 5,5 Ha. di Jati, Padang dan tahun berikutnya membangun Sekolah Normal Islam lengkap dengan asrama dan sebuah gedung untuk memelihara anak yatim.

 

Pada tanggal 1 April 1931 diresmikanlah pembukaan Sekolah Normal Islam yang dalam bahasa Arabnya disebut Kulliatal Mu'allimin Islamiah. Normal Islam merupakan sekolah lanjutan tiligkat atas, dan murid yang diterima berasal dari sekolah Sumatera Thawalib, Diniah, Tarbiah, dan lain-lain sekolah Islam yang setingkat.

 

Sebagai pimpinan PGAI ditunjuk Mahmud Yunus yang baru kembali dari Mesir, sebulan sebelumnya ia sudah mendirikan pula ruang pendidikan Al-Jamiah Islamiah di Sungayang  Batusangkar  dengan  tiga  tingkat,  yaitu Ibtidaiah 4 tahun, Sanawiah 4 tahun, dan Aliah 4 tahun.

 

Sekolah Normal Islam betul-betul sudah merupakan sekolah umum yang bercorak Islam, karena dari 17 buah mata pelajaran, sekitar 12% saja mata pelajaran Islam dan bahasa Arab. Tetapi kalau dilihat dari jumlah jam pelajaran maka jam pelajaran untuk mata pelajaran agama dan bahasa Arab berjumlah 41%, mata pelajaran umum lebih banyak dari mata pelajaran agama.

 

Sekolah Normal Islam diasuh oleh guru yang ahli dibidang mata pelajaran agama dan bahasa Arab oleh guru didikan Mesir. Guru yang mengajarkan mata pelajaran umum diambil dari tamatan HIK atau AMS atau HBS, sekolah yang dibina oleh Pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat. Dari mereka itu yang diambil hanya ilmunya saja, sedangkan kebiasaan Barat sedapat mungkin tidak diperlihatkan di dalam lingkungan Normal Islam.

 

Sekolah Normal Islam bertujuan memperluas pengetahuan pemuda Islam yang tamat dari Sekolah Sumatera Thawalib, Diniah, dan Tarbiah, yang telah memperoleh pengetahuan Islam dengan agak mendalam. ltulah sebabnya jumlah mata pelajaran umum lebih banyak di sekolah Normal Islam. Dengan demikian diharapkan pengetahuan mereka menjadi luas dan seimbang.

 

Bahasa Inggris dan Belanda juga diajarkan di Normal Islam, yang belum pernah terjadi pada sekolah Islam sebelumnya di Sumatera Barat. Dengan kemahiran bahasa Inggris dan Belanda memudahkan mereka untuk mengetahui masalah luar negeri dan mengambil manfaat dari padanya. Dengan mengetahui bahasa tersebut mereka menjadi luas mengenai masalah luar negeri. Dengan pengetahuan yang mendalam dan luas murid tamatan Normal Islam lebih mudah menyesuaikan diri dengan pergerakan kebangsaan yang sedang meningkat.

 

Tamatan Sekolah Normal Islam disukai dan dihormati oleh masyarakat Sumatera Barat,  karena di samping menjadi guru mereka juga menjadi pemimpin masyarakat di mana mereka mengajar. Mereka tidak dicurigai oleh masyarakat, karena mereka juga orang yang taat menjalankan ajaran Islam serta ibadah dan tidak pernah melakukan hal yang dilarang agama. Mereka bersifat terbuka kepada masyarakat suka menolong, dan tidak sombong.

 

Alumni Sekolah Normal Islam tersebar ke daerah Indonesia, malahan sampai ke Semenanjung Melayu (Malaysia), karena ada murid yang berasal dari sana. Tamatan Sekolah Normal Islam, juga tidak ada yang menganggur dan tidak ada yang berkerja dengan pemerintah Hindia Belanda.

 

Satu hal yang patut ditiru oleh generasi sekarang dari Normal Islam adalah bahwa tamatannya tidak ada yang menggantungkan nasib pada pemerintah waktu itu, karena masalah tersebut telah ditekankan betul sewaktu masih belajar, baik di dalam kelas maupun di asrama. Asrama Normal Islam tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana pendidikan non-formal di luar sekolah. Guru betul-betul mendidik dengan sepenuh hati, bukan hanya memompakan pelajaran, melainkan betul-betul mendidik dalam artian yang luas.

 

Keberhasilan tamatan Normal Islam bukan hanya pada nilai ijazah saja, tetapi juga kemampuannya untuk mengajarkan dan menyampaikan pelajaran kepada masyarakat. Penilaian masyarakat sulit memperolehnya, karena harus bekerja dahulu beberapa tahun untuk memperoleh penghargaan masyarakat. Tugas tamatan Sekolah Normal Islam di samping guru juga merupakan tokoh pembaharu muda dalam kehidupan masyarakat, dan pelopor pergerakan nasional.

 

PGAI selain menyelenggarakan Sekolah Normal Islam juga bergerak di bidang pembinaan anak yatim. Pada tahun 1931 dibuka tempat pemeliharaan anak yatim yang tempatnya berdekatan dengan Sekolah Normal Islam. Para pengurus PGAI tergugah hatinya melihat banyaknya anak yatim yang terlantar, dan tidak mendapat pendidikan. Menurut ajaran agama Islam anak yatim harus dipelihara dengan sebaik-baiknya dan mendapat bimbingan seperti anak lainnya. Kewajiban itulah yang mendorong PGAI membangun gedung untuk menampung anak yatim tersebut.

 

Anak yatim itu diajar membaca, menulis, berhitung, membaca AI-Quran, dan kerajinan tangan. Pendidikan disesuaikan dengan tingkat kecerdasan anak tersebut. Bagi anak yang sudah cukup umur masuk sekolah dikirirnkan ke sekolah Islam, seperti lbtidaiyah, Sanawiah dan sejenisnya.

 

Untuk menyelenggarakan rumah yatim ini PGAI mendapat bantuan tetap dari pemerintah Hindia Belanda setiap bulannya. Pengelolaan anak yatim itu tidak dapat dikatakan sebagai suatu lembaga pendidikan formal dengan kurikulum dan perlengkapan yang sudah disediakan sebelumnya. Namun demikian, pendirian rumah pemeliharaan anak yatim adalah untuk mendidik anak yang tidak mempunyai orang tua, supaya mendapat layanan pendidikan seperti anak lainnya. Pendidikan diberikan secara Islam, sebagai usaha pendidikan Islam.

 

PGAI tidak hanya bergerak di bidang pendidikan menengah, tetapi juga di bidang pendidikan tinggi. Tanggal 9 Desember 1940 di Kompleks PGAI Jati, Padang, didirikan pula dua fakultas, yaitu fakultas Syariah (Agama) dan Fakultas Pendidikan dan Bahasa Arab. Staf pengajar diambil dari orang yang ahli di bidangnya, misalnya Syekh lbrahim Musa Parabek mengajar llmu Agama Islam; Mr. Abu Bakar Jaar mengajar llmu Kemasyarakatan; S.M. Latief mengajar Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab yang dikoordinir oleh Mahmud Yunus.

 

Para pemimpin Islam yang tergabung dalam PGAI menyadari betul bahwa perbaikan nasib suatu bangsa hanya dapat dilakukan oleh bangsa itu sendiri, pendidikan bukan saja memperluas pandangan tetapi juga akan dapat merubah cara berpikir yang penting untuk menghadapi hidup. Melalui pendidikan mereka akan diajar berpikir menurut logika dan akan menjauhi hal yang tidak masuk akal, kecuali yang berhubungan dengan kepercayaan agama.

 

Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka pada tahun 1940 PGAI mendirikan Sekolah Islam Tinggi dengan dua fakultas. Mahasiswa kedua perguruan tersebut dipersiapkan menjadi guru agama Islam pada sekolah Islam yang tersebar di daerah Sumatera Barat.

 

Sekolah Islam Tinggi juga bertujuan memasukkan nafas Islam dalam pergerakan nasional Indonesia di Sumatera Barat. Mereka juga dipersiapkan menjadi pemimpin yang dapat membawa rakyat mencapai tujuan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, dengan berlandasan Islam.

 

Sekolah lslam Tinggi ini tidak dapat hidup lama, karena sewaktu  Jepang menduduki Sumatera Barat, mereka tidak mengizinkan mendirikan perguruan tinggi, sekolah Normal Islam dapat jalan terus.

 

h.  Muhammadiyah

 

Di daerah Sumatera Barat cabang pertama Muhammadiyah terdapat di Maninjau yang dibawa dan diprakarsai oleh Syekh H. Abdul Karim Amarullah (Haji Rasul), pada tahun 1925. Pada tahun itu juga didirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Sesudah itu berdiri cabang Muhammadiyah di Simabur Batusangkar (1927), Bukittinggi (1928), Payakumbuh (1928), Kurai Taji, Pariaman (1929), Padang (1930), Solok(i935),dan seterusnya ke seluruh daerah Sumatera Barat.

 

Karena salah satu tujuan Muhammadiyah adalah untuk memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam, seperti tercantum dalam Anggaran Dasarnya pasal I, ayat 1 12), maka mereka giat bergerak di bidang pendidikan Islam. Seluruh sekolah Muhammadiyah sudah berbentuk madrasah, bahkan ada yang sama dengan sekolah pemerintah Hindia Belanda. Dalam mempergiat dan memperdalam penyelidikan ilmu agama Islam, Muhammadiyah memajukan dan memperbaharui pendidikan, pengajaran dan kebudayaan serta memperluas ilmu pengetahuan menurut tuntutan agama Islam.

 

Melalui Majelis Tablig Muhammadiyah berusaha menyadarkan rakyat Sumatera Barat akan pentingnya pendidikan untuk memperbaiki nasib dan kehidupan manusia sekarang dan di hari depan. Masalah pendidikan bukanlah perorangan, melainkan merupakan masalah bersama umat manusia. Muhammadiyah siap memberikan pembinaan bimbingan dan pengarahan yang dibutuhkan.

 

Untuk dapat mendirikan sebuah ranting Muhammadiyah cukup dengan anggota lima orang, tetapi untuk mendapatkan pengesahan terlebih dahulu ranting itu harus mendirikan sebuah sekolah minimal tingkat lbtidaiyah (SD Islam). Jumlah kelas tidak menjadi masalah, walaupun hanya satu kelas dengan beberapa orang murid, sudah cukup untuk mendapat pengesahan sebagai satu ranting Muhammadiyah. Muhammadiyah mempercepat proses berdiri dan penyebaran lembaga pendidikan Islam tingkat dasar di Sumatera Barat.

 

Selanjutnya menyatukan ranting yang telah banyak itu menimbulkan masalah. Beberapa ranting yang berdekatan dapat disatukan untuk memudahkan kontrol dari Muhammadiyah Sumatera Barat yang berkedudukan di Padang. Persatuan dari beberapa ranting dapat membentuk sebuah cabang Muhammadiyah.

 

Untuk mendirikan sebuah cabang Muhammadiyah ada beberapa syarat misalnya harus sudah ada beberapa ranting terlebih dahulu. Ranting Muhammadiyah di kewedanaan tidak dengan sendirinya menjadi sebuah cabang kalau sekiranya di kewedanaan itu hanya ada sebuah ranting saja. Apabila beberapa ranting yang berdekatan dengan ranting kewedanaan sudah sepakat membentuk sebuah cabang, maka dapat didirikan cabang dengan ranting di kewedanaan menjadi pusat. Batas administrasi pemerintahan yang berlaku waktu itu tidak merupakan halangan bagi pembentukan sebuah cabang Muhammadiyah. Dalam sebuah kewedanaan boleh saja berdiri beberapa buah cabang atau dalam satu daerah kewedanaan hanya ada sebuah ranting saja. Dalam sebuah nagari dapat saja didirikan sebuah cabang Muhammadiyah jika persyaratan sudah mencukupi, misalnya merupakan pusat kegiatan dari beberapa ranting nagari di sekitarnya. Muhammadiyah tidak terikat dengan batas-batas daerah administrasi pemerintahan yang berlaku pada waktu itu.

 

Salah satu syarat untuk dapat disahkannya sebuah cabang Muhammadiyah apabila cabang tersebut sudah mempunyai sebuah sekolah Menengah Islam seperti Tsnawiah atau yang sederajat.

 

Muhammadiyah mendirikan sekolah atau madrasah disangkutkan dengan pendirian ranting atau cabang walaupun ranting dan cabang Muhammadiyah itu tugas pokoknya bukan masalah pendidikan saja, tetapi masalah sosial dan juga politik. Kurikulum dan mata pelajaran sekolah Muhammadiyah sama untuk semua tingkat yang paralel, karena diatur secara sentral, bukan seperti Sekolah Islam lainnya. Dengan cara itu Muhammadiyah lebih berhasil menanamkan rasa persatuan dan kesatuan kepada anak didik dan masyarakat.

 

Ranting dan cabang Muhammadiyah berusaha dengan. sekuat-kuatnya untuk mendirikan sekolah secara gotong-royong. Dengan demikian persyaratan mendirikan ranting Muhammadiyah yang kelihatannya berat justru mendorong masyarakat untuk mendirikan sekolah. Sampai tahuan 1942, di Sumatera Barat Muhammadiyah telah mempunyai murid lbtidaiyah sebanyak 35.000 orang dengan 1.500 orang guru serta dapat mendirikan Tsanawiyah yang tersebar di daerah Sumatera Barat. Perincian Tsanawiyah sebelum pendudukan Jepang adalah 16 buah di Tanah Datar, 10 buah di Pariaman, 10 buah di Pasaman, 9 buah di Solok, 8 buah di Agam, 6 buah di Lima Puluh Kota, 6 buah di Pesisir Selatan, dan 4 buah di Sawah Lunto Sijunjung.

 

Sekolah Muhammadiyah, yang didirikan sampai pecah Perang Dunia II sebagai berikut:

 

1) Sekolah Agama Islam

Jenis sekolah ini terdiri dari dua macam, yaitu lbtidaiyah dan Tsanawiyah, titik berat pelajaran adalah tentang agama Islam, mata pelajaran umum hanya sebagai tambahan. Namun demikian sudah hampir seluruh sekolah lbtidaiyah dan Tsanawiyah memasukkan mata pelajaran umum ke dalam kurikulumnya. lbtidaiyah hampir terdapat di semua nagari di Sumatera Barat karena pada waktu itu jumlah lbtidaiyah seluruhnya adalah 300 buah.

 

2) Sekolah Umum

Sekolah umum yang didirikan Muhammadiyah terdiri dari Sekolah Desa, Sekolah Sambungan, Sekolah Schakel, dan HIS Muhammadiyah. Perbedaan sekolah umum Muhammadiyah dengan sekolah umum yang didirikan pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat adalah bahwa pada sekolah Muhammadiyah diberikan 20 % pelajaran agama Islam sedangkan pada sekolah Belanda mata pelajaran agama hanya merupakan sebuah mata pelajaran saja. Di samping itu sekolah Muhammadiyah berstatus swasta.

 

Pada umumnya pembukaan sekolah umum Muhammadiyah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada anak Sumatera Barat untuk mendapatkan pendidikan umum sebagai reaksi terhadap sistem persekolahan Belanda yang sangat membatasi penerimaan murid. Untuk masuk sekolah pemerintah Hindia Belanda bagi rakyat biasa sukar sekali, akibatnya banyak anak desa yang tidak bersekolah. Hal itulah yang ditembus oleh Muhammadiyah dengan mendirikan sekolah, karena banyak anak tinggal di desa, maka sekolah Muhammadiyah lebih banyak didirikan di desa dengan nama Sekolah Desa dan Sekolah Sambungan. Sampai tahun 1942 Muhammadiyah sudah berhasil mendirikan sekolah umum ini di Sumatera Barat sebanyak 30 buah. Murid yang dapat diterima dari segala lapisan. Kenyataannya yang masuk sekolah tersebut adalah anak petani, saudagar, dan anak rakyat biasa yang beragama Islam. Anak pegawai pemerintah Hindia Belanda, anak orang yang bekerja dengan Belanda lebih suka masuk ke sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. HIS Muhammadiyah juga dimasuki oleh anak rakyat biasa, sekolah tersebut juga dinamakan "HIS met de Quran", yaitu HIS yang mempergunakan AI-Quran yang menunjukkan perbedaan dengan HIS pemerintah. Sebelum Jepang masuk ke Sumatera Barat HIS Muhammadiyah telah berdiri di Simabur, Batusangkar, Padang Panjang, Maninjau, Pariaman, Padang, Bukittinggi, dan Solok.

 

3) Sekolah Guru

Karena pesatnya perkembangan sekolah yang diasuh Muhammadiyah akhirnya mereka kekurangan tenaga guru. Pada Mulanya masalah ini tidak merupakan persoalan bagi Muhammadiyah, karena pengurus ranting dan cabang setempat dapat menjadi guru. Tetapi kemudian sesudah sekolah bertambah banyak, maka tenaga guru makin berkurang.

 

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga guru Muhammadiyah mendirikan sekolah guru, untuk guru Sekolah Desa dan Sekolah Menengah.  Sekolah guru itu terdiri dari bermacam-macam pula, yaitu:

 

a) Sekolah Guru Muhammadiyah (SGM).

SGM didirikan pada tahun 1953 di Padang dengan lama pendidikannya 4 tahun. Pada mulanya SGM bernama Normaal School Muhammadiyah tetapi karena ada larangan dari pemerintah Belanda bahwa sekolah swasta tidak boleh memakai nama sekolah pemerintah, akhirnya nama Normaal School Muhammadiyah ditukar dengan nama Sekolah Guru Muhammadiyah (SGM). Murid SGM berasal dari Sekolah Skakel dan HIS Muhammadiyah. Sampai tahun 1942 SGM telah dapat menghasilkan tenaga guru, sebanyak 105 orang. 13) Dengan hasil tersebut secara berangsur-angsur dapat diisi kekurangan tenaga guru pada sekolah yang berada di bawah asuhan Muhammadiyah

 

b) Kulliatul Muballigin

Pada tahun 1931 di Padang Panjang didirikan sebuah sekolah dengan nama "Tablig School "di bawah pimpinan Hamka. Tujuan sekolah ini untuk mencetak mubalig Islam yang akan disebar ke daerah Sumatera Barat. Tetapi pada tahun berikutnya Sekolah Tablig mengalami hambatan, karena Hamka ditugaskan Muhammadiyah ke Sulawesi Selatan. Tetapi karena desakan dari para tamatan Sekolah Thawalib, Diniah, dan lain-lain maka akhirnya Sekolah Tablig disempurnakan kembali dengan. tujuan menghasilkan mubalig dan guru serta kader pimpinan Muhammadiyah untuk daerah dan menjadi wadah yang menampung tamatan sekolah Thawalib, Diniah, dan lain-lain yang makin lama jumlahnya makin bertambah banyak.

 

Melalui beberapa perundingan selama beberapa tahun, maka pada tahun 1936 dalam Kongres Muhammadiyah Minangkabau ke-11 di Maninjau diputuskan untuk menjadikan Sekolah Tablig menjadi Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah dengan nama Kulliatul Muballigin bertempat di Padang Panjang di bawah pimpinan Yakub Rasyid l4). Yakub Rasyid sebelumnya adalah pimpinan SGM. Sesudah melihat usahanya sebelum memimpin SGM, akhirnya Muhammadiyah mempercayakan pimpinan Kulliatul Muballigin tersebut kepadanya. Kalau Sekolah Tablig lama belajarnya hanya 2 tahun, Kulliatul Muballigin dijadikan 3 tahun.

 

Kulliatul Muballigin segera mendapat sambutan dari masyarakat Sumatera Barat. Murid-muridnya selalu bertambah dari tahun ke tahun, sehingga pada tahun 1942 sekolah tersebut telah dapat menghasilkan alumni sebanyak 111 orang15).

 

Karena murid Kulliatul Muballigin ada yang berasal dari Aceh, Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan, maka alumninya juga ada yang tersebar ke daerah tersebut. Disamping itu hampir di seluruh Sumatera Barat alumni Kulliatul Muballigin tersebar, karena banyaknya permintaan guru dan sekolah Muhammadiyah yang tersebar di seluruh daerah Sumatera Barat.

 

Tamatan Kulliatul Muballigin di samping menjadi guru, juga ditugaskan memimpin ranting atau cabang Muhammadiyah yang ada di tempat mereka mengajar.

 

Sebelumnya pengurus ranting atau cabang Muhammadiyah diambil dari pemuka agama setempat yang ditugaskan di sekolah Muhammadiyah. Setelah banyak tamatan Kulliatul Muballigin yang bertugas sebagai guru, kepada mereka diminta untuk memimpin ranting atau cabang Muhammadiyah setempat. Hasil pendidikan Islam makin lama makin meningkat, hasil pendidikan Muhammadiyah, secara tak langsung juga dapat dinikmati oleh rakyat umum, karena .Muhammadiyah bergerak di bidang sosial.

 

Tujuan pendirian Kulliatul Muballigin antara lain adalah membentuk mubalig yang sanggup melaksanakan dakwah dan menjadi khatib Jumat, menghasilkan guru sekolah menengah tingkat Tsanawiyah dan membentuk kader pemimpin Muhammadiyah dan pemimpin masyarakat pada umumnya.

 

Melihat pada tujuan tersebut Muhammadiyah telah mempersiapkan tenaga yang selalu berdiri di garis depan, seperti guru atau pimpinan sekolah, imam, dan pemimpin masyarakat. Untuk menjadi guru mereka praktek pada sekolah lbtidaiyah Muhammadiyah, untuk menjadi imam mereka praktek di Surau Muhammadiyah, untuk menjadi pimpinan masyarakat  mereka praktek pada gerakan pemuda Muhammadiyah yang bernama Hisbul Wathan (Kepanduan Muhammadiyah). Setiap murid Kulliatul Muballigin harus melalui latihan atau praktek tersebut. Untuk latihan atau praktek dipergunakan waktu sore hari untuk kepanduan, malam hari untuk tablig, pagi hari untuk praktek di sekolah.

 

c)  Kweek School lstri (KSI)

Putri-putri tamatan Tasnawiyah Putri, Diniyah Putri, Sekolah Desa,  Sekolah Sambungan,  HIS Muhammadiyah, dan lain-lain bahagian putri tidak mau ketinggalan dari Putra. Mereka mendatangi pimpinan Muhaminadiyah untuk minta didirikan sebuah sekolah guru putri tingkat menengah untuk menampung mereka melanjutkan sekolah.

 

Bagi Muhammadiyah permintaan banyak datang dari ranting dan cabang untuk membuka sekolah menengah khusus untuk putri dan meminta tenaga guru putri, baik untuk mata pelajaran  agama maupun mata pelajaran umum. Muhammadiyah tidak sanggup memenuhi seluruh permintaan tersebut.

 

Aisyiah sebagai salah satu anak organisasi Muhammadiyah, bagian putri menanggapi permintaan tersebut secara positif. Berkat ketekunan para pengasuh Aisyiah dan melalui berbagai halangan, akhirnya tahun 1937 dapat didirikan Kweeksschool Istri di Bukittinggi yang disingkat dengan KSI, diasuh Aisyiah cabang Bukittinggi.

 

Berdasarkan permintaan yang masuk, maka dibuka dua bahagian, yaitu:

 

KSI A khusus mendidik guru mata pelajaran agama Islam, lama belajar 3 tahun. Murid yang diterima adalah tamatan Tsanawiyah putri, Diniyah Putri, dan Sekolah Thawalib. Sedangkan KSI B khusus mendidik guru mata pelajaran umum. Murid yang di terima adalah tamatan Sekolah Desa, Sekolah Sambungan dan HIS Muhammadiyah. Di samping itu dapat juga diterima murid yang berasal dari sekolah Gubernemen Belanda. Semua anak yang telah memenuhi Syarat tanpa melihat asal usul dapat diterima pada KSI. Hanya saja yang didahulukan adalah sekolah yang langsung diasuh Muhammadiyah sendiri.

 

Hambatan utama dalam pendirian KSI pada waktu itu adalah pandangan masyarakat Bukittinggi, terutama dari orang yang telah mendapatkan pendidikan Barat. Mereka menganggap orang Muhammadiyah adalah orang Siak (alim ulama) atau orang surau yang tidak akan  mampu  mengusahakan  sekolah  guru  yang membutuhkan pengalaman ilmiah. Namun demikian Rangkayo Rukayah Rasyad, yang ditugaskan Aisyiah untuk membentuk sekolah tersebut tidak mau mundur dari usahanya. Demikianlah dengan melalui onak dan duri di tengah perjalanannya sampai dengan tahun 1942 KSI masih dapat menghasilkan 31 orang guru putri, 19 orang untuk mata pelajaran agama Islam dan 12 orang untuk guru mata pelajaran umum. 15)

 

Dari hasil yang dapat dicapai oleh KSI dapat dilihat betapa gigihnya perjuangan Aisyiah menyelenggarakan pendidikan guru untuk putri di Sumatera Barat pada waktu itu. Dengan ketabahan yang luar biasa dan keuletan  yang tinggi,  akhirnya mereka yang pada mulanya bersikap negatif itu mau tidak mau mengakui juga bahwa orang Siak juga mempunyai kemampuan.

 

d) Kulliatul Muballighat

Pada tahun 1938 di Padang Panjang didirikan pula Sekolah Tablig School Istri dengan H.A. Malik Ahmad sebagai kepala Sekolahnya. KSI, rupanya belum dapat menampung permintaan yang membanjiri pimpinan Muhammadiyah, karena itu perlu untuk didirikan Tablig School Istri di Padang Panjang, lama pendidikan hanya 2 tahun. Dalam jangka waktu 3 tahun saja sesudah berdirinya sekolah itu sudah mempunyai murid sebanyak, 557 orang dan pada tahun 1942 sudah menghasilkan alumni sebanyak 56 orang.17)

 

Seperti halnya dengan Sekolah Tablig Putra yang akhirnya berubah menjadi Kulliatul Muballigin, Sekolah Tablig Istri inipun pada tahun 1941 bertukar nama menjadi Kulliatul Muballighat, yaitu sekolah tingkat menengah atas khusus mendidik guru wanita. Pada tahun 1942 sekolah tersebut terpaksa ditutup, karena Balatentara Jepang sudah masuk ke Sumatera Barat. Tidak ada lagi orang tua yang mengizinkan anaknya meneruskan sekolah, karena takut dengan kekejaman Balatentara Jepang.

 

Muhammadiyah memberikan corak baru terhadap pendidikan di Sumatera Barat, yaitu dibukanya sekolah umum yang bercorak Islam. Pada sekolah itu diajarkan 80% mata pelajaran umum dan 20% mata pelajaran agama Islam. Pada sekolah khusus Islam diberikan 60% mata pelajaran Agama Islam dan 40% mata pelajaran umum. Walaupun dinamakan sekolah umum, corak Islamnya tidak ditinggalkan untuk membedakan dengan sekolah yang didirikan pemerintah Hindia Belanda.

 

Sebelum Muhammadiyah mendirikan sekolah umum sudah ada juga sekolah umum Islam di Padang, yaitu Sekolah Adabiah, tetapi hanya terbatas di kota Padang. Muhammadiyah  mempopulerkan  sekolah umum di daerah Sumatera barat dengan corak dan cara baru.

 

e. Persatuan Muslimin Indonesia (Permi)

Pada tahun 1926 gedung Sumatera Thawalib runtuh karena gempa besar yang terjadi pada waktu itu disebabkan meletusnya Gunung Merapi. Sumatera Thawalib Padang panjang saja merasa tidak sanggup memperbaiki, oleh karena itu, diadakanlah musyawarah Sumatera Thawalib seluruh Sumatera Barat bertempat di Batusangkar. Musyawarah berlangsung selama dua hari, 20-21 Mei 1929. Disamping membicarakan usaha membangun kembali gedung yang runtuh itu, juga dibicarakan pembaharuan kurikulum, perbaikan sistem penyelenggaraan sekolah, dan akan mengadakan konferensi seluruh sekolah Sumatera Thawalib, yang ada di Sumatera Barat, Tapanuli, Aceh, dan Bengkulu.

 

Sementara itu banyak orang Sumatera Barat yang pulang dari Mekah dan Mesir yang menggabungkan diri dengan Sumatera Thawalib, seperti, H. llyas Yakub. Di samping pengaruh semangat Pergerakan Kebangsaan, ada lagi orang Sumatera Barat yang kembali dari Jawa seperti Muhammad Yamin yang menjelaskan perjuangan di Jawa dan bagaimana cara memperjuangkannya. Oleh karena bermacam pengaruh tersebut keadaan politik di Sumatera Barat semakin panas dan menunjukan kematangan.

 

Pada Konperensi Sumatera Thawalib tanggal 20-21 Mei 1930 di Bukittinggi banyak pembicara yang mengemukakan tentang masalah politik dari masalah Sumatera Thawalib.

 

Di antara pembicara yang bersemangat mengemukakan masalah politik itu adalah H. llyas Yakub, Muhammad Yamin, dan Duski Samad. Akibatnya terjadi perubahan besar dalam tubuh Sumatera Thawalib, dengan berubah nama menjadi Persatuan Muslimin Indonesia yang disingkat dengan PMI yang kemudian lebih dikenal dengan nama Permi. 17)

 

Perubahan nama itu berarti bahwa Sumatera Thawalib sudah terbuka untuk umum dan sudah bersifat nasional tidak lagi bergerak di bidang sosial dan pendidikan saja, tetapi sudah ikut bergerak di bidang politik Pergerakan kebangsaan Indonesia.

 

Munculnya Permi pada tahun 1930 menunjukkan bahwa Sumatera Thawalib sudah matang untuk ikut dalam pergerakan kebangsaan Indonesia. Sebelum Konferensi tahun 1930 Pengurus Sumatera Thawalib di Padang Panjang sudah sering membicarakan masalah politik di Indonesia pada waktu itu dan bagaimana menggalang persatuan di antara rakyat Sumatera Barat, tetapi  pembicaraan  itu  dilakukan  secara  sembunyi. Karena itulah Sumatera Thawalib dapat menerima pergantian nama dan arah perjuangan dari bidang pendidikan ke lapangan politik. Sesudah Permi muncul maka organisasi itu tampil sebagai salah satu eksponen politik di Sumatera Barat.

 

Walaupun Permi sudah menjadi organisasi politik, mereka tidak meninggalkan basis perjuangannya, yaitu masalah pendidikan agama Islam. Pendidikan Islam merupakan jalur pertama dari perjuangan Permi di samping jalur politik.

 

Usaha Permi di bidang Pendidikan adalah didirikannya Tsanawiyah di Payakumbuh dan Bukittinggi serta Islamic College di Padang pada tahun 1931. Di samping itu Permi juga membina lebih dan 50 buah Thawalib yang sudah ada yang tersebar di daerah Sumatera Barat.

 

Islamic College, di samping menghasilkan ulama yang berpengetahuan luas juga dimaksudkan untuk menjembatani golongan intelektual Barat dengan golongan Islam. Permi ingin menarik orang tersebut untuk dapat diajak berjuang. Supaya mereka mau diajak bermusyawarah, maka orang yang akan melakukan itu harus yang mempunyai pendidikan lebih atau setingkat dengan mereka.

 

Dengan dukungan para intelektual Barat menambah kekuatan golongan Islam yang dapat melemahkan pihak Belanda.

 

Sebelumnya gol~ngan intelektual Barat selalu memandang rendah kepada golongan intelektual Islam, tetapi Permi melihatnya dari segi lain. Bagaimanapun tingginya pengetahuan dan kedudukan mereka, mereka itu masih tetap orang Indonesia yang masih dijajah oleh bangsa Belanda. Oleh karena itu mereka harus disadarkan dan untuk menyadarkan mereka harus didekati dan dirangkul serta dibangunkan semangatnya. Harus ditekankan pada mereka bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang mempunyai hak hidup sama dengan bangsa Belanda. Bangsa Indonesia harus membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Untuk itu seluruh bangsa Indonesia harus bersatu, jangan ada yang ikut membantu Belanda.

 

Untuk tugas menyadarkan golongan intelektual Barat itulah diserahkan kepada tamatan Islamic College.

 

Di samping itu Permi juga menerbitkan majalah dan surat kabar, yang terutama bertujuan untuk membentuk pendapat umum tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

 

Di antara surat kabar yang langsung diterbitkan Permi adalah:

1). Medan Rakyat

Medan Rakyat diterbitkan di Padang dan diasuh oleh H. llyas Yakub, yang mulai diterbitkan pada bulan September tahun 1932. Medan Rakyat merupakan corong resmi Permi yang menjelaskan tujuan perjuangan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tahun 1933 Medan Rakyat sudah dilarang terbit oleh pemerintah Hindia Belanda, karena menganggap isi Medan Rakyat menghasut rakyat menentang pemerintah Hindia Belanda.

 

2)  Barisan Kita

Barisan Kita terbit di Payakumbuh di bawah pimpinan Fachruddin Hs, pada tahun 1932. Tetapi Barisan Kita tidak sampai berumur satu tahun, karena sudah dilarang pula penerbitannya oleh pemerintah Hindia Belanda dengan alasan yang sama dengan Medan Rakyat.

 

3)  Kris 

Kris terbit di Bukittinggi pada tahun 1932 di bawah pimpinan Saiburahman dan H. lbrahim Rahman. Usia Kris sempat mencapai dua tahun sebelum dilarang oleh pemerintah Belanda. Alasan tidak boleh terbit adalah karena berita-berita Kris dianggap Belanda sangat membahayakan kedudukan mereka, khususnya di Sumatera Barat.

 

Di samping surat kabar yang diterbitkan Permi sebagai organisasi Politik, sekolah dan organisasi yang berada di bawah naungan Permi juga menerbitkan surat kabar sepertibenkut ;

 

a)  Medan Putri

Medan Putri terbit di Bukittinggi pada tahun 1932 di bawah pimpinan Syamsidar Yahya, yang diterbitkan oleh pengurus Normal Islam Putri di Bukittinggi. Tetapi pada tahun 1934 Medan Putri terpaksa pula gulung tikar.

 

b)  Semangat Muda

Semangat Muda terbit di Padang pada tahun 1932 diusahakan oleh pelajar Islamic College dibawah pimpinan Tamar Jaya. Semangat Muda hidup agak lama dari surat kabar lainnya, sesudah Permi dibubarkan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1937, Semangat Muda berganti nama dengan Raya dan oleh karenanya masih dapat hidup beberapa tahun lagi.

 

c)  Pahlawan Muda

Pahlawan Muda terbit pada tahun 1932 di bawah pimpinan Syafei dan diterbitkan oleh Himpunan Pemuda Islam Indonesia. Pada akhir tahun 1932 itu juga Pahlawan Muda berganti nama dan berubah menjadi majalah bulanan.

 

Dengan media massa itulah Permi dan beberapa organisasi yang berada di bawah naungannya menyampaikan gagasan perjuangan mereka kepada masyarakat Sumatera Barat. Mereka berusaha menyadarkan rakyat untuk berjuang dalam pergerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan. Dengan alasan Permi menghasut rakyat Sumatera Barat untuk memberontak, maka seluruh surat kabar dan majalah yang berada di bawah naungannya ditutup oleh Belanda.

 

Karena tindakan pemimpinan Permi yang radikal maka pemerintah Belanda mulai mengawasi kegiatan Permi, baik di bidang pendidikan maupun di bidang politik. Pada tanggal 27 Desember 1932 Rasuna Said sebagai salah seorang tokoh pimpinan Permi ditangkap dan dipenjarakan oleh Pemerintah Hindia Belanda, karena dituduh menghasut rakyat dengan pidatonya. Selanjutnya Rasimah Ismail, Fatimah HM, Ratna Sari, Ali Nurdin Kimin ditangkap dan dipenjarakan pula oleh Belanda, dan mereka adalah tokoh Permi yang aktif bergerak di bidang politik. Tahun berikutnya Mukhtar Lutfi, H. llyas Yakub, dan H. Jalaluddin Thaib juga ditangkap Belanda dan tahun berikutnya mereka dibuang ke Boven Digul bersama pimpinan pergerakan lainnya. Beberapa guru Thawalib dilarang mengajar oleh Belanda, seperti Zainal Abidin Ahmad, Burhanuddin Sutan Pamuncak, Burhan, dan TM Jamaris. Pimpinan Permi selanjutnya dipegang oleh H. Syuib el-Yunusi, kemudian diganti oleh HMD Datuk Palimo Kayo. Walaupun Permi masih dibiarkan hidup oleh pemerintah Belanda, tetapi pada tahun 1933 itu semua kegiatan Permi dilarang oleh pemerintah Belanda. Tetapi karena Permi di bawah pimpinan HMD Datuk Palimo Kayo masih melakukan kegiatannya, maka pada tahun 1935 HMD Datuk Palimo Kayo ditangkap oleh pemerintah Belanda dan pada tahun 1937 Permi dibubarkan.

 

j.  INS Kayutanam

1)  Dasar Pendidikan INS

INS Kayutanam didirikan pada tanggal 31 Oktober 192618), sebagai reaksi terhadap sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda.

 

Reaksi yang demikian di Sumatera Barat juga menunjukkan dirinya dengan nyata dalam berbagai gerakan. INS Kayutanam adalah merupakan salah satu bentuk gerakan tersebut, yang lahir sebagai reaksi bangsa Indonesia di Sumatera Barat melalui M. Syafei dalam bidang pendidikan.19)

 

M. Syafei mempunyai pandangan bahwa Pergerakan Nasional Indonesia hanya akan berhasil mencapai tujuannya dengan cepat dan tepat, karena Kemerdekaan tidak mungkin diperoleh dengan beberapa orang pemimpin saja, tetapi harus didukung oleh seluruh rakyat. Oleh karena itu, rakyat juga harus ikut berjuang dan supaya perjuangan dapat mencapai tujuan, maka rakyat perlu ditingkatkan kecerdasannya. Untuk meningkatkan kecerdasan rakyat, pendidikan harus ditingkatkan pula, yaitu pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perjuangan mencapai Indonesia Merdeka.

 

Dalam hal ini M. Syafei mengatakan sebagai berikut:

"....... kami mendapat keyakinan bahwa partai politik baru kuat, kalau anggota-anggotanya mempunyai idiologi politik, kalau tidak demikian tidak akan bisa menghadapi penjajahan dengan baik. Keyakinan ini mendorong kami untuk mendirikan perguruan, dimana dilakukan pembentukan kader-kader untuk gerakan Nasional Indonesia, mencapai tujuan, yaitu Kemerdekaan."20)

 

Walaupun keyakinan M. Syafei ini dikemukakan sesudah 40 tahun didirikannya INS, tetapi hal tersebut dapat dipegang sebagai suatu keyakinan M. Syafei yang menjadi dasar untuk mendirikan INS pada tahun 1926.

 

Keyakinan INS Kayutanam yang selalu dipegang teguh oleh M. Syafei dalam melola INS dari tahun ke tahun, dengan rasa

 

a) Mendidik rakyat kearahkemerdekaan.

b) Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

c) Mendidik pemuda-pemuda supaya berguna bagi masyarakat.

d) Menanamkan kepercayaan pada diri sendiri dan berani bertanggungjawab.

e) Tidak mau menerima bantuan yang mengikat. 21)

 

Semboyan M. Syafei adalah "cari sendiri dan kerja sendiri.22)

 

Tujuan pertama dari INS yaitu mendidik rakyat kearah kemerdekaan, merupakan landasan keyakinan M. Syafei untuk mendirikan INS. Apabila rakyat Indonesia telah mengerti arti kemerdekaan dan dapat melihat kehidupan rakyat terjajah, maka mereka akan ikut secara sadar dalam setiap gerakan mencapai Indonesia Merdeka. Melalui pendidikan rakyat dapat mempunyai idiologi politik dan dapat mengetahui sasaran untuk diperjuangkan. Pendidikan kemerdekaan yang diberikan M. Syafei melalui INS adalah kemerdekaan dalam arti yang luas, yaitu kemerdekaan berfikir, berbuat, menentukan pilihan,dan berpikir berdasarkan kenyataan.

 

INS juga memberikan pendidikan yang sesuai dengan masyarakat, yang bertentangan dengan tujuan pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang hanya ingin mendapatkan tenaga terdidik yang murah untuk kepentingan mereka. M. Syafei menyadari, walaupun jumlah sekolah banyak didirikan Belanda, tetapi pada hakekatnya adalah untuk kepentingan mereka. Cara tradisional dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tujuan intelektualistis semata, tidaklah sesuai dengan perkembangan jiwa anak Indonesia. Sistem tersebut hanya akan mendidik anak Indonesia menjadi robot pemerintah Hindia Belanda yang melaksanakan kepentingan Belanda di Indonesia. Otak anak didik hanya diisi dengan bermacam pengetahuan yang kegunaannya bagi kehidupan masyarakat Indonesia belum tentu manfaatnya.  Dasar pendidikan tersebut jauh berbeda dengan kenyataan hidup masyarakat Indonesia,  pendidikan  yang diselenggarakan  Belanda tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Hal inilah yang akan diubah oleh M. Syafei melalui INS.

 

Bahan pelajaran yang diberikan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang hidup dalam masyarakat Indonesia, di samping terori yang mendasari ilmu pengetahuan tersebut, prakteknya diberikan dengan seimbang. Dengan demikian apabila tingkatan teori kurang tinggi dapat diimbangi oleh praktek yang baik. Dengan dasar pandangan yang demikian INS melaksanakan secara seimbang antara teori dan praktek dengan tujuan akhir diletakkan pada kemampuan untuk melaksanakan teori tersebut sesuai dengan kenyataan yang hidup dalam masyarakat. Di samping itu pelajaran diberikan sesuai dengan harus dipupuk dengan baik dan diberikan latihan yang sesuai supaya dapat dikembangkan secara optimal.

 

M. Syafei ingin menghilangkan penyakit pendidikan pada waktu itu, yaitu verbalisme.

 

Verbalisme dalam pendidikan akan menghasilkan anak ibarat orang membuat kue, bagaimana bentuk cetakannya begitulah bentuk kuenya. Sistem pendidikan yang begini akan menghasilkan manusia yang sempit alam fikirannya atau akan menghasilkan anak didik yang serba tanggung menghadapi kehidupan masyarakat dan pendidikan yang demikian tidak berguna dan tidak dibutuhkan masyarakat. Anak didik dilatih dengan bekerja sambil belajar, kecerdasan berpikir anak didik dengan cara ini dapat dikembangkan seluas-luasnya, karena mereka dibiasakan bekerja dengan teratur, intensif, dan kreatif. Penyakit verbalisme dapat dihilangkan secara berangsur, sehingga setiap pendidikan bermanfaat bagi masyarakat.

 

Tujuan lain INS yaitu menanamkan kepercayaan pada diri sendiri dan berani bertanggung jawab, merupakan tujuan pendidikan INS yang penting bagi masyarakat Indonesia pada waktu itu. Sistem ini akan memupuk kepribadian anak didik dengan kepribadian Indonesia, bukan kepribadian Barat. Anak didik akan mempunyai jiwa yang dinamis, percaya pada diri sendiri, berani berbuat, dan berani bertanggung jawab. Dengan tujuan ini M. Syafei akan membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat Indonesia.

 

INS berusaha mendidik supaya anak dapat berdiri sendiri dalam keadaan yang bagaimanapun. Tujuan ini merupakan reaksi langsung terhadap sistem pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang selalu membuat hasil didikannya tergantung kepada mereka.

 

Segala bantuan yang akan mengikat tidak boleh diterima, karena kerja sendiri, dan usaha sendiri. Untuk mencapai tujuan tersebut dilaksanakan dengan sistem belajar sambil bekerja. M. Syafei berusaha membangkitkan watak yang baik terhadap anak didiknya di samping aktif, kreatif dan efisien dalam bekerja. Bahan serta alat pelajaran diambilkan dari lingklingan dan mudah memperolehnya. Anak didik dibiasakan bekerja dengan alat sederhana untuk mencapai tujuan pendidikan.

 

Kenyataan yang berlaku pada waktu itu dalam dunia pendidikan yaitu pendidikan yang bersifat umum dan intelektualistis, hanya mementingkan kecerdasan otak semata dan kurang memperhatikan serta membina bakat yang dimiliki anak didik. Terpengaruh oleh cita-cita Dewey dengan pragmatisme dan Kerschensteiner dengan Arbeitschule serta didorong oleh keinginan Sendiri bahwa Tuhan tidak sia-sia menjadikan manusia dan alam lainnya, maka segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia mesti berguna sesuai dengan kodrat kejadian bumi dan isinya oleh Tuhan. Kalau sekiranya manusia dan alam lainnya itu tidak berguna, hal itu disebabkan karena manusia itu sendiri yang tidak pandai mempergunakannya.23)

 

Dasar dan tujuan pendidikan INS dapat dilihat beberapa hal penting:

1)  INS jelas bersifat nasional dan tujuan akhir yang hendak dicapai ialah dapat berdiri sendiri tanpa perlu mendapat bantuan dari siapapun.

2)  M. Syafei adalah seorang pendidik sejati, karena dari dasar dan tujuan pendidikan INS jelas terlihat cita-cita pedagogisnya. M. Syafei secara demokratis ingin memberi kesempatan kepada anak didiknya untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya masing-masing yang telah ditentukan oleh bakat dan pembawaan anak tersebut. Melalui pertumbuhan dan perkembangannya anak didik tersebut dapat berdiri sendiri tanpa tergantung dari orang lain.24)

3)  INS lahir sebagai reaksi M. Syafei terhadap sistem pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Hindia Belanda yang tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia.

4)  Sistem pendidikan INS merupakan sistem yang sesuai untuk masyarakat Indonesia.

 

Berdasarkan pandangan dan tujuan pendidikan tersebut diatas, M. Syafei mendirikan ruang pendidikannya di Kayutanam yang terletak kira-kira 55 km dari sebelah utara Padang. Ruang pendidikan itu diberi nama dengan  "Indonesische Nederlandsche School "(INS).

 

Nama INS ini dipertahankan terus sampai sekarang. Waktu Jepang menduduki Indonesia nama INS tetap bertahan walaupun dengan mengalami perubahan seperti "Indonesia Nippon Sekolah". Di zaman kemerdekaan Indonesia kepanjangannya berubah lagi dengan "Indonesia Nationale School" dengan singkatannya INS. Sekarang ini orang lebih mengenal  nama singkatan  dari  nama lengkapnya dengan menambahkan kata Kayutanam di belakangnya, yaitu INS Kayutanam,25) walaupun INS lain tidak ada lagi di Indonesia.

 

Dipilihnya Kayutanam sebagai pusat pendidikan INS bukanlah suatu hal yang kebetulan saja, tetapi memang telah dipilih dengan sengaja. Alamnya sangat baik untuk menyelenggarakan pendidikan, udaranya sedang tidak dingin seperti Padang Panjang dan tidak panas seperti Padang. Disamping itu Kayutanam merupakan sebuah daerah yang tenang, jauh dari kesibukan kota. Suasana yang tenang merupakan salah satu kondisi yang dapat menunjang keberhasilan pendidikan. Ketenangan Kayutanam bukanlah merupakan ketenangan yang mati, melainkan merupakan sebuah ketenangan yang hidup, karena terletak di tengah lalu lintas antara Bukittinggi dan Padang.  Waktu itu lalu lintas dilaksanakan dengan kereta api, dan melalui jalur lalu lintas inilah suasana kehidupan dibawa ke Kayutanam, terutama untuk kehidupan pendidikan, dalam ketenangan terdapat dinamika kehidupan.

   

2) Sejarah Singkat INS Kayutanam

 

Membicarakan sejarah INS tidak terlepas dari sejarah pendirinya, karena antara keduanya erat hubungannya.

 

M. Syafei lahir pada tahun 1899, anak Marah Sutan seorang guru dan pengarang. Mula-mula M. Syafei belajar di Sekolah guru di Bukittinggi, kemudian setelah tamat dia bekerja sebagai guru pada Sekolah Kartini di Jakarta selama 6 tahun.

 

M. Syafei tidak menyukai pendidikan kolonial yang sedang berjalan pada waktu itu dan berkeinginan untuk mengubahnya sehingga sesuai dengan Indonesia, untuk dapat melakukan perubahan harus menambah ilmu pengetahuan. Untuk menambah ilmu pengetahuan tak mungkin dilakukan di Jakarta dengan orang kolonial yang tidak disukainya. Karena itu dia ingin pergi ke negeri Belanda sebagai pusat pengetahuan orang kolonial di Indonesia, karena belajar di sana lebih bebas dari di Jakarta.

 

Tanggal 21 Mei 1922 M. Syafei pergi ke negeri Belanda untuk belajar di bidang seni musik, menggambar, pekerjaan tangan, seni drama dan lain-lain. Selama di negeri Belanda dia berkesempatan pula mengunjungi negara Eropa lainnya dalam rangka menambah pengetahuan di bidang pendidikan.

 

Di samping belajar ke negeri Belanda, M. Syafei mendapat tugas khusus dari ayahnya untuk menyelidiki dan mengetahui di mana letak kekuatan bangsa Belanda yang dapat menguasai Indonesia. M. Syafei di negeri Belanda, selama 4 tahun 7 bulan dengan memperoleh ijazah dalam 4 bidang, yaitu Guru Eropa, Menggambar, Pekerjaan Tangan, dan Musik. Bulan September 1926 dia kembali ke Indonesia dan pada bulan berikutnya, yaitu tanggal 31 Oktober 1926 sudah mendirikan INS di Kayutanam.

 

INS pada mulanya berasal dari sekolah yang diasuh oleh organisasi Pegawai Kereta Api dan Tambang Ombilin, sekolah ini bertempat di Kayutanam. Pada sekolah inilah M. Syafei bersama dengan ayahnya, Marah Sutan, melaksanakan gagasannya di bidang pendidikan, dan Sekolah Pegawai Kereta Api itulah yang dijadikannya INS.

 

INS dimulai dengan 75 orang murid dengan dua kelas dan gurunya adalah M. Syafei sendiri. Perlengkapan sekolah masih kurang, meja dan kursi untuk guru dan murid tidak cukup, tetapi hal tersebut bagi M. Syafei bukan masalah berat. Yang penting ada murid dan ada kemauan untuk belajar dan bekerja, semua alat dan keperluan sekolah dan pelajaran sederhana sekali. Jika bangku tidak cukup murid bersila saja di atas tikar,  bahan yang dipergunakan membuat alat itu diambil dari alam sekitarnya.

 

Berkat kerja keras M. Syafei bersama muridnya, INS mulai berkembang, tahun 1932, pekarangan INS sudah mencapai luas 462 M2, dan dua tahun kemudian sudah menjadi 2.310 m2

 

Walaupun sampai tahun 1934 INS dapat dikembangkan secara pisik, tetapi M. Syafei sendiri belum puas dengan letak INS pada waktu itu, yaitu di tengah kesibukan pasar Kayutanam. Oleh karena itu, M. Syafei bermaksud memindahkannya ke tempat yang lebih tenang dan itulah sebabnya pada tahun 1935 M. Syafei membeli tanah di Pelabihan seluas 18 bau (= 106.447,35 m2) yang terletak kira-kira 3 km dari pasar Kayutanam, dan begitu tanah dibeli maka usaha pemindahan INS segera dimulai. Demikian giatnya usaha pemindahan ini dilakukan, maka pada ulang tahun INS yang ke-10 sudah dapat dilaksanakan pada kompleksnya yang baru dan setahun kemudian INS sudah pindah semuanya ke Pelabihan.

 

Pada tahun 1937 INS sudah memiliki : 3 buah rumah guru, sebuah asrama dengan kapasitas 300 orang murid, 600 orang murid, sebuah ruangan makan, sebuah lapangan tenis, sebuah danau buatan tempat rekreasi dan praktek, sebuah taman bacaan, dan sebuah gedung olah raga.

 

Perkembangan INS mengalami kemajuan yang pesat menurut ukuran waktu itu, segala sesuatunya diusahakan sendiri secara bergotong royong antara guru dan murid. Dana dikumpulkan dari pertunjukan sandiwara, pameran hasil karya murid INS, dan penjualan hasil kerajinan tangan. Prinsip cari sendiri dan usahakan sendiri betul-betul dipraktekan dan dipegang teguh dalam mengembangkan dirinya.

 

Rasa persatuan dan kesatuan dalam tubuh INS kuat sekali dan kompak. Keadaan ini membantu usaha pembangunannya, sehingga tidak ada sesuatu pekerjaan yang dirasakan berat. Dalam pembangunan dan pengembangan dirinya, INS tidak mau menerima tawaran bantuan pemerintah Belanda karena bantuan yang demikian tidak sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh oleh INS selama ini, yaitu tidak mau menerima bantuan yang mengikat, baik mengikat secara material maupun moral. Hanya pemberian yang betul-betul tidak mengikat dan diberikan secara ikhlas yang dapat diterima, walaupun jumlah pemberian itu kecil seperti berbentuk selembar papan, sehelai atap seng, dan sebagainya.

 

Cara kerja yang demikian ditanamkan M. Syafei secara mendasar. Pelajaran tidak hanya diberikan pada jam pelajaran saja, tetapi juga dalam setiap kesempatan di luar jam pelajaran melalui perbuatan nyata.

 

Contoh dengan perbuatan, lebih baik untuk membentuk watak anak didik dan pada berteori saja di depan kelas. Alumni INS kemudian menjadi orang yang penuh pengalaman dan membantu untuk hidup mandiri di tengah masyarakat. Supaya INS menjadi milik masyarakat, maka pada tahun 1937 INS diwakafkan kepada masyarakat di hadapan notaris. Dengan demikian INS jelas tidak merupakan milik pribadi M. Syafei yang dapat diwariskan seperti harta pusaka lainnya di Sumatera Barat. Anak kemenakannya tidak akan dapat menuntut di kemudian hari, karena telah diserahkan menjadi milik masyarakat. Hanya saja selama M. Syafei masih hidup dialah yang akan memimpin terus.

 

Penyerahan INS kepada masyarakat menunjukkan pandangan M. Syafei mengenai pembahagian harta waris. Di Sumatera Barat harta dibagi dua, yaitu harta pusaka dan harta pencaharian. Harta pusaka merupakan milik bersama suatu kaum dan diwariskan kepada kemenakan sedangkan harta pencaharian merupakan milik suami istri yang bersangkutan dan boleh diwariskan kepada anak. Sehubungan dengan pembahagian harta waris itulah yang ditakutkan oleh M. Syafei, karena INS merupakan jerih payahnya bersama ayah angkatnya, jadi, dapat dianggap sebagai harta pencaharian yang dapat diwarisi oleh kemenakan  maupun anaknya.  Supaya jangan terjadi silang sengketa di kemudian hari antara keluarga yang ditinggalkan, maka INS disumbangkan kepada masyarakat secara intensif dan aktif. Pada masa sesudah tahun 1940 INS mengalami banyak halangan dan rintangan sehubungan dengan perkembangan situasi politik dunia.

 

Sebelum Jepang masuk ke Sumatera Barat komplek INS sudah diduduki oleh Belanda dan dijadikan basis pertahanan untuk menghadapi Balatentara Jepang yang datang dari arah utara. Akibat pendudukan tersebut INS tidak dapat menyelenggarakan pelajaran dan kegiatannya terhenti sama sekali, dan mulailah masa suram bagi INS.

 

Kegiatan INS dapat dihidupkan kembali sesudah Jepang menduduki Sumatera Barat di awal tahun 1942, tetapi keadaan INS sudah parah, beberapa bangunan mengalami kerusakan berat akibat pendudukan tentara Belanda sebelumnya. Walaupun Jepang mengizinkan dibukanya kembali INS, tetapi mereka mempergunakan tempat tersebut sebagai tempat latihan tentaranya. Dengan demikian INS belum dapat juga menyelenggarakan pendidikannya dengan tenang, karena terganggu latihan militer Jepang.

 

Pada waktu Jepang menduduki Sumatera Barat INS tidak jalan karena rakyat diwajibkan menjalankan hal yang menguntungkan kepentingan perang Jepang, seperti bergotong royong menanam jarak, jagung, ubi dan sebagainya yang semua hasilnya harus diserahkan kepada Jepang. Disamping itu kehidupan rakyat pada urnumnya menderita dan sengsara, orang tidak sanggup buat menyediakan biaya untuk ongkos sekolah anaknya. Dengan demikian jumlah murid INS sangat berkurang, dan prinsip INS yang dipegang teguh sejak semula tetap dijalankan, yaitu tidak mau menerima bantuan dari siapa juga,walaupun dari Jepang yang sedang berkuasa.

 

Hampir seluruh bangunan INS mengalami kerusakan berat dan tidak sempat diperbaiki karena keadaan tidak mengijinkan.

 

Sesudah Jepang kalah INS mulai bergerak kembali dengan memperbaiki kembali bangunan yang rusak. Pada waktu awal kemerdekaan sukar mengumpulkan biaya karena semua daya dicurahkan untuk menghadapi musuh.

 

Karena keadaan INS belum dapat diperbaiki sesudah kemerdekaan, maka M. Syafei berusaha mengalihkan kegiatannya ke Padang Panjang dengan mendirikan Ruang Pendidikan dan Pengajaran (RPPK). Seluruh peralatan diambilkan dari peralatan INS yang masih dapat dipakai. M. Syafei hanya dapat memusatkan  kegiatannya sebelum terjadi "class" dengan Belanda.

 

Pada waktu terjadi Agresi II Belanda, INS dibumi hanguskan pada tahun 1948, sewaktu kekuatan pihak Belanda tidak dapat ditahan lagi. M. Syafei terpaksa menyetujui walaupun dengan perasaan yang berat, demi untuk kepentingan bangsa. Sewaktu tentara Belanda menduduki Kayutanam dan INS, maka musibah yang menimpa INS makin bertambah. INS sebagai pusat kekuatan Belanda di Kayutanam harus digempur oleh tentara Republik, sehingga kerusakan INS makin bertambah. Di samping itu bangunan RPPK di Padang Panjang juga mengalami nasib yang sama.

 

Kehancuran pisik INS tidak ikut menghancurkan cita-cita yang terkandung di dalamnya. Sewaktu Belanda menyerahkan kedaulatan Indonesia kembali pada tahun 1950, dimulai membangun kembali reruntuhan INS dimulai dengan 30 orang murid laki-laki dan 16 orang murid wanita. Karena melihat keadaan muridnya pada waktu itu, M. Syafei bersedia menerima bantuan Pemerintah Indonesia sebesar Rp. 75,- untuk setiap murid INS. Penerimaan bantuan ini tidak melanggar prinsip INS, karena yang memberikan bantuan adalah Pemerintah Indonesia dan tidak mengikat.

 

Pada tanggal 31 Oktober 1952 INS dijadikan SGB Pemerintah Istimewa di bawah pimpinan M. Syafei, karena sistem yang berlaku pada SGB itu agak berlainan dengan SGB lainnya, walaupun sama-sama negeri. Ciri-ciri khas INS jelas terlihat pada SGB Istimewa itu.

 

Pada tahun 1952 INS mendirikan Percetakan Sridharma dan majalah Sendi merupakan terbitan bulanan di bawah pimpinan M. Syafei, yang membawa cita-cita M. Syafei di bidang pendidikan dengan Ruang Pendidikan INS Kayutanam. Majalah ini merupakan usaha M. Syafei untuk lebih cepat menyebarluaskan gagasan pendidikannya ke tengah masyarakat.

 

Pada tahun 1953, atas desakan dari Gubernur Sumatera Tengah waktu itu, Ruslan Mulyoharjo, INS mendapat bantuan sebanyak Rp. 125.000,- dari Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Dengan bantuan uang tersebut INS membangun kembali dengan kemampuan yang masih terbatas itu.

 

Pada tahun 1957 M. Syafei bersama beberapa orang pengasuh INS mengungsi ke pedalaman Sumatera Barat sehubungan dengan terjadinya peristiwa PRRI. Mulai tahun tersebut sampai tahun 1966 merupakan masa yang suram dalam sejarah INS, karena selama hampir delapan tahun INS tidak terpelihara dan terlantar. Walaupun peristiwa PRRI hanya berjalan beberapa tahun saja, tetapi INS selama 8 tahun tidak dapat bergerak. Walaupun kemauan untuk bergerak dari para pengasuh INS masih tetap ada, tetapi kesempatan untuk itu belum ada. Pada tahun 1967 M. Syafei kembali ke Kayutanam dan mulai membenahi bekas reruntuhan INS.

 

Supaya INS dapat dibangun secara menyeluruh, maka M. Syafei pergi ke Jakarta untuk mencari dana. Dengan izin pemerintah M. Syafei menghubungi NOVIB (Nederlandsche Organisatie Voor ln ternational Bijstand) di negeri Belanda. Tetapi sayang sebelum bantuan NOVIB datang, pada tanggal 5 Maret 1969 M.Syafei meninggal dunia.

 

Walaupun M. Syafei sudah tiada, namun cita-citanya  tetap  diteruskan  oleh  penggantinya  A. Hamid. Sedangkan di Jakarta, di mana banyak terdapat alumni INS sudah dibentuk pula sebuah Yayasan yang bernama Yayasan Penyantunan Cita-cita Pendidikan INS Kayutanam dengan anggota pengurus sebagai berikut:

 

Ketua Umum          :  Chaidir

Ketua I                 :  KoloneI Noor Nasutioan

Ketua II                :  Anwar Nurin

Ketua III               :  Mayor Lat MasfarJamin

Sekretaris I            :  Drs. B. Ridwan Lintang

Sekretaris II           :  Abwar Syam

Bendahara I           :  D. Jalins

Bendahara II          :  Drs. Yanuar Yunus

Pembantu Umum I   :  Drs. Yunus Akbar

Pembantu Umum II  :  Hasan Basri

Pembantu Umum III :  L. Mainuras

Pengawas              :  Nasrun A.S, Anwar Tamin, Drs. M. Said 26)

 

Melalui usaha Yayasan .tersebut pada tanggal 9 Februari 1971 Direktur NOVIB, Van Vlijmen memberikan bantuan sebanyak seratus juta rupiah dalam jangka 4 tahun. Mulai tahun itu juga pembangunan INS sudah dilaksanakan. Pada tahun 1980 INS sudah berjalan kembali sebagaimana biasa dan pembangunannya dilajutkan terus dengan bantuan Pemerintah Republik Indonesia. Sekarang dapat dilihat di Pelabihan Kayutanam sebuah kampus INS berdiri dengan megahnya.

 

3) Sistem Pendidikan INS

 

Prinsip pertama yang dipegang teguh oleh M. Syafei dalam pendidikannya adalah "belajar, bekerja, dan berbuat". Apabila murid hanya mendengarkan saja ilmu pengetahuan yang diajarkan guru melalui kata-kata yang kadang-kadang tidak dimengerti,  tidak  akan  berguna bagi  murid  karena mereka tidak tahu dan tidak akan pandai mempergunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya atau untuk memperbaiki tingkat kehidupannya kelak di kemudian hari sesudah tamat belajar. Murid hanya akan dipenuhi oleh bermacam pengetahuan yang tinggi dan muluk-muluk, tetapi apabila sudah memasuki kehidupan masyarakat yang sesungguhnya mereka akan bingung dan serba tanggung, sebab mereka tidak pandai mempergunakan ilmu yang banyak mereka miliki itu. Dengan demikian ilmu yang, telah diperoleh tidak bermanfaat bagi murid, dan orang lain, ibarat sepotong emas yang terbenam di dalam lumpur.

 

Sistem pendidikan yang demikian hanya akan membuat murid menjadi orang suka meniru, karena sudah dibiasakan barang siapa yang pandai menirukan apa yang dikatakan gurunya, dialah yang akan mendapatkan nilai yang tinggi atau dianggap tinggi prestasinya. Orang yang berprestasi demikian di dalam kelas, dalam masyarakat belum tentu berhasil.  Pendidikan yang demikian akan melahirkan bangsa yang suka meniru tanpa berpikir dan bangsa itu tidak akan dapat menjadi bangsa yang besar. Bangsa yang demikian tergantung hidupnya terhadap bangsa lain, tidak dapat mengambil inisiatif sendiri.

 

M. Syafei menghendaki supaya pendidikan itu didapat melalui pengalaman yang terus-menerus untuk dapat membentuk kebiasaan. Supaya kebiasaan yang akan diperoleh murid sesuai dengan yang diharapkan, maka pendidikan yang akan dialaminya itulah yang diarahkan. Kurikulum sekolah harus disesuaikan dengan kebiasaan murid yang diharapkan itu. Kebiasaan yang sudah  membaku  pada  diri seorang murid, menyebabkan mereka terbiasa pula berpikir secara terpola, karena kebiasaan yang sudah membaku itu diperdapatnya melalui pengalaman yang sudah direncanakan terlebih dahulu. Jadi, dengan memberikan pengalaman dengan berulang-ulang akan menimbulkan kebiasaan dan kebiasaan ini akan menimbulkan cara berpikir yang lebih aktif, karena pikirannya sudah biasa dilatih melalui pengalaman yang terarah secara terus-menerus.

 

Supaya anak berpikir secara aktif dan kritis, bagi M. Syafei nilai anak didiknya tidak menjadi masalah yang nomor satu. Yang diutamakan adalah bagaimana proses kerja untuk mencapai hasil tersebut. Melalui pengalaman suatu proses kerja yang telah dilalui dan diketahui dengan baik dapat pula dipergunakan untuk mengerjakan hal lain yang sejenis. Lebih diharapkan apabila proses kerjanya baik dan hasil kerjanya juga baik. Dengan demikian M. Syafei mempergunakan dalam sistem pendidikannya proses kerja yang baik dengan hasil yang baik.

 

Pengalaman, kebiasaan, dan berpikir aktif serta kritis yang paling tepat dilatih melalui pekerjaan tangan kata M. Syafei, bukan dengan pelajaran yang melulu mengutamakan teori saja.

 

Pekerjaan tangan dapat diberikan dalam berbagai-bagai bentuk dan cara, seperti menggambar, kerajinan tangan, bertukang, dan sebagainya. Tentu saja pemberiannya kepada murid harus dilihat tingkatan umurnya, makin rendah umur murid makin rendah dan sederhana tingkat kesukaran pekerjaan tangan yang diberikan kepadanya.

 

Menurut M. Syafei pada setiap manusia terdapat tiga hal pokok yang dapat dikembangkan untuk mendidik manusia itu ke arah yang dikehendaki, yaitu: melihat (45%), mendengar (25%) dan bergerak (35%). Apabila melihat saja yang dilatih selama masa pendidikan, murid akan merupakan orang yang tidak berdaya dalam kehidupan masyarakat di kemudian hari, karena mereka tidak akan dapat berbuat. Begitu juga dengan mendengar saja, akan membentuk manusia peniru yang baik tanpa kesadaran. Sebaliknya apabila unsur bergerak yang dikembangkan berarti sekaligus ketiga unsur itu dikembangkan, karena untuk dapat bekerja dan berbuat orang harus dapat melihat dan mendengar. Dengan bekerja dan berbuat dalam pendidikan sekaligus dapat mengembangkan seluruh pancainderanya dengan aktif.

 

Dalam sistem pendidikan semacam ini tugas guru hanya sebagai pengontrol saja sesudah memberi tahukan bagaimana proses mengerjakannya, sedangkan dalam proses pengerjaannya seluruhnya tergantung kepada aktifitas murid sendiri. Murid diberikan kebebasan untuk mengerjakan, boleh sama dengan yang diajarkan guru dan boleh juga berbeda samasekali. Yang penting adalah bahwa proses pengerjaannya harus benar dan tepat. Dengan demikian murid akan terbiasa bekerja secara aktif, efektif, dan efisien mengingat waktu yang diberikan untuk mengerjakan sesuatu terbatas.

 

Dengan sistem yang demikian M. Syafei berusaha menanamkan watak yang teguh dan pendirian yang kuat terhadap murid-muridnya serta merupakan pekerja yang ulet dan pantang menyerah. Hal demikianlah yang menyebabkan tamatan INS selalu berhasil dalam setiap bidang usahanya dalam masyarakat.

 

Pengalaman yang diberikan M. Syafei terhadap anak didiknya bukan saja dalam proses belajar mengajar, tetapi juga dalam setiap kegiatan murid selama mereka belajar di INS. Proses belajar sudah dimulai waktu murid bangun tidur di pagi hari. Dia harus membersihkan tempat tidurnya serapi mungkin sebelum ke luar pergi mandi, selimut harus dilipat, tempat tidur harus dirapikan, dan sesudah itu baru mandi dan sembahyang. Sesudah itu membersihkan kamar dan mempersiapkan sarapan, piring dan gelas harus dicuci sendiri sesudah makan. Dengan demikian ditanamkan pendidikan untuk hidup sendiri, bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah dilakukannya dan dengan sendirinya ikut menjamin ketenteraman hidup orang lain.

 

Dalam pelajaran di sekolah juga dilakukan demikian, misalnya dalam masalah pertukangan. Sebelum murid memulai pelajarannya, mereka harus memeriksa alat pertukangan yang akan dipergunakannya terlebih dahulu, apakah ada yang rusak atau kotor yang akan dapat mengganggu kelancaran pekerjaan/pelajaran, misalnya dalam membuat sebuah kursi. Guru hanya menjelaskan bagaimana cara membuat kursi dan alat apa saja yang dapat dipergunakan serta bagaimana mempergunakan alat tersebut. Mula-mula guru membuat sebuah disain kursi, artinya apa yang mau dikerjakan harus direncanakan terlebih dahulu, tidak boleh asal bekerja saja, karena hasilnya tidak akan baik dan memenuhi kebutuhan. Sesudah itu murid disuruh mengerjakan menurut gambar masing-masing. Yang diutamakan bukanlah hasilnya, tetapi bagaimana proses pengerjaan kursi tersebut dari awal sampai selesai. Guru hanya mengawasi. saja dalam waktu yang telah ditetepkan. Sesudah selesai bekerja murid harus membersihkan alat pertukangannya dan memperbaiki yang rusak sesudah itu disimpan pada tempatnya kembali dengan rapi. Begitu juga dilakukan terhadap mata pelajaran lainnya sesuai dengan sifat dan jenis pekerjaannya.

 

Dengan pengalaman demikian murid bukan saja mendapat pengetahuan teori dan praktek, tetapi juga tentang bagaimana merawat dan memelihara alat yang dipergunakan. Murid dibiasakan membuat rencana, mengetahui pelaksanaannya, dan dapat merawat sesuatu yang mereka kerjakan secara efisien dan praktis. Apabila pengalaman yang demikian sudah menjadi kebiasaan dan mendarah daging dalam kehidupan murid sehari-hari akan sangat membantunya nanti dalam menghadapi kehidupan masyarakat yang sesungguhnya. Kebiasaan yang demikian juga menimbulkan cara berpikir yang teratur pula. Sistem pendidikan INS prinsipnya adalah pendidikan harus diberikan Melalui pengalaman sendiri dan melalui pengalaman itu akan terbentuk kebiasaan yang akan membentuk kepribadian murid yang berwatak teguh dan berpendirian kuat. Kebiasaan itu juga akan membentuk cara berpikir yang terpola. Hal itu semua paling tepat diberikan melalui mata pelajaran pekerjaan tangan dengan bekerja sambil belajar.

 

4.  Jenjang Pendidikan dan Isi Pelajaran

 

a)  Jenjang Pendidikan

 

1)  Ruang Bawah

 

Ruang Bawah merupakan tingkat Sekolah Dasar, lama belajar 7 tahun. Pada tingkat ini pelajaran teori diberikan 75% dari seluruh jam pelajaran, sedangkan yang 25% lagi diisi dengan pelajaran praktek. Perbandingan ini diberikan mengingat bahwa murid tersebut belum sanggup bekerja sambil belajar lebih banyak dari 25% itu, karena mereka masih kecil. Pelajaran bukan saja diberikan pada pagi hari, tetapi juga pada sore hari. Hal ini dapat dilaksanakan dengan mudah karena sebahagian besar murid tinggal di asrama.

 

2)  Ruang Atas

 

Ruang Atas ini merupakan tingkatan sekolah menengah, baik Sekolah Lanjutan Pertama maupun Sekolah Lanjutan Atas, lama pendidikan 6 tahun. INS tidak mempergunakan tingkatan sekolah yang berlaku pada waktu itu, yaitu MULO 3 tahun dan AMS 3 tahun dengan tempat yang terpisah.

 

Pada Ruang Atas ini pelajaran teori dan praktek diberikan sama banyak yaitu 50% dan 50%. Sesudah tamat dari tingkat ini murid tidak melanjutkan lagi, melainkan langsung diterjunkan dalam masyarakat untuk menyumbangkan tenaganya bagi kepentingan masyarakat. Tetapi tidak ada larangan bagi mereka yang berkeingin an melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi walaupun tidak diasuh lagi oleh INS.

 

b)  Isi Pelajaran

 

Menggambar merupakan pelajaran yang sangat penting pada sekolah INS Kayutanam dan tujuan utama dari mata pelajaran menggambar bukanlah untuk menjadikan murid seorang ahli gambar atau pelukis yang pandai, melainkan untuk membuat anak menjadi seorang yang aktif dalam mencipta dan merasa. Pelajaran menggambar diberikan secara bebas tidak terlampau mengikat anak dengan aturan gambar secara kaku. Dengan mengikat murid dengan peraturan yang kaku, inisiatif dan jiwa murid tidak akan berkembang, sedangkan yang akan dikembangkan dengan mata pelajaran menggambar ini adalah masalah aktivitas, inisiatif, dan jiwa yang bebas merdeka. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan memimpin murid ke arah menggambar bebas, bukan untuk menetapkan gambar apa yang akan dibuat murid.

 

Menggambar bebas akan melatih emosi dan spontanitas murid, walaupun hasil gambarnya tidak berapa bagus, tetapi gambar tersebut adalah hasil cipta murid itu sendiri, yang orisinil, bukan jiplakan. Pendidikan dengan cara ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa murid. Mereka akan dapat menjadi manusia yang berwatak teguh serta kuat pendiriannya.

 

Pelajaran menggambar terdiri dari banyak ragamnya, seperti menggambar bebas, menggambar menurut contoh, menggambar di luar kepala, menggambar kerangka, menggambar gelas, kotak, dan sejenisnya, menggambar dengan garis lurus, menggambar dengan cat air, menggambar perspektif, dan sebagainya. Jenis dan macam menggambar itu diberikan kepada murid menurut tingkatan umurnya. Memilih dan menetapkan bahan pelajaran merupakan masalah yang penting, karena jika keliru memberikannya akan dapat memutar balikan tujuan pelajaran, sehingga apa yang ingin dicapai tidak dapat dilaksanakan.

 

Pelajaran musik juga merupakan pelajaran pokok pada INS, pelajaran yang diberikan adalah latihan seni suara, main biola, gitar suling, seni tari, dan latihan sandiwara. Pelajaran musik, sama halnya dengan pelajaran menggambar, diberikan langsung oleh M: Syafei.

 

Pelajaran pekerjaan tangan memegang peranan penting pada INS yang meliputi seluruh mata pelajaran yang ada pada INS, artinya pelajaran teori diberikan tidak terpisah dengan pelajaran praktek. Setiap ada pelajaran teori murid langsung diajarkan pelajaran praktek, karena dalam kehidupan masyarakat nanti justru prakteknya inilah yang sangat membantu murid dalam setiap tindakannya. Pengetahuan antara teori dan praktek harus seimbang. Pada sekolah INS akan terlihat kesibukan yang tinggi dalam bengkel latihan dan ruang kerja lainnya, karena walaupun ditetapkan 50% untuk pekerjaan praktek, tetapi dalam kenyataannya lebih banyak. Anak-anak tidak mau berhenti apabila mereka belum menguasai betul prakteknya itu. Ke dalam pekerjaan tangan termasuk pekerjaan membersihkan kebun, membersihkan halaman sekolah, dan membersihkan sekolah.

 

Hasil pekerjaan tangan ada yang dapat dijual dan hasil penjualan dipergunakan untuk keperluan sekolah. Pendidikan Jasmani atau olah raga tidak kalah pentingnya dengan pelajaran lainnya. Olah raga seperti sepak bola, senam, tenis, renang mendapat perhatian secukupnya dari INS, supaya kondisi anak yang sedang belajar di sana selalu berada dalam keadaan baik.

 

Pelajaran yang tidak kalah pentingnya adalah pelajaran budi pekerti atau kesusilaan. Manusia yang mempunyai pengetahuan dan kecakapan tinggi tanpa memiliki budi yang luhur mungkin tidak akan berguna hidupnya dalam masyarakat, bahkan mungkin mendatangkan Bahaya atau ganguan terhadap masyarakat, sebab ilmu yang dimiliki itu mungkin tidak akan terkontrol oleh jiwanya yang kosong dan budi dan akhlak yang baik. Oleh karena itu, antara pelajaran budi pekerti dengan pelajaran lainnya harus seimbang. Dengan demikian hasil pendidikannya juga akan merupakan manusia yang selaras dan serasi hidupnya dengan lingkungannya.

 

Dari jenjang pendidikan dan isi pelajaran pada INS kelihatan bahwa INS didirikan betul-betul merupakan reaksi terhadap pendidikan kolonial Belanda, semuanya justru bertentangan dengan apa yang dilakukan Belanda. Bahkan M. Syafei telah menciptakan suatu sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia. Dalam hal inilah M. Syafei dapat dikategorikan ke dalam barisan para pencipta, pelopor, pahlawan bangsa Indonesia yang telah menyumbangkan darma bhaktinya untuk kepentingan pembangunan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

 

k. Kerajinan Amai Setia

 

Kerajinan Amai Setia didirikan pada tanggal 1 Pebruari 1912 di Bukittinggi oleh Rohana Kudus, dengan tujuan untuk memberikan pendidikan khusus buat wanita. Pada waktu itu kehidupan wanita Minangkabau hanya di dapur dan bekerja ke luar rumah jarang, karena kurang baik menurut pandangan adat Minangkabau. Wanita hanya buat perhiasan rumah saja dan memberikan anak buat keluarganya, belum ada wanita pada waktu itu yang ikut

bergerak di bidang pendidikan, berdagang, dan pegawai, semua pekerjaan itu dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, pantang menurut adat dilakukan oleh wanita. Wanita waktu itu hanya untuk hidup di lingkungan dan di dalam rumah tangga saja.

 

Keadaan yang demikianlah yang menyebabkan Rohana Kudus tidak dapat berpangku tangan. Dia menginginkan wanita juga harus dapat dan boleh mengerjakan pekerjaan yang selama ini dianggap tidak baik, tidak sopan, pantang dikerjakan oleh wanita, wanita menurut Rohana Kudus mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan laki-laki, hanya saja kepada wanita selama ini tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan  kemampuannya karena sibuk dalam kehidupan keluarga. Pendidikan menurut Rohana Kudus merupakan jalan yang terbaik untuk melaksanakan emansipasi wanita, yang juga berhak mendapat pendidikan yang layak seperti kaum laki-laki.

 

Kerajinan Amai Setia merupakan wadah untuk melaksanakan emansipasi wanita tersebut. Pada waktu itu pekerjaan kerajinan tangan yang diajarkan di luar rumahnya sendiri sudah merupakan suatu keadaan yang luar biasa, karena sebelumnya tidak pernah dibiasakan demikian, apalagi dengan ruang pendidikan Kerajinan Amai Setia yang sengaja dilakukan di luar rumah. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan dari masyarakat sekitarnya, apa yang mereka lakukan beramai-ramai di sana, apakah mereka tidak melakukan hal-hal yang terlarang, orang yang melanggar adat istiadat, dan sebagainya. Pertanyaan itu akhirnya sampai menjadi prasangka yang kurang baik, dugaan berbuat serong, dan fitnahan dari masyarakat sekitarnya. Kalau sekiranya Rohana Kudus tidak mempunyai pendirian yang kuat dan semangat juang yang tinggi serta keuletan berusaha dan bekerja, barangkali usahanya itu sudah ditutup. Untunglah Rohana Kudus merupakan seorang wanita yang tidak kenal menyerah, putus asa, dan pantang mundur. Apapun yang dikatakan orang tentang usahanya itu tidak dimasukkannya dalam hati, bahkan sebaliknya dia berusaha memberikan penjelasan dan  menerangkan maksud usahanya itu kepada orang yang selalu menaruh curiga. Ada beberapa orang tua yang pada mulanya melarang anak gadisnya ikut Kerajinan Amai Setia, tetapi akhirnya mereka terpaksa merelakannya kembali setelah mendapat penjelasan dari Rohana Kudus. Dengan demikian akhirnya usaha Rohana Kudus dapat berjalan juga walaupun pada mulanya mendapat tantangan.

 

Pada Kerajinan Amai Setia diberikan pelajaran kerajinan tangan seperti menjahit, membuat kue, pelajaran agama Islam terutama untuk kaum wanita, yaitu bagaimana seharusnya seorang wanita Islam bertindak dalam masyarakat. Bagi wanita yang ikut Kerajinan Amai Setia menganggap bahwa adat yang kolot dan kaku merupakan penghalang kemajuan manusia, karena sedikit saja keluar dan kebiasaan yang sudah ada sudah dianggap tidak beradat atau melanggar adat. Di samping mengurus rumah tangga wanita hendaknya juga diberi hak untuk mengemukakan pendapatnya mengenai beberapa masalah dalam kampungnya atau nagarinya, karena justru kaum laki-lakilah yang membuat supaya perturan adat dalam nagari tidak boleh dijalankan oleh wanita, pada hal mereka bersama ikut menjalankan atau melaksanakan adat itu.

 

Bagi laki-laki Bukittinggi pelajaran yang diberikan Rohana Kudus dianggap menghasut kaum wanita untuk melawan laki-laki, tetapi bagi Rohana Kudus dengan teman-temannya adalah merupakan suatu usaha untuk memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan wanita.

 

Pendidikan Kerajinan Amai Setia sudah mulai semenjak tahun 1896, di waktu mana Rohana Kudus baru berumur 12 tahun, ia sudah mulai mengajarkan teman-temannya menulis dan membaca dalam bahasa dan huruf Arab dan Latin. Di waktu Rohana berumur 21 tahun ia telah mendirikan Sekolah Gadis di Koto Gadang, Bukittinggi dengan pelajaran utama Kerajinan Wanita, enam tahun kemudian didirikannya Kerajinan Amai Setia. Karena kerasnya kemauan Rohana Kudus Kerajinan Amai Setia yang pada mulanya hanya bersifat kursus saja, akhirnya dapat dijadikan sebuah sekolah khusus buat wanita dengan nama Sekolah Amai Setia.

 

Tahun 1912 dalam usahanya memperjuangkan emansipasi wanita Rohana Kudus mendirikan surat kabar “Soenting Melayu” yang khusus buat wanita dengan Rohana Kudus  bertindak  sebagai  Pemimpin  Redaksi.  Dengan demikian maka Rohana Kudus merupakan wartawan wanita pertama di Indonesia, karena sebelumnya belum ada seorang wartawan wanita Indoesia. Dalam situasi yang demikian, yaitu pada tahun 1912 di mana segala sesuatu masih tabu dilakukan oleh wanita Sumatera Barat, Rohana Kudus sudah dapat mendirikan sebuah sekolah dan sebuah surat kabar dalam usahanya mempertinggi kedudukan dan derajat wanita di tengah masyarakat laki-laki. Walaupun buah pikiran Rohana Kudus belum banyak yang dapat diungkapkan, tetapi dengan keadaan yang sudah diketahui saja rasanya sudah pantas menempatkan Rohana Kudus ke dalam barisan pelopor bangsa.

 

l.  Taman Siswa

 

Taman Siswa didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta dengan nama "National Onderwijs Institut Taman Siswa”27) Tingkat pendidikan yang pertama didirikan adalah Taman Indrya (Taman Kanak-kanaknya Taman Siswa)28).

 

Taman Siswa lahir sebagai perlawanan (reaksi) terhadap Pendidikan Kolonial Belanda29) yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda waktu itu di Indonesia.

 

Taman Siswa menamai cita-cita pendidikannya dengan Pancadharma atau Lima Kewajiban, yaitu Dasar Kodrat Alam, Dasar Kemerdekaan, Dasar Kebudayaan, Dasar Kebangsaan, dan Dasar Kemanusiaan 30)

 

Ketika Pemerintah Hindia Belanda mulai menjalankan Ordonansi Sekolah Liar pada tahun 1932, Taman Siswa mendapat dukungan partai politik dalam menentang Ordonansi tersebut, sehingga perhatian rakyat terhadap Taman Siswa bertambah besar. Mulai semenjak itu sayap Taman Siswa mulai menjalar ke daerah-daerah. Permintaan untuk mendirikan Taman Siswa makin bertambah banyak.

 

Sesudah tahun 1932 itu di Sumatera Barat mulai berdiri cabang Taman Siswa di Sungai Puar, Batusangkar, Bukittinggi,  Payakumbuh,  Bangkinang,  Padang,  Panaman, Kuranji, Talu dan Solok.

 

Pada setiap daerah Taman Siswa dipimpin oleh seorang Wakil Majelis Luhur bersama-sama dengan Majelis Daerah, pada waktu itu Wakil Majelis Luhur di Sumatera Barat adalah Sujanarko. Sebelum Perang Dunia II setiap gerak gerik Taman Siswa di Sumatera Barat selalu diawasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Larangan mengajar dan keluar daerah menjadi hambatan buat kemajuan Taman Siswa di daerah. Inspeksi pemerintah selalu mengawasi dan mendatangi sekolah Taman Siswa dan mereka selalu mencari-cari alasan untuk menindak Taman Siswa. Jika tidak terdapat alasan buat menindak, maka Taman Siswa selalu diburuk-burukkan Belanda dengan mengatakan sekolahnya tidak memenuhi syarat dan selalu dinilai kurang supaya tidak dapat berkembang.

 

Taman Siswa di Sumatera Barat sukar hidupnya karena selalu dihalang-halangi pihak Belanda perkembangannya. Namun demikian, Taman Siswa tetap jalan terus tanpa mengenal takut, karena Taman Siswa didirikan justru untuk mengadakan kontra terhadap sistem pendidikan Hindia Belanda.

 

Setelah Jepang menduduki Sumatera Barat tidak banyak perubahan pada Taman Siswa, karena mempunyai sikap yang keras terhadap sekolah yang ada dengan pengawasan yang ketat dan bahasa Jepang mulai masuk ke dalam tubuh Taman Siswa.

 

Pada zaman perang kemerdekaan banyak sekolah Taman Siswa di Sumatera Barat yang dijadikan Markas Lasykar Rakyat dan Dapur Umum. Hanya beberapa cabang saja yang dapat dibuka, karena kekurangan guru dan murid, yang menghadapi Belanda. Bahkan gedung Taman Siswa di Payakumbuh dijadikan tempat mengibarkan Sang Saka Merah Putih pertama di Payakumbuh.

 

Pada tahun 1950 setelah penyerahan kedaulatan Taman Siswa di Padang dan daerah Sumatera Barat lainnya belum dapat belajar karena ketiadaan gedung sekolah yang tetap. Sebelumnya Taman Siswa selalu berpindah-pindah tempat belajar, karena tempatnya menyewa.

 

Di Padang Taman Siswa mendapat tanah yang resmi dari pemerintah baru pada tahun 1963. Bermodalkan tanah tersebut serta uang bantuan Departemen Sosial dan orang tua murid dapatlah didirikan 6 lokal dan dibukalah kembali bagian Taman Muda. Pada tahun 1965 Taman Siswa Padang menjadi Sekolah Bersubsidi sebagai satu-satunya Perguruan Taman Siswa yang berstatus subsidi sebagai Pilot Proyek dari Majelis Luhur Taman Siswa.

 

Selama 5 tahun yaitu sampai tahun 1970 pembangunan Taman Siswa terhenti karena berbagai kesulitan. Sesudah tahun 1970 itu pembangunan Tanam Siswa Padang dapat dimulai kembali, lebih-ebih setelah bantuan guru Pemerintah mulai datang. Dengan adanya guru negeri tersebut, uang sekolah dari murid dapat dipergunakan untuk keperluan lain terutama untuk pembangunan lokal belajar. Berkat keuletan pimpinan Taman Siswa Padang makin lama makin banyak juga perbaikan yang dapat dilakukan untuk dapat mengembangkan dirinya dengan baik.

 

Perkembangan Taman Siswa sampai tahun 1980 sebagai berikut:

 

Jumlah murid : 2642 orang, Jumlah Pamong : 38 orang tenaga tetap 94 orang tenaga tidak tetap, Jumlah lokal : 48 buah Jenis Sekolah : sebuah Taman Muda (SD) sebuah Taman Dewasa (SMP) sebuah Taman Madya (SMA) sebuah Taman Karya Madya (STM)

 

Mengingat kesulitan tanah dan kebutuhan jumlah lokal belajar yang banyak, maka Taman Siswa Padang mengambil keputusan untuk membangun gedung beitingkat yang pada tahun 1980 dengan 16 lokal sudah selesai dan sedang dilanjutkan untuk menyelesaikan tingkat berikutnya yang akan mencakup sebanyak 64 lokal belajar/ laboratorium/ bengkel/keterampilan elektronika/kantor/aula dengan biaya 160 juta rupiah lebih.

 

Kelihatannya sampai saat ini Taman Siswa mendapat kesukaran untuk membangun Taman Indrya, karena sangat banyaknya Taman Kanak-Kanak yang ada di Padang sedangkan Taman llmu memang belum dibuka dan belum ada rencana membukanya dalam waktu dekat ini 31)

 

m. Training College

 

Kota Payakumbuh tidak ketinggalan pula dalam Usaha Pendidikan Pergerakan Nasional karena pada tahun 1935 di Payakumbuh didirikan sebuah lembaga pendidikan dengan tingkatan pendidikan semi akademi. Dikatakan semi akademi adalah karena calon murid diterima dari tamatan Alliah (SMA Islam) dan yang sederajat sedangkan pendidikannya hanya sampai tingkat Sarjana Muda dengan tidak memberikan ijazah.

 

Tujuan pendidikan Training College antara lain adalah untuk membentuk kader pemimpin masyarakat yang berpengetahuan tingkat tinggi guna segera diterjunkan ke tengah masyarakat sehubungan dengan makin meningkatnya Pergerakan Kemerdekaan Indonesia.

 

Para pendiri Training College melihat bahwa kebanyakan anggota masyarakat tidak mengetahui situasi dan kondisi masyarakat Indonesia pada waktu itu. Apabila keadaan ini dibiarkan terus tidak menunjang perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan. Oleh karena itu rakyat harus dibimbing ke arah yang benar dan disadarkan akan adanya penjajahan Belanda. Untuk mencapai tujuan tersebut harus  dipersiapkan pemimpin yang cakap dan Training College merupakan wadah yang tepat untuk menggodok calon pemimpin masyarakat tersebut.

 

Dengan tujuan yang demikian Training College bukan saja memberikan ilmu pengetahuan yang tinggi kepada muridnya, tetapi juga mendidik para pejuang kemerdekaan yang akan memimpin masyarakat sekitarnya menghadapi penjajahan Belanda. Pendirian Training College ini mendapat sokongan dari masyarakat dan tokoh politik pada waktu itu.  Banyak orang yang datang belajar ke sana, bukan hanya dari daerah  Payakumbuh saja melainkan juga dari daerah Sumatera Barat lainnya.

 

3.   Tokoh dan Pemikirannya.

 

Pada bahagian ini diuraikan riwayat hidup beberapa tokoh pendidik terkenal di Sumatera Barat di mana mereka itu termasuk barisan pelopor dan tokoh pembaharu di bidang pendidikan.

 

Diantara beberapa tokoh itu adalah:

 

a. Syekh Haji Abdullah Ahmad

 

Syekh Abdullah Ahmad lahir pada tahun 1878 di Padang Panjang, yang berasal dari keluarga terkemuka di Padang Panjang dan taat menjalankan agama. Ayahnya bernama H. Ahmad adalah seorang guru pada Pengajian Al-Quran di Padang Panjang, saudara tua ayahnya, Syekh Abdul Halim, seorang ulama Islam yang terkenal waktu itu di Padang Panjang dan Padang.

 

Pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh Syekh Abdullah Ahmad adalah Sekolah Melayu di Padang Panjang, disamping ia mendapat didikan langsung dari ayahnya.

 

Pada tahun 1895 Syekh Abdullah Ahmad pergi ke Mekah menunaikan rukun Haji dan menetap di sana kira-kira selama 4 tahun guna memperdalam ilmunya tentang agama Islam. Di sana dia menuntut ilmu pada Syekh Ahmad Khatib, seorang ulama Besar Islam asal Sumatera Barat yang telah lama bermukim di Mekah.

 

Tahun 1899 Syekh Abdullah Ahmad kembali ke Sumatera Barat dan terus ke Padang Panjang. Tahun 1904 mendirikan Surau Jembatan Besi dan mengajar di sana sebagai guru agama dan pengajian AI-Quran, kemudian Syekh Abdullah Ahmad pindah ke Padang setelah Syekh Abdul Halim meninggal dunia dan menggantikannya sebagai Pengurus Mesjid Ganting.

 

Semenjak kembali dari Mekah pikiran Syekh Abdullah Ahmad sudah penuh dengan cita-cita tentang pendidikan agama Islam yang akan dilaksanakannya di Sumatera Barat. Menurutnya pendidikan Islam yang ada harus diperbaiki. Prinsip yang dipegang adalah bahwa penghidupan masyarakat tidak akan dapat diperbaiki hanya dengan mempelajari llmu Fikih atau ilmu yang hanya mementingkan kehidupan di hari kemudian. Sebelum sampai ke akhirat kita hidup di dunia yang penuh dengan pergolakan kehidupan. Kehidupan di dunia menjadi jerobatan untuk kehidupan di hari kemudian, kehidupan di akhirat tergantung dari amal yang dilakukan selama hidup di dunia.

 

Sistem pendidikan Islam yang sedang dijalankan perlu diperbaiki sehingga dapat bermanfaat dan membantu manusia dalam menanggulangi penghidupan di dunia. Untuk melaksanakan cita-citanya itu Syekh Abdullah Ahmad mengambil contoh kepada cara yang dilakukan orang Belanda yang telah lama berhasil di bidang pendidikan.

 

Dengan pandangan yang demikianlah Syekh Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiah pada tahun 1909 di Padang dengan nama pada waktu itu : "Adabiah School". Untuk memperkuat pembinaan sekolah itu, maka pada tahun 1914 Syekh Abdullah Ahmad mendirikan Serikat Usaha, yaitu suatu badan usaha yang bergerak di bidang "mencari" dan mengumpulkan dana buat Sekolah Adabiah. Disamping itu badan ini juga ikut mengatur bagaimana mata pelajaran umum dan agama diberikan pada Sekolah Adabiah.

 

Atas prakarsa badan ini yang diketuai sendiri oleh Syekh Abdullah Ahmad, pada tahun 1915 Sekolah Adabiah dijadikan HIS Adabiah. Walaupun sudah menjadi HIS yang sama dengan sekolah dasar Hindia Belanda, tetapi pendidikan agama Islam tidak ditinggalkan, karena inilah yang membedakan HIS Adabiah dengan HIS Belanda.

 

Syekh Abdullah Ahmad merupakan salah seorang tokoh pembaharu pendidikan di Sumatera Barat dan betul-betul merupakan seorang pendidik sejati. Dia tidak mau mencampurkan masalah pendidikan dengan masalah politik dan tidak pula menjadi tokoh politik seperti kebanyakan teman-temannya. Oleh karena itu dia dapat dianggap sebagai seorang tokoh pendidik murni.

 

Di samping itu Syekh Abdullah Ahmad mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang Islam beserta ajarannya.

 

Berdasarkan tulisan dan usahanya dalam majalah Al-Munir, Syekh Haji Abdullah Ahmad juga merupakan seorang wartawan kawakan dan pujangga besar di zamannya itu. Syekh Adullah Ahmad adalah penggerak jiwa masyarakat Sumatera Barat menuju pembaharuan di bidang pendidikan. Berkat usaha Syekh Abdullah Ahmad itulah kemudian muncul pemuda Sumatera Barat sebagai pemimpin masyarakat.

 

Cita-cita Syekh Abdullah Ahmad adalah mendirikan sekolah, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat perguruan tinggi yang dikelola berdasarkan pendidikan Islam. Cita-cita itu berdasarkan pada keadaan pendidikan yang berlaku pada waktu itu. Walaupun sekolah gubernemen banyak didirikan pada waktu itu, tetapi kesempatan untuk memasukinya bagi rakyat biasa terbatas.

 

Karena pelaksanaan cita-cita tersebut merupakan pekerjaan besar dan tugas yang berat untuk dijalankan seorang diri, maka Syekh Abdullah Ahmad ingin mengundang seluruh ulama Islam Sumatera Barat untuk membicarakan cita-cita tersebut guna mendapat bantuan sepenuhnya.

 

Pada tahun 1920 diundanglah seluruh ulama Islam yang sefaham dan sejalan untuk mengadakan suatu pertemuan besar guna merealisir cita-citanya tersebut. Dalam pertemuan tanggal 7 Juli 1920 dapat disepakati untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI). Sebagai Ketua PGAI yang baru dibentuk itu terpilih Syekh H. Abdullah Ahmad yang dia pegang sampai saat meninggalnya pada tanggal 25 Nopember 1933. Melalui PGAI, cita-cita Syekh Abdullah Ahmad dilaksanakan. Tetapi karena beberapa kesulitan, sekolah yang dapat didirikan hanya sampai tingkat menengah saja, tingkat perguruan tinggi belum dapat dilaksanakan.

 

Dalam tahun 1926 Syekh Abdullah Ahmad bersama dengan Syekh Abdul Karim Amarullah pergi ke Mesir untuk menghadiri Kongres Islam Sedunia. Selama di Mesir kedua ulama itu mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas AI-Azhar Kairo sebagai pengakuan terhadap keahlian kedua orang itu tentang lslam.32)

 

Sekolah Adabiah sampai sekarang masih berdiri dan berkembang meneruskan cita-cita Syekh Abdullah Ahmad dengan ruang pendidikan sampai Sekolah Menengah Atas di Kota Padang.

 

Adabiah sekarang ini merupakan sekolah bersubsidi yang sangat digemari oleh rakyat Sumatera Barat, karena mutu pendidikannya tidak kalah dengan sekolah negeri. Begitu juga PGAI sampai sekarang masih berjalan dan ikut mengurus sekolah agama di Sumatera Barat, terutama mengenai masalah gurunya.

 

Sebagai tanda penghargaan bagi Syekh Haji Abdullah Ahmad maka bertepatan dengan hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1974 dengan Surat Keputusan No. 4-117/csb/1974 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat memberikan Piagam Penghargaan kepada Dr. Haji Abdullah Ahmad sebagai Pahlawan Daerah yang pernah berjuang pada masa lampau.

 

Sebagai madrasah Adabiah hanya berdiri sampai tahun 1914, karena pada tahun 1915 Adabiah sudah menjadi HIS dengan jenjang pendidikan, kurikulum hampir sama dengan sekolah Belanda, bedanya hanya terletak pada pelajaran Agama Islam yang merupakan ciri khusus.

 

Sekolah Adabiah hanya terbatas di kota Padang saja, tetapi ide pembaharuannya masuk ke seluruh daerah Sumatera Barat.

  

b.  Rohana Kudus

 

Rohana Kudus dilahirkan pada tanggal 28 Desember 1884 di Koto Gadang, Bukittinggi. Ayahnya bernama Muhammad Rasyad Maharaja Sutan yang bekerja sebagai Jurutulis. Rohana Kudus adalah seorang wanita Islam yang taat menjalankan ibadah, dan seorang wanita Minangkabau yang gigih memperjuangkan emansipasi wanita dengan segala usaha yang pada waktu itu mendapat tantangan sangat kuat dari masyarakat Minangkabau. Dia merupakan seorang pendidik yang outodidak yang berusaha memperbaiki kedudukan wanita di tengah masyarakat wanita pada waktu itu dianggap kurang sopan dan kurang baik untuk mengerjakan sesuatu di luar rumah tanpa sepengetahuan keluarganya. Tetapi semua hal tersebut ditembus oleh Rohana Kudus, dia tidak segan memperbaiki adat Minangkabau yang dianggapnya menghambat kemajuan, terutama untuk kemajuan wanita. Menurut adat banyak pekerjaan yang pantang dilakukan wanita, seperti ke luar rumah sendirian, menjadi pegawai, berbincang sesama kaumnya di luar rumah, apalagi ikut mengerjakan pekerjaan yang selama ini dikerjakan oleh laki-laki saja. Wanita dianggap pantas untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja atau dipingit sampai dia kawin untuk mengabdi kepada suaminya. Semua ini ditentang oleh Rohana Kudus dengan beberapa tindakan nyata dalam masyarakat.

 

Dalam usahanya memperjuangkan emansipasi wanita Rohana Kudus banyak mendapat halangan dan rintangan dari masyarakat sekitarnya, bahkan sampai diajukan ke meja hijau dengan tuduhan akan membawa kepada kesesatan, menyebabkan wanita tidak pandai memasak lagi. Dengan mendirikan sekolah Khusus untuk wanita saja sudah dianggap melanggar adat pada waktu itu, karena menurut adat tugas wanita adalah mengurus rumah tangga dan anak-anak. Tetapi semua itu bagi Rohana Kudus hanya merupakan fitnahan saja yang tidak perlu dihiraukan. Dia merupakan seorang yang kuat pendiriannya, tidak mengenal menyerah dalam perjuangan, dan berani menentang kemauan kaum laki-laki yang berkuasa pada waktu itu.

 

Usaha yang dilakukan Rohana Kudus sudah dimulainya sewaktu dia masih tergolong anak-anak, yaitu ketika berumur 12 tahun dengan mengajar teman-temannya membaca dan menulis dalam huruf Latin dan Arab di rumahnya sendiri. Larangan ayah dan orang sekitarnya tidak dihiraukan Rohana Kudus. Setelah ia meningkat dewasa (21 tahun) Rohana Kudus mendirikan Sekolah Gadis di Kota Gadang dengan memberikan pelajaran tentang kerajinan wanita yang pada waktu itu belum ada dilakukan oleh wanita Minangkabau. Enam tahun sesudah itu dia mendirikan sebuah perkumpulan wanita Minangkabau yang diberinya nama dengan "Kerajinan Amai Setia" yang kemudian ditingkatkan menjadi "Sekolah Amai Setia". Pada sekolah ini Rohana Kudus mendidik kaum wanita menuju emansipasi.

 

Usaha Rohana Kudus bukan sampai di situ saja, karena pada tahun 1912 dia mendirikan atau menerbitkan  sebuah harian yang bernama Soenting Melayu dan dia sendiri menjadi Pemimpin Redaksi. Melalui harian ini Rohana Kudus mengemukakan pandangannya tentang bagaimana sebaiknya wanita Indonesia bertindak dalam masyarakat yang pada waktu itu dikuasai oleh kaum laki-laki saja. 33)

 

c.  Syekh Haji Muhammad Thaib Umar

 

Syekh H. Muhammad Thaib Umar dilahirkan tahun 1874 di Sungayang Batusangkar, lingkungan keluarganya termasuk keluarga yang taat menjalankan agama. Ayahnya bernama Umar bin Abdul Kadir seorang guru mengaji yang mula-mula mendidik Thaib Umar membaca Al Quran. Mamaknya juga ikut mendidiknya membaca Al Quran sewaktu dia masih kecil, dia sudah mulai belajar membaca AI-Quran sewaktu berumur 7 tahun dan sesudah satu tahun belajar sudah pandai membaca Al Quran. Di waktu berumur 8 tahun pendidikannya diserahkan kepada Haji Muhammad Yasin di Surau Sawah Tengah Sungayang, Syekh Haji Abdul Manan di Surau Talao Padang Ganting Batusangkar, dan Syekh M. Salih di Surau Padang Kandis Suliki, Payakumbuh.

 

Setelah selesai pelajarannya di Sumatera Barat, Thaib Umar, pergi menunaikan ibadah Haji ke Mekah. Bersama ayahnya dia bermukim di sana selama 5 tahun dan menuntut ilmu pada Syekh Akhmad Khatib.

 

Setelah merasa cukup memperoleh pengetahuan Islam, Syekh H. Muhammad Thaib Umar kembali ke Indonesia dan menetap di kampung halamannya Sungayang. Di sana dia membuka Pengajian Kitab bertempat di Surau Tanjung Pauh Sungayang pada tahun 1897, sewaktu berumur 25 tahun. Sebelum tahun 1908 Syekh H. Muhammad Thaib Umar sudah dapat menamatkan beberapa murid ulama Islam seperti Syekh Haji Abdul Manaf di Batusangkar, Syekh Abdul Wahid Tabek Gadang, Padang Japang, Syekh Machudum dari Solok, Djalaluddin dari Sicincin Payakumbuh. Sesudah tahun 1908,  yaitu  sesudah pendidikan Islam mengalami pembaharuan di Sumatera Barat banyak pula murid yang ditamatkan oleh Syekh Haji Muhammad Thaib Umar, di antaranya adalah Djunaid dari Simalanggang, Payakumbuh, Laut dari Lintau, Payakumbuh, Mu'in dari Sianok Bukittinggi, Ahmad dari Sumanik Batusangkar, Mahmud Yunus dari Sungayang Batusangkar, Adam dari Pandai Sikat Padang Panjang. Selama ia memperdalam ilmu agama Islam, Haji Muhammad Thaib Umar juga merupakan seorang pengarang dari majalah Al-Munir.34)

 

d.  Syekh Abdul Karim Amarullah

 

Syekh Haji Abdul Karim Amarullah lahir pada tanggal 10 Pebruari 1879 di Maninjau, lingkungan keluarganya termasuk terkenal di Sumatera Barat dan taat menjalankan ajaran agama. Ayahnya seorang guru agama Islam di Maninjau dengan siapa dia belajar mengaji AI-Quran buat pertama kalinya. Setelah tamat mengaji AI-Quran terus dilanjutkan dengan pelajaran Ilmu Nahu dan Ilmu Syaraf dengan ayahnya kemudian melanjutkan pelajarannya kepada Tuanku Sultan Muhamad Yusuf di Sungai Rokan Pariaman untuk mempelajari Ilmu Fikih dan Ilmu Jalalain.

 

Pada usia 15 tahun, dia pergi untuk menunaikan ibadah haji sambil memperdalam pengetahuan tentang agama Islam dengan ulama terkenal di Mekah, seperti Syekh Akhmad Khatib, Syekh H. Thahir Jalaluddin, Syekh Usman Serawak, selama tujuh tahun. Setelah dianggap cukup ilmu yang dimilikinya, pada tahun 1901 dia kembali ke Indonesia dan menetap di Sungai Batang Maninjau, di tempat kelahirannya sebagai seorang guru agama Islam. Tetapi tidak lama kemudian di pergi kembali ke Mekah mengantarkan adik-adiknya dan bermukim di sana selama 5 tahun lagi sambil memperdalam ilmunya tentang agama Islam.

 

Syekh Haji Abdul Karim Amarullah kembali ke Sungai Batang pada tahun 1906 dan kembali mengajar di sana selama 6 tahun. Tetapi daerah Sungai Batang waktu itu sudah terlampau kecil baginya. Apalagi pandangannya sudah terpengaruh oleh perkembangan pengetahuan Islam yang diperdapatnya selama dua kali bermukim di Mekah. Pada tahun 1912 dia pindah ke Padang dan menjadi pembantu dan tenaga inti Majalah Al-Munir yang didirikan oleh Syekh Haji Abdullah Ahmad pada tahun 1911. Mungkin karena ingin menyebarkan pengetahuannya tentang Islam segera ke tengah-tengah masyarakat yang menyebabkan ia pindah ke Padang, karena di sana dia dapat bekerja membantu Majalah Al-Munir untuk dapat menyebarkan gagasannya tentang pembaharuan pendidikan Islam.

 

Pada tahun 1914 dia pindah lagi ke Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi, yaitu surau pertama di Sumatera Barat yang pertama mengadakan pembaharuan pendidikannya dari sistem pendidikan surau ke sistem pendidikan sekolah/madrasah. Rupanya di sini dia mendapat tempat yang cocok buat mengembangkan gagasan pembaharuannya yang telah diperdapatnya selama di Mekah. Di sini dia mengajar dengan sungguh-sungguh sambil memberikan fatwa Islam yang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam melakukan dakwah Islam dia pergi jauh masuk ke desa-desa, karena orang di sanalah yang harus diutamakan mendapat penerangan agama. Selama ini mereka telah melakukan pelaksanaan agama Islam yang berlawanan dengan ajaran Islam yang sebenarnya karena ketidak tahuan mereka. 

 

Pada tahun 1918 Syekh Haji Abdul Karim Amarullah mendirikan Sumatera Thawalib sebagai perkumpulan pelajar madrasah sekaligus merubah sistem pendidikan Sumatera Thawalib bersama teman-temannya yang ada di Sumatera Thawalib.

 

Syekh Haji Abdul Karim Amarullah adalah seorang penganjur Islam yang tekun dan gigih dalam memperjuangkan cita-citanya. Selain dari sebagai guru dan penganjur Islam dia juga seorang pengarang yang digemari tulisannya oleh para pembaca, lebih-lebih karangannya yang dimuat dalam Majalah AI-Munir. Dia juga banyak mengarang buku tentang agama Islam dan pembaharuan mengenai ajaran Islam.

 

Sesudah kira-kira 5 tahun mengajar di Sumatera Thawalib dia meninggalkan Sumatera Thawalib dan kembali ke kampungnya dan mengajar di sana sambil mengarang buku-buku tentang Islam. Pada tahun 1926 dia pergi ke Mesir Menghadiri suatu Kongres Umat Islam dan mendapat gelar Doktor Honoris Kausa dari Universitas Kairo bersama-sama dengan Syekh Haji Abdullah Ahmad. Semenjak itu dia tetap tinggal di Sungai Batang sampai tahun 1941 sampai dia diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Sukabumi. Pengasingan oleh Pemerintah Hindia Belanda ini mungkin karena ketajaman tulisannya menghantam pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Karena Belanda menganggapnya berbahaya jika terus tinggal di Sumatera Barat, maka Belanda mengambil keputusan mengasingkannya ke Sukabumi. Untunglah tidak lama sesudah itu Balatentara Jepang menduduki Indonesia, Syekh H. Abdul Karim Amarullah bebas dari pengasingan.

 

Semenjak itu dia menetap di jakarta menyiarkan agama Islam sampai tanggal 2 Juni 1945 dia meninggal dunia. Dengan meninggalnya Syekh Haji Abdul Karim Amarullah tidaklah berarti bahwa gagasan pembaharuannya tentang agama Islam ikut hilang pula, melainkan dilanjutkan oleh para penggantinya yang sudah banyak bermunculan, baik di Sumatera Barat maupun di Jakarta. 35)

 

e.  Syekh Muhammad Jamil Jambek

 

Jamil Jambek lahir di Bukittinggi pada tahun 1860, yang bersekolah sampai Sekolah Dasar, yaitu sekolah Gebernemen Belanda. Setamat Sekolah Dasar dia tidak melanjutkan lagi pada sekolah Belanda, tetapi hidup sebagai penganggur sampai tahun 1882. Selama menganggur dia hidup sebagai jagoan yang menurut istilah Minangkabau disebut "parewa" atau "pareman". Kehidupannya tidak menentu sering mengganggu orang lain, sehingga banyak orang yang takut kepadanya.

 

Pada tahun 1882, pintu hatinya mulai terbuka dan dia mulai tobat dengan meninggalkan perbuatannya pada masa lampau. Dia mulai mengaji AI-Quran, belajar llmu Syaraf, Nahu, dan kemudian llmu Fikih dan sembahyang tidak lagi dilupakannya. Dia baru mulai belajar agama pada umur 32 tahun yang memperkuat keimanannya sesudah tobat.

 

Sesudah 13 tahun tobat, Jamil Jambek pergi ke Mekah bersama ayahnya dan bermukim di sana selama 9 tahun. Selama di sana dia memperdalam pengetahuannya tentang Islam, seperti memperbaiki bacaan AI-Quran, llmu Syaraf, llmu Nahu, llmu Fikih, llmu Tafsir, llmu Falak, dan lain-lainnya. Kemudian dia menjadi seorang ahli llmu Falak yang termasyhur di Sumatera Barat sesudah kembali dan Mekah. lmsakiah yang dibuat Syekh Muhammad Jamil Jambek menjadi ikutan bagi seluruh daerah Sumatera Barat. Di Mekah Syekh Muhammad Jamil Jambek juga mengajar llmu Falak kepada orang yang datang dan Indonesia, seperti dari Sumatera Barat, Palembang, Jawa, dan Kalimantan.

 

Dia kembali lagi ke Sumatera Barat setelah berumur 43 tahun dan sudahmenjadi seorang ulama Islam yang sangat dalam ilmunya tentang Islam. Dia menetap di Bukittinggi yaitu di tempat kelahirannya dan mengajar di Surau Tengah Sawah.

 

Sebagai seorang guru agama dia lebih banyak mengajarkan llmu Falak, karena itu sangat berguna dalam menentukan awal bulan Puasa secara tepat, mengetahui gerhana bulan dan matahari yang berpengaruh terhadap penghidupan manusia. Pengajarannya mengenai penetapan bulan Puasa sampai sekarang masih dipergunakan oleh muridnya di Sumatera Barat.

 

Di samping menjadi seorang guru agama Islam, Syekh Muhammad Jamil Jambek juga merupakan seorang mubalig besar yang giat melaksanakan dakwah Islam. Dialah yang memulai cara berdakwah tidak melalui surau tempat pengajian saja, tetapi juga di tempat terbuka, seperti di pasar, bioskop dan tempat umum lainnya dan tidak saja hanya di kota-kota, tetapi juga masuk sampai ke desa-desa.

 

Syekh Muhammad Jamil Jambek merupakan pelopor cara ini yang kemudian banyak diikuti oleh ulama Islam lainnya di Sumatera Barat. Yang diutamakan di dalam tablig itu adalah merubah pandangan penganut agama Islam yang melakukan ajaran Islam secara membabi buta dan tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Banyak penganut Islam yang sangat mempercayai gurunya sehingga sampai pada anggapan bahwa guru tersebut dapat membebaskan dosa mereka sendiri. Gurunya dianggap mempunyai kekuatan gaib karena kedalaman ilmunya tentang Islam, dan banyak lagi kepercayaan lainnya yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya menurut AI-Quran dan Hadis Nabi Muhammad. Orang-orang yang demikian kebanyakan terdapat di daerah pelosok yang terpencil. Karena itulah Syekh Muhammad Jamil Jambek pergi ke daerah itu untuk meluruskan mereka terhadap agama Islam yang sesungguhnya. Dalam melakukan dakwah itu Syekh Muhammad Jamil Jambek tidak mengharapkan imbalan apa-apa, bahkan usaha itu dibiayainya sendiri.

 

Dia adalah seorang penganjur agama Islam yang gigih dan ulet yang selalu mengajak umatnya kembali kepada ajaran Islam seperti terdapat dalam AI-Quran dan Hadis Nabi Muhammad, karena di dalam Kitab itulah contoh teladan yang diberikan Nabi dalam kitab itulah terletaknya ajaran agama Islam yang sesungguhnya, bukan pada apa yang dikatakan oleh guru. Guru hanya sebagai pembuka atau penunjuk jalan ke arah yang benar, bukan untuk diikuti secara membabi buta atau secara taklik.

 

Tugas Syekh Muhammad Jamil Jambek sebagai seorang Mubalig Islam terkenal di Sumatera Barat dijalankannya semenjak tahun 1911 sampai akhir hayatnya di saat dia sudah berumur 87 tahun. Syekh Muhammad Jamil Jambek adalah juga pendiri perkumpulan Tsamaratul lkhwan yang mempunyai sebuah percetakan untuk mencetak buku tentang Islam. Di samping itu dia juga menjadi Ketua Majelis Islam Tinggi Minangkabau di waktu Jepang berkuasa di Sumatera Barat, yang kemudian menjadi Majelis Islam Tinggi Sumatera (MIT Sumatera)36)

 

f.   Zainuddin Labai EI-Yunusi

 

Zainuddin Labai EI-Yunusi dilahirkan di Padang Panjang pada tahun 1890. dia berasal dari keluarga Islam yang taat menjalankan agama. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Yunus yang menjadi guru agama Islam di Padang Panjang. Di waktu berumur 8 tahun Zainuddin Labai EI-Yunusi masuk sekolah Gubernemen Belanda, tetapi hanya sampai pada kelas IV saja, mungkin merasa kurang cocok sekolah di sana. Selanjutnya dia belajar dengan ayahnya, tetapi di waktu dia berumur 14 tahun ayahnya meninggal dunia. Mungkin karena kesedihan yang sangat mendalam disebabkan kematian ayahnya tersebut, Zainuddin Labai EI-Yunusi hidup menganggur selama dua tahun dengan tidak tentu arah sampai berusia 16 tahun. Di waktu itulah ibunya memberi nasehat supaya dia mengaji kembali, karena orang yang tidak belajar mengaji tidak akan selamat hidupnya. Orang seperti itu tidak ada pegangan, hidupnya akan terombang-ambing dalam masyarakat dan apabila tidak dapat mengendalikannya akan menimbulkan bencana bagi manusia.

 

Demikianlah dia pergi mengaji kepada Syekh Abdullah Ahmad, tetapi karena tidak ada kecocokan di Padang, dia kembali ke Padang Panjang lagi. Kemudian dia pergi ke Padang Japang, di Payakumbuh untuk belajar dengan Syekh Haji Abbas Abdullah seorang ulama Islam terkenal di Payakumbuh pada waktu itu. Rupanya di Padang Japang tersebut Zainuddin Labai EI-Yunusi mendapat kecocokan, baik dengan guru maupun dengan suasana lingkungan, maka dia belajar dengan tekun dan rajin. Tetapi karena Zainuddin Labai EL-Yunusi merupakan seorang murid yang pintar dan cerdas, dia sering berselisih pendapat dengan gurunya, karena dia tidak mau menerima begitu saja apa yang dikatakan gurunya, sebaliknya dia sering sekali mendebat dan berdebat dengan gurunya itu. Karena gurunya juga mengetahui bahwa Zainuddin Lebai EL-Yunusi bukan hanya asal mendebat dan membantah saja melainkan karena dia ingin mengetahui segala sesuatunya secara  mendalam,  maka gurunya  sayang kepadanya,bahkan tidak lama sesudah belajar di sana Zainuddin Labai EI-Yunusi di angkat gurunya menjadi guru buntu yang membantu pekerjaan gurunya sehari-hari dalam mengajar. 

  

Sewaktu Zainuddin Labai EI-Yunusi berumur 23 tahun, dia kembali ke Padang Panjang dan mengajar di Surau Jembatan Besi yang merupakan sebuah surau perintis pengembangan pembaharuan pendidikan Islam di Sumatera Barat. Selama mengajar di Suarau Jembatan Besi itu Zainuddin Labai banyak mendapat pengalaman dari tokoh Islam Sumatera Barat yang sebelumnya sudah mengajar di sana, seperti Syekh Haji Abdul Karim Amarullah dan teman-temannya. Dia termasuk tokoh muda yang ikut menulis pada majalah AI-Munir, terutama tentang perjuangan pemuda Islam dalam menghadapi penjajahan Belanda. Tetapi karena tulisannya dianggap keras menentang Belanda dan banyak bertentangan dengan kaum tua pada waktu itu, maka banyak ulama Sumatera Barat yang belum begitu maju pandangannya, menentang dan menyerang pendapat yang tersebar pada majalah Al-Munir di mana terdapat tulisan Zainuddin Labai El-Yunusi. Supaya AI-Munir jangan ikut terbawa dan terkena serangan kaum tua tersebut yang mungkin akan menyebabkan  kematiannya,  maka  Zainuddin  EI-Yunusi mendirikan sendiri sebuah majalah baru yang diberinya nama dengan AI-Akbar, untuk membela pendapat tokoh Islam yang sudah maju pandangannya tentang Islam, terutama kaum muda. Dengan demikian pendapat baru mengenai Islam terutama mengenai masalah pendidikan lslam mendapat dukungan dari kaum muda Islam sendiri yang tergabung didalam majalah AI-Akbar yang dipimpin oleh Zainuddin Labai EI-Yunusi.

 

Zainuddin Labi El-Yunusi tidak senang melihat lambannya perkembangan pendidikan Islam pada waktu itu di Padang Panjang yang menjadi pusat pengembangan Islam Sumatera Barat waktu itu. Pada tahun 1915 ia mendirikan sekolah sendiri yang dinamakannya "Diniah School'' yang membawakan cita-cita tentang pembaharuan pendidikan Islam.

 

Sekolah Diniah mempunyai tujuh kelas seperti HIS Belanda sistem penyelenggaraan sekolah tersebut hampir menyamai sistem sekolah Belanda, tetapi isinya adalah mengenai agama Islam.

 

Di samping merupakan seorang organisator dalam penyelenggaraan sekolah, Zainuddin Labai juga merupakan seorang pengarang buku yang produktif sekali, terutama yang berhubungan dengan pelajaran agama Islam. Hampir semua buku yang dipakai pada Sekolah Diniah tingkat Sekolah Dasar dipakai buku-buku karangannya sendiri, untuk tingkat sekolah menengah dipakai buku keluaran Mesir. Sayangnya Zainuddin Labai EI-Yunusi tidak berumur panjang, dia meninggal pada urnur 34 tahun, hanya 11 tahun lamanya dia dapat menyumbangkan tenaganya untuk pembaharuan bidang pendidikan Islam. Tetapi walaupun dia sudah meninggal, cita-citanya masih tetap dijalankan terus, bahkan sampai sekarang sebahagian yang diinginkan Zainuddin Labai EI-Yunusi masih tetap diteruskan pada Sekolah Diniah Putri Padang Panjang yang didirikan oleh adik perempuariya Encik Rahmah El-Yunusiah.

 

g.  Syekh lbrahim Musa Parabek 

 

Syekh lbrahim Musa Parabek dilahirkan pada tahun 1884 di Parabek, Bukittinggi, yang terletak di kaki Gunung Singgalang, kira-kira 20 km dari Bukittinggi. Dia mulai belajar agama Islam ketika berumur 11 tahun, selama delapan tahun dia menuntut ilmu tentang Islam di Sumatera Barat. Karena dia merasa kurang puas dengan ilmu yang diperolehnya di Sumatera Barat, pada waktu berumur 18 tahun dia pergi ke Mekah untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam sambil menunaikan rukun Haji. Syekh Ahmad Khatib salah seorang gurunya di Mekah dan hampir 8 tahun lamanya dia berada di Mekah. Sesudah merasa cukup ilmunya, dia kembali ke Sumatera Barat dan menetap di Parabek.

 

Mula-mula dia mengajarkan agama Islam dengan sistem surau (halaqah) selama sebelas tahun. Sistem itu sudah mulai ditinggalkan oleh ulama Islam keluaran Mekah dan Mesir. Karena pengaruh teman-temannya yang berada di Padang Panjang, maka pada tahun 1921 dia merubah sistem surau menjadi Sekolah Thawalib seperti Sekolah Thawalib di Padang Panjang, walaupun masing-masing berdiri sendiri.

 

Nama Parabek yang melekat pada nama Syekh lbrahim Musa karena dia menjadi guru agama Islam di Parabek tempat kelahirannya, sedangkan di Sumatera Barat banyak orang yang bernama lbrahim Musa. Untuk membedakan lbrahim Musa yang mana, maka diberikanlah tambahan Parabek di belakang nama Syekh lbrahim Musa tersebut, sehingga orang dengan mudah mengetahui orang yang mana yang dimaksudkan. Lagi pula pada waktu itu di Sumatera Barat sudah biasa seorang Syekh disebutkan dengan menambahkan nama tempat di mana dia mengajar.

 

Pada tahun 1940 Syekh lbrahim Musa Parabek mendirikan lanjutan dari Sekolah Thawalib Parabek yang pada mulanya hanya sampai 7 kelas saja. Lanjutan itu dinamakan "Kulliahtul Diyanah". Lama pendidikannya 3 tahun. Pada tingkat lanjutan ini, di samping mata pelajaran agama juga diajarkan pengetahuan umum. Pada waktu itu sudah lazim pengetahuan umum diajarkan pada sekolah agama Islam di Sumatera Barat. Tingkatan Kulliatul Diyanah ini kira-kira sama dengan tingkatan Sekolah Menengah Atas. Sesudah tamat dari sekolah ini murid-muridnya dapat menyambung ke sekolah Islam yang lebih tinggi.

 

h.  Syekh Daud Rasyidi

 

Syekh Daud Rasyidi dilahirkan di Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, yaitu sebuah kampung yang terletak di lereng Gunung Singgalang. la keturunan alim ulama dan ahli adat di Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Tuanku, yaitu gelar lain bagi seorang yang ahli dalam agama Islam di Sumatera Barat. Sejak kecil Daud Rasyidi adalah anak yang melarat hidupnya dan hal ini terbawa sampai dia menjadi seorang tokoh Islam di Sumatera Barat. Walaupun sudah terkenal dia tetap hidup sederhana dan tidak mau menerima sedekah yang bagaimanapun bentuknya dan dari siapapun datangnya, karena dia beranggapan masih banyak orang lain yang berhak menerimanya dari dia yang masih sanggup mencari kebutuhan hidupnya sekeluarga. Dia seorang yang sangat tabah menerima cobaan dan terkenal sangat jujur dalam hidupnya, dia lebih dikenal dengan sebutan lnyik Daud dari nama lengkapnya.

 

Syekh Daud Rasyidi mulai belajar agama Islam ketika masih berumur 7 tahun, yang pertama kali belajar membaca AI-Quran dengan ayahnya. Sesudah itu dia belajar di Muara Labuh dengan Syekh Mustafa Sungai Pagu, untuk belajar llmu Saraf, Nahu, dan Fikih.

 

Seperti kebanyakan pelajar Islam yang belajar di luar kampungnya, Daud Rasyidi juga ikut mencari nafkah sendiri dengan menerima upah jahit. Pekerjaan ini dilakukannya karena dia tidak mau dibantu orang lain seperti yang dilakukan oleh murid lainnya.

 

Pada tahun 1895 dia dibawa kakaknya, Haji Abdul Latif, ke Mekah untuk menunaikan ibadah Haji. Di Mekah selain menunaikan Haji dia hanya dapat memperdalam bacaan AI-Quran saja, karena tidak lama bermukim di sana. Hal itu disebabkan karena dia kekurangan biaya, dan terpaksa ikut pulang bersama kakaknya kembali.

 

Sampai di kampungnya, kembali hidupnya gelisah karena sedikitnya ilmu yang dimiliki. Dia hanya mahir dalam bacaan AI-Quran, sedangkan pengetahuannya tentang Islam masih sedikit. Oleh karena itu, Daud Rasyidi berusaha lagi meninggalkan kampungnnya buat menuntut ilmu pengetahuan. Walaupun pada mulanya dia mendapat halangan dari ibunya yang sudah tua, tetapi berkat kegigihan dan kesungguhannya, akhirnya dia diizinkan juga pergi untuk menuntut ilmu ke luar kampungnya dengan hanya membawa sebungkus nasi sebagai bekal buat di jalan, karena hanya itulah yang disanggupi oleh ibunya. Bagi Syekh Daud Rasyidi hal tersebut tidak menjadi masalah karena yang diperlukannya adalah doa restu dan izin ibunya, sedangkan yang lainnya dapat diselesaikan sendiri.

 

Tempat yang ditujunya adalah kota Padang, karena dia mendengar bahwa ulama di Padang sudah luas pandangannya dan sudah maju cara berpikirnya mengenai agama Islam. Di Padang antara lain dia belajar dengan Haji Muhammad Thaib, dan Haji Zabidi, semua buku mengenai Islam dipelajarinya dengan tekun sehingga cepat mendapat kemajuan. Sesudah dua tahun belajar dia mulai mengajar pemuda di sekitar tempat tinggalnya dengan pengetahuan Islam yang telah diperolehnya.

 

Pada tahun 1903 Syekh Daud Rasyidi pindah menigajar ke Surau Jembatan Besi di Padang Panjang menggantikan Kakaknya yang sudah tua dan sudah sakit-sakitan. Syekh Daud Rasyidi adalah seorang yang haus akan ilmu peagetahuan dan berhasrat memperdalam pengetahuan tentang Islam. Hal ini mungkin disebabkan karena dia belum pernah belajar dengan Syekh yang ternama. Kemudian dia mendengar ada seorang ulama besar di Sungai Batang yang baru pulang dari Mekah, yaitu Syekh Haji Abdul Karim Amarullah. Walaupun waktu itu dia sudah menjadi guru agama Islam, tetapi dia tidak segan belajar lagi dengan orang yang lebih dari dia sendiri. Demikianlah dia belajar dengan Syekh Haji Abdul Karim Amarullah dengan cara pulang pergi dari Padang Panjang ke Maninjau, banyak pengetahuan yang diperolehnya dari gurunya yang baru itu. Dalam diskusi dengan gurunya dapatlah diketahuinya bahwa sumber ilmu pengetahuan Syekh Haji Abdul Karim Amarullah dari Syekh Ahmad Khatib di Mekah yang dapat dikatakan menjadi guru dari seluruh ulama Islam Sumatera Barat. Oleh karena itu, Syekh Daud Rasyidi juga berkeinginan untuk mendapatkan sendiri ilmu pengetahuan dari Syekh Ahmad Khatib itu.

  

Demikianlah sesudah dua tahun lamanya belajar dengan Syekh Haji Abdul Karim Amarullah, pada tahun 1908 dia pergi ke Mekah, atas bantuan yang besar dari Syekh Haji Abdul Karim Amarullah dan dari kakaknya Haji Abdul Latif. Bersama dia dibawanya anak kakaknya yang bernama Muhtar Luthfi, anaknya Mansur Daud. Empat tahun lamanya dia belajar dengan Syekh Ahmad Khatib di Mekah, banyak pengetahuan tentang Islam yang diperoIehnya dan akhirnya dia diberi ijazah untuk menjadi guru agama Islam oleh Syekh Ahmad Khatib. Dengan demikian kedudukannya sudah sama dengan ulama Islam lainnya di Sumatera Barat yang pernah menjadi murid Syekh Akhmad Khatib di Mekah.

 

Pada tahun 1913, sewaktu dia berumur 31 tahun, Syekh Daud Rasyidi kembali dari Mekah dengan pengetahuan Islam yang lebih dalam. Dia mengajar di kampungnya, Balingka, kareoa kakaknya Haji Abdul Latif sudah tutup usia ketika dia masih di Mekah. Orang kampungnya secara bergotong royong membuatkan sebuah surau tempat dia mengajar. Tetapi sayangnya surau tersebut hanya berumur tiga tahun, karena sesudah tiga tahun surau tersebut dihancurkan oleh banjir besar yang melanda kampung Balingka.

 

Pada tahun 1917, bersama dengan Haji Abdul Karim Amarullah dia pergi ke Malaya (Malaysia) untuk melihat para perantau Minangkabau yang ada di sana. Tetapi karena orang Inggeris yang berkuasa di sana menganggap kedatangan kedua orang itu dapat membahayakan kedudukan mereka di Malaya, maka mereka selalu dikejar-kejar oleh tentera Inggris Malaya. Oleh karena itu, ke mana saja mereka pergi selalu dibayang-bayangi tentara Inggris dengan ketat. Akhirnya setelah merasa puas berada di Malaya mereka kembali ke Sumatera Barat.

 

Sekembalinya ke Sumatera Barat Syekh Daud Rasyidi tidak menetap lagi di Balingka melainkan ikut dengan Syekh Muhammad Jamil Jambek melakukan dakwah ke daerah pedesaan. Hampir seluruh mesjid yang ada mereka kunjungi untuk mengadakan tablig besar di sana. Tempat beribadat yang kurang bersih atau kurang terawat dianjurkannya untuk dirawat dengan baik karena tempat itu merupakan tempat di mana manusia menemui Tuhannya. Jika tempatnya tidak bersih Tuhan tidak akan mendengarkan permintaan umatnya. Dengan demikian banyak tempat beribadat yang sudah diperbaiki atas anjuran mereka berdua.

 

Masalah yang terutama diusahakan memperbaikinya oleh Syekh Daud Rasyidi adalah dalam pelaksanaan ajaran Islam oleh masyarakat yang antara lain adalah masalah Bid'ah, Khurafah, Takhyul, Kejahilan yang kesemuanya bertentangan dengan ajaran Islam yang ada dalam Al-Quran dan Hadis Nabi.

 

Syekh Daud Rasyidi .orangnya lemah lembut, ramah tamah, baik terhadap lawan dan kawan, di samping itu dia juga seorang pejuang yang gigih memperjuangkan cita-citanya dan banyak akalnya untuk menundukkan lawannya serta pantang menyerah menghadapi rintangan yang bagaimanapun. Kalau Syekh Muhammad Jamil Jambek banyak memberikan penerangan kepada orang desa yang tidak tahu kekeliruan dalam beribadat, Syekh Daud Rasyidi sengaja menghadapi dan menyadarkan orang yang tergolong parewa. Orang begitu biasanya menganggap ulama Islam itu hanya bekerja di surau saja dan masalah dunia tidak usah dicampuri, berzikir sajalah setiap hari supaya cepat ke akherat. Bagi Syekh Daud Rasyidi justru orang semacam inilah yang akan ditobatkannya, karena apabila mereka dapat ditobatkan, tenaga mereka sangat berguna dalam pembangunan Islam selanjutnya. Mereka biasanya mempunyai anak buah yang banyak yang akan dapat membantunya, sekurang-kurangnya anak buahnya itu saja yang diawasinya sehingga tidak akan memganggu kehidupan masyarakat sekitarnya lagi. Di samping itu Syekh Daud Rasyidi juga menghadapi golongan Tharikat yang kokoh pada pendiriannya serta sangat banyak pengikutnya yang fanatik terhadap gurunya.

 

Seorang ulama Tharikat Naksyabandi yang bernama Syekh Abdullah yang juga berkediaman di Balingka, banyak pengikutnya, ia menentang ajaran yang diberikan Syekh Daud Rasyidi. Tetapi melalui cara kekeluargaan yang mendalam Syekh Daud Rasyidi selalu mendatangi umat Tharikat tersebut dan mengajaknya berdiskusi mengenai agama Islam secara mendalam dengan melihat langsung kepada AI-Quran dan Hadis Nabi serta melihat kelemahan yang dijalankan kaum Tharikat selama ini. Akhirnya ulama Tharikat tersebut dapat ditundukkan dan menjadi pengikut Islam Ahlul Sunnah Waljamaah yang setia dan selalu membantu memperjuangkan cita-cita Syekh Daud Rasyidi untuk disadarkan. Jika belum cukup sekali, pengikutnya yang juga telah mengikuti jejak gurunya.

 

Di samping itu orang parewa dalam suatu nagari yang tidak mengenal sembahyang juga didatangi oleh Syekh Daud Rasyidi untuk disadarkan. Jika belum cukup sekali didatangi sepuluh kali dan apabila belum cukup akan didatangi sampai yang bersangkutan dapat disadarkan dan bertobat terhadap segala dosa yang telah dilakukannya.

 

Tugas Syekh Daud Rasyidi lebih banyak diarahkan untuk menundukkan para "parewa", dan sesudah tobat mereka merupakan penganut Islam yang taat dan merupakan benteng untuk mempertahankan ajaran Islam.

 

Pada tdhun 1919 Syekh Daud Rasyidi ikut membentuk Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) Sumatera Barat, di mana ia banyak berhubungan dengan ulama Islam lainnya dan secara bersama mereka berusaha memajukan pendidikan Islam.

 

Syekh Daud Rasyidi juga ikut dalam pergerakan Indonesia seperti ulama lainnya. Dia bergabung dengan organisasi Muhammadiyah, karena tertarik dengan dakwahnya dan pemeliharaan anak yatim yang baik. Kemenakannya Haji Mukhtar Lutfi, anaknya Mansur Daud Datuk Palimo Kayo, dan menantunya Haji Jalaluddin Thaib adalah pejuang kemerdekaan di Sumatera Barat yang ditakuti Belanda, sehingga mereka ditangkap Belanda dan diasingkan ke tempat lain di luar Sumatera Barat.

 

Syekh Daud Rasyidi meninggal pada tahun 1948 dan dimakankam di samping makam Syekh Muhammad Jamil Jambek.

 

i.   Haji Mansur Daud Datuk Palimo Kayo

 

Mansur Daud dilahirkan pada tanggal 10 Maret 1907 di Balingka, termasuk tokoh Islam angkatan muda.

 

Pendidikan pertama yang ditempuhnya adalah sekolah gubernemen Belanda 5 tahun. Sesudah itu dia melanjutkan pedidikannya ke Sekolah Thawalib Padang Panjang yang pada waktu itu dibawah pimpinan Syekh Haji Abdul Karim Amarullah atau Haji Rasul. Setamat dan Thawalib Padang Panjang dia melanjutkan ke Parabek di bawah asuhan Syekh Ibrithim Musa Parabek, pada tahun 1923 dia sudah menamatkan pendidikannya di Parabek.

 

Setelah selesai pendidikan di Sumatera Barat, Mansur Daud mengembara di luar negeri dalam usahanya menambah ilmu pengetahuannya. Tujuh tahun lamanya dia mengunjungi tempat terkenal untuk menambah ilmu pengetahuan tersebut, seperti India, Mekah, Turki, Cina, Jepang, Pilipina, dan Malaya, dan di Mekah dia menunaikan ibadah Haji. Selama 7 tahun itu banyaklah ilmu pengetahuan yang diperolehnya, bukan saja mengenai Islam, tetapi juga tentang pengetahuan umum sehingga dia menjadi orang yang luas pandangannya.

 

Dalam pergerakan kebangsaan, Mansur Daud tidak kurang jasanya, dia turut membentuk dan memimpin partai politik Permi, dan dia juga menjadi Pemimpin majalah Medan Rakyat yang diterbitkan oleh Permi. Sewaktu Haji Ilyas Yakub pemimpin Permi ditangkap dan dibuang Belanda, Mansur Daud mengambil alih pimpinan Permi. La juga ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Medan di penjara Sukamulya selama (24/9/1935—24/9/1936). Sesudah ke luar dari penjara dia aktif di bidang Dakwah di Sumatera Selatan, terutama di Bengkulu dan Palembang, yang dilakukannya sampai dengan masuknya Jepang ke Indonesia pada tahun 1942.

 

Alasan dia mengalihkan kegiatannya ke Sumatera Selatan, kalau kembali ke Sumatera Barat dia akan ditangkap kembali oleh pemerintah Hindia Belanda di Sumatera Barat,  sebab dia dianggap berbahaya bagi Belanda di daerah ini karena kegiatannya menentang kekuasaan Belanda. Di Sumatera Selatan dia beralih ke bidang dakwah, karena kegiatan politiknya dilarang oleh Belanda. Namun demikian bidang dakwah tersebut dijadikannya sebagai wadah untuk mencapai cita-cita yang diperjuangkannya pada Permi. Dengan berdakwah itu Belanda tidak mempunyai alasan lagi untuk menangkapnya, karena masalah yang terkemuka dalam segala kegiatannya adalah dakwah Islam. Dengan demikian di Sumatera Selatan gerakannya mendapat kebebasan jika dibandingkan dengan di Sumatera Barat.

 

Pada waktu Jepang berkuasa di Indonesia, kegiatan Mansur Daud tidak berkurang. Dia ikut membentuk Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang kemudian menjadi Majelis Islam Tinggi Sumatera. Dia menduduki jabatan Sekretaris Umum sedangkan Ketuanya pada waktu itu adalah Syekh Muhammad Jamil Jambek. Di samping itu dia juga bertindak sebagai badan pengurus Badan Koordinasi Alim Ulama se Sumatera yang bertugas mempertahankan agama, Bangsa, dan Tanah Air dari penindasan Jepang. Dalam menjalankan tugas ini tidak sedikit penderitaan yang diterima Mansur Daud, tetapi kesemuanya itu diterimanya dengan ketabahan yang luar biasa.

 

Di Zaman Kemerdekaan Indonesia Mansur Daud meneruskan perjuangannya di bidang politik yang sekarang ditujukan untuk membangun dan mengisi Indonesia Merdeka. Setelah Majelis Islam Tinggi Sumatera melakukan fusi dengan partai politik Masyumi, Mansur Daud diangkat menjadi Sekretaris Umum Masyumi se Sumatera yang pusat kedudukannya terletak di Pematang Siantar. Jabatan ini dipegangnya selama dua tahun, sesudah itu dia diangkat menjadi Ketua Umum Masyumi Sumatera Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi. Pada waktu itu Sumatera telah dibagi menjadi tiga propinsi, yaitu Propinsi Sumatera Utara, Propinsi Sumatera Tengah, dan Propinsi Sumatera Selatan. Karena kecakapannya selama menjadi Sekretaris Umum Masyumi Sumatera, maka sewaktu pembentukan tiga propinsi dilakukan, dia ditunjuk sebagai Ketua Masyumi Sumatera Tengah. Jabatan ini dipegangnya selama 8 tahun. Pada tahun 1956 dia pindah ke Jakarta terpilih menjadi anggota DPR hasil Pemilihan Umum tahun 1955. Pada tahun 1956 itu juga dia diangkat menjadi Duta Besar untuk Kerajaan Iraq yang berkedudukan di Bagdad yang dipegangnya selama 4 tahun. Setelah pulang kembali ke Indonesia dia diangkat menjadi Ketua Umum Masyumi daerah Jakarta Raya selama satu tahun, sampai tahun 1961 ketika Masyumi dibubarkan Mansur Daud Datuk Palimo Kayo memilih kegiatan melakukan dakwah Islam untuk daerah Jakarta Raya, dan bidang inilah yang sesungguhnya profesi Mansur Daud Datuk Palimo Kayo. Dalam kegiatannya ini dia tidak mendapat rintangan sama sekali.

 

Pada zaman Orde Baru Mansur Daud Datuk Palimo Kayo ikut membentuk Dewan Dakwah Islamiah Indonesia yang dipimpin oleh Muhammad Natsir, sedangkan Mansur Daud menjadi Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia Perwakilan Sumatera Barat. Pada tahun 1968 dia ikut membentuk Majelis Ulama Sumatera Barat yang akhirnya terpilih menjadi Ketua yang dipegangnya sampai tahun 1980.

 

Pada waktu ini, walaupun Mansur Daud Datuk Palimo Kayo sudah berumur 73 tahun lebih, dia tetap melakukan tugasnya, aktif melakukan dakwah di daerah Sumatera Barat di samping menjadi Ketua Majelis Ulama Sumatera Barat.

 

j.   Haji Udin Rahmani

 

Udin Rahmani dilahirkan pada tahun 1901, di masa kecil belajar mengaji di Maninjau sampai tahun 1916. Di waktu berumur 17 tahun dia menjadi guru Sckolah Thawalib dan Sekolah Diniah di Padang Panjang, di samping seorang mubalig Islam yang terkenal di Sumatera Barat. 

  

Pada tahun 1919 sewaktu dia berumur 18 tahun ia sudah ikut mendirikan Sumatera Thawalib dan menjadi anggota Pengurus sampai tahun 1923. Tahun berikutnya dia menjadi anggota Serikat Islam selama tiga tahun, dan sesudah itu dia menjadi anggota PSII selama 5 tahun (1928-1935), tetapi karena kegiatan politiknya dianggap Belanda berbahaya, maka pada tahun 1928 dia ditangkap Belanda dan dibuang ke Digul bersama-sama dengan pemimpin Indonesia lainnya selama sembilan tahun. Kedatangan tentara Jepang tidak ikut membebaskannya dari tawanan Belanda, dia terus dipindah-pindahkan ke beberapa tempat sampai ke luar negeri seperti ke Australia, pada tahun 1943 di Quinsland dia diangkat menjadi tentera Australia yang bertugas di front belakang. Tahun 1944 dipindahkan lagi dan dilatih dengan latihan kemiliteran oleh Belanda secara paksa dalam rangka usaha Belanda menjajah Indonesia kembali.

 

Walaupun dia berada dalam tawanan Belanda bersama pemuda Indonesia lainnya yang ikut dilarikan Belanda ke Australia, tetapi di dalam tawanan Haji Udin Rahmani masih tetap berusaha membakar semangat teman-temannya sesama tawanan. Akibat usaha Haji Udin Rahmani dalam tawanan Belanda itu banyak usaha Belanda untuk kembali ke Indonesia dapat disabot. Karena itu dia dipindahkan ke Holandia, (Jayapura sekarang) tetapi kemudian dipindahkan lagi ke Moretai. Kemudiannya bersama tentera Australia ia dipindahkan ke Tarakan di Kalimantan. Pada bulan Juni 1945 kembali dibawa ke Australia bersama tentara Australia dan di sana dia ditugaskan mengajarkan agama Islam kepada orang Indonesia dan Malaya yang dibawa lari oleh Belanda sebelumnya, yang berjumlah 3.000 orang.

  

Haji Udin Rahmani bersama teman-temannya yang diajarnya itu ditempatkan di Sidney, di sana Haji Udin Rahmani terus menggembleng pemuda Indonesia yang berada di situ supaya mereka tidak lupa bahwa mereka masih dijajah bangsa asing. Penggemblengan itu masih terus dilakukan sampai akhir tahun 1945 sesudah beberapa bulan Proklamasi Kemerdekaan. Mungkin mereka yang berada di Australia itu belum mengetahui bahwa bangsa Indonesia telah merdeka karena berita kemerdekaan itu selalu ditutup Belanda.

 

Tetapi walaupun bagaimana Belanda menutupi berita kemerdekaan Indonesia itu, akhirnya orang Indonesia yang ada di sana mengetahui juga dan mereka berusaha untuk kembali ke Indonesia. Karena kesamaan pendapat dengan pihak Belanda tidak diperoleh mengenai kepulangan orang Indonesia itu, akhirnya Pemerintah Australia turun tangan menyelesaikannya. Pada tahun 1946 dipulangkanlah orang Indonesia itu dalam dua rombongan. Dengan demikian Haji Udin Rahmani sudah berada kembali di Indonesia pertengahan tahun 1946, dia menetap di Purwokerto dan masuk menjadi anggota Masyumi. Tahun berikutnya dia pulang ke Sumatera Barat. Setahun sesudah ke Sumatera Barat dia diangkat menjadi Ketua Masyumi Sumatera Barat dan tahun berikutnya menjadi anggota staf Bupati Kabupaten Agam di Bukittinggi. Menjadi staf Bupati Militer Agam dipegangnya sampai tahun 1950, sesudah itu Haji Udin Rahmani menjadi ketua DPR Kabupaten Agam yang berkedudukan di Bukittinggi. Dari tahun 1951-1958 dia menjadi Ketua Dewan Pemerintahan Daerah Agam. Selanjutnya sesudah terjadi pergolakan daerah Sumatera Barat dia menjadi anggota majelis Ulama Sumatera Barat.

 

k.  Muhammad Syafei

 

Muhammad Syafei dilahirkan pada tahun 1899, di waktu masih kecil dia diangkat menjadi anak angkat oleh Marah Sutan seorang guru dan pengarang pada waktu itu di Sumatera Barat. Pendidikan Muhammad Syafei adalah Sekolah Guru di Bukittinggi dan sesudah dari sana menjadi guru Sekolah Kartini di Jakarta. Pada tahun 1922 dia pergi ke Eropa melanjutkan sekolahnya dan mendapat ijazah : Guru Eropa, Menggambar, Pekerjaan Tangan, dan Musik. Pada tanggal 31 Oktober 1931 dia Mendirikan INS Kayutanam dengan perinsip pendidikan "Berdiri sendiri tanpa mau menerima bantuan yang mengikat dan sema alat-alat serta ruang sekolah dibuat sendiri oleh murid-murid".

 

Pada tahun 1946 dia menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan di bawah Kabinet Syahrir II, kemudian sesudah berhenti menjadi Menteri dia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Pada tahun 1950 menjadi anggota Parlemen Indonesia.

 

Cita-cita pendidikannya adalah sebagai berikut :

 

1)  Anak-anak perlu dibiasakan "belajar bekerja" supaya pandai mempergunakan tangan di samping otak. Kepada anak diajarkan suatu pekerjaan sesuai dengan pembawaan dan kemauan hidupnya kelak. Semua ini merupakan reaksi terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda pada waktu itu.

 

2)  Ingin membentuk manusia Indonesia yang bertanggung jawab, berani berdiri sendiri, membuka perusahaan sendiri, hidup bebas, dan tak tergantung pada orang lain.

 

3)  Menentang sistem pendidikan yang intelektualisme, karena hanya merupakan pembentukan akal saja.

 

4)  Di dalam pendidikan manusia sebagai kesatuan jiwa raga, kesatuan individu, dan kesatuan masyarakat harus diperhatikan perkembangannya.

 

Sayangnya Muhammad Syafei tidak dapat dengan tenang menyelenggarakan INS Kayutanam, karena selalu mendapat cobaan, kompleks INS yang dibangunnya dengan susah payah hancur menjadi puing yang tidak dapat dipergunakan lagi. Tetapi berkat keuletan dan kegigihan Muhammad Syafei berjuang, akhirnya atas usahanya juga di atas puing itu dapat dibangun kembali sebuah kompleks INS yang lebih bagus lagi dari yang sebelumnya.

   

 

  1. Jaka Sutan Sati, Wawancara, Solok, September 1980.

  2. Mahmud Yunus, op. cit., hal. 58.

  3. MHD Datuk Palimo Kayo, Pidato peringatan Ulang Tahun ke-55 Thawalib Padang Panjang tanggal 11-9-1966, hal. 8 (ketikan).

  4. Madrasah Rakyat, No. I, Tahun I, Badan Penerbit Madrasah Jakarta, Jakarta, 5 Juli 1957, hal. 10.

  5. Ibid.. hal. 6.

  6. Deliar Noer, Pembaharuan Sesudah Tahun 1900, Seminar masuknya Islam di Minangkabau, paper, Padang, 1969, hal. 2.

  7. Muhammad Yunus, op. cit., hat. 69.

  8. Perguruan Besar PGAI Padang, Anggaran Dasar PGAI Tahun 1921.

  9. A.R. Sutan Mansyur, Pokok Pergerakan Muhammadiyah, Central Depot Padang Panjang, 1940, hal. 72.

  10. Putusan Kongres Muhammadiyah Sumatera Barat tanggal 3 - 6 Nopember 1946 di Padang Panjang

  11. Ibid, hal. 38

  12. Ibid.. loc. Cit.

  13. Ibid, hal. 6

  14. Taufik Abdullahi, School and Politics, the Kaum Muda Movement in West Sumatra (1927 - 1933), Monograph Series University, lthaca. New York, 1971, hal.130.

  15. M. Syafei, Sejarah INS Kayutanam, Harian Angkatan Bersenjata Edisi Padang, 2 November 1966, hal. 1.

  16. Abdul-Mukthi A.H, Panji Masyarakat, Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1966, No. 41,hal.41.

  17. Ibid, loc. cit.

  18. ............. Aliran-aliran Baru dalam Pendidikan dan pengajaran, Percetakan Dagang Usaha,Payakumbuh, 1958, hal. 91.

  19. ............. Ibid, loc. cit.

  20. ........….. Kementerian Penerangan, Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Tengah hal .778.

  21. Bandingkan dengan Prof. Soeganda Perbakawatja, Pendidikan dalam Alam Indonesia Merdeka MCMLXX, Gunung Agung, Jakarta, 1970, hal. 212. A.A.

  22. Navis, Wawancara, Mei 1980, Padang

  23. Haji Anwar Tamin, Wawancara, Padang, September 1980.

  24. Majelis Luhur Taman Siswa, Pendidikan dan Pembangunan, 50 Tahun Taman Siswa, Yogyakarta. 1976, hal. 249.

  25. Prof. Soegarda Poerbakawatja,  Pendidikan datam Alam Indonesia Merdeka. Gunung Agung, Jakarta, MCMLXX, 1970. hal. 217.

  26. Djaka Cs., Rangkuman ilmu Pendidikan 9, Sejarah Pendidilcan (II), Penerbit Mutiara, Jakarta, 1965, hal. 124.

  27. Ibid., hal. 124-125.

  28. Yusuf Nur, Ketua Perguruan Taman Siswa Padang, Wawancara. Agustus 1980 di Padang.

  29. Lihat Tamar Jaya, Pustaka Indonesia, G. Kolff & Co, Bandung 1951, hal. 290-298 dan HAMKA, Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, Tinta Mas, Jakarta, 1961, hal. 8-12.

  30. I. Djumhur dan H. Danasuparta, Sejarah Pendidikan, Cetakan ketiga, Penerbit "Cerdas" Bandung-Jakarta, Bandung-Bogor, Juni 1962, hal. 128-129.

  31. Mahmud Yunus, Op. cit., hal. 124-130.

  32. Disarikan dan Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Pustaka Mahmudiah, Jakarta, 1960, hal. 131-135 dan dari HAMKA, Ayahku, Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amarullah dan perjuangan kaum Agama di Sumatera, Cetakan Ketiga, Jayamurni Jakarta, 1967.

  33. Mahmud Yunus. Op Cit. hal. 141-143

berikut Bab IV .....